Museum Geologi

No. Regnas CB CB.989
SK Penetapan
No SK : PM.04/PW.007/MKP/2010
Tanggal SK : 8 Januari 2010
Tingkat SK : Menteri
No SK : 184/M/2017
Tanggal SK : 6 Juli 2017
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Bangunan
Nama Cagar Budaya Museum Geologi
Keberadaan Provinsi : Jawa Barat
Kabupaten / Kota : Kota Bandung

Pembangunan Geologisch Laboratorium atau Geologisch Museum (Museum Geologi) tidak terlepas dari Dienst van den Mijnbouw (Dinas Pertambangan). Dienst van den Mijnbouw ingin membangun sebuah gedung yang difungsikan untuk menyimpan hasil penyelidikan tambang-tambang di Hindia Belanda. Arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg lalu ditunjuk untuk merancang dan membangun gedung ini. Pembangunan gedung dimulai pada 23 April 1927. Dalam proses pembangunannya diperlukan 300 pekerja dan menghabiskan dana hingga 400 gulden. Gedung bergaya art deco ini kemudian diresmikan penggunaannya pada 6 Mei 1929 bertepatan dengan penyelenggaraan Fourth Pacific Science Congress (Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4). Pada tahun 1941, Museum Geologi berubah menjadi markas Angkatan Udara Hindia Belanda. Koleksi-koleksi dari Museum Geologi kemudian dipindahkan ke Gedung Pensioen Fonds (yang kemudian menjadi Gedung Dwiwarna).
Di masa kependudukan Jepang (1942-1945), Museum Geologi berada di bawah Kogyo Zimusho yang kemudian berubah nama menjadi Chisitsu Chosasho. Laporan kegiatan pertambangan di masa kependudukan Jepang tidak banyak ditemukan sehingga membuat Museum Geologi tidak mendapatkan koleksi tambahan di masa itu.
Setelah Indonesia merdeka, Museum Geologi berada di bawah pengelolaan sekaligus menjadi Djawatan Tambang dan Geologi. Pada tahun 1947 Belanda melancarkan Agresi Militer I. Belanda berusaha merebut beberapa bangunan penting termasuk Museum Geologi. Karena tekanan keadaan, Djawatan Tambang dan Geologi menyerahkan bangunan Museum Geologi ke pihak Belanda.
Sejak saat itu, kantor Djawatan Pertambangan dan Geologi berpindah berturut-turut ke Tasikmalaya, Solo, Magelang, dan Yogyakarta. Arie Frederick Lasut yang merupakan Kepala Djawatan Pertambangan dan Geologi saat itu (tanggal 7 Mei 1947) telah menyelamatkan dokumen-dokumen pertambangan dan geologi sehingga tidak jatuh ke pihak Belanda. Atas jasa-jasanya Arie Frederick Lasut ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 012/T.K/1969 tanggal 20 Mei 1969. Prasasti untuk mengenang jasa-jasa Arie dipasang di tangga menuju lantai 2 Museum Geologi di Bandung.
Tahun 1950, kantor Djawatan Tambang dan Geologi yang kemudian diubah namanya menjadi Djawatan Pertambangan Republik Indonesia kembali ke gedung semula di Bandung.

Museum Geologi merupakan Bangunan Cagar Budaya yang masih berdiri dengan baik hingga saat ini di kota Bandung. Bangunan Museum Geologi terletak tidak jauh dari Gedung Sate yang merupakan ikon kota Bandung dan masih berada satu kawasan bangunan-bangunan bersejarah, di sekitar bangunan museum kini telah banyak berdiri bangunan perkantoran, pemukiman penduduk dan pertokoan. Selain sebagai Museum, bangunan ini juga berfungsi sebagai labolatorium geologi.
Gedung Geologi memiliki gaya arsitektur art deco dengan kesan horizontal, terdiri dari dua lantai dengan arah hadap ke Selatan yaitu ke arah jalan Surapati. Bangunan ini telah mengalami berbagai perubahan dikarenakan semakin meningkatnya jumlah pengunjung. Saat ini Museum Geologi memiliki kurang lebih 250.000 koleksi batuan dan mineral, sekitar 60.000 adalah koleksi fosil dan lainnya. Koleksi tersebut disimpan di ruang dokumentasi koleksi dan ditampilkan di ruang peragaan.