Lawang Sewu

No. Regnas CB CB.30
SK Penetapan
No SK : 344/M/2014
Tanggal SK : 29 Oktober 2014
Tingkat SK : Menteri
No SK : PM.57/PW.007/MKP/2010
Tanggal SK : 22 Juni 2010
Tingkat SK : Menteri
No SK : 646/50/1992
Tanggal SK : 4 Febuari 1992
Tingkat SK : Walikota
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Bangunan
Nama Cagar Budaya Lawang Sewu
Keberadaan Provinsi : Jawa Tengah
Kabupaten / Kota : Kota Semarang

Pada tahun 1864, jalur kereta api pertama di Indonesia dibangun yang menghubungkan stasiun Samarang NIS dan stasiun Tanggung yang selesai dibangun pada tahun 1867.
Pada tahun 1873, jalur kereta api dibangun untuk menghubungkan Semarang-Solo-Yogyakarta oleh NIS, termasuk Kedungjati-Ambarawa sepanjang 206 km.
Tujuan awal pembangunan jalur itu adalah untuk mengangkut hasil perkebunan dan pertanian dari daerah kekuasaan kraton Solo dan Yogyakarta (Voorstenlanden) ke pelabuhan Semarang, menggantikan angkutan tradisional pedati. Dengan semakin berkembangnya perusahaan NIS serta bertambahnya jumlah pegawai akhirnya diputuskan membangun kantor administrasi baru di Semarang. Lokasi yang dipilih adalah di ujung Jalan Pemuda Semarang (d/h Bodjongweg). Perencanaan pembangunan kantor dipercayakan kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag di Amsterdam.
Lawang Sewu dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda, dari 27 Februari 1904 sampai 1 Juli 1907. Bangunan ini didirikan untuk Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta (Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij-NIS), dan sebagai bukti awal sejarah perkembangan perkeretaapian di Indonesia.
Urutan Pembangunan
Bangunan yang pertama didirikan adalah rumah penjaga (gedung D/concierge) dan percetakan (gedung C) yang digunakan sebagai bangunan direksi. Pembangunan bangunan utama (gedung A) masih harus menunggu perbaikan tanah dan mengganti dengan lapisan pasir volkanis. Pada tanggal 1 Juli 1907 gedung A, gedung C, gedung D, dan gedung G selesai dibangun. Pada tahun 1916 gedung B dibangun dengan menggunakan konstruksi beton bertulang dan selesai pada 1918.
Pada masa perang kemerdekaan, Lawang Sewu memiliki catatan sejarah tersendiri, yaitu ketika berlangsung peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang (tanggal 14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung ini diperebutkan antara AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) dengan tentara Jepang sebelum tentara sekutu datang.
Pada tahun 1942-1945 Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang dan digunakan sebagai Kantor Riyuku Sokyoku (Jawatan Transportasi Jepang).
Tahun 1945 Lawang Sewu menjadi Kantor DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia).
Tahun 1946 Lawang Sewu dipergunakan sebagai markas tentara Belanda sehingga kegiatan perkantoran DKARI pindah ke bekas de Zustermaatschappijen.
Setelah pengakuan kedaulatan RI tahun 1949 digunakan Kodam IV Diponegoro, dan pada tahun 1994 Lawang Sewu diserahkan kembali kepada kereta api melalui Perusahaan Umum Kereta Api (PERUMKA) yang kemudian statusnya berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Bangunan Lawang Sewu terdiri atas gedung A, gedung B, gedung C, gedung D, gedung E, dan Rumah Pompa.
1. Gedung A
