10 Objek Terverifikasi Terakhir

Situs Kabuyutan Ciburuy
12 April 2021
SITUS KABUYUTAN CIBURUY terletak di lereng Gunung Cikuray terdiri atas beberapa bangunan yang berupa rumah adat. Beberapa bangunan dimaksud adalah: 1. Bangunan Bumi Patamon dengan luas bangunan 72 m2 2. Bangunan Bumi Padaleman dengan luas bangunan 48,5 m2 3. Bangunan Saung Lisung dengan luas bangunan 25,5 m2 4. Bangunan Leuit dengan luas bangunan 35 m2 5. Bangunan Pangalihan dengan luas bangunan 6 m2 6. Struktur yang merupakan tempat pangsujudan Setiap bangunan memiliki fungsi yang berbeda. Struktur bangunannya dibangun dengan menggunakan bahan organik, antara lain bambu untuk membangun dinding dan kontruksi atap serta lantai; dan bahan ijuk sebagai penutup atapnya. Bangunan-bangunan tersebut didirikan pada lahan dengan vegetasi rumpun bambu (mendominasi) serta pohon beringin berukuran besar. SITUS KABUYUTAN CIBURUY secara susunan, struktur, dan bentuknya menggunakan “pola tiga” (tritangtu). Pada konsep “tritangtu” susunan membujur dari hulu ke hilir atau dari Selatan ke Utara sehingga bagian yang makin mendekati hulu bangunan akan semakin sakral, dalam hal ini arah hulunya dalah Gunung Cikuray dan arah hilirnya adalah Sungai Cimanuk. Bangunan dengan konsep ini di SITUS KABUYUTAN CIBURUY dapat diketahui bangunan sakralnya antara lain bangunan Padaleman dan Pangalihan. Oleh sebab itu, SITUS KABUYUTAN CIBURUY terdapat bangunan lain selain banguan sakral yaitu bangunan profan antara lain Bumi Patamon, Saung Lisung, serta Leuit. Rumah-rumah tradisional Sunda sebagian besar mengambil bentuk dasar struktur atap pelana, umumnya disebut atap gaya kampung, terbuat dari bahan-bahan dedaunan (ijuk, serat aren hitam, hateup dedaunan atau dedaunan palem) menutupi kerangka kayu dan balok, dinding anyaman bambu, dan strukturnya dibangun di atas panggung pendek. Variasi atapnya bisa berupa atap melandai dan pelana (kombinasi atap pelana dan melandai). SITUS KABUYUTAN CIBURUY memiliki koleksi yang penting berkenaan dengan naskah Sunda Kuno. Naskah-naskah Sunda tersebut di Padaleman disimpan dalam tiga buah peti berukuran besar. Peti-peti tersebut disimpan di ruangan utama pada bangunan Bumi Padaleman. Di ruangan yang berukuran kira-kira 3 m x 3 m tersebut peti-peti ini ditempatkan di pojok kiri atas. Tepatnya peti-peti tersebut berada pada sebuah tempat yang memiliki ketinggian sekitar 1,5 meter dari lantai bangunan. Di dalam peti-peti tersebut, naskah tidak disimpan secara langsung, tetapi naskah-naskah yang berupa lempiran-lempiran daun lontar dan nipah disimpan dalam kotak-kotak kecil yang disebut kropak. Di dalam peti, kropak-kropak naskah tersebut satu-persatu dibungkus dengan kain kafan yang ukurannya sekitar 1 m x 1 m. Pembungkusan kropak dengan kain kapan berdasarkan pengamatan tidak melalui cara khusus hanya dibungkuskan agar seluruh bagian kropak tertutup kain. Kain kafan tersebut menurut Juru Kunci akan diganti bila kondisinya sudah rusak. Artinya selama kondisinya masih baik atau tidak rapuh kain-kain kapan pembungkus kropak akan tetap digunakan sebagai pembungkus kropak. Sementara itu kropak-kropak yang digunakan untuk menyimpan naskah di SITUS KABUYUTAN CIBURUY ada yang terbuat dari kayu yang dipahat sedemikian rupa hingga membentuk kotak kecil yang pada bagian dalamnya muat untuk naskah. Kropak dari kayu ini juga dihiasi oleh ukiran pada bagian muka atas kropaknya. Kemudian ada juga kropak yang terbuat dari triplek (kayu tipis berlapis). Kropak berbahan triplek ini tidak dihiasi dengan ukiran dan bentuknyapun sangat sederhana. Terdapat 726 lempir naskah Sunda Kuno disimpan di SITUS KABUYUTAN CIBURUY, ditulis dalam aksara Sunda Kuno dan aksara Buda atau Gunung. Sebanyak 501 lempir daun ditulis dalam aksara Sunda Kuno dan 225 lempir lainnya dalam aksara Buda atau Gunung. Lempiran naskah itu tersimpan ke dalam 26 kropak
