Candi Jawi

No. Regnas CB CB.427
SK Penetapan
No SK : 177/M/1998
Tanggal SK : 21 Juli 1998
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya -
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Candi Jawi
Keberadaan Provinsi : Jawa Timur
Kabupaten / Kota : Kabupaten Pasuruan

Situs Cagar Budaya Candi Jawi yang terletak di Kabupaten Pasuruan ini dikaitkan dengan Raja Kṛtanagara, raja terakhir kerajaan Singhasari. Candi Jawi didirikan oleh Raja Kěrtanagara yang beragama Saiwa-Buddha. Dalam Kakawin Nāgarakěrtāgama pupuh 55-56 disebutkan bahwa pada zaman Majapahit, Candi Jawi pernah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk dalam rangkaian perjalanan ke Lumajang tahun 1359. Saat itu Candi Jawi telah menjadi candi pendharmaan dari Raja Krtanagara (Pigeaud, 1960: 63-64). Candi Jawi merupakan sudharmmahaji (candi kerajaan/candi negara) yang berarti merupakan candi di bawah pengawasan Dharmajaksa.
Riwayat Penanganan
Berdasarkan temuan fragmen batu yang bertuliskan angka tahun 1254 Saka (1332 Masehi), kemungkinan Candi Jawi pernah diperbaiki pada tahun 1332 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi. Candi Jawi ditemukan kembali sekitar tahun 1850 dan laporan pertama berasal ndari J.F.G. Brumund pada tahun 1934 yang menjelaskan bahwa adanya legenda tentang putri Majapahit yang sering datang ke Candi Jawi. Pada tahun 1938-1941 dinas kepurbakalaan Hindia Belanda Oudheidkundige Dienst (OD) melakukan penelitian terhadap Candi Jawi yang pada saat ditemukan dalam keadaan rusak dan banyak unsur-unsur candi yang hilang. Untuk menyelamatkan bangunan ini, maka dilakukan pemugaran pada tahun 1938. Pekerjaan ini berhasil memugar kaki candi dan mengupas halaman candi serta menyusun beberapa bagian candi dalam bentuk susunan percobaan. Namun mengingat beberapa bagian candi banyak yang tidak lengkap (hilang), maka pemugaran dihentikan.
Selain pemugaran pada tahun 1938, dilakukan juga penelitian yang berhasil membuka candi beserta teras yang ada di depannya. Berdasarkan hasil penggalian diketahui bahwa bangunan itu didirikan di atas batur yang ditinggikan dan batur itu dikelilingi oleh sebuah parit. Pada parit sisi timur ditemukan struktur bata yang diperkirakan merupakan tiang jembatan. Selain itu, dalam penggalian tersebut ditemukan sejumlah arca yang rusak, yaitu Arca Siwa, Nandiswara, Durga, Ardhanari, Brahma, Ganesa dan Nandi. Ditemukan juga empat lingga kecil yang berfungsi sebagai batas halaman candi, beberapa yoni, satu batu bata yang digores huruf, satu pedupaan dari batu dan sejumlah pecahan-pecahan keramik dan gