10 Objek Terverifikasi Terakhir

Arca Ganesha Wihara Buddha Dipa Pakintelan
19 November 2020
Kota Semarang
semula arca ini berada di sebuah bukit bernama bruning bersamaan dengan sebaran temuan situs lainnya. pada tahun 1960an dipindahkan ke wihara demi keamanan. Kontak Pengelola: Sammanera Santiphala Wahyudi(081326905919) Daryono(085237957456)
KOMPLEKS JURUNG LUBU HIJU
14 November 2020
Kabupaten Lamandau
Tidak jauh dari lokasi Rumah Garuda yakni sekitar 25 m di halaman belakang rumah, terdapat empat bangunan jurung (lumbung) dalam kondisi yang cukup terawat. Jurung tersebut memiliki hiasan puncak atap berupa kepala burung dan juga hiasan seperti mata tombak. Di salah satu jurung tersimpan tempayan dengan gaya Vietnam yang kemungkinan berasal dari abad ke-15 M. Jurung yang berada di Lubuk Hiju memiliki bentuk yang sama dengan jurung yang berada di desa-desa lainnya. Jurung dilengkapi dengan jelapakan yakni semacam cincin tiang penyangga terbuat dari kayu yang berfungsi mencegah tikus atau hewan lainnya naik ke lumbung.
RUMAH ADAT RUMBANG KELAWAR
14 November 2020
Kabupaten Lamandau
Bangunan tradisional rumah Rumbang Kelawar terletak di RT 02 Desa Kudangan. Lokasi rumah tersebut berada di sebelah barat SDN 01 Kudangan, di sisi utara Sungai Kungkung (salah satu anak Sungai Delang?). Topografi lokasi rumah tersebut relatif datar dengan elevasi 82 mdpl. Vegetasi yang termati di sekitar lokasi rumah berupa pohon rambutan, mangga, tanaman sayur dan tanaman hias. Saat ini lahan dan bangunan Rumah Rumbang Kelawar dimiliki oleh Samuel Sandan (82 tahun) dan berfungsi sebagai rumah tingal. Beliau mewarisi rumah tersebut dari orangtuanya yang membangun rumah pada sekitar tahun 1937. Pada zaman dahulu pembangunan rumah dilakukan secara gotong royong mulai dari proses pengambilan bahan yakni kayu ulin hingga proses pendirian rumah. Kontruksi bangunan rumah disangga oleh tiang kayu berjumlah 18 buah terdiri dari 9 buah di sebelah tepi kanan dan 9 buah di sebelah kiri, serta 9 buah tiang kayu di bagian tengah. Rumbang Kelawar adalah istilah yang diberikan oleh Samuel Sandan (mantir adat bebantan) sebagai pemilik rumah. Rumbang berarti lubang (goa) dan kelawar berarti kelelawar (gerombolan kelelawar). Nama tersebut memiliki makna agar penghuni rumah terdiri dari banyak kepala mulai dari kakek hingga cucu. Rumbang Kelawar merupakan rumah tradisional yang seluruh konstruksinya (dinding, atap sirap, lantai, teras, pintu, jendela, tangga) terbuat dari kayu ulin. Kondisi bangunan tergolong sangat baik dan relatif terawat. Rumbang Kelawar memiliki arah hadap ke Sungai Kungkung yang berjarak kurang lebih 50 m. Di dalam bangunan Rumbang Kelawar terdapat beberapa tempayan yang disimpan di dekat langit-langit rumah dan juga beberapa benda pusaka. Bangunan rumah Rumbang Kelawar sudah mengalami perubahan interior. Pada awalnya ruangan dalam bangunan rumah hanya terdiri dari satu ruangan besar tanpa sekat, namun sekarang ruangan besar tersebut disekat menjadi beberapa ruangan kecil. Di dalam bangunan rumah tersimpan beberapa benda antik koleksi Samuel Sandan yang sudah diwariskan secara turun temurun dari orangtuanya. Koleksi tersebut terdiri dari 25 buah tempayan (6 Remaung , 8 Pulau, 2 Tajau panjang, 3 Bukung, 4 Pantis, dan 1 Lipan), 4 buah gong, 1 buah Grantung, 1 buah Gentara, 3 buah botol (stoneware Eropa), 1 buah Tombak Seluak, dan 1 buah supit.
