Rumah Pengasingan Ir. Soekarno di Ende

No. Regnas CB CB.28
SK Penetapan
No SK : 285/M/2014
Tanggal SK : 13 Oktober 2014
Tingkat SK : Menteri
No SK : 396/KEP/HK/2014
Tanggal SK : 13 Oktober 2014
Tingkat SK : Bupati
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Bangunan
Nama Cagar Budaya Rumah Pengasingan Ir. Soekarno di Ende
Keberadaan Provinsi : Nusa Tenggara Timur
Kabupaten / Kota : Kabupaten Ende

Pengasingan Ir. Soekarno diawali dengan pertemuan politik di rumah Muhammad Husni Thamrin di Jakarta, pada tanggal 1 Agustus 1933. Ir. Soekarno ditangkap oleh seorang Komisaris Polisi ketika ke luar dari rumah Muhammad Husni Thamrin dan kemudian dipenjarakan selama delapan bulan tanpa proses pengadilan.
Pada tanggal 28 Desember 1933, Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, De Jonge, mengeluarkan surat keputusan pengasingan Ir. Soekarno (saat itu berusia 32 tahun) ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ir. Soekarno diasingkan atau dibuang ke Ende karena kegiatan politiknya membahayakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
Ir. Soekarno dan keluarganya bertolak dari Surabaya menuju Flores dengan kapal barang KM van Riebeeck. Setelah berlayar selama delapan hari, mereka tiba di Pelabuhan Ende dan langsung melaporkan kedatangannya ke kantor polisi. Mereka lalu dibawa ke rumah pengasingan yang terletak di Kampung Ambugaga, Kelurahan Kotaraja. Di rumah pengasingan inilah Ir. Soekarno berserta istrinya, Inggit Garnasih; mertuanya, Ibu Amsi; dan kedua anak angkatnya, Ratna Juami dan Kartika menghabiskan waktu mereka selama empat tahun. Ir. Soekarno dan keluarganya menempati rumah milik Haji Abdullah Ambuwaru.
Selama di Ende dari tahun 1934-1938 salah satu hal yang paling penting adalah ketika Ir. Soekarno di tengah keterasingannya di bawah pohon sukun, sebagai salah satu tempat beliau menggali pemikiran tentang dasar Negara yang kemudian dirumuskan oleh Panitia Sembilan menjadi Pancasila pada tahun 1945.
Pada tanggal 18 Oktober 1938 (tepat empat tahun, sembilan bulan dan empat hari), Ir. Soekarno dipindah dari Ende ke Bengkulu.
Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1951, Ir. Soekarno (saat itu sudah menjadi Presiden Republik Indonesia) mengunjungi Ende untuk pertama kalinya. Beliau bertemu Haji Abdullah Ambuwaru dan menyatakan keinginannya agar rumah tersebut dijadikan museum. Pada kesempatan kunjungan kedua tahun 1954, Ir. Soekarno meresmikan rumah itu sebagai “Rumah Museum” pada tanggal 16 Mei 1954.

Rumah Pengasingan Ir. Soekarno di Ende berlokasi di Kampung Ambugaga, Kotaraja, Ende Utara. Rumah ini menghadap ke arah timur atau ke Jalan Perwira. Bangunan rumah bergaya tradisional dengan desain yang sederhana, berlantai semen plesteran, berdinding tembok, dan beratapkan seng dengan langit-langit dari anyaman bambu. Dinding rumah dicat berwarna putih, sementara daun pintu dan jendela berwarna kuning, dan kusennya berwarna hijau. Di dinding bagian depan terdapat dua jendela, di atas kedua jendela tersebut terdapat markis.
Bangunan utama rumah terdiri atas ruang tamu, ruang tengah, dan tiga kamar tidur. Dapur dan kamar mandi berada di bagian belakang dan terpisah dari bangunan utama. Di halaman belakang rumah terdapat sumur.
Di dalam Rumah Pengasingan Ir. Soekarno di Ende masih disimpan benda-benda yang pernah dipakai oleh Ir. Soekarno dan keluarganya, antara lain ranjang besi dan lemari di kamar tidur; biola, tongkat, lampu minyak dan lampu tekan, setrika, peralatan makan, dan peralatan memasak, semuanya dipamerkan di ruang tamu. Beberapa foto dan karya lukis Ir. Soekarno terpasang di dinding rumah. Selain itu, terdapat buku-buku koleksi Ir. Soekarno yang disimpan di lemari buku dan diletakkan di teras belakang.