10 Objek Terverifikasi Terakhir

BANGUNAN CAGAR BUDAYA BARAK POLISI/ KANTOR POLISI PERTAMA KOTA SAMARINDA
31 May 2021
Kota Samarinda
Bangunan ini berupa komplek yang terdiri dari beberapa bangunan, beberapa difungsikan sebagai Ruangan perkantoran, Ruangan Aula, Ruangan Penjara. Saat ini di dalam komplek tersebut dipakai oleh beberapa instansi/kantor, yaitu : Polsek Samarinda Kota, UPT Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak dan PUSKESMAS Kecamatan Samarinda Kota. Bangunan masih terlihat utuh dan terawat baik, dengan gaya bangunan khas jaman kolonial. Dinding bagian bawah dibuat dari beton dan batu yang disusun menyerupai pondasi hingga ketinggian +/- 1 meter setelah itu baru dilanjut dengan dinding lebih tipis berkisi kawat anyam di bagian dalam (dan bata) berplester semen, dan di sebagian bangunan masih berupa dinding berbahan papan kayu. Bagian atap saat ini terdiri dari atap seng dengan gelagar masih menggunakan bahan kayu. Bentuk atap di beberapa bangunan masih mempertahankan bentuk ventilasi atap khas bangunan jaman kolonial, berupa atap bertingkap di bagian tengah dengan jarak antar atap berupa lubang angin atau ventilasi. Tiang bangunan dari bahan kayu ulin dan ada beberapa tiang yang ditutup dengan bahan beton. Pintu dan jendela di beberapa bangunan ada yang masih dipertahankan (tidak direnovasi) dari bentuk dan bahannya serta bentuk kuncinya (gerendel tua). Gerendel tua yang dimaksud adalah gerendel yang memanjang sesuai panjang jendela dengan kokang di tengah untuk mengunci atau membuka tautan gerendel pada kedua sisi atas maupun bawah kusen jendela.
BANGUNAN KAPANEWONAN TEMPEL
24 May 2021
Kabupaten Sleman
Bangunan Bekas Kapanewonan Tempel menghadap ke selatan, terdiri atas bangunan pendopo, bangunan utama, paviliun, dapur, dan garasi. Tipe bangunan limasan dan kampung. Lantai bangunan dari tegel warna abu-abu berukuran 20 cm x 20 cm. Dinding bangunan tinggi, pintu dan jendela berukuran lebar dan panjang. Daun jendela bagian luar model krepyak.
Bangunan
17 May 2021
Kabupaten Sleman
Kompleks Panti Asih Pakem terletak di Padukuhan Panggeran, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Kompleks Panti Asih merupakan kompleks bangunan yang dahulunya difungsikan sebagai sanatorium. Sanatorium adalah sarana pelayanan kesehatan yang dikhususkan sebagai tempat mengkarantina penderita penyakit paru-paru. Saat ini kompleks Panti Asih terdiri dari beberapa komponen bangunan diantaranya adalah: 1. Bangunan Administrasi, 2. Paviliun A, 3. Paviliun B, 4. Paviliun C, 5. Ruang Isolasi 6. Bekas rumah dinas dokter 7. Binatu dan dapur 8. Gereja Paviliun A Kompleks Panti Asih Pakem menghadap ke arah selatan. Bangunan tersebut memiliki langgam arsitektur bangunan tropis modern dengan ciri atap memiliki teritisan dan bukaan jendela yang banyak. Bangunan ini memiliki atap berbentuk limas dengan penutup genteng vlam. Terdapat satu model pintu pada bangunan ini, yakni pintu model panil kaca. Sementara jendela hanya memiliki satu model yaitu tipe panil kaca. Dinding bangunan terbuat batu-bata yang pada sisi luar bagian bawah. Sementara itu, bagian lantai terbuat dari tegel jenis PC (Portland Cement). Secara keruangan, Paviliun A Kompleks Panti Asih Pakem memiliki denah berbentuk persegi panjang. Terdapat 8 ruang yang dahulu digunakan untuk merawat penderita TBC. Di bagian depan ruang tersebut yang menghadap ke selatan, terdapat beranda terbuka yang terhubung dengan selasar terbuka. Selasar tersebut menghubungkan Paviliun A dengan bangunan lain di kompleks sanatorium. Sementara di bagian utara Paviliun A, terdapat ruang yang ditutup oleh jendela kaca. Ruang tersebut disebut lieghal atau solarium, yakni ruangan tempat pasien diberi paparan sinar matahari karena padaa saat itu sinar matahari dipercaya dapat membantu pemulihan pasien tuberculosis. Pada ujung timur Paviliun A, terdapat sebuah ruangan yang digunakan sebagai ruang rekreasi.