FRAGMEN TIANG RUMAH ADAT GARUDA
14 November 2020
Kabupaten Lamandau
Fragmen atau sisa-sisa struktur tiang penyangga rumah tua yang disebutdengan Rumah Garuda masih bisa teramati hingga saat ini. Fragmen struktur tiang Rumah Garuda yang masih teramati berjumlah empat buah dengan memperlihatkan tanda pemotongan. Tiang-tiang tersebut dipotong ketika Rumah Garuda mengalami renovasi. Tiang-tiang dan dinding rumah tua diganti dengan tiang dan dinding dengan berbahan kayu yang baru. Saat ini rumah tersebut dihuni oleh keluarga Wijun Umpak, mereka merupakan keturunan dari pemilik Rumah Garuda.
OBYEK SEJENIS MENHIR DI MERAMBANG
14 November 2020
Kabupaten Lamandau
Benda batu semacam menhir berada di samping bangunan TK dan di belakang asrama gereja Desa Merambang. Batu tersebut terdiri dari dua buah dengan kondisi yang relatif baik. Terlihat di permukaan salah satu batu bukti pangkasan yang membutuhkan analisis lebih lanjut apakah pangkasan tersebut terjadi jauh di masa lampau atau di masa yang tidak terlalu lampau. Batu tersebut menancap kuat di dalam tanah dengan ketinggian batu yang muncul di permukaan tanah sekitar 1 meter.
MENARA SURAU QOLBUL MUSLIMIN
14 November 2020
Kabupaten Lamandau
Obyek pada dasarnya adalah sebuah menara yang difungsikan sebagai fasilitas pelengkap surau sebagai sarana menggaungkan adzan sholat bagi masyarakat yang beragama muslim di sekitar obyek. Obyek memiliki dimensi p x l x t = 4 m x 4 m x 12 m, berbentu dasar menara tinggi berkaki empat berbahan kayu ulin, serta memiliki 4 lantai dan dua atap berbahan multi roof. Surau ini dibangun oleh Gusti M Idris yang bergelar Pangeran Kartawana Bin Setia Raja dari Kerajaan Kutaringin saat membawa misi pangeran dari Kerajaan Kutaringin untuk memperluas wilayah ke arah Nanga Bulik sekaligus melakukan syiar Islam di wilayah Nanga Bulik dan sekitarnya. Untuk tahun pembangunannyya masih memerlukan penggalian informasi lebih lanjut. Sampai saat ini, obyek yang berada tepat disamping surau qolbul muslimin ini, masih berdiri tegak dengan bahan aslinya, meski telah mengalami beberapa pelapukan di beberapa bagian serta terdapat beberapa tanaman rambat yang sudah mulai tumbuh di bawah lantai kedua dari bangunan ini. Dari pengamatan yang ada, Obyek masih dalam keadaan utuh namun kurang terawat.
KOMPLEKS JURUNG DI BAKONSU
13 November 2020
Kabupaten Lamandau
Kompleks bangunan tradisional jurung berada di tengah permukiman tidak jauh dari lokasi bangunan tradisional Rumbang Bulin dan RumahBintang Bulan. Topografi lokasi kompleks bangunan jurung relatif datar dengan elevasi 27 mdpl. Vegetasi di sekitarnya berupa semak belukar dan pohon durian. Saat ini bangunan-bangunan jurung tersebut dimiliki oleh beberapa kepala keluarga. Namun sebagian besar dari bangunan jurung tersebut sudah tidak digunakan lagi. Secara umum ukuran bangunan jurung relatif sama yakni sekitar 2x4 meter dengan tiang berjumlah enam buah. Orientasi bangunan jurung saling berhadapan dengan arah timur-barat. Beberapa bangunan jurung sudah nampak rusak dan ditutupi tanaman menjalar yang cukup rimbun. Bahkan ada bangunan jurung yang hanya menyisakan struktur tiang
STABANG
13 November 2020
Kabupaten Lamandau
Stabang merupakan sebuah wilayah bukit landai dengan tutupan vegetasi hutan dan tegalan di tepi sungai Batang Kawa yang disebut sebagai laman tuha (kampung tua) dari kampung Kinipan. Stabang berada di tepi pertemuan sungai Stabang (anak sungai Batang Kawa yang mengalir dari utara ke selatan) dengan sungai Batang Kawa. Kondisi saat ini berupa bukit landai dengan permukaan relatif datar kecuali lereng sebelah selatan-barat yang melereng tajam ke arah sungai Batang Kawa. Adapun penanda kampung yang teramati adalah sebuah fitur cekungan di permukaan tanah yang diyakini sebagai parit kampung. Lebar bagian dasar parit sekitar 5 m dengan kedalaman sekitar 4-5 m. Jarak antara parit dengan area bukit yang permukaannya data kurang lebih 2,5 m. Parit