Hotel Toegoe

No. Regnas CB CB.13
SK Penetapan
No SK : 013/M/2014
Tanggal SK : 15 Januari 2014
Tingkat SK : Menteri
No SK : PM.25/PW.007/MKP/2007
Tanggal SK : 26 Maret 2007
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Bangunan
Nama Cagar Budaya Hotel Toegoe
Keberadaan Provinsi : D.I Yogyakarta
Kabupaten / Kota : Kota Yogyakarta

Hotel Toegoe dibangun pada awal abad XX, yaitu pada saat Yogyakarta dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921). Pada awalnya, Hotel Toegoe bernama NV Grand Hotel de Djogdja, kemudian berubah menjadi NV Narba. Pendirian dan perubahan nama ini tidak diketahui secara pasti, namun sejak semula pendirian bangunan ini berfungsi untuk hotel. Dalam surat kabar Mooi Jogjakarta, Hotel Toegoe diiklankan sebagai hotel terbaik untuk tempat istirahat.
Pada tahun 1949, Hotel Toegoe dipakai untuk rapat antara Indonesia dengan Commitee of Good Offices for Indonesia (Komisi Tiga negara beranggotakan Australia, Belgia, dan Amerika Serikat) untuk melakukan persiapan Konferensi Meja Bundar yang dilaksanakan tahun 1949 di Den Haag, Belanda.
Pada masa perjuangan kemerdekaan, Hotel Toegoe menjadi salah satu sasaran dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, karena dipakai sebagai markas tentara Belanda.
Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala yang berlokasi di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Benda Cagar Budaya, Situs, atau Kawasan Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, Hotel Toegoe ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya seluas 2395 m2. Pada tahun 2004, pada bagian belakang bangunan induk dan bangunan di sisi selatan dibongkar untuk bangunan baru, sehingga luasnya tinggal 1.527,63 m2.

Hotel Toegoe terdiri dari 1 (satu) Bangunan Induk yang diapit oleh bangunan yang lebih kecil di kanan kirinya. Ketiga bangunan yang berdenah persegi panjang menghadap ke barat. Bangunan ini bergaya kolonial.
1. Fasade ketiga bangunan ini sangat menonjol dan tinggi hingga menutupi atap pelana. Di bagian atas fasade memiliki ornamen tiang-tiang pendek berjenjang yang tersusun simetris memuncak di bagian tengahnya. Fasade bangunan induk diapit oleh dua menara di sisi kanan dan kiri.
2. Bangunan ini mempunyai pintu dan jendela yang berukuran besar dengan plafon yang tinggi sehingga pencahayaan dan sirkulasi udara baik. Jendela atas (bouvenlicht) berbentuk lengkung dengan hiasan kaca patri warna-warni.
3. Bangunan beratap pelana dengan kemiringan tajam. Pada bangunan induk terdapat empat tiang. Dinding bagian dalam hall dihiasi panil-panil relief dengan motif bunga.