Bangunan
17 May 2021
Kabupaten Sleman
Kompleks Panti Asih Pakem terletak di Padukuhan Panggeran, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Kompleks Panti Asih merupakan kompleks bangunan yang dahulunya difungsikan sebagai sanatorium. Sanatorium adalah sarana pelayanan kesehatan yang dikhususkan sebagai tempat mengkarantina penderita penyakit paru-paru. Saat ini kompleks Panti Asih terdiri dari beberapa komponen bangunan diantaranya adalah: 1. Bangunan Administrasi, 2. Paviliun A, 3. Paviliun B, 4. Paviliun C, 5. Ruang Isolasi 6. Bekas rumah dinas dokter 7. Binatu dan dapur 8. Gereja Untuk melayani kebutuhan domestik bagi penghuni sanatorium seperti makanan dan pakaian bersih, maka di bagian paling selatan kompleks sanatorium terdapat bangunan untuk dapur dan binatu. Bangunan Dapur dan Binatu Kompleks Panti Asih Pakem menghadap ke arah barat. Bangunan tersebut memiliki langgam arsitektur bangunan tropis modern dengan ciri atap memiliki beranda dan bukaan jendela yang banyak. Bangunan ini memiliki atap berbentuk limasan dengan penutup genteng vlam. Pada bagian selatan, terdapat cerobong asap. Bangunan binatu dan dapur memiliki denah berbentuk persegi panjang yang membujur utara-selatan. Model pintu yang digunakan pada bangunan ini yakni pintu model panil kaca. Sementara model jendela terdapat dua model yaitu tipe panil kaca dan tipe jalinan kawat. Dinding bangunan terbuat batu dan bagian lantai terbuat dari tegel jenis PC (Portland Cement). Bangunan ini tersambung dengan doorlop di sebelah barat yang menyambungkan bangunan ini dengan bangunan lain di kompleks sanatorium. Secara keruangan, bangunan binatu dan dapur terdiri dari enam ruangan. Ruangan paling utara digunakan sebagai binatu atau tempat mencuci pakaian, ditandai dengan keberadaan bak untuk mencuci dan membilas pakaian. Di sebelah timur ruang ini, terdapat beranda terbuka yang dahulu digunakan sebagai tempat menjemur pakaian, ditandai dengan keberadaan tempat jemuran yang dilengkapi dengan rel sehingga jemuran dapat digeser ke beranda apabila terjadi turun hujan. Kemudian di selatan ruang mencuci, terdapat ruangan untuk tempat menyetrika dan menjahit pakaian. Sementara itu, ruangan paling selatan digunakan sebagai dapur.
Bangunan
17 May 2021
Kabupaten Sleman
Kompleks Panti Asih Pakem terletak di Padukuhan Panggeran, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman. Kompleks Panti Asih dahulunya merupakan kompleks bangunan yang difungsikan sebagai sanatorium. Sanatorium adalah sarana pelayanan kesehatan yang dikhususkan sebagai tempat mengkarantina penderita penyakit paru-paru. Saat ini kompleks Panti Asih terdiri dari beberapa komponen bangunan diantaranya adalah : 1. Bangunan Administrasi, 2. Paviliun A, 3. Paviliun B, 4. Paviliun C, 5. Ruang Isolasi 6. Bekas rumah dinas dokter 7. Binatu dan dapur 8. Gereja Bangunan Administrasi Kompleks Panti Asih Pakem (bangunan 1) terdiri dari dua bangunan, bangunan pertama merupakan bangunan dua lantai yang digunakan sebagai pusat kegiatan administrasi dan kantor pegawai sanatorium. Sementara bangunan kedua merupakan bangunan kuncungan atau carpool. Bangunan ini menghadap ke arah barat. Bangunan tersebut memiliki langgam arsitektur bangunan tropis modern dengan ciri atap memiliki teritisan dan bukaan jendela yang banyak. Bangunan ini memiliki atap berbentuk limasan dengan penutup genteng vlam. Terdapat tiga (3) model pintu pada bangunan ini, yakni: pintu tipe krepyak mati, pintu model panil kaca dan pintu papan kayu. Jendela terdapat dua (2) model yaitu tipe krepyak mati dan panil kaca. Dinding bangunan terbuat batu-bata yang pada bagian bawah dan sudutnya dilapisi dengan batu kali. Sementara itu, bagian lantai terbuat dari tegel jenis PC (Portland Cement). Bangunan administrasi menghadap ke barat dan memiliki tiga pintu masuk. Pada samping kanan pintu masuk bagian tengah, terdapat prasasti berbahan batu marmer yang isinya sebagai berikut ; DIT SANATORIUM WERD OP 23 JUNI 1936 HET VOLKSSANATORIUM OP 30 SEP: 1938 PLECHTIG GEOPEND DOOR Z.H. HAMENGKOE BOEWONO VIII SULTAN VAN JOGJAKARTA Bagian depan bangunan administrasi terdapat ruang tamu yang pada awalnya merupakan tempat pemberhentian kendaraan (Carport). Carport tersebut lalu ditutup dinding untuk dialihfungsikan sebagai perpustakaan dan kini digunakan sebagai ruang tamu. Atap carpool berbentuk tajug dan strukturnya ditopang oleh empat tiang kayu. Sementara itu bagian pedestal tiang dilapisi batu sikat. Bagian ini sekarang ditutup dinding untuk penambahan ruang. Di antara bangunan utama dengan kuncungan, terdapat selasar yang berhubungan dengan bangunan lain di Panti Asih Pakem yang membujur dari utara-selatan. Secara keruangan, Bangunan Administrasi Kompleks Panti Asih Pakem memiliki dua lantai dan berdenah persegi dengan ukuran 11,2 m x 14,8 m. Terdapat enam ruangan pada lantai satu dan lima ruangan pada lantai dua. Dahulu fungsi seluruh ruang adalah untuk kegiatan administratif di sanatorium, sekarang hanya satu ruangan yang masih difungsikan untuk ruang pengurus yayasan Panti Asih. Ruang tengah pada lantai satu diapit diapit dengan dua ruangan. Pada ruang tengah, terdapat tangga menuju lantai dua dan di bawah tangga terdapat semacam lemari. Di belakang ruang tengah lantai satu, terdapat ruangan untuk dapur dan toilet. Sementara itu, ruang tengah pada lantai dua juga diapit dengan dua ruangan. Masing-masing ruangan terhubung dengan pintu. Pada bagian luar lantai dua, terdapat balkon yang mengelilingi keempat sisi.
