Trowulan

No. Regnas CB CB.12
SK Penetapan
No SK : 260/M/2013
Tanggal SK : 30 Desember 2013
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Kawasan
Nama Cagar Budaya Trowulan
Keberadaan Provinsi : Jawa Timur
Kabupaten / Kota : Kabupaten Mojokerto

Berdasarkan sumber-sumber prasasti, naskah, dan tinggalan purbakala terbukti bahwa satuan ruang geografis Trowulan sudah digunakan sebagai permukiman sejak abad X-XV. Tinggalan purbakala yang berasal dari masa pra-Majapahit ditemukan tumpang tindih dengan tinggalan dari masa Majapahit.

Hal ini menunjukkan bahwa satuan ruang geografis ini sudah menjadi permukiman padat selama lebih kurang 500 tahun yang mengalami masa kejayaan antara abad X-XV.

Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya yang memerintah dari tahun 1293-1309. Kerajaan ini mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk tahun 1350-1389 didampingi oleh Patih Gajah Mada.

Penelitian arkeologi di Trowulan pertama kali dilakukan oleh W. Wardenaar pada tahun 1815 atas perintah Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Kerajaan Inggris untuk Jawa (1811-1816), untuk mengadakan pencatatan peninggalan arkeologi di daerah Mojokerto. Hasil kerja Wardenaar menjadi sumber tulisan Raffles dalam bukunya “The History of Java” (1817). Dalam buku itu disebutkan berbagai objek arkeologi sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di satuan ruang geografis Trowulan.
Penelitian penting yang mencoba untuk merekonstruksi ibukota pertama kali dilakukan oleh Maclaine Pont pada tahun 1926 dan hasilnya dimuat dalam Majalah Oudheidkundige Verslag berjudul De Kraton van Madjapahit. Sebelumnya juga telah ada rintisan yang dilakukan oleh Regent Modjokerto yang bernama Raden Adipati Ario Kromodjojo Adinegoro. Gambaran umum mengenai keindahan ibukota Majapahit diceritakan dalam naskah Nagarakrtagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.
Di satuan ruang geografis Trowulan tersebut juga ditemukan tinggalan purbakala berupa Gapura Bajangratu dan Wringinlawang, Kolam Segaran, Candi Tikus, Candi Gentong, Makam Putri Campa, Kompleks Makam Troloyo, serta kanal-kanal dan struktur bangunan permukiman. Berbagai sisa hunian di sekitar lingkungan Segaran dan Nglinguk membuktikan bahwa pusat permukiman ini dibangun dalam periode yang berbeda.

Satuan ruang geografis Trowulan mengandung tinggalan purbakala masa kerajaan Mataram Kuno abad X sampai dengan Majapahit abad XVI, berupa candi, gapura, kolam, waduk, jaringan kanal, unsur bangunan, ribuan peralatan rumah tangga dari terakota dan keramik. Temuan tersebut mengindikasikan satuan ruang geografis ini sebagai permukiman yang padat.

Dalam satuan ruang geografis ini, di samping ditemukan kanal-kanal kuno yang bersilangan juga jenis-jenis artefak. Kanal-kanal kuno itu membuktikan bahwa satuan ruang geografis ini sudah dipersiapkan menjadi pusat permukiman. Temuan-temuan artefak memperlihatkan stratifikasi sosial. Secara umum, konsentrasi peninggalan purbakala tersebut tersebar antara tiga sungai yaitu Kali Konto, Kali Gunting, dan Kali Brangkal.