Masjid Istiqlal

No. Regnas CB CB.561
SK Penetapan
No SK : PM.13/PW.007/MKP/05
Tanggal SK : 25 April 2005
Tingkat SK : Menteri
No SK : 475 tahun 1993
Tanggal SK : 29 Maret 1993
Tingkat SK : Gubernur
No SK : 193/M/2017
Tanggal SK : 14 Juli 2017
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Masjid Istiqlal
Keberadaan Provinsi : Dki Jakarta
Kabupaten / Kota : Kota Adm. Jakarta Pusat

Pada 1950 hingga 1953 beberapa ulama mencetuskan ide mendirikan sebuah masjid megah diantaranya adalah K.H. Wahid Hasyim yang merupakan Menteri Agama pada saat itu. Sebuah yayasan lalu dibentuk untuk mempersiapkan pembangunan masjid. Yayasan ini bernama Yayasan Masjid Istiqlal. Soekarno menyambut baik dan akhirnya membuat sayembara untuk membuat rancangan Masjid Istiqlal. Dari sayembara ini diputuskan untuk menggunakan rancangan judul “Ketuhanan” karya Friedrich Silaban.
Lokasi masjid diusulkan dibangun di Taman Wilhelmina pada saat itu oleh Soekarno. Selain karena letaknya yang dekat dengan bangunan pemerintah lokasi ini juga dekat dengan Istana Merdeka, Soekarno menginginkan masjid ini berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta dan Gereja Imanuel.
Pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, disaksikan oleh ribuan umat Islam.
Kemudian seorang mayor TNI yang bernama Yunan Helmy Nasution tergugah hatinya melihat proyek yang terbengkalai. Akhirnya ia mengajak masyarakat dan barisan seniman budayawan muslim untuk memikirkan solusi. Himpunan Seniman Budayawan Islam saat ulang tahunnya yang ke-20 akhirnya tergugah untuk melanjutkan pembangunan Masjid Istiqlal.
Menteri Agama KH. M. Dahlan mempelopori kembali pembangunan masjid ini. Ia menggalang dana agar pembangunan fisik masjid digencarkan kembali. Kepengurusan dipegang oleh KH. Idham Chalid yang bertindak sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid Istiqlal. Bangunan utama dapat selesai dalam waktu 6 tahun yaitu tepatnya 24 September 1967. Pembangunan Masjid Istiqlal diselesaikan dalam kurun waktu 17 tahun. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden H. M. Soeharto pada 22 Februari 1978. Hingga saat ini Masjid Istiqlal masih aktif digunakan sebagai tempat beribadah umat Muslim.

Situs Cagar Budaya Masjid Istiqlal merupakan lahan bekas Taman Wilhelmina (Wilhelmina Park), di timur laut Lapangan Merdeka dan Tugu Nasional (Monas). Di sebelah timur masjid terdapat Gereja Katedral dan di selatan terdapat Gereja Immanuel. Nama “istiqlal” diambil dari bahasa Arab yang memiliki arti ‘merdeka’.
Konstruksi kokoh bangunan masjid yang didominasi oleh batuan marmer pada tiang-tiang, lantai, dinding, dan tangga serta baja antikarat pada tiang utama, kubah, puncak menara, plafon, dinding, pintu krawangan, tempat wudhu, dan pagar keliling halaman.
Arsitektur
Masjid yang memiliki daya tampung sekitar 200.000 jamaah ini memiliki gaya arsitektur Islam modern internasional yang memadukan arsitektur Indonesia, Timur Tengah, dan Eropa. Masjid ini menerapkan bentuk-bentuk geometri sederhana seperti kubus, persegi, dan kubah bola dalam ukuran raksasa untuk memunculkan kesan agung dan monumental.
Masjid dibangun dengan menggunakan bahan yang kokoh, netral, sederhana, dan minimalis, di antaranya marmer putih dan baja antikarat (stainless steel). Penggunaan baja antikarat terlihat pada pagar di tepian balkon setiap lantai, pagar tangga, langit-langit masjid, dan bagian dalam kubah.
Ragam Hias
Ragam hias pada masjid berbentuk motif hias geometris berupa ornamen logam krawangan (kerangka logam berlubang) berpola lingkaran, kubus, atau persegi. Krawangan logam ditempatkan pada jendela, lubang angin, atau ornamen koridor masjid. Krawangan logam ditempatkan pada jendela, lubang angin, atau ornamen koridor masjid. Ragam hias pada bangunan masjid ini selain bersifat ornamental juga bersifat fungsional dan struktural sebagai penyekat ruang, jendela, atau lubang udara.