Bangunan
17 May 2021
Kabupaten Sleman
Kompleks Panti Asih Pakem terletak di Padukuhan Panggeran, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Kompleks Panti Asih merupakan kompleks bangunan yang dahulunya difungsikan sebagai sanatorium. Sanatorium adalah sarana pelayanan kesehatan yang dikhususkan sebagai tempat mengkarantina penderita penyakit paru-paru. Saat ini kompleks Panti Asih terdiri dari beberapa komponen bangunan diantaranya adalah: 1. Bangunan Administrasi, 2. Paviliun A, 3. Paviliun B, 4. Paviliun C, 5. Ruang Isolasi 6. Bekas rumah dinas dokter 7. Binatu dan dapur 8. Gereja Bangunan Eks Rumah Dinas Dokter Kompleks Panti Asih Pakem digunakan sebagai tempat tinggal dokter paru-paru sekaligu sebagai kepala sanatorium. Bangunan yang menghadap ke arah barat tersebut memiliki langgam arsitektur bangunan tropis modern dengan ciri atap memiliki teritisan dan bukaan jendela yang banyak. Bangunan ini memiliki atap berbentuk limas dengan penutup genteng vlam. Terdapat tiga (3) model pintu pada bangunan ini, yakni: pintu tipe krepyak mati, pintu model panil kaca dan pintu papan kayu. Jendela terdapat dua (2) model yaitu tipe krepyak mati dan panil kaca. Dinding bangunan terbuat batu-bata yang pada bagian bawah dilapisi dengan batu kali. Sementara itu, bagian lantai terbuat dari tegel jenis PC (Portland Cement). Secara keruangan, bagian depan bangunan memiliki beranda terbuka dengan denah berbentuk huruf “L”. Pada bagian belakang bangunan, terdapat koridor
Meriam Lela Tamanggung Panji
7 May 2021
Kabupaten Gunung Mas
Objek / Benda Cagar Budaya “Meriam Lela Tamanggung Panji”, adalah sepucuk meriam kecil yang terbuat dari bahan campuran kuningan, besi dan perunggu, dengan panjang 73 cm, berat ± 10 kg, diameter pangkal 6 cm, diameter tengah 5 cm, diameter ujung 4 cm, dan diameter dalam ujung laras meriam 2 cm, serta tebal dinding senjata ± 1,5 cm. Objek / Benda Cagar Budaya “Meriam Lela Tamanggung Panji”, termasuk dalam jajaran meriam kuno era Melayu Sriwijaya, dari variasi “Rentaka Melayu” yang berasal dari abad 17 dan abad 18, hal ini diperkuat dengan motif ukiran “naga” di atas bagian tiang penopang / cagak dan ujung laras yang berfungsi sebagai bidikan/visir, ukiran motif “awan laras kuntum berangkai” dan ukiran motif “pucuk rebung” pada bagian badan meriam, serta bentuk “bintang sriwijaya” pada bagian ujung laras.
Situs Kabuyutan Ciburuy
12 April 2021
SITUS KABUYUTAN CIBURUY terletak di lereng Gunung Cikuray terdiri atas beberapa bangunan yang berupa rumah adat. Beberapa bangunan dimaksud adalah: 1. Bangunan Bumi Patamon dengan luas bangunan 72 m2 dan terletak pada titik ordinat 07*17’40,9” LS dan 107*49’24,5” BT; 2. Bangunan Bumi Padaleman dengan luas bangunan 48,5 m2 dan terletak pada titik ordinat 07*17’41,9” LS dan 107*49’25,0” BT; 3. Bangunan Saung Lisung dengan luas bangunan 25,5 m2 dan terletak pada titik ordinat 07*17’40,8” LS dan 107*49’25,1” BT; 4. Bangunan Leuit dengan luas bangunan 35 m2 dan terletak pada titik ordinat 07*17’41,9” LS dan 107*49’25,3” BT; 5. Bangunan Pangalihan dengan luas bangunan 6 m2 dan terletak pada titik ordinat 07*17’40,8” LS dan 107*49’24,9” BT; serta 6. Struktur yang merupakan tempat pangsujudan terletak pada titik ordinat 07*17’41,5” LS dan 107*48’30,9” BT. Setiap bangunan memiliki fungsi yang berbeda. Struktur bangunannya dibangun dengan menggunakan bahan organik, antara lain bambu untuk membangun dinding dan kontruksi atap serta lantai; dan bahan ijuk sebagai penutup atapnya. Bangunan-bangunan tersebut didirikan pada lahan dengan vegetasi rumpun bambu (mendominasi) serta pohon beringin berukuran besar. SITUS KABUYUTAN CIBURUY secara susunan, struktur, dan bentuknya menggunakan “pola tiga” (tritangtu). Pola ini digunakan pada masyarakat petani ladang seperti yang terlihat “Kampung Luar, Kampung Tengah, dan Kampung Dalam atau Rama, Ratu, dan Resi” bagian luar/bawah bersifat profan, bagian dalam/atas bersifat sakral, sedangkan bagian tengah merupakan bagian paradoksnya. “Pola tiga” senantiasa mengharmoniskan dua hal yang berbeda dalam satu karya untuk kehidupan. Hidup bisa abadi kalau ada keharmonisan. Pada konsep “tritangtu” susunan membujur dari hulu ke hilir atau dari Selatan ke Utara sehingga bagian yang makin mendekati hulu bangunan akan semakin sakral, dalam hal ini arah hulunya dalah Gunung Cikuray dan arah hilirnya adalah Sungai Cimanuk. Bangunan dengan konsep ini di SITUS KABUYUTAN CIBURUY dapat diketahui bangunan sakralnya antara lain bangunan Padaleman dan Pangalihan. Oleh sebab itu, SITUS KABUYUTAN CIBURUY terdapat bangunan lain selain banguan sakral yaitu bangunan profan antara lain Bumi