Makam Juang Mandor

No. Regnas CB CB.1335
SK Penetapan
No SK : 430/224/HK-2016
Tanggal SK : 14 April 2016
Tingkat SK : Bupati
Peringkat Cagar Budaya -
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Makam Juang Mandor
Keberadaan Provinsi : Kalimantan Barat
Kabupaten / Kota : Kabupaten Landak

Pada tanggal 19 Desember 1941, Kota Pontianak diserang oleh pesawat tempur Jepang. Serangan tersebut tidak mampu dihadapi oleh tentara Belanda yang ada di Pontianak. Serangan udara kembali terjadi pada tanggal 22 dan 27 Desember. Akibat serangan tersebut, tentara Jepang berhasil menguasai Kalimantan Barat pada 21 Januari 1942. Sejak saat itu, wilayah Kalimantan Barat berada di bawah kendali Angkatan Laut Jepang (Kaigun).

Akibat pendudukan Jepang, semua organisasi politik yang ada di Kalimantan Barat dibubarkan. Walau demikian, beberapa tokoh seperti Noto Soedjono dan dr. Rosebini berusaha mendirikan organisasi lain yang didukung oleh Angkatan Laut Jepang, yaitu Nissinkai. Angkatan Laut Jepang berharap organisasi tersebut dapat mendukung Jepang dalam Perang Asia Timur Raya.

Angkatan Laut Jepang mulai menaruh curiga terhadap rakyat Kalimantan Barat, terutama kaum terpelajar dan para bangsawan yang menghalangi usaha Angkatan Laut Jepang di Kalimantan Barat. Pada tahun 1943, tentara Jepang mengundang Nissinkai dan rakyat Kalimantan Barat dalam sebuah pertemuan. Dalam pertemuan tersebut, pihak Jepang marah karena rakyat Kalimantan Barat mencoba meracuni perwakilan Jepang. Akibat hal tersebut, Gedung Landraadweg yang menjadi tempat pertemuan dikepung tentara Jepang. Pemimpin-pemimpin organisasi pergerakan di Kalimantan Barat banyak yang ditangkap dan dibunuh setelah pertemuan tersebut.

Selama masa pendudukan Jepang, di wilayah Kalimantan Barat terjadi dua kali peristiwa pembataian besar. Pembantaian besar pertama terjadi pada 23 Oktober 1943. Pembantaian kedua terjadi pada tanggal 28 Juni 1944 yang turut menewaskan penguasa Kesultanan Pontianak saat itu, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Pembantaian kedua ini dikenal sebagai Peristiwa Mandor. Akan tetapi, sumber lain menyatakan jika Peristiwa Mandor merupakan penyebutan bagi rangkaian peristiwa penculikan dan pembunuhan yang telah terjadi sejak tahun 1943. Nama Mandor diambil karena lokasi pembunuhan terjadi di Kampung Mandor.

Untuk mengingat Peristiwa Mandor, pada 28 Juni 1977, Makam Mandor ini diresmikan sebagai Monumen Perjuangan oleh Gubernur Kalimantan Barat saat itu, Kadarusno.

Situs Cagar Budaya Makam Juang Mandor merupakan kompleks makam korban pembantaian yang dilakukan oleh tentara Jepang pada tahun 1944. Pintu masuk kompleks makam adalah sebuah gapura yang bertuliskan “Kupersembahkan Makam Juang bagimu untuk mengenang jasa dari pengorbananmu dalam menentang penjajahan di Kalimantan Barat tahun 1942-1945. Mandor, 28 Juni 1977 Gubernur Daerah Tingkat I Kalimantan Barat, Kadarusno.” Selain makam, di dalam kompleks tersebut terdapat sebuah diorama yang menggambarkan peristiwa Mandor. Diorama ini dibangun di sebuah tembok yang memanjang secara horizontal. Tembok diorama tersebut dipisahkan oleh sebuah monumen yang di tengahnya terdapat lambang Burung Garuda.

Selain itu, dalam Situs Makam Juang Mandor terdapat bangunan yang berisikan foto-foto para korban pembantaian. Korban-korban tersebut tidak hanya berasal dari masyarakat biasa, para bangsawan pun turut menjadi korban pembantaian, salah satunya adalah Sultan Pontianak ke-6, Syarif Moehammad Alkadri.

Peta Tidak Tersedia