Situs Kabuyutan Ciburuy
12 April 2021
SITUS KABUYUTAN CIBURUY terletak di lereng Gunung Cikuray terdiri atas beberapa bangunan yang berupa rumah adat. Beberapa bangunan dimaksud adalah: 1. Bangunan Bumi Patamon dengan luas bangunan 72 m2 dan terletak pada titik ordinat 07*17’40,9” LS dan 107*49’24,5” BT; 2. Bangunan Bumi Padaleman dengan luas bangunan 48,5 m2 dan terletak pada titik ordinat 07*17’41,9” LS dan 107*49’25,0” BT; 3. Bangunan Saung Lisung dengan luas bangunan 25,5 m2 dan terletak pada titik ordinat 07*17’40,8” LS dan 107*49’25,1” BT; 4. Bangunan Leuit dengan luas bangunan 35 m2 dan terletak pada titik ordinat 07*17’41,9” LS dan 107*49’25,3” BT; 5. Bangunan Pangalihan dengan luas bangunan 6 m2 dan terletak pada titik ordinat 07*17’40,8” LS dan 107*49’24,9” BT; serta 6. Struktur yang merupakan tempat pangsujudan terletak pada titik ordinat 07*17’41,5” LS dan 107*48’30,9” BT. Setiap bangunan memiliki fungsi yang berbeda. Struktur bangunannya dibangun dengan menggunakan bahan organik, antara lain bambu untuk membangun dinding dan kontruksi atap serta lantai; dan bahan ijuk sebagai penutup atapnya. Bangunan-bangunan tersebut didirikan pada lahan dengan vegetasi rumpun bambu (mendominasi) serta pohon beringin berukuran besar. SITUS KABUYUTAN CIBURUY secara susunan, struktur, dan bentuknya menggunakan “pola tiga” (tritangtu). Pola ini digunakan pada masyarakat petani ladang seperti yang terlihat “Kampung Luar, Kampung Tengah, dan Kampung Dalam atau Rama, Ratu, dan Resi” bagian luar/bawah bersifat profan, bagian dalam/atas bersifat sakral, sedangkan bagian tengah merupakan bagian paradoksnya. “Pola tiga” senantiasa mengharmoniskan dua hal yang berbeda dalam satu karya untuk kehidupan. Hidup bisa abadi kalau ada keharmonisan. Pada konsep “tritangtu” susunan membujur dari hulu ke hilir atau dari Selatan ke Utara sehingga bagian yang makin mendekati hulu bangunan akan semakin sakral, dalam hal ini arah hulunya dalah Gunung Cikuray dan arah hilirnya adalah Sungai Cimanuk. Bangunan dengan konsep ini di SITUS KABUYUTAN CIBURUY dapat diketahui bangunan sakralnya antara lain bangunan Padaleman dan Pangalihan. Oleh sebab itu, SITUS KABUYUTAN CIBURUY terdapat bangunan lain selain banguan sakral yaitu bangunan profan antara lain Bumi Patamon, Saung Lisung, serta Leuit. Rumah-rumah tradisional Sunda sebagian besar mengambil bentuk dasar struktur atap pelana, umumnya disebut atap gaya kampung, terbuat dari bahan-bahan dedaunan (ijuk, serat aren hitam, hateup dedaunan atau dedaunan palem) menutupi kerangka kayu dan balok, dinding anyaman bambu, dan strukturnya dibangun di atas panggung pendek. Variasi atapnya bisa berupa atap melandai dan pelana (kombinasi atap pelana dan melandai). Berikut bangunan-bangunan dan fitur di SITUS KABUYUTAN CIBURUY, antara lain: 1. Bumi Patamon Bumi Patamon adalah tempat yang digunakan untuk menerima tamu dan juga sebagai tempat tinggal Kuncen5 sekaligus Juru Pelihara situs pada kegiatan-kegiatan tertentu. Bangunan ini berdenah empat persegi panjang dengan ukuran 12x6 m dan bagian depan terdapat teras atau bangunan tambahan. Bentuk atap berupa pelana dengan ornamen ujung-ujung atap berbentuk "x" yang disebut capit gunting. Atap ini mengalami penambahan pada bagian teras rumah. Bangunan ini merupakan rumah panggung yang ditopang oleh beberapa tiang dengan umpak dari batu. Pada bagian bawah bangunan ditutup dengan bambu sehingga tiang penyangga tidak tampak. Bagian dalam bangunan ini terdiri atas tiga ruangan. Pintu masuk berada di sisi Selatan bangunan menuju ruang dapur. Ruang dapur berada di sisi Timur, sedangkan di sisi Barat dengan berbataskan dinding bambu dan sebuah pintu terdapat dua