Borobudur

No. Regnas CB CB.29
SK Penetapan
No SK : 286/M/2014
Tanggal SK : 13 Oktober 2014
Tingkat SK : Menteri
No SK : 173/M/1998
Tanggal SK : 16 Juni 1998
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Kawasan
Nama Cagar Budaya Borobudur
Keberadaan Provinsi : Jawa Tengah
Kabupaten / Kota : Kabupaten Magelang

Berdasarkan data yang tersedia, diduga bahwa Candi Borobudur didirikan secara bertahap oleh tenaga kerja sukarela yang bergotong royong demi kebaktian ajaran agama pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra antara tahun 750 – 842 M. Candi ini merupakan bukti sejarah perkembangan agama Buddha di Indonesia. Dalam perspektif ini, Candi Borobudur dilihat sebagai bukti puncak perkembangan agama Buddha di wilayah ini. Hal ini dapat dilihat dari pahatan relief, susunan patung maupun figur-figur Buddha yang diarcakan. Semuanya menunjukkan agama Buddha telah mencapai tarafnya yang kompleks sebagai wahana besar (mahayana) yang dianut oleh banyak anggota masyarakat. Sementara, ada beberapa ahli lain yang mencoba menafsirkan adanya unsur-unsur aliran yang bersifat tantrisma.
Tafsiran lain menyebutkan bahwa Candi Borobudur bukanlah semata-mata berlatar agama Buddha, tetapi telah dipengaruhi pula oleh konsep pemujaan leluhur yang diwujudkan dalam bentuk bangunan berteras sebagaimana bangunan pemujaan leluhur dari Jaman Prasejarah. Dengan demikian, Borobudur dilihat sebagai bukti paduan antara religi murba dan Budhisma. Berbagai persepsi “sejarah” itu telah mencetuskan keragaman fungsi Borobudur, mulai dari fungsinya sebagai monumen untuk memuliakan leluhur para pendiri kerajaan Syailendra, sebagai gambaran gunung kosmis, sebagai mandala, sebagai tuntutan mencapai ke-budha-an (dasa bodhisatwabhumi), dan sebagai stupa besar (Tanudirjo, 2007).
Hingga saat ini belum diketahui pasti alasan mengapa candi-candi di satuan ruang geografis Borobudur ditinggalkan. Dugaan sementara yang dikemukakan sejumlah ahli, penyebab candi-candi itu ditinggalkan adalah bencana meletusnya Gunung Merapi tahun 1006. Namun, hasil penelitian geologi, vulkanologi, dan arkeologi belum dapat membuktikan terjadi-nya letusan hebat tersebut. Apalagi, ada pecahan keramik dan matauang hasil penelitian di Borobudur menunjukkan berasal dari abad XV M (Miksic, 1990). Lagipula, Nagarakrtagama yang ditulis oleh Kawi Prapanca pada abad ke-14 juga masih menyebutkan tempat bernama ‘Budur’ sebagai salah satu tempat agama Budha Bajradara yang telah berprasasti (lihat Muljana, 2006). Dengan demikian, mungkin candi ini sebenar-nya masih digunakan hingga abad XV, walaupun sudah tidak banyak pendukungnya.
Pada abad XVIII, dapat dipastikan Candi Borobudur sudah tidak digunakan lagi. Beberapa naskah Jawa, antara lain Centhini, menyebutkan lokasi candi ini sebagai bukit atau tempat yang dapat membawa kematian atau kesialan. Artinya, tempat ini sudah ditinggalkan sebagai tempat suci agama Budha.
Sampai abad pertengahan abad XIX kepedulian terhadap Candi Borobudur umumnya hanya terbatas berasal dari kalangan amatir. Penyelidikan dan penggalian sebagian besar dilakukan karena kepentingan pribadi atau keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang apa yang masih tersembunyi.
Pada tahun 1814, Sir Thomas Stanford Raffles, Letnan Gubernur Inggris, memerintahkan pembersihan kembali Candi Borobudur yang saat itu tertutup oleh tanah, semak belukar, dan pepohonan. Kemudian pada tahun 1849 Pemerintah Hindia Belanda menugaskan Wilsen untuk menggambar arsitektur dan relief candi ini secara akurat. Bersamaan dengan itu, Brumund juga ditunjuk untuk menulis narasi tentang Candi Borobudur. Brumund mengira tulisannya akan diterbitkan bersama gambar Wilsen sebagai monografi. Ternyata, gambar karya Wilsen diterbitkan sendiri dengan catatan dari pelukis itu, sehingga Brumund mengundurkan diri. Beberapa tahun kemudian, bahan lukisan Wilsen dan tulisan Brumund disusun kembali oleh C. Leemans menjadi monografi pertama tentang Candi Borobudur. Sejak itu, candi ini mendapat perhatian lebih luas di tengah masyarakat, baik sebagai monumen Budha maupun karya arsitektur yang artistik.