Patamon, Saung Lisung, serta Leuit. Rumah-rumah tradisional Sunda sebagian besar mengambil bentuk dasar struktur atap pelana, umumnya disebut atap gaya kampung, terbuat dari bahan-bahan dedaunan (ijuk, serat aren hitam, hateup dedaunan atau dedaunan palem) menutupi kerangka kayu dan balok, dinding anyaman bambu, dan strukturnya dibangun di atas panggung pendek. Variasi atapnya bisa berupa atap melandai dan pelana (kombinasi atap pelana dan melandai). Berikut bangunan-bangunan dan fitur di SITUS KABUYUTAN CIBURUY, antara lain: 1. Bumi Patamon Bumi Patamon adalah tempat yang digunakan untuk menerima tamu dan juga sebagai tempat tinggal Kuncen5 sekaligus Juru Pelihara situs pada kegiatan-kegiatan tertentu. Bangunan ini berdenah empat persegi panjang dengan ukuran 12x6 m dan bagian depan terdapat teras atau bangunan tambahan. Bentuk atap berupa pelana dengan ornamen ujung-ujung atap berbentuk "x" yang disebut capit gunting. Atap ini mengalami penambahan pada bagian teras rumah. Bangunan ini merupakan rumah panggung yang ditopang oleh beberapa tiang dengan umpak dari batu. Pada bagian bawah bangunan ditutup dengan bambu sehingga tiang penyangga tidak tampak. Bagian dalam bangunan ini terdiri atas tiga ruangan. Pintu masuk berada di sisi Selatan bangunan menuju ruang dapur. Ruang dapur berada di sisi Timur, sedangkan di sisi Barat dengan berbataskan dinding bambu dan sebuah pintu terdapat dua ruangan lain yaitu ruangan utama dan ruangan yang dipakai untuk menyimpan barang- barang rumah tangga. Di ruang dapur dengan lantai dari kayu terdapat perapian (hawu) yang beralaskan tanah yang digunakan untuk tempat memasak. Di ruangan utama terdapat rak tempat menyimpan barang koleksi dan tempat upacara ritual untuk membuka koleksi dilaksanakan. Di dalam ruangan Bumi Patamon terdapat koleksi (benda-benda pusaka dan pustaka) yang sebagian besar merupakan warisan dari Bapak Misnan yang merupakan kakek dari Kuncen sekarang. Apabila ingin melihat koleksi di ruangan ini, biasanya Kuncen akan melakukan ritual upacara adat yang dilaksanakan setelah adzan Ashar. 2. Bumi Padaleman Tritangtu sakral pada situs ini ialah Bumi Padaleman. Bumi Padaleman merupakan rumah panggung berbentuk persegi panjang dengan ukuran 12x6 m. Bangunan ini berada di dalam “Hutan Larangan” dan mempunyai letak di sebelah Selatan Bumi Patamon. Bentuk atap bangunan ini berupa pelana dengan ornamen ujung-ujung atap berbentuk "x" yang disebut capit gunting. Pintu masuk berada di sisi Utara bangunan dengan tangga dari bahan kayu. Lantai bangunan seluruhnya tersusun atas papan kayu yang diletakkan rapat. Dinding bangunan tersusun atas bilik bambu dengan tiang-tiang penyangga dinding. Bangunan ini terbagi atas dua ruang, yaitu ruang pamirunan dan ruang utama. Ruang pamirunan berupa ruang yang tidak begitu luas tanpa sekat yang digunakan untuk berjaga. Pada ruang ini terdapat perapian. Ruang utama mempunyai lantai yang lebih tinggi dengan ruang pamirunan. Untuk mencapai ruang utama terdapat tangga kayu dan sebuah pintu kayu. Ruang utama berupa ruangan besar tanpa sekat yang dengan dinding dari bahan bilik bambu. Bangunan ini dahulu dipakai oleh para Resi. Di atas pintu masuk ruangan ini terdapat sawér, yang terbuat dari daun aren yang dilipat khusus. Sawér berfungsi sebagai penolak bala dan diganti setiap tahun pada bulan Muharam. Dianggap sakral terlihat dari letaknya yakni terletak di daerah yang lebih tinggi, membujur dari Selatan ke Utara. Selain itu, Bumi Padaleman juga memiliki batas-batas halaman yang berundak. Ada dua halaman untuk menuju Bumi Padaleman dengan batasan kikis (pagar bambu yang dianyam) yang dilengkapi pintu. Apabila ingin masuk ke Bumi Padaleman, tidak boleh sembarang masuk karena harus didampingi oleh Kuncen sehingga dapat dikatakan bangunan ini memiliki sifat sakral. Bumi Padaleman ialah tempat untuk menyimpan benda-benda pusaka dan pustaka pra-Islam, antara lain sejumlah naskah kuno daun lontar dan nipah, kujang, keris, trisula, genta, dan peso pangot yang disimpan pada rak yang menggantung (pago). Terdapat tiga peti kayu yang diletakkan pada rak ini. 3. Saung Lisung Saung Lisung pada awalnya merupakan tempat untuk menyimpan lisung (alat untuk menumbuk padi sehingga menjadi beras) dan juga tempat untuk menumbuk padi. Saung Lisung berukuran 9x5 m dengan bentuk empat persegi. Bangunan ini mempunyai posisi di sebelah Utara Bumi Patamon. Bentuk atap bangunan ini berupa pelana dengan ornamen ujung- ujung atap berbentuk "x" yang disebut capit gunting. Dinding bangunan tersusun dari bambu. Dinding bambu yang menutup bangunan secara penuh dari atas ke bawah hanya terdapat di sisi