ruangan lain yaitu ruangan utama dan ruangan yang dipakai untuk menyimpan barang- barang rumah tangga. Di ruang dapur dengan lantai dari kayu terdapat perapian (hawu) yang beralaskan tanah yang digunakan untuk tempat memasak. Di ruangan utama terdapat rak tempat menyimpan barang koleksi dan tempat upacara ritual untuk membuka koleksi dilaksanakan. Di dalam ruangan Bumi Patamon terdapat koleksi (benda-benda pusaka dan pustaka) yang sebagian besar merupakan warisan dari Bapak Misnan yang merupakan kakek dari Kuncen sekarang. Apabila ingin melihat koleksi di ruangan ini, biasanya Kuncen akan melakukan ritual upacara adat yang dilaksanakan setelah adzan Ashar. 2. Bumi Padaleman Tritangtu sakral pada situs ini ialah Bumi Padaleman. Bumi Padaleman merupakan rumah panggung berbentuk persegi panjang dengan ukuran 12x6 m. Bangunan ini berada di dalam “Hutan Larangan” dan mempunyai letak di sebelah Selatan Bumi Patamon. Bentuk atap bangunan ini berupa pelana dengan ornamen ujung-ujung atap berbentuk "x" yang disebut capit gunting. Pintu masuk berada di sisi Utara bangunan dengan tangga dari bahan kayu. Lantai bangunan seluruhnya tersusun atas papan kayu yang diletakkan rapat. Dinding bangunan tersusun atas bilik bambu dengan tiang-tiang penyangga dinding. Bangunan ini terbagi atas dua ruang, yaitu ruang pamirunan dan ruang utama. Ruang pamirunan berupa ruang yang tidak begitu luas tanpa sekat yang digunakan untuk berjaga. Pada ruang ini terdapat perapian. Ruang utama mempunyai lantai yang lebih tinggi dengan ruang pamirunan. Untuk mencapai ruang utama terdapat tangga kayu dan sebuah pintu kayu. Ruang utama berupa ruangan besar tanpa sekat yang dengan dinding dari bahan bilik bambu. Bangunan ini dahulu dipakai oleh para Resi. Di atas pintu masuk ruangan ini terdapat sawér, yang terbuat dari daun aren yang dilipat khusus. Sawér berfungsi sebagai penolak bala dan diganti setiap tahun pada bulan Muharam. Dianggap sakral terlihat dari letaknya yakni terletak di daerah yang lebih tinggi, membujur dari Selatan ke Utara. Selain itu, Bumi Padaleman juga memiliki batas-batas halaman yang berundak. Ada dua halaman untuk menuju Bumi Padaleman dengan batasan kikis (pagar bambu yang dianyam) yang dilengkapi pintu. Apabila ingin masuk ke Bumi Padaleman, tidak boleh sembarang masuk karena harus didampingi oleh Kuncen sehingga dapat dikatakan bangunan ini memiliki sifat sakral. Bumi Padaleman ialah tempat untuk menyimpan benda-benda pusaka dan pustaka pra-Islam, antara lain sejumlah naskah kuno daun lontar dan nipah, kujang, keris, trisula, genta, dan peso pangot yang disimpan pada rak yang menggantung (pago). Terdapat tiga peti kayu yang diletakkan pada rak ini. 3. Saung Lisung Saung Lisung pada awalnya merupakan tempat untuk menyimpan lisung (alat untuk menumbuk padi sehingga menjadi beras) dan juga tempat untuk menumbuk padi. Saung Lisung berukuran 9x5 m dengan bentuk empat persegi. Bangunan ini mempunyai posisi di sebelah Utara Bumi Patamon. Bentuk atap bangunan ini berupa pelana dengan ornamen ujung- ujung atap berbentuk "x" yang disebut capit gunting. Dinding bangunan tersusun dari bambu. Dinding bambu yang menutup bangunan secara penuh dari atas ke bawah hanya terdapat di sisi Timur, sementara sisi Barat, Utara dan Selatan dinding bambu hanya pada bagian bawahnya saja. pada ketiga sisi dinding ini bagian atasnya terbuka dan terdapat tiang penyangga bangunan. Pintu masuk berupa bagian dinding yang terbuka pada bagian bawahnya tanpa daun pintu dan ada pada sisi Selatan bangunan. Makna simbolik dari bangunan Saung Lisung adalah sebagai bangunan laki-laki (Suherman, 2010: 179). Bangunan ini berada di sisi Utara Bumi Patamon. Perbedaan bangunan Saung Lisung ini pada bagian lantainya yang berupa permukaan tanah rata tidak