Hotel Majapahit

No. Regnas CB CB.14
SK Penetapan
No SK : 021/M/2014
Tanggal SK : 17 Januari 2014
Tingkat SK : Menteri
No SK : PM.23/PW.007/MKP/2007
Tanggal SK : 26 Maret 2007
Tingkat SK : Menteri
No SK : 188.45/251/402.1.04/1996
Tanggal SK : 26 September 1996
Tingkat SK : Walikota
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Bangunan
Nama Cagar Budaya Hotel Majapahit
Keberadaan Provinsi : Jawa Timur
Kabupaten / Kota : Kota Surabaya

Tahun 1900 keluarga Sarkies membeli rumah dengan lahan seluas 1000 m².
Pada tahun 1910 dimulailah peletakan batu pertama pendirian hotel oleh keluarga Sarkies yang dirancang oleh Regent Alfred John Bidwell dengan gaya Art Nouveau. Keluarga Sarkies adalah keluarga pendiri Hotel Raffles di Singapura, Hotel Strand di Birma, hotel The Eastern & Oriental Hotel di Penang. Hotel ini diresmikan pada tanggal 1 Juli 1911 dan merupakan salah satu hotel tertua di Indonesia yang masih beroperasi.
Pada tahun 1923 dan 1926 dilakukan perluasan bangunan sayap kanan dan kiri.Pada tahun 1936 didirikan bangunan lobi hotel bergaya Art Deco, untuk kepentingan toko, kantor dan rumah makan.
Pada tahun 1942 saat Surabaya diduduki oleh Jepang, hotel ini diganti namanya menjadi Yamato Hoteru atau Hotel Yamato. Tahun 1945, hotel ini digunakan sebagai kamp tahanan sementara untuk wanita dan anak-anak Belanda.
Pada tanggal 19 September 1945, terjadi insiden perobekan ini warna biru pada bendera Kerajaan Belanda (Merah Putih Biru) di tiang bendera yang terdapat pada menara di sudut barat laut Hotel Yamato, sehingga menjadi bendera Republik Indonesia (Merah Putih).
Perobekan ini dilakukan oleh beberapa pemuda Surabaya karena pihak Belanda mengibarkan Bendera Kerajaan Belanda (merah putih biru) secara sepihak.
Insiden perobekan bendera merah putih biru tersebut kemudian membuat nama hotel ini berubah menjadi Hotel Merdeka.
Pada tahun 1946, Sarkies bersaudara kembali mengelola hotel dan mengubah namanya menjadi Lucas Martin Sarkies Hotel (LMS).
Pada tahun 1969, perusahaan Mantrust HoldingCo. menjadi pemilik baru dan menamai hotel dengan nama Majapahit.
Pada tahun 1993, Mandarin Oriental Groups bergabung dengan Sekar Groups membeli dan kemudian merenovasinya dengan dana senilai USD 35.000.000.
Pada tahun 1996, dilakukan pemugaran restoran. Nama Hotel Majapahit diubah menjadi Mandarin Oriental Hotel Majapahit Surabaya, sebagai hotel bintang lima. Hotel ini kemudian mendapat Architectural Preservation Award.
Pada tahun 2006, PT. SEKMAN WISATA mengambil alih hotel dan mengubah namanya menjadi Hotel Majapahit. Pada tahun ini pula Hotel ini menerima penghargaan 2006 Best ASEAN Culture Preservation Effortdari The ASEAN Tourism Association.

Hotel Majapahit terdiri dari bangunan induk (ballroom) di tengah, dikelilingi oleh bangunan berbentuk U dan di bagian depan terdapat lobi hotel. Bangunan induk di tengah dikelilingi oleh taman (inner court) yang luas. Di bagian belakang sisi timur laut terdapat kolam renang. Bangunan ini memiliki dua gaya, Art Nouveau dan Art Deco. Seluruh bangunannya bertingkat dua, dengan koridor berbentuk lengkung (arch) yang berfungsi sebagai akses sirkulasi dan penepis air hujan dan sinar matahari langsung. Pada langit-langit dan samping atas bangunan induk terdapat komponen kaca berwarna sebagai jalan masuk sinar matahari (bovenlicht, kaca patri). Di barat laut bagian depan hotel terdapat monumen peristiwa perobekan bagian bendera warna biru dari Kerajaan Belanda pada 19 September 1945 oleh para pemuda (arek-arek) Surabaya sehingga menjadi bendera merah putih.