Timur, sementara sisi Barat, Utara dan Selatan dinding bambu hanya pada bagian bawahnya saja. pada ketiga sisi dinding ini bagian atasnya terbuka dan terdapat tiang penyangga bangunan. Pintu masuk berupa bagian dinding yang terbuka pada bagian bawahnya tanpa daun pintu dan ada pada sisi Selatan bangunan. Makna simbolik dari bangunan Saung Lisung adalah sebagai bangunan laki-laki (Suherman, 2010: 179). Bangunan ini berada di sisi Utara Bumi Patamon. Perbedaan bangunan Saung Lisung ini pada bagian lantainya yang berupa permukaan tanah rata tidak seperti bangunan Bumi Patamon yang berupa panggung dengan lantai kayu. 4. Leuit Bangunan Leuit terletak di sisi Timur Bumi Patamon dengan panjang 7 m dan lebar 5 m. Bentuk atap bangunan ini berupa pelana dengan ornamen ujung-ujung atap berbentuk "x" yang disebut capit gunting. Bangunan ini merupakan bangunan panggung dengan tiang- tiang penyangga dan umpak batu di bagian bawahnya. Untuk dapat memasuki bagian dalam, pada sisi Barat terdapat tangga dari bahan kayu dan satu daun pintu. dinding tersusun atas bilik bambu dengan tiang-tiang kayu sebagai penguat. Bangunan Leuit memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan padi hasil panen dan bermakna sebagai bangunan perempuan. 5. Pangalihan Bangunan ini terletak pada sisi Selatan Bumi Patamon dengan panjang 3 meter dan lebar 2 meter. Bentuk bangunan ini adalah panggung dengan atap bangunan berupa bentuk pelana. Dinding berupa susunan bambu yang dirapatkan pada ketiga sisi, sementara dinding Selatan sisi terbuka. Fungsi bangunan ini sebagai tempat untuk menyimpan pagar. Pada bulan Muharam, kikis yang berada di Bumi Padaleman harus diganti dan sebelum diganti kikis yang baru harus terlebih dahulu ditempatkan di Pangalihan. Selain sebagai tempat menyimpan kikis, Pangalihan juga memiliki fungsi sebagai tempat untuk memindahkan sementara naskah kuno sebelum diadakan Upacara Seba (Anom, I.G.N et. al, 1996: 97). Pangalihan termasuk ke dalam bangunan sakral karena letaknya berada di Selatan (berada di lokasi yang lebih tinggi). 6. Pangsujudan Pangsujudan/Pangsolatan/Puseur Haji terdiri dari susunan batu andesit berbentuk pipih. Batu tersebut berupa satu batu pipih yang telah terbelah menjadi beberapa bagian dan beberapa batu di sebelah Selatannya. Terlihat adanya indikasi pengerjaan pada batu batu tersebut. Batu ini digunakan sebagai tempat pangsujudan (bersujud) dan bertapa. Posisi Pangsujudan berada di Barat Laut bangunan Bumi Patamon. Lokasi Pangsujudan dibatasi oleh pagar bambu (kikis). Menurut penuturan Juru Pelihara sekaligus Kuncen, tempat ini digunakan oleh K. H. Mustofa atau Prabu Kiansantang untuk mendapatkan ilham ketika sujud ketiga sehingga di sekitar tempat ini jumlah gerbangnya berjumlah tiga sebagai simbol. Koleksi SITUS KABUYUTAN CIBURUY memiliki koleksi yang penting berkenaan dengan naskah Sunda Kuno. Naskah-naskah Sunda tersebut di Padaleman disimpan dalam tiga buah peti berukuran besar. Peti-peti tersebut disimpan di ruangan utama pada bangunan Bumi Padaleman. Di ruangan yang berukuran kira-kira 3 m x 3 m tersebut peti-peti ini ditempatkan di pojok kiri atas. Tepatnya peti-peti tersebut berada pada sebuah tempat yang memiliki ketinggian sekitar 1,5 meter dari lantai bangunan. Di dalam peti-peti tersebut, naskah tidak disimpan secara langsung, tetapi naskah-naskah yang berupa lempiran-lempiran daun lontar dan nipah disimpan dalam kotak-kotak kecil yang disebut kropak. Di dalam peti, kropak-kropak naskah tersebut satu-persatu dibungkus dengan kain kafan yang ukurannya sekitar 1 m x 1 m. Pembungkusan kropak dengan kain kapan berdasarkan pengamatan tidak melalui cara khusus hanya dibungkuskan agar seluruh bagian kropak tertutup kain. Kain kafan tersebut menurut Juru Kunci akan diganti bila kondisinya sudah rusak. Artinya selama kondisinya masih baik atau tidak rapuh kain-kain kapan pembungkus kropak akan tetap digunakan sebagai pembungkus kropak. Sementara itu kropak-kropak yang digunakan untuk menyimpan naskah di SITUS KABUYUTAN CIBURUY ada yang terbuat dari kayu yang dipahat sedemikian rupa hingga membentuk kotak kecil yang pada bagian dalamnya muat untuk naskah. Kropak dari kayu ini juga dihiasi oleh ukiran pada bagian muka atas kropaknya. Kemudian ada juga kropak yang terbuat dari triplek (kayu tipis berlapis). Kropak berbahan triplek ini tidak dihiasi dengan ukiran dan bentuknyapun sangat sederhana. Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan oleh Tim Universitas Padjadjaran yang terbaca dalam tesis6 Nawawi (2020), yaitu naskah Sunda Kuno koleksi SITUS KABUYUTAN CIBURUY disimpan di tiga peti di Bale Padaleman. Penomoran peti mengikuti pendapat Darsa (2012) yang menyebut peti nomor 1 yang disimpan sebelah Selatan. Posisi tengah disebut nomor 2 dan paling Utara disebut peti nomor 3. Namun, untuk penyebutan arah mata angin, Darsa (2012), Sopian (2020), begitupun Acri (2009) menyebut peti yang disimpan di Bale Padaleman mulai dari arah Timur sebagai peti satu, peti di tengah sebagai peti dua, dan yang paling Barat sebagai peti tiga. Hal ini berbeda dengan pernyataan Juru Kunci SITUS KABUYUTAN CIBURUY Bapak Ujang Suryana yang menyebutkan arah yang sebenarnya adalah Selatan-Utara bukan Timur-Barat. Terdapat 726 lempir naskah Sunda Kuno disimpan di SITUS KABUYUTAN CIBURUY, ditulis dalam aksara Sunda Kuno dan aksara Buda atau Gunung. Sebanyak 501 lempir daun ditulis dalam aksara Sunda Kuno dan 225 lempir lainnya dalam aksara Buda atau Gunung. Lempiran naskah itu tersimpan ke dalam 26 kropak. Koleksi naskah SITUS KABUYUTAN CIBURUY diperkirakan ditulis
Peta Ciela
12 April 2021
Kabupaten Garut
Ukuran fisik Peta Ciela panjangnya 221 cm dan lebar 87 cm. Bahannya berupa kain katun berwarna putih kusam kecoklat-coklatan. Adapun tulisannya memakai tinta berwarna hitam agak pekat sehingga tulisan umumnya masih terbaca. Pada bagian sudut kiri atas (arah Barat-Utara pada posisi peta) tercantum tulisan tangan dalam huruf Latin yang sebagian sudah sangat kusam dan aus: “Den fiteig(?) 1862 van copy geruim van door K.F. Holle”. K.F. Holle adalah salah seorang pakar berkebangsaan Belanda yang banyak menulis tentang keadaan masyarakat dan kebudayaan Sunda pada masa kolonial termasuk tentang peta ini. PC ditulis menggunakan aksara tipe Cacarakan model aksara Jawa Pertengahan (Darsa, dkk., 2018). Aksara tersebut digunakan untuk menuliskan nama-nama tempat dan digunakan pula untuk menulis teks naratif dalam bahasa Jawa dialek Priangan berupa keterangan menyangkut kedudukan daerah Timbanganten. Nama gunung dan bukit digambar berbentuk segi tiga bersayap motif tumbuh-tumbuhan atau berbentuk kerucut lancip bermahkota. Nama sungai digambar dengan dua garis paralel dipotong dan/atau disambungkan dengan garis-garis kecil bergelombang yang bagian hulunya berbentuk bulat sehingga nampak seperti ular berjajar. Nama pemukiman digambar berupa lingkaran-lingkaran kecil berporos lintang. Nama tegalan digambar berupa kotak persegi polos. Nama rawa-rawa digambar berupa kotak persegi bergaris gelombang melintang. Nama telaga digambar berupa bulatan bergaris gelombang melingkar. Nama tempat umumnya disesuaikan dengan nama tumbuhan tertentu dan digambar dengan goresan garis berupa pohon. Data Toponimi dalam Peta Ciela (Darsa, dkk. 2018) Istilah toponimi diambil dari bahasa Belanda, toponymie, plaatsnaamkunde ‘pengetauan tentang nama tempat’. Penelitian toponim bagi studi sejarah sungguh sangat penting karena di dalamnya terkandung nilai sejarah, baik yang bertalian dengan lingkungan alam maupun dengan kehidupan manusia yang menempatinya. Peta Ciela ini mencatat data toponimi di sebagian wilayah Tatar Sunda, terutama intinya menggambarkan keadaan wilayah geografis Timbanganten. Data topografi yang tercatat dalam Peta Ciela berupa nama-nama sungai dan anak sungai yang bermuara ke Laut Jawa dan Samudera Hindia, nama gunung dan pegunungan, di samping nama telaga dan rawa-rawa beserta nama tempat. A. Toponimi di Luar Kotak I. Nama Sungai 1.1. Nama Sungai yang bermuara ke selatan (Samudera Hindia): 1. Cipélés (dari Gunung Cawan bermuara ke Timur)6 2. Ciputrapinggan (dari Gunung Cawan) 3. Cikidang (dari Gunung Cawan) 4. Cikambulan (dari Gunung Bokko) 5. Cijulanggading (dari Gunung Bokko) 6. Cikidang // Cimedang (dari Gunung Bokko) 7. Cikalisasi bercabang: (1) Cikunir (dari Galunggung), (2) Cisarepieun (dari Galunggung), (3) Cimérah, (4) Cikunten, (5) Cipanggarangan, (6) Cileumuyu, (7) Cinambo, dan (8) Cibakung. 8. Cilangla 9. Cipabeureuhan 10. Cipatireman 11. Cipatujah 12. Cijapya girang 13. Cipamumitan 14. Cikaleprang 15. Cipanglukutan 16. Cipaluhukan 17. Cikahéngan 18. Cikaranggajah 19. Cisanggiri 20. Cikera 21. Cibalingbing 22. Cikandi 23. Cipalebuh 24. Cilahutheureun 25. Cibayongbong 26. Cikarang 27. Cipasérangan 28. Cimangké 29. Cilihrangka 30. Cikaladaru 31. Cikadang 32. Cimawacong // Wattes … (bercabang: Ciharinem) 33. Cilayu 34. Cikanji 35. Cidahun 36. Cidammar 37. Cipandak 38. Cihujung 39. Cisadéa 40. Cisokan 41. Cicaréngcang 42. Cilebuganabong 43. Cisokan Bubulak 44. Cihayawan 45. Cipanarikan 46. Cibayah 47. Cilangkap7 48. Cipancar 49. Cimarinjung Kidul 50. Palabuhanratu (bermuara ke arah barat) 1.2. Nama Sungai yang bermuara ke Utara (Laut Jawa): 1. Cisadané, aliran pinggir Lawanghaji, berhulu dari