seperti bangunan Bumi Patamon yang berupa panggung dengan lantai kayu. 4. Leuit Bangunan Leuit terletak di sisi Timur Bumi Patamon dengan panjang 7 m dan lebar 5 m. Bentuk atap bangunan ini berupa pelana dengan ornamen ujung-ujung atap berbentuk "x" yang disebut capit gunting. Bangunan ini merupakan bangunan panggung dengan tiang- tiang penyangga dan umpak batu di bagian bawahnya. Untuk dapat memasuki bagian dalam, pada sisi Barat terdapat tangga dari bahan kayu dan satu daun pintu. dinding tersusun atas bilik bambu dengan tiang-tiang kayu sebagai penguat. Bangunan Leuit memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan padi hasil panen dan bermakna sebagai bangunan perempuan. 5. Pangalihan Bangunan ini terletak pada sisi Selatan Bumi Patamon dengan panjang 3 meter dan lebar 2 meter. Bentuk bangunan ini adalah panggung dengan atap bangunan berupa bentuk pelana. Dinding berupa susunan bambu yang dirapatkan pada ketiga sisi, sementara dinding Selatan sisi terbuka. Fungsi bangunan ini sebagai tempat untuk menyimpan pagar. Pada bulan Muharam, kikis yang berada di Bumi Padaleman harus diganti dan sebelum diganti kikis yang baru harus terlebih dahulu ditempatkan di Pangalihan. Selain sebagai tempat menyimpan kikis, Pangalihan juga memiliki fungsi sebagai tempat untuk memindahkan sementara naskah kuno sebelum diadakan Upacara Seba (Anom, I.G.N et. al, 1996: 97). Pangalihan termasuk ke dalam bangunan sakral karena letaknya berada di Selatan (berada di lokasi yang lebih tinggi). 6. Pangsujudan Pangsujudan/Pangsolatan/Puseur Haji terdiri dari susunan batu andesit berbentuk pipih. Batu tersebut berupa satu batu pipih yang telah terbelah menjadi beberapa bagian dan beberapa batu di sebelah Selatannya. Terlihat adanya indikasi pengerjaan pada batu batu tersebut. Batu ini digunakan sebagai tempat pangsujudan (bersujud) dan bertapa. Posisi Pangsujudan berada di Barat Laut bangunan Bumi Patamon. Lokasi Pangsujudan dibatasi oleh pagar bambu (kikis). Menurut penuturan Juru Pelihara sekaligus Kuncen, tempat ini digunakan oleh K. H. Mustofa atau Prabu Kiansantang untuk mendapatkan ilham ketika sujud ketiga sehingga di sekitar tempat ini jumlah gerbangnya berjumlah tiga sebagai simbol. Koleksi SITUS KABUYUTAN CIBURUY memiliki koleksi yang penting berkenaan dengan naskah Sunda Kuno. Naskah-naskah Sunda tersebut di Padaleman disimpan dalam tiga buah peti berukuran besar. Peti-peti tersebut disimpan di ruangan utama pada bangunan Bumi Padaleman. Di ruangan yang berukuran kira-kira 3 m x 3 m tersebut peti-peti ini ditempatkan di pojok kiri atas. Tepatnya peti-peti tersebut berada pada sebuah tempat yang memiliki ketinggian sekitar 1,5 meter dari lantai bangunan. Di dalam peti-peti tersebut, naskah tidak disimpan secara langsung, tetapi naskah-naskah yang berupa lempiran-lempiran daun lontar dan nipah disimpan dalam kotak-kotak kecil yang disebut kropak. Di dalam peti, kropak-kropak naskah tersebut satu-persatu dibungkus dengan kain kafan yang ukurannya sekitar 1 m x 1 m. Pembungkusan kropak dengan kain kapan berdasarkan pengamatan tidak melalui cara khusus hanya dibungkuskan agar seluruh bagian kropak tertutup kain. Kain kafan tersebut menurut Juru Kunci akan diganti bila kondisinya sudah rusak. Artinya selama kondisinya masih baik atau tidak rapuh kain-kain kapan pembungkus kropak akan tetap digunakan sebagai pembungkus kropak. Sementara itu kropak-kropak yang digunakan untuk menyimpan naskah di SITUS KABUYUTAN CIBURUY ada yang terbuat dari kayu yang dipahat sedemikian rupa hingga membentuk kotak kecil yang pada bagian dalamnya muat untuk naskah. Kropak dari kayu ini juga dihiasi oleh ukiran pada bagian muka atas kropaknya. Kemudian ada juga kropak yang terbuat dari triplek (kayu tipis berlapis). Kropak berbahan triplek ini tidak dihiasi dengan ukiran dan bentuknyapun sangat sederhana. Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan oleh Tim Universitas Padjadjaran yang terbaca dalam tesis6 Nawawi (2020), yaitu naskah Sunda Kuno koleksi SITUS KABUYUTAN CIBURUY disimpan di tiga peti di Bale Padaleman. Penomoran peti mengikuti pendapat Darsa (2012) yang menyebut peti nomor 1 yang disimpan sebelah Selatan. Posisi tengah disebut nomor 2 dan paling Utara disebut peti nomor 3. Namun, untuk penyebutan arah mata angin, Darsa (2012), Sopian (2020), begitupun Acri (2009) menyebut peti yang disimpan di Bale Padaleman mulai dari arah Timur sebagai peti satu, peti di tengah sebagai peti dua, dan yang paling Barat sebagai peti tiga. Hal ini berbeda dengan pernyataan Juru Kunci SITUS KABUYUTAN CIBURUY Bapak Ujang Suryana yang menyebutkan arah yang sebenarnya adalah Selatan-Utara bukan Timur-Barat. Terdapat 726 lempir naskah Sunda Kuno disimpan di SITUS KABUYUTAN CIBURUY, ditulis dalam aksara Sunda Kuno dan aksara Buda atau Gunung. Sebanyak 501 lempir daun ditulis dalam aksara Sunda Kuno dan 225 lempir lainnya dalam aksara Buda atau Gunung. Lempiran naskah itu tersimpan ke dalam 26 kropak. Koleksi naskah SITUS KABUYUTAN CIBURUY diperkirakan ditulis
Peta Ciela
12 April 2021
Kabupaten Garut
Ukuran fisik Peta Ciela panjangnya 221 cm dan lebar 87 cm. Bahannya berupa kain katun berwarna putih kusam kecoklat-coklatan. Adapun tulisannya memakai tinta berwarna hitam agak pekat sehingga tulisan umumnya masih terbaca. Pada bagian sudut kiri atas (arah Barat-Utara pada posisi peta) tercantum tulisan tangan dalam huruf Latin yang sebagian sudah sangat kusam dan aus: “Den fiteig(?) 1862 van copy geruim van door K.F. Holle”. K.F. Holle adalah salah seorang pakar berkebangsaan Belanda yang banyak menulis tentang keadaan masyarakat dan kebudayaan Sunda pada masa kolonial termasuk tentang peta ini. PC ditulis menggunakan aksara tipe Cacarakan model aksara Jawa Pertengahan (Darsa, dkk., 2018). Aksara tersebut digunakan untuk menuliskan nama-nama tempat dan digunakan pula untuk menulis teks naratif dalam bahasa Jawa dialek Priangan berupa keterangan menyangkut kedudukan daerah Timbanganten. Nama gunung dan bukit digambar berbentuk segi tiga bersayap motif tumbuh-tumbuhan atau berbentuk kerucut lancip bermahkota. Nama sungai digambar dengan dua garis paralel dipotong dan/atau disambungkan dengan garis-garis kecil bergelombang yang bagian hulunya berbentuk bulat sehingga nampak seperti ular berjajar. Nama pemukiman digambar berupa lingkaran-lingkaran kecil berporos lintang. Nama tegalan digambar berupa kotak persegi polos. Nama rawa-rawa digambar berupa kotak persegi bergaris gelombang melintang. Nama telaga digambar berupa bulatan bergaris gelombang melingkar. Nama tempat umumnya disesuaikan dengan nama tumbuhan tertentu dan digambar dengan goresan garis berupa pohon. Data Toponimi dalam Peta Ciela (Darsa, dkk. 2018) Istilah toponimi diambil dari bahasa Belanda, toponymie, plaatsnaamkunde ‘pengetauan tentang nama tempat’. Penelitian toponim bagi studi sejarah sungguh sangat penting karena di dalamnya terkandung nilai sejarah, baik yang bertalian dengan lingkungan alam maupun dengan kehidupan manusia yang menempatinya. Peta Ciela ini mencatat data toponimi di sebagian wilayah Tatar Sunda, terutama intinya menggambarkan keadaan wilayah geografis Timbanganten. Data topografi yang tercatat dalam Peta Ciela berupa nama-nama sungai dan anak sungai yang bermuara ke Laut Jawa dan Samudera Hindia, nama gunung dan pegunungan, di samping nama telaga dan rawa-rawa beserta nama tempat. A. Toponimi di Luar Kotak I. Nama Sungai 1.1. Nama Sungai yang bermuara ke selatan (Samudera Hindia): 1. Cipélés (dari Gunung Cawan bermuara ke Timur)6 2. Ciputrapinggan (dari Gunung Cawan) 3. Cikidang (dari Gunung Cawan) 4. Cikambulan (dari Gunung Bokko) 5. Cijulanggading (dari Gunung Bokko) 6. Cikidang // Cimedang (dari Gunung Bokko) 7. Cikalisasi bercabang: (1) Cikunir (dari Galunggung), (2) Cisarepieun (dari Galunggung), (3) Cimérah, (4) Cikunten, (5) Cipanggarangan, (6) Cileumuyu, (7) Cinambo, dan (8) Cibakung. 