Lebih dari dua dasawarsa candi ini tidak terawat. Vegetasi tumbuh dengan amat cepat dan hujan lebat selama bertahun-tahun telah melonggarkan ikatan antar batu dan tanah yang ada di balik dinding candi menggelembung. Pada tahun 1873 Van Kinsbergen, seorang fotografer handal diundang untuk mendokumentasikan kembali Candi Borobudur. Untuk itu, ia harus membuang tanah dan semak-semak di atas candi sebelum menentukan titik pandang untuk pemotretan.
Melihat kondisi bangunan yang semakin rawan runtuh, pada tahun 1882 diajukan usulan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar membongkar dan memindahkan Candi Borobudur dengan semua reliefnya ke museum. Saran tersebut tidak diterima. Sebaliknya Pemerintah Hindia Belanda menunjuk Groeneveldt untuk menyelidiki seluruh situs tersebut dan menilai kondisi yang aktual candi. Ia menyimpulkan bahwa ternyata tidak ada kekhawatiran terhadap kerusakan bangunannya. Pemerintah kemudian membuat rencana untuk mengambil langkah-langkah pencegahan kerusakan lebih lanjut.
Tahun 1885 Candi Borobudur menarik perhatian ketika I.W Ijzerman, ketua masyarakat arkeologi di Yogyakarta menemukan kaki candi yang tersembunyi. Kaki candi paling bawah ini memuat serangkaian relief yang dikenali sebagai Karmawibhangga yaitu contoh-contoh hukum karma.
Pada tahun 1890-1891, Ijzerman yang dibantu Kasijan Chepas (fotografer pribumi pertama di Indonesia) merekam relief Karmawibhangga dalam foto. Setelah selesai didokumentasikan kaki candi tersebut ditutup kembali dengan batu-batu asli.
Penemuan Ijzerman ini membuat Pemerintah Hindia Belanda lebih serius menjaga Candi Borobudur. Untuk itu dibentuk Komisi Tiga pada tahun 1900 yang terdiri atas J.L.A. Brandes, seorang sejarawan seni yang ternama sebagai ketua, dengan anggotanya Ir. Th. Van Erp seorang insinyur perwira militer dan Van de Kamer, insinyur konstruksi dari Departemen Pekerjaan Umum. Van de Kamer mengusulkan agar Candi Borobudur dilindungi dari hujan dan sinar matahari dengan membuat payung besar di atasnya dengan didukung oleh 40 pilar besi dan penutup lembaran besi. Usulan ini pun ditolak.
Pada tahun 1902 Komisi Tiga setuju untuk mengusulkan empat hal kepada Pemerintah:
1. Bahaya langsung harus dihindari
2. Menghilangkan batu yang berbahaya
3. Meluruskan pagar pertama
4. Merestorasi beberapa lengkungan, relung, stupa, dan kubah utama.
Perbaikan harus dikonsolidasikan dengan membangun pagar halaman, merawat secara tepat, dan membuat drainase yang efektif, juga merestorasi lantai dan jaladwara. Semua batu lepas harus diangkat, candi dibersihkan sampai pagar pertama, puncak menara kubah harus dikembalikan. Namun, pada tahun 1904, Brandes meninggal dunia. Tahun berikutnya, Pemerintah Hindia Belanda sepakat untuk memberikan 48.000 gulden untuk memugar candi Borobudur. Masalah teknis pemugaran diserahkan sepenuhnya kepada Van Erp. Pemugaran dilakukan mulai tahun 1907 hingga 1911. Pekerjaan Van Erp terutama dipusatkan di teras-teras berbentuk lingkaran yang melesak, pemulihan pagar langkan, dinding teras paling bawah, tangga, relung, dan stupa.
Beberapa sarjana tidak merasa puas karena ada pekerjaan Van Erp yang terlalu jauh untuk membongkar dan membangun kembali bagian-bagian tertentu dari candi terutama bagian cattra pada puncak candi.