Talagawarna 2. Cihaliwung, aliran pinggir Nusakalapa, aliran pinggir Pajajaran, berhulu dari Talagawarna 3. Aliran dari Rawa Marunda 4. Aliran pinggir Gomati 5. Muara sungai induk bercabang 7 anak muara dari aliran pinggir Karawang, bercabang: (1) Cikapayang // Cikapu(n)dung, (2) Cibéhét, (3) Cipikulan, (4) Cisangkuy 6. Ciparagé 7. Cilamaya 8. Cihaseum 9. Cicupunagara 10. Cikandanghaur 11. Cilalanang 12. Dremayu (muara besar): (1) Yang cabang-cabangnya, sebelah kiri berasal dari: Cipélés, Ciharus Mudikmebes, Cimularépan, Cibunni, Cidarédéng, Ciberas, Cinangsi, Cilopang, Cipalés, Cipeujeuh, Cipamulihan, Ciléjét, Cilimus, Cikawungréréng, Cicadas, Cigembor, Cisisti, Cipakuluban, Cigugur, Cipanycar, Cipayung, Cilolos, Cibegamangdibya, Cipodok, Cikalembu, Ciléngkrang, Cirabal, Ciburu, Cigupay, Cikajang, Cihideung, Cidawa, Cibingbin. (2) Yang cabang-cabangnya sebelah kanan berasal dari: Cibudug, Cipanyawahan, Cimulu, Cipanareuman, Cikalari, Ciburuy (dari Kawah Manuk), Cibodas (dari Kawah Manuk), Cicopong (dari Kawah Manuk), Cipapasaban, Cibeureum (dari Gunung Papandayan), Cikopo, Ciwaruga, Cipining, Ciwaru, Ciparagak, Cipélah, Ciséro, Cidatar, Ciseuseupan, Cigerem, Cirahab, Cilugagereng, Cibuluh, Cikaléréhan, Cilabuh. 13. Balariji 14. Cisagarasak 15. Cikuruban II. Nama Gunung 2.1 Dibaca dari arah Selatan, mulai dari Timur 1. Gunung Pinangbara 2. Gunung Halu 3. Gunung Sindangbarang 4. Gunung Sawal 5. Gunung Bongkok 6. Gunung Pasibar 7. Gunung Galunggung 8. Gunung Caremay 9. Gunung sawal8 10. Gunung Loka 11. Gunung Putri (Kunci) 12. Gunung Brahma 13. Gunung Paul 14. Gunung Margaratu 15. Gunung Gagabini 16. Gunung Julang 17. Gunung Pangrango 18. Gunung Mas 2.2 Dibaca dari arah Utara, mulai dari Barat: 1. Gunung Kancana 2. Gunung Sepuh 3. Gunung Patuha 4. Gunung Malabar 2.3 Dibaca dari arah Barat ke Timur: 1. Gunung Burangrang 2. (Gunung) Kangwelasarayu 3. (Gunung) Bukit Tunggul 4. Gunung Manglayang 5. Gunung Tompomas III. Nama Tempat 1. Rawa Nusakabangan 2. Sagaranakan 3. Nusa Kalapa 4. Pajajaran 5. Lawang Haji 6. Talagawarna 7. Binuangngeun 8. Rawa Marunda 9. Kalér ukur 10. Jalan (Leu)widamar 11. Wates Jampang 12. Gapalsi 13. Dremayu B. Toponimi di Dalam Kotak I. Nama Sungai 1.1. Dibaca dari sudut kanan bawah (Selatan) ke Barat-Utara: 1. Cimawaté (dari Gunung Licin mengalir ke Cikalisasi) 2. Cidelagunusa (dari Gunung Licin mengalir ke Cikalisasi) 1.2 Dibaca dari sudut kiri atas (Utara) ke Timur-Selatan: 1. Cikolé (diapit Gintungpugur dan Tegal Hyang) 2. Cijawajalaromén Mudik 3a. Ciharus Mudikmebes mengalir ke muara Dramayu lalu bercabang dari: kanan: (1) Cibudug, (2) Cipanyawahan, (3) 9 Cimulu, (4) Cipanareuman, (5) Cikallari, (6) Ciburuy (dari Kawah Manuk), (9) Cipapasaban, (10) Cikiruh, (11) Cibeureum (dari Gunung Papandayyan), (12) Cikopo, (13) Ciwaruga, (14) Cipining, (15) Ciwaru, (16) Ciparagak, (17) Cipélah, (18) Ciséro, (19) Cidatar, (20) Ciseuseupan, (21) Cigerem, (22) Cirahab, (23) Cilugagereng, (24) Cibuluh, (25) Cikaléréhan, dan (26) Cilabuh. 3b. Ciharus Mudikmebes mengalir ke muara Dremayu lalu bercabang dari kiri: (1) Cimularépan, (2) Cibuni, (3) Cidarédéng, (4) Ciberas, (5) Cinangsi, (6) Cilopang, (7) Cipalés, (8) Cipeujeuh, (9) Cipamulihan, (10) Ciléjét, (11) Cilimus, (12) Cikawunggéréng, (13) Cicadas, (14) Cigembor, (15) Cisisti, (16) Cipakuluban, (17) Cigugur, (18) Cipanycar, (19) Cipayung, (20) Cilolos, (21) Cibegamangdibya, (22) Cipodok, (23) Cikalembu, (24) Ciléngkrang, (25) Cirabal, (26) Ciburu, (27) Cigupay, (28) Cikajang, (29) Cihideung, (30) Cidawa, dan (31) Cibingbin. 4. Cinambo 5. Cibeulahjalu 6. Cipanggarangan II. Nama Gunung 2.1 Dibaca dari sudut kanan bawah (Selatan) ke Barat-Utara: 1. Gunung Licin 2. Gunung …? 3. Gunung Jaya 4. Gunung Karamat 5. Gunung Puntang 6. Gunung Karang 7. Gunung Sigar 8. Gunung Rajah 9. Gunung Pasonggan 10. Gunung Pala 2.2 Dibaca dari sudut kiri atas (Utara) ke Timur-Selatan: 1. Gunung Pamoyanan 2. Gunung Koba 3. Gunung Paleugabayan 4. Gunung Kurung 5. Gunung Papandayan 6. Gunung Padang 7. Gunung Cikuray 8. Gunung Kapur 9. Gunung Putra 10. Gunung Mandalawangi sirah Ciheuleut mipir Cisaunggalah 11. Gunung Bado Sigartiga ginaré Cikadu Wétan Liyunggunung, sirah Cimuncang 12. Gunung Karamat Sigarlaya Wékpalangkan 13. Gunung Canir10 14. Gunung Bitung Sigartiga kalér Li(m)bangngan kalérwétan Galuyungrung 15. Gunung Cakrida 16. Gunung Karakacak 17. Gunung Raja III. Nama Tempat 3.1 Pembacaan dari Selatan: 1. Sirah (?) 2. Sirah Cilangla 3. Sirah Ci(?) 4. Batara Seuran 5. Batutumpang 6. Sirah Cigugur 7. Hunijajar 8. Sirah Ciglongmaya 9. Pasir Pamoyanan 10. Caliyanggarah 11. Seladatar Ganasésa 12. Jambénira 13. Jambéniru 14. Kawunggenténg 15. Kaduluhur 16. Peuteuynunggal 17. Lemahputih 18. Guhalanang Cibarinem 3.2 Pembacaan dari Utara: 1. Lohnacogang 2. Pasirdadap 3. Rawakelang 4. Sariohwana 5. Talagagedé 6. Pasar Yakmani 7. Rawadengkeling 8. Pasirkari 9. Sangiyang Karamat 10. Pakujajar 11. Kandangwesi (luar sudut atas) 12. Tegalgedé 13. Pasanggenéng 14. Gintungpugur 15. Tegal Agung 16. Tegalbayah 17. Rawakelang 18. Rawakalopo 19. Leu(wi …?) 20. Leuwigelam 21. Bugang Panyjang 22. Hahurgenténg 23. Batununggal 24. Ciledug