8. Cilangla 9. Cipabeureuhan 10. Cipatireman 11. Cipatujah 12. Cijapya girang 13. Cipamumitan 14. Cikaleprang 15. Cipanglukutan 16. Cipaluhukan 17. Cikahéngan 18. Cikaranggajah 19. Cisanggiri 20. Cikera 21. Cibalingbing 22. Cikandi 23. Cipalebuh 24. Cilahutheureun 25. Cibayongbong 26. Cikarang 27. Cipasérangan 28. Cimangké 29. Cilihrangka 30. Cikaladaru 31. Cikadang 32. Cimawacong // Wattes … (bercabang: Ciharinem) 33. Cilayu 34. Cikanji 35. Cidahun 36. Cidammar 37. Cipandak 38. Cihujung 39. Cisadéa 40. Cisokan 41. Cicaréngcang 42. Cilebuganabong 43. Cisokan Bubulak 44. Cihayawan 45. Cipanarikan 46. Cibayah 47. Cilangkap7 48. Cipancar 49. Cimarinjung Kidul 50. Palabuhanratu (bermuara ke arah barat) 1.2. Nama Sungai yang bermuara ke Utara (Laut Jawa): 1. Cisadané, aliran pinggir Lawanghaji, berhulu dari Talagawarna 2. Cihaliwung, aliran pinggir Nusakalapa, aliran pinggir Pajajaran, berhulu dari Talagawarna 3. Aliran dari Rawa Marunda 4. Aliran pinggir Gomati 5. Muara sungai induk bercabang 7 anak muara dari aliran pinggir Karawang, bercabang: (1) Cikapayang // Cikapu(n)dung, (2) Cibéhét, (3) Cipikulan, (4) Cisangkuy 6. Ciparagé 7. Cilamaya 8. Cihaseum 9. Cicupunagara 10. Cikandanghaur 11. Cilalanang 12. Dremayu (muara besar): (1) Yang cabang-cabangnya, sebelah kiri berasal dari: Cipélés, Ciharus Mudikmebes, Cimularépan, Cibunni, Cidarédéng, Ciberas, Cinangsi, Cilopang, Cipalés, Cipeujeuh, Cipamulihan, Ciléjét, Cilimus, Cikawungréréng, Cicadas, Cigembor, Cisisti, Cipakuluban, Cigugur, Cipanycar, Cipayung, Cilolos, Cibegamangdibya, Cipodok, Cikalembu, Ciléngkrang, Cirabal, Ciburu, Cigupay, Cikajang, Cihideung, Cidawa, Cibingbin. (2) Yang cabang-cabangnya sebelah kanan berasal dari: Cibudug, Cipanyawahan, Cimulu, Cipanareuman, Cikalari, Ciburuy (dari Kawah Manuk), Cibodas (dari Kawah Manuk), Cicopong (dari Kawah Manuk), Cipapasaban, Cibeureum (dari Gunung Papandayan), Cikopo, Ciwaruga, Cipining, Ciwaru, Ciparagak, Cipélah, Ciséro, Cidatar, Ciseuseupan, Cigerem, Cirahab, Cilugagereng, Cibuluh, Cikaléréhan, Cilabuh. 13. Balariji 14. Cisagarasak 15. Cikuruban II. Nama Gunung 2.1 Dibaca dari arah Selatan, mulai dari Timur 1. Gunung Pinangbara 2. Gunung Halu 3. Gunung Sindangbarang 4. Gunung Sawal 5. Gunung Bongkok 6. Gunung Pasibar 7. Gunung Galunggung 8. Gunung Caremay 9. Gunung sawal8 10. Gunung Loka 11. Gunung Putri (Kunci) 12. Gunung Brahma 13. Gunung Paul 14. Gunung Margaratu 15. Gunung Gagabini 16. Gunung Julang 17. Gunung Pangrango 18. Gunung Mas 2.2 Dibaca dari arah Utara, mulai dari Barat: 1. Gunung Kancana 2. Gunung Sepuh 3. Gunung Patuha 4. Gunung Malabar 2.3 Dibaca dari arah Barat ke Timur: 1. Gunung Burangrang 2. (Gunung) Kangwelasarayu 3. (Gunung) Bukit Tunggul 4. Gunung Manglayang 5. Gunung Tompomas III. Nama Tempat 1. Rawa Nusakabangan 2. Sagaranakan 3. Nusa Kalapa 4. Pajajaran 5. Lawang Haji 6. Talagawarna 7. Binuangngeun 8. Rawa Marunda 9. Kalér ukur 10. Jalan (Leu)widamar 11. Wates Jampang 12. Gapalsi 13. Dremayu B. Toponimi di Dalam Kotak I. Nama Sungai 1.1. Dibaca dari sudut kanan bawah (Selatan) ke Barat-Utara: 1. Cimawaté (dari Gunung Licin mengalir ke Cikalisasi) 2. Cidelagunusa (dari Gunung Licin mengalir ke Cikalisasi) 1.2 Dibaca dari sudut kiri atas (Utara) ke Timur-Selatan: 1. Cikolé (diapit Gintungpugur dan Tegal Hyang) 2. Cijawajalaromén Mudik 3a. Ciharus Mudikmebes mengalir ke muara Dramayu lalu bercabang dari: kanan: (1) Cibudug, (2) Cipanyawahan, (3) 9 Cimulu, (4) Cipanareuman, (5) Cikallari, (6) Ciburuy (dari Kawah Manuk), (9) Cipapasaban, (10) Cikiruh, (11) Cibeureum (dari Gunung Papandayyan), (12) Cikopo, (13) Ciwaruga, (14) Cipining, (15) Ciwaru, (16) Ciparagak, (17) Cipélah, (18) Ciséro, (19) Cidatar, (20) Ciseuseupan, (21) Cigerem, (22) Cirahab, (23) Cilugagereng, (24) Cibuluh, (25) Cikaléréhan, dan (26) Cilabuh. 