tersebut tidak melingkar tetapi membujur dari barat ke timur membatasi area yang diduga sebagai lokasi kampung tua dengan sungai. Bentuk lahan Stabang dengan fitur parit berada di sudut pertemuan Sungai MumpukStabang dengan Sungai BatangKawa. Menurut informasi warga sekitar, parit tersebut dibuat dengan tujuan untuk melindungi ternak kampung agar tidak turun ke arah sungai. Di lokasi ini tidak ditemukan pecahan keramik atau struktur pamangul laman. Di seberang lokasi yang diyakini sebagai lokasi kampung tua Stabang, tepatnya di seberang Sungai Batang Kawa sisi selatan terdapat lokasi yang diyakini sebagai lokasi penguburan kampung Stabang (UTM 49S X: 521487 Y: 9810567). Area tersebut bisa ditempuh dengan perahu menyeberangi Sungai Batang Kawa. Kondisi saat ini di area penguburan tersebut berupa bukit landai dengan tutupan vegetasi hutan. Terdapat fitur gundukan yang diduga menjadi lokasi penguburan Bungkal Pangoma (leluhur Kahingai). Setelah diperiksa menggunakan alat besi, ternyata gundukan tanah tersebut bercampur dengan bongkahan iron slag. Iron slag adalah bongkahan sisa-sisa pengolahan besi. Keberadaan iron slag tmenjadi indikasi bahwa lokasi tersebut pernah digunakan manusia sebagai tempat beraktivitas mengolah bijih besi dalam batuan besi untuk menjadi alat sehari hari sampai dengan pusaka berbahan besi.
RUMAH ADAT BINTANG BULAN
13 November 2020
Kabupaten Lamandau
Rumah Bintang Bulan berada di sebelah selatan kompleks bangunan jurung. Berjarak sekitar 150 m dari Sungai Lamandau. Penduduk setempat memberi nama berdasarkan pada ukiran berbentuk bintang dan bulan yang ada di bagian atas bangunan tersebut. Ukiran bintang dan bulan tidak hanya bersifat estetis namun juga bersifat praktis yakni untuk ventilasi udara. Orientasi bangunan tersebut adalah barat-timur sejajar dengan Sungai Lamandau, sementara fasad atau pintu masuk bangunan menghadap ke barat. Konstruksi bangunan keseluruhannya menggunakan kayu ulin. Secara umum kondisi bangunan masih tergolong baik meskipun cenderung kurang terawat. Bangunan tradisional tersebut berada di topografi yang relatif datar dengan elevasi 26 mdpl. Vegetasi yang teramati di sekitar Rumah Bintang Bulan berupa pohon mangga, rambutan, dan pohon-pohon berbatang keras.
MAKAM FRAU ELISABET BAIER / ISTRI ZENDING BAIER
13 November 2020
Kabupaten Lamandau
Pada awalnya, obyek merupakan sebuah makam yang bergaya tradisional dan berposisi di halaman belakang yakkes Hangulan Shinta Nanga Bulik dan bersebelahan dengan makam Suaminya, yaitu Zending Baier. Pada sekitar tahun 2000-an terdapat Program Pelebaran Jalan Protokol di Nanga Bulik dan mengenai lokasi kedua makam tersebut. Untuk mengamankannya, maka makam zending baier kemudian dibungkar dan jenazahnya diambil keluarganya dan dimakamkan di negara asalnya, yaitu Jerman. Sedangkan makam Elizabeth (istri Zending Baier) dipindahkan ke Kompleks Makam Kristen di RT 05 Nanga Bulik hingga saat ini. Saat makam dipindahkan ke lokasinya s=yang baru, makam kemudian ditutup dengan keramik berwarna biru dilengkapi dengan nisan salib dari kayu. Menurut info yang ada, salib ini merupakan salib yang masih asli dari tempat asalnya saat makam tersebut masih berada di lokasi lama. Pada Nisan Salin terdapat tulisan : * : 26 I 18XX (tulisan sudah kabur) FRAU ELISABET BAIER + : 9 II 1930. Disamping obyek, juga terdapat makam yang satu cungkup dengan obyek. dan di bagian nisannya yang berbentuk salib terdapat tulisan : * : 7 5 1932 EUGEN RAMBA + : 1 2 11996 dan masih belum didapat informasi lebih lanjut mengenai hubungan antara makam yang berada disamping obyek dengan obyek dan berada satu cungkup dengan obyek.
DATA REGISTRASI
Rekapitulasi data registrasi objek cagar budaya berdasarkan tahap-tahap pendaftaran sampai dengan penetapan dan penomoran registrasi nasional.
99.340
Warisan Budaya Bersifat Kebendaan
49.820
Objek yang diduga Cagar budaya
1.788
Rekomendasi Cagar Budaya
1.635
Cagar Budaya