Situs Kabuyutan Ciburuy
12 April 2021
SITUS KABUYUTAN CIBURUY terletak di lereng Gunung Cikuray terdiri atas beberapa bangunan yang berupa rumah adat. Beberapa bangunan dimaksud adalah: 1. Bangunan Bumi Patamon dengan luas bangunan 72 m2 2. Bangunan Bumi Padaleman dengan luas bangunan 48,5 m2 3. Bangunan Saung Lisung dengan luas bangunan 25,5 m2 4. Bangunan Leuit dengan luas bangunan 35 m2 5. Bangunan Pangalihan dengan luas bangunan 6 m2 6. Struktur yang merupakan tempat pangsujudan Setiap bangunan memiliki fungsi yang berbeda. Struktur bangunannya dibangun dengan menggunakan bahan organik, antara lain bambu untuk membangun dinding dan kontruksi atap serta lantai; dan bahan ijuk sebagai penutup atapnya. Bangunan-bangunan tersebut didirikan pada lahan dengan vegetasi rumpun bambu (mendominasi) serta pohon beringin berukuran besar. SITUS KABUYUTAN CIBURUY secara susunan, struktur, dan bentuknya menggunakan “pola tiga” (tritangtu). Pada konsep “tritangtu” susunan membujur dari hulu ke hilir atau dari Selatan ke Utara sehingga bagian yang makin mendekati hulu bangunan akan semakin sakral, dalam hal ini arah hulunya dalah Gunung Cikuray dan arah hilirnya adalah Sungai Cimanuk. Bangunan dengan konsep ini di SITUS KABUYUTAN CIBURUY dapat diketahui bangunan sakralnya antara lain bangunan Padaleman dan Pangalihan. Oleh sebab itu, SITUS KABUYUTAN CIBURUY terdapat bangunan lain selain banguan sakral yaitu bangunan profan antara lain Bumi Patamon, Saung Lisung, serta Leuit. Rumah-rumah tradisional Sunda sebagian besar mengambil bentuk dasar struktur atap pelana, umumnya disebut atap gaya kampung, terbuat dari bahan-bahan dedaunan (ijuk, serat aren hitam, hateup dedaunan atau dedaunan palem) menutupi kerangka kayu dan balok, dinding anyaman bambu, dan strukturnya dibangun di atas panggung pendek. Variasi atapnya bisa berupa atap melandai dan pelana (kombinasi atap pelana dan melandai). SITUS KABUYUTAN CIBURUY memiliki koleksi yang penting berkenaan dengan naskah Sunda Kuno. Naskah-naskah Sunda tersebut di Padaleman disimpan dalam tiga buah peti berukuran besar. Peti-peti tersebut disimpan di ruangan utama pada bangunan Bumi Padaleman. Di ruangan yang berukuran kira-kira 3 m x 3 m tersebut peti-peti ini ditempatkan di pojok kiri atas. Tepatnya peti-peti tersebut berada pada sebuah tempat yang memiliki ketinggian sekitar 1,5 meter dari lantai bangunan. Di dalam peti-peti tersebut, naskah tidak disimpan secara langsung, tetapi naskah-naskah yang berupa lempiran-lempiran daun lontar dan nipah disimpan dalam kotak-kotak kecil yang disebut kropak. Di dalam peti, kropak-kropak naskah tersebut satu-persatu dibungkus dengan kain kafan yang ukurannya sekitar 1 m x 1 m. Pembungkusan kropak dengan kain kapan berdasarkan pengamatan tidak melalui cara khusus hanya dibungkuskan agar seluruh bagian kropak tertutup kain. Kain kafan tersebut menurut Juru Kunci akan diganti bila kondisinya sudah rusak. Artinya selama kondisinya masih baik atau tidak rapuh kain-kain kapan pembungkus kropak akan tetap digunakan sebagai pembungkus kropak. Sementara itu kropak-kropak yang digunakan untuk menyimpan naskah di SITUS KABUYUTAN CIBURUY ada yang terbuat dari kayu yang dipahat sedemikian rupa hingga membentuk kotak kecil yang pada bagian dalamnya muat untuk naskah. Kropak dari kayu ini juga dihiasi oleh ukiran pada bagian muka atas kropaknya. Kemudian ada juga kropak yang terbuat dari triplek (kayu tipis berlapis). Kropak berbahan triplek ini tidak dihiasi dengan ukiran dan bentuknyapun sangat sederhana. Terdapat 726 lempir naskah Sunda Kuno disimpan di SITUS KABUYUTAN CIBURUY, ditulis dalam aksara Sunda Kuno dan aksara Buda atau Gunung. Sebanyak 501 lempir daun ditulis dalam aksara Sunda Kuno dan 225 lempir lainnya dalam aksara Buda atau Gunung. Lempiran naskah itu tersimpan ke dalam 26 kropak
DATA REGISTRASI
Rekapitulasi data registrasi objek cagar budaya berdasarkan tahap-tahap pendaftaran sampai dengan penetapan dan penomoran registrasi nasional.
99.458
Warisan Budaya Bersifat Kebendaan
49.775
Objek yang diduga Cagar budaya
1.798
Rekomendasi Cagar Budaya
1.635
Cagar Budaya