Gedung A adalah bangunan utama kantor NIS. Bangunan berlantai dua dengan konfigurasi massa “L” berada di bagian depan tapak berbentuk layang-layang, dengan pintu masuk utama pada sudut pertemuan kedua sayap. Denah kedua lantai sama. Dua deretan ruang-ruang kantor dihubungkan dengan selasar di tengah yang bertemu pada ruang tengah dengan rancangan sangat menarik. Bangunan tersebut juga mempunyai selasar luar, selain berfungsi sebagai penghubung antar ruang juga menjadi ruang isolasi terhadap panas matahari.
Hampir semua ruang mempunyai pintu pada keempat dinding pembatasnya dan pintu-pintu yang menghadap ke selasar luar mempunyai irama yang teratur.
Selasar luar bangunan dibatasi oleh colonnade dengan busur tembereng yang dibentuk oleh konstruksi rollag bata. Pedestal kolom dan sambungan antara kolom dengan busur diperkuat dengan batu alam (granit bakar). Pagar langkan pada selasar disusun dari bata.
Lantai ruang kantor dan selasar dilapis dengan ubin berukuran 16X16 m2 dan ditata seperti permadani.
Lantai atas tipikal dengan lantai bawah. Hal yang istimewa terlihat pada lantai ketika belum diterapkan konstruksi beton bertulang. Konstruksi lantai terbentuk rollag lengkung dan pada jarak setiap 2,00 meter ditopang oleh profil baja melintang.
Bagian tengah tempat pintu masuk utama dirancang sangat khusus, baik detil maupun bahan. Pintu masuk utama dilindungi oleh kanopi dan ditopang oleh konstruksi tiga busur. Atapnya merupakan balkon luas yang terhubung langsung dengan bangsal utama. Vestibula pada lantai dasar dirancang sangat menarik dengan pintu kaca patri, lantai dan dinding marmer. Ruang tersebut merupakan pengantar ke ruang di dalamnya tempat tangga utama berada, dengan hamparan jendela besar berkaca patri dari J. L. Schouten di Delft.
2. Gedung B
Gedung ini merupakan perluasan gedung A, terdiri dari dua lantai utama dan satu lantai ruang atap. Gedung B berbeda dengan gedung A karena sudah menggunakan sistem struktur beton bertulang. Gaya bangunan pada gedung ini lebih sederhana dan menandai gaya pada jamannya (dekade ke-2 abad XX).
3. Gedung C
Gedung C terdiri atas 2 lantai. Lantai 1 dahulu berfungsi sebagai tempat proses percetakan tiket dan jadwal kereta api NIS. Bangunan ini memiliki panjang 17 meter, lebar 10 meter, dan tinggi 11 meter. Bagian depan semula ada balkon, bawahnya ada teras. Dinding menghadap ke barat, Saat dindingnya dimajukan, berakibat kerusakan pada bagian jendela.
4. Gedung D
Gedung D merupakan bangunan satu lantai, beratap limas. Ukuran bangunan panjang 15,8 meter, lebar 6,25 meter. Terdapat 6 tiang, dua di antaranya menyatu dengan tembok. Jarak antar tiang 3,16 meter. Yang menarik, kepala tiang berbentuk zigurat terbalik. Di antara tiang terdapat tembok dan jendela. Pintu terdapat di sisi timur laut.
5. Gedung E
Gedung ini memiliki luas 135 m², terdiri dari satu lantai, atap pelana dengan penutup genteng. Pintu dan jendela dengan jalusi kayu.
6. Rumah Pompa
Denah rumah pompa berbentuk octagon (segi delapan). Masing-masing segi memiliki 2 jendela, kecuali bagian pintu yang terletak di sisi timur. Bentuk atap mengerucut mengikuti bidang dengan berpuncak dengan kemuncak berbentuk bola.

Luas Lahan : 14.216 m2
Luas Gedung A : 5.473,28 m² (3 lantai)
Luas Kamar Mandi A : 126 m² (2 lantai)
Luas Gedung B : 4.145,21 m² (3 lantai)
Luas Kamar Mandi B : 242,60 m² (2 lantai)
Luas Gedung C : 342 m² (2 lantai)
Luas Gedung D : 197 m²
Luas Gedung E : 135 m²
Luas Rumah Pompa : 10,86 m²