Pada tahun 1914 penelitian yang lebih menyeluruh mengenai Candi Borobudur dan situs lain yang terdapat di kawasan sekitarnya baru dilakukan dan dilaporkan dalam buku Rapporten van den Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch Indie (ROD). Dalam laporan itu disebutkan bahwa terdapat beberapa candi Hindu dan Buddha di sekitar Candi Borobudur. Adapun situs yang bercirikan agama Buddha termasuk Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon serta arca-arca dewa Buddha baik yang terbuat dari batu maupun perunggu. Tinggalan arkeologis yang bercorak Hindu antara lain adalah arca-arca dewa Hindu misalnya Durga-mahisasuramardini, Agastya, Ganesha, dan Siwa. Keberadaan bukti tinggalan arkeologi dengan corak Hindu juga terdapat di Museum Borobudur berupa temuan arca lepas dan komponen bangunan candi Hindu.
Pada tahun 1929 Pemerintah Hindia Belanda membentuk lagi Komisi untuk mengidentifikasi sebab-sebab kerusakan Candi Borobudur Kerusakan yang diidentifikasikan, yaitu korosi (kualitas material bangunan asli candi), perembesan air (air yang terkumpul di bagian tengah bangunan), pertumbuhan jamur, pengaruh lapisan oker ketika pemotretan sebelumnya, pelapukan alam, kekuatan mekanik, dan tekanan. Perembesan air dapat dikurangi dengan pembuatan lapisan kedap air namun harus dikerjakan dalam skala besar. Kerusakan mekanis disebabkan karena pengunjung dan kebanyakan kasus disebabkan oleh kedatangan pengunjung dalam jumlah besar.
Pekerjaan komisi tersebut diterima oleh Pemerintah Hindia Belanda, namun kondisi krisis ekonomi global pada tahun 1930an, menyebabkan kajian tersebut tidak dapat ditindaklanjuti hingga akhirnya meletus Perang Dunia II.
Ketika Masa Pendudukan Jepang (1943 – 1945), tentara Jepang mendengar kabar adanya harta karun terpendam di Candi Borobudur. Untuk membuktikan hal itu, mereka membongkar sudut tenggara kaki candi sehingga sebagian relief Karmawibhanga terbuka. Pembongkaran ini menimbulkan kerusakan, sehingga kondisinya tidak dapat dikembalikan secara lengkap seperti semula. Karena itu, sudut tenggara kaki candi hingga kini tidak ditutup kembali. Bagian batu penutupnya disusun tidak jauh dari sudut tenggara candi.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, tidak banyak upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah baru. Namun, di tengah-tengah gejolak revolusi fisik tahun 1948, Pemerintah RI telah mengundang dua orang ahli purbakala dari India untuk menelaah masalah kerusakan yang dialami candi ini.
Pada tahun 1955 Pemerintah Indonesia mengajukan permintaan kepada UNESCO agar lembaga tersebut membantu menangani masalah Candi Borobudur. Tenaga ahli didatangkan UNESCO yaitu Prof. Dr, P. Coremans, Kepala Laboratoire Central des Musees de Belgique yang mendiagnosis bahwa Candi Borobudur menderita penyakit “kanker batu” yang jika dibiarkan akan menghancurkan batu-batunya secara perlahan tetapi pasti. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Pemerintah Belgia menyediakan beasiswa bagi tenaga kerja Indonesia untuk belajar arkeologi kimia selama dua tahun.
Pada tahun 1960, Borobudur dinyatakan dalam keadaan darurat dan UNESCO dilibatkan lebih aktif dalam upaya pelestarian ini.
Pada tahun 1971 dilakukan upaya penyelamatan Candi Borobudur secara besar-besaran. Sejak ditandatangani persetujuan bantuan oleh UNESCO, candi ini menjadi objek berbagai kegiatan pemugaran: mulai dari pengorganisasiannya, penyediaan sumber daya manusianya, pembongkaran candi, sampai ke pembangunan kembali (Mundardjito, 2006 : 2).
Tanggal 23 Februari 1983, Candi Borobudur dinyatakan selesai dipugar dan peresmian pembukaan candi ini untuk dikunjungi masyarakat luas dilakukan oleh Presiden Soeharto. Selain berhasil dipugar, berdasarkan perencanaan yang disusun oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) kawasan di sekitar Candi Borobudur dibagi menjadi 5 zona pelestarian.
Pada tahun 1991 Candi Borobudur bersama-sama dengan Candi Pawon dan Candi Mendut ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia yang diberi nama Borobudur Temple Compounds.

Pada tahun 2008 kawasan Candi Borobudur dinyatakan sebagai Kawasan Strategis Nasional serta diikuti dengan peninjauan dan penataan kembali zonasi kawasan tersebut, sehingga seperti sekarang.

Satuan Ruang Geografis Borobudur merupakan peninggalan kebudayaan Masa Hindu-Buddha di Indonesia, khususnya pada zaman Kerajaan Mataram Kuno, yang berlangsung dari Abad VIII-X.
Secara umum, tinggalan arkeologis pada kawasan ini dapat dikelompokkan menjadi benda cagar budaya, struktur candi, bangunan candi, bangunan kolonial, lokasi atau situs cagar budaya.
Dalam satuan ruang geografis Borobudur terdapat:
1. Situs Candi Borobudur
2. Situs Candi Mendut
3. Situs Candi Pawon
4. Situs Candi Ngawen
5. Lokasi Yoni di Brongsongan
6. Lokasi Candi Dipan
7. Lokasi Candi Bowongan
8. Lokasi Candi Samberan
9. Lokasi Yoni di Plandi
10. Lokasi Makam Belanda (Kerkhoff) Bojong di Mendut.

Kelurahan/Desa dan Kecamatan di Kawasan Borobudur

Kelurahan/desa yang masuk dalam wilayah SP-1:
1. Kecamatan Mungkid:
1) Desa Bojong
2) Desa Paremono
3) Desa Pabelan
4) Desa Ngrajek
5) Kelurahan Mendut
2. Kecamatan Borobudur
1) Desa Wanurejo
2) Desa Borobudur

Kelurahan/desa yang masuk dalam wilayah SP-2:
A. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
1. Kecamatan Borobudur
1) Desa Wringin Putih
2) Desa Bumiharjo
3) Sebagian Desa Tegalarum
4) Sebagian Desa Kebonsari
5) Desa Kembanglimus
6) Desa Karangrejo
7) Sebagian Desa Ngadiharjo
8) Desa Karanganyar
9) Sebagian Desa Giripurno
10) Desa Giritengah
11) Desa Tanjungsari
12) Desa Tuksongo
13) Desa Majaksingi
14) Desa Ngargogondo
15) Desa Candirejo
16) Sebagian Desa Sambeng
17) Sebagian Desa Kenalan
2. Kecamatan Mungkid
1) Kelurahan Sawitan
2) Desa Progowati
3) Sebagian Desa Rambeanak
3. Kecamatan Mertoyudan
1) Desa Deyangan
2) Sebagian Desa Pasuruhan
3) Sebagian Desa Donoharjo
4) Sebagian Desa Kanigoro
4. Kecamatan Tempuran
1) Sebagian Desa Ringinanom
2) Sebagian Desa Sumberarum
5. Kecamatan Muntilan
1) Sebagian Desa Menayu
2) Sebagian Desa Adikarto
3) Sebagian Desa Tanjung
4) Sebagian Desa Sukorini

B. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DIY
1. Kecamatan Samigaluh
1) Sebagian Desa Sidoharjo
2) Sebagian Desa Gerbosari
2. Kecamatan Kalibawang
1) Sebagian Desa Banjaroyo

Peta Tidak Tersedia