3b. Ciharus Mudikmebes mengalir ke muara Dremayu lalu bercabang dari kiri: (1) Cimularépan, (2) Cibuni, (3) Cidarédéng, (4) Ciberas, (5) Cinangsi, (6) Cilopang, (7) Cipalés, (8) Cipeujeuh, (9) Cipamulihan, (10) Ciléjét, (11) Cilimus, (12) Cikawunggéréng, (13) Cicadas, (14) Cigembor, (15) Cisisti, (16) Cipakuluban, (17) Cigugur, (18) Cipanycar, (19) Cipayung, (20) Cilolos, (21) Cibegamangdibya, (22) Cipodok, (23) Cikalembu, (24) Ciléngkrang, (25) Cirabal, (26) Ciburu, (27) Cigupay, (28) Cikajang, (29) Cihideung, (30) Cidawa, dan (31) Cibingbin. 4. Cinambo 5. Cibeulahjalu 6. Cipanggarangan II. Nama Gunung 2.1 Dibaca dari sudut kanan bawah (Selatan) ke Barat-Utara: 1. Gunung Licin 2. Gunung …? 3. Gunung Jaya 4. Gunung Karamat 5. Gunung Puntang 6. Gunung Karang 7. Gunung Sigar 8. Gunung Rajah 9. Gunung Pasonggan 10. Gunung Pala 2.2 Dibaca dari sudut kiri atas (Utara) ke Timur-Selatan: 1. Gunung Pamoyanan 2. Gunung Koba 3. Gunung Paleugabayan 4. Gunung Kurung 5. Gunung Papandayan 6. Gunung Padang 7. Gunung Cikuray 8. Gunung Kapur 9. Gunung Putra 10. Gunung Mandalawangi sirah Ciheuleut mipir Cisaunggalah 11. Gunung Bado Sigartiga ginaré Cikadu Wétan Liyunggunung, sirah Cimuncang 12. Gunung Karamat Sigarlaya Wékpalangkan 13. Gunung Canir10 14. Gunung Bitung Sigartiga kalér Li(m)bangngan kalérwétan Galuyungrung 15. Gunung Cakrida 16. Gunung Karakacak 17. Gunung Raja III. Nama Tempat 3.1 Pembacaan dari Selatan: 1. Sirah (?) 2. Sirah Cilangla 3. Sirah Ci(?) 4. Batara Seuran 5. Batutumpang 6. Sirah Cigugur 7. Hunijajar 8. Sirah Ciglongmaya 9. Pasir Pamoyanan 10. Caliyanggarah 11. Seladatar Ganasésa 12. Jambénira 13. Jambéniru 14. Kawunggenténg 15. Kaduluhur 16. Peuteuynunggal 17. Lemahputih 18. Guhalanang Cibarinem 3.2 Pembacaan dari Utara: 1. Lohnacogang 2. Pasirdadap 3. Rawakelang 4. Sariohwana 5. Talagagedé 6. Pasar Yakmani 7. Rawadengkeling 8. Pasirkari 9. Sangiyang Karamat 10. Pakujajar 11. Kandangwesi (luar sudut atas) 12. Tegalgedé 13. Pasanggenéng 14. Gintungpugur 15. Tegal Agung 16. Tegalbayah 17. Rawakelang 18. Rawakalopo 19. Leu(wi …?) 20. Leuwigelam 21. Bugang Panyjang 22. Hahurgenténg 23. Batununggal 24. Ciledug
Kemuncak 11-04/Bja/2020/B/0414
29 March 2021
Kabupaten Banjarnegara
Bagian kemuncak candi yang terdiri dari 2 buah profil polos. Bagian dasar datar menggunakan pen. Bagian atas meruncing menyerupai buah keben.
Arca Ganesha Wihara Buddha Dipa Pakintelan
19 November 2020
Kota Semarang
semula arca ini berada di sebuah bukit bernama bruning bersamaan dengan sebaran temuan situs lainnya. pada tahun 1960an dipindahkan ke wihara demi keamanan. Kontak Pengelola: Sammanera Santiphala Wahyudi(081326905919) Daryono(085237957456)
KOMPLEKS JURUNG LUBU HIJU
14 November 2020
Kabupaten Lamandau
Tidak jauh dari lokasi Rumah Garuda yakni sekitar 25 m di halaman belakang rumah, terdapat empat bangunan jurung (lumbung) dalam kondisi yang cukup terawat. Jurung tersebut memiliki hiasan puncak atap berupa kepala burung dan juga hiasan seperti mata tombak. Di salah satu jurung tersimpan tempayan dengan gaya Vietnam yang kemungkinan berasal dari abad ke-15 M. Jurung yang berada di Lubuk Hiju memiliki bentuk yang sama dengan jurung yang berada di desa-desa lainnya. Jurung dilengkapi dengan jelapakan yakni semacam cincin tiang penyangga terbuat dari kayu yang berfungsi mencegah tikus atau hewan lainnya naik ke lumbung.
