Sangiran

No. Regnas CB CB.33
SK Penetapan
No SK : 019/M/2015
Tanggal SK : 5 Febuari 2015
Tingkat SK : Menteri
No SK : 173/M/1998
Tanggal SK : 16 Juli 1998
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Kawasan
Nama Cagar Budaya Sangiran
Keberadaan Provinsi : Jawa Tengah
Kabupaten / Kota : Kabupaten Sragen

Pada tahun 1893 satuan ruang geografis Sangiran untuk pertama kali disurvei oleh EugeneDubois. Ia meneliti satuan ruang geografis Sangiran setelah mendapatkan informasi bahwa Raden Saleh pernah menemukan fosil di satuan ruang geografis ini.
Pada tahun 1932 L.J.C. van Es melakukan pemetaanyang menghasilkan peta geologi skala detil (1:20.000). Dua tahun kemudian peta tersebut digunakan oleh G.H.R. von Koenigswald untuk melakukan surveyeksploratif dengan temuan beberapa artefak prasejarah.
Pada tahun 1936, untuk pertama kalinya ditemukan fosilhominid oleh penduduk setempat di Dusun Ngargorejo (Bukuran, Kalijambe, Sragen). Fosil ini kemudian diserahkan kepada G.H.R. von Koenigswald.
Setelah kemerdekaan, penelitian dilakukan oleh ahli Indonesiaantara lain Prof. Teuku Jacob (UGM), Sartono (ITB), R.P. Soejono (UI). Mereka berhasil menemukan fosil beserta wajahnya yangterlengkap di dunia.
Sejak tahun 1977 hingga sekarang, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (sekarang: Pusat Arkeologi Nasional) dan Balai Arkeologi Yogyakarta meneliti secara intensif dan berhasilmenemukanfosil-fosil manusia dari Formasi Pucangan dan Grenzbank. Selain itu, juga ditemukan gigi geraham hominid, fosil-fosil binatang, dan berbagai alat batu masif dan serpih di Formasi Kabuh.

Satuan ruang geografis Sangiran merupakan salah satusitus manusia purba yang terpenting di dunia. Satuan ruang geografis ini secara geomorfologis berupa kubah yang terbentuk karena proses geologi yang berlangsung pada Kala Pleistosen. Kubah Sangiran dilalui oleh Kali Cemoro dan Kali Ngrejeng yang sering menyingkap tinggalan arkeologi di satuan ruang geografis tersebut. Pada satuan ruang geografis tersebut terdapat singkapan lapisan-lapisan tanah berumur mulai 2 juta tahun yang lalu sampai sekarang tanpa terputus.
Di Sangiran ditemukan lebih dari 70 individu yang mewakili 50% jumlah populasi Homo erectus seluruh dunia. Fosil-fosil tersebut mewakili dua tahap awal dari tiga tingkatan evolusi Homo erectus yang pernah terjadi di Indonesia yaitu Homo erectus arkaik dan Homo erectus tipik, sedangkan fosil binatang ditemukan pada seluruh lapisan tanah meliputi binatang air, reptil, danmamalia.
Temuan arkeologis di satuan ruang geografis Sangiran tersebar secara lateral dan vertikal. Sebaran temuan arkeologis secara lateral mencakup hampir seluruh permukaan kubah Sangiran dengan intensitas yang berbeda. Sebaran temuan secara vertikal mencakup lapisan tertua sampai termuda,yaitu lapisan lempung hitam Formasi Pucangan, Grenzbank, lapisan pasir fluviatil Formasi Kabuh, dan lapisan laharik Formasi Notopuro.
Satuan ruang geografis Sangiran dibagi menjadi empat klaster pengembangan, yaitu Klaster Krikilan, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, dan Klaster Dayu.

Batas sisi Timur:
1. Daerah Desa Gunung berbatasan dengan daerah Gunungan.
2. Daerah Jurukuncen berbatasan dengan daerah Plupuh dan Jembongan dan Cangkol.
3. Daerah Gambiran berbatasan dengan daerah Jambon.
4. Daerah Jatirogo dan Mundu berbatasan dengan daerah Mundurejo.
5. Daerah Manyarjo dan Manyaran berbatasan dengan daerah Ceplasan.
6. Daerah Tanjungsari berbatasan dengan daerah Klampeyan.
7. Daerah Ngablak, Pungsari dan Menjing berbatasan dengan daerah S.Soko.
8. Daerah Jombangan berbatasan dengan daerah Klinggan, Tanon
9. Daerah Wonokerto dan Gunung Kunci berbatasan dengan daerah Wonorejo
10. Daerah Kedungjodo berbatasan dengan daerah Wonosido dan Goros
11. Daerah Silin dan Kadiloyo berbatasan dengan daerahTinjoarjo
Batas sisi Selatan:
1. Daerah Kadiloyo berbatasan dengan daerah Wonosari danTinjorejo di timur
2. Daerah Kali Tanjujan berbatasan dengan daerah Gomolong Wetan, Gomolong Kulon, serta Jatirojo
3. Daerah Kricikan berbatasan berbatasan dengan daerah Anjikan/Rejosari, ali Kedung dan Munggur
4. Daerah Watuireng berbatasan dengan daerah Ngambang

Batas sisi Barat:
1. Daerah Tegalombo dan Ngumbul berbatasan dengan daerah Gg.Tegalombo, Sumber dan daerah Tegalrojo
2. Daerah Kalisoko dan Soko berbatasan dengan daerah Botorejo
3. Daerah Karangmojo dan Ngeplak dan Karanganyar berbatasan dengan daerah ali Padas,Grasak dan Pangkal
4. Daerah Karangpung berbatasan dengan daerah Balang Bali Bendo
5. Daerah Gumbolan dan Kamongan berbatasan dengan daerah Pagerejo dan Ngropungan
6. Daerah Gg.Jetis Karangpung berbatasan dengan daerah Ngewungan dan Bendo
7. Daerah Ngrukun berbatasan dengan daerah Kali Cemoto
8. Daerah Congolik dan Cembang berbatasan dengan daerah Bojong
9. Daerah Sambirejo berbatasan dengan daerah Pilangrejo dan Tegalrejo
10. Daerah Tuban dan Wonorejo berbatasan dengan daerah Krendowahono
11. Daerah Blenean berbatasan dengan daerah Tegalsari dan Jengglong dan Lemahbang
12. Daerah Grumbulrojo berbatasan dengan daerah Gunungduk
13. Daerah Cipat berbatasan dengan daerah Tempel
14. Daerah Sanggrahan berbatasan dengan daerah Bulurejo dan Watuireng dan Mundu

Batas sisi Utara:
1. Daerah Grogol berbatasan dengan daerah Trusuri
2. Daerah Garas berbatasan dengan daerah Ngrukan
3. Banyuurip dan Gg.Bandung berbatasan dengan daerah Cikolan dan Bangkal
4. Daerah Gejigan berbatasan dengan daerah Sendangrejo
5. Daerah Kedungdowo berbatasan dengan daerah Sendangduren
6. Daerah Kali Kedungdowo berbatasan dengan daerah Pulosari
7. Daerah Sambirejo dan Dukuh somomoro berbatasan dengan daerah Mintup
8. Daerah Gelas berbatasan dengan daerah Mendungan