Benteng Van Der Wijck

No. Regnas CB CB.1022
SK Penetapan
No SK : PM.57/PW.007/MKP/2010
Tanggal SK : 22 Juni 2010
Tingkat SK : Menteri
No SK : 184/M/2017
Tanggal SK : 6 Juli 2017
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Bangunan
Nama Cagar Budaya Benteng Van Der Wijck
Keberadaan Provinsi : Jawa Tengah
Kabupaten / Kota : Kabupaten Kebumen

Sebelum menjadi sebuah benteng, di tempat berdirinya Benteng Cochius atau Benteng van Der Wijck merupakan sebuah kantor Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang ada di Gombong. Bangunan kantor tersebut kemudian diubah menjadi benteng pada tahun 1818 sesuai dengan informasi yang ada di dalam benteng. Pembangunan dilakukan di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen.
Dalam sumber lain dinyatakan jika benteng ini mulai dibangun pada tahun 1844. Benteng dibangun oleh Frans David Cochius dan selesai dibangun pada tahun 1848. Benteng ini kemudian diberi nama Benteng Cochius. Frans David Sochius merupakan perwira tentara Belanda yang juga ahli tentang bangunan benteng.
Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang meletus pada tahun 1825-1830 cukup merepotkan Hindia-Belanda. Perang yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro tersebut dapat dipatahkan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui sebuah strategi yang disebut dengan Benteng Stelsel. Strategi ini diciptakan oleh Jenderal de Kock yang mulai digunakan pada tahun 1827. Dalam strategi ini, Belanda membangun benteng di beberapa wilayah di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur untuk mempersempit ruang gerak gerilya yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro beserta pasukannya. Kantor dagang bekas Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang ada di Gombong tersebut kemudian digunakan sebagai markas tentara untuk mendukung strategi Benteng Stelsel.
Benteng ini dibangun oleh militer Belanda dengan mempekerjakan kurang lebih 1400 orang yang berasal dari Banyumas dan Bagelen. Pada tahun 1856, Benteng Cochius difungsikan menjadi sekolah militer (Pupillenschool) atau sekolah taruna untuk orang-orang Eropa. Benteng berganti nama menjadi Benteng Van Der Wijck sebagai hadiah atas jasanya di bidang kemiliteran Belanda.
Di masa kependudukan Jepang, Benteng Van Der Wijck masih difungsikan sebagai tempat pelatihan tentara. Fungsi ini masih bertahan hingga Indonesia merdeka. Benteng digunakan sebagai barak ABRI hingga tahun 1980. Setelah itu benteng diubah fungsinya menjadi tempat tinggal anggota TNI Angkatan Darat hingga tahun 2000.

Bangunan benteng peninggalan Belanda ini berdenah segi delapan, berlantai 2 dengan tinggi 10 meter, dan memiliki empat pintu masuk yang terletak pada keempat penjuru mata angin dengan pintu utama terletak di sisi barat daya. Bangunan benteng ini memiliki dinding setebal 1,4 meter. Pada lantai pertama Benteng Van Der Wijck terdapat empat pintu masuk dan 16 ruangan besar yang masing-masing berukuran 18 m x 6,5 m serta juga terdapat 27 ruangan lain berbeda ukuran. Pada lantai pertama terdapat 72 jendela dengan 63 pintu penghubung dan pintu keluar, serta terdapat 8 tangga menuju lantai dua serta 2 tangga darurat.
Pada lantai dua terdapat 70 pintu penghubung, 84 jendela, 16 ruang yang berukuran besar masing-masing berukuran 18 m x 6,5 m, 25 ruang yang berukuran kecil, dan terdapat 4 tangga menuju atap. Benteng Van der Wijck memiliki atap yang berbentuk piramid yang terbuat dari bata merah, berbetuk seperti bertingkat yang berukuran 3 m x 3 m x 1,5 m dan terdapat dua ventilasi.
Selain benteng, terdapat bangunan lain sebagai unsur-unsur pendukung seperti penjara, garasi, barak prajurit, bangunan logistik perkantoran, rumah sakit dan kompleks makam Belanda.