RUMAH ADAT RUMBANG KELAWAR
14 November 2020
Kabupaten Lamandau
Bangunan tradisional rumah Rumbang Kelawar terletak di RT 02 Desa Kudangan. Lokasi rumah tersebut berada di sebelah barat SDN 01 Kudangan, di sisi utara Sungai Kungkung (salah satu anak Sungai Delang?). Topografi lokasi rumah tersebut relatif datar dengan elevasi 82 mdpl. Vegetasi yang termati di sekitar lokasi rumah berupa pohon rambutan, mangga, tanaman sayur dan tanaman hias. Saat ini lahan dan bangunan Rumah Rumbang Kelawar dimiliki oleh Samuel Sandan (82 tahun) dan berfungsi sebagai rumah tingal. Beliau mewarisi rumah tersebut dari orangtuanya yang membangun rumah pada sekitar tahun 1937. Pada zaman dahulu pembangunan rumah dilakukan secara gotong royong mulai dari proses pengambilan bahan yakni kayu ulin hingga proses pendirian rumah. Kontruksi bangunan rumah disangga oleh tiang kayu berjumlah 18 buah terdiri dari 9 buah di sebelah tepi kanan dan 9 buah di sebelah kiri, serta 9 buah tiang kayu di bagian tengah. Rumbang Kelawar adalah istilah yang diberikan oleh Samuel Sandan (mantir adat bebantan) sebagai pemilik rumah. Rumbang berarti lubang (goa) dan kelawar berarti kelelawar (gerombolan kelelawar). Nama tersebut memiliki makna agar penghuni rumah terdiri dari banyak kepala mulai dari kakek hingga cucu. Rumbang Kelawar merupakan rumah tradisional yang seluruh konstruksinya (dinding, atap sirap, lantai, teras, pintu, jendela, tangga) terbuat dari kayu ulin. Kondisi bangunan tergolong sangat baik dan relatif terawat. Rumbang Kelawar memiliki arah hadap ke Sungai Kungkung yang berjarak kurang lebih 50 m. Di dalam bangunan Rumbang Kelawar terdapat beberapa tempayan yang disimpan di dekat langit-langit rumah dan juga beberapa benda pusaka. Bangunan rumah Rumbang Kelawar sudah mengalami perubahan interior. Pada awalnya ruangan dalam bangunan rumah hanya terdiri dari satu ruangan besar tanpa sekat, namun sekarang ruangan besar tersebut disekat menjadi beberapa ruangan kecil. Di dalam bangunan rumah tersimpan beberapa benda antik koleksi Samuel Sandan yang sudah diwariskan secara turun temurun dari orangtuanya. Koleksi tersebut terdiri dari 25 buah tempayan (6 Remaung , 8 Pulau, 2 Tajau panjang, 3 Bukung, 4 Pantis, dan 1 Lipan), 4 buah gong, 1 buah Grantung, 1 buah Gentara, 3 buah botol (stoneware Eropa), 1 buah Tombak Seluak, dan 1 buah supit.
MENARA SURAU QOLBUL MUSLIMIN
14 November 2020
Kabupaten Lamandau
Obyek pada dasarnya adalah sebuah menara yang difungsikan sebagai fasilitas pelengkap surau sebagai sarana menggaungkan adzan sholat bagi masyarakat yang beragama muslim di sekitar obyek. Obyek memiliki dimensi p x l x t = 4 m x 4 m x 12 m, berbentu dasar menara tinggi berkaki empat berbahan kayu ulin, serta memiliki 4 lantai dan dua atap berbahan multi roof. Surau ini dibangun oleh Gusti M Idris yang bergelar Pangeran Kartawana Bin Setia Raja dari Kerajaan Kutaringin saat membawa misi pangeran dari Kerajaan Kutaringin untuk memperluas wilayah ke arah Nanga Bulik sekaligus melakukan syiar Islam di wilayah Nanga Bulik dan sekitarnya. Untuk tahun pembangunannyya masih memerlukan penggalian informasi lebih lanjut. Sampai saat ini, obyek yang berada tepat disamping surau qolbul muslimin ini, masih berdiri tegak dengan bahan aslinya, meski telah mengalami beberapa pelapukan di beberapa bagian serta terdapat beberapa tanaman rambat yang sudah mulai tumbuh di bawah lantai kedua dari bangunan ini. Dari pengamatan yang ada, Obyek masih dalam keadaan utuh namun kurang terawat.
FRAGMEN TIANG RUMAH ADAT GARUDA
14 November 2020
Kabupaten Lamandau
Fragmen atau sisa-sisa struktur tiang penyangga rumah tua yang disebutdengan Rumah Garuda masih bisa teramati hingga saat ini. Fragmen struktur tiang Rumah Garuda yang masih teramati berjumlah empat buah dengan memperlihatkan tanda pemotongan. Tiang-tiang tersebut dipotong ketika Rumah Garuda mengalami renovasi. Tiang-tiang dan dinding rumah tua diganti dengan tiang dan dinding dengan berbahan kayu yang baru. Saat ini rumah tersebut dihuni oleh keluarga Wijun Umpak, mereka merupakan keturunan dari pemilik Rumah Garuda.
OBYEK SEJENIS MENHIR DI MERAMBANG
14 November 2020
Kabupaten Lamandau
Benda batu semacam menhir berada di samping bangunan TK dan di belakang asrama gereja Desa Merambang. Batu tersebut terdiri dari dua buah dengan kondisi yang relatif baik. Terlihat di permukaan salah satu batu bukti pangkasan yang membutuhkan analisis lebih lanjut apakah pangkasan tersebut terjadi jauh di masa lampau atau di masa yang tidak terlalu lampau. Batu tersebut menancap kuat di dalam tanah dengan ketinggian batu yang muncul di permukaan tanah sekitar 1 meter.
DATA REGISTRASI
Rekapitulasi data registrasi objek cagar budaya berdasarkan tahap-tahap pendaftaran sampai dengan penetapan dan penomoran registrasi nasional.
99.400
Warisan Budaya Bersifat Kebendaan
49.786
Objek yang diduga Cagar budaya
1.787
Rekomendasi Cagar Budaya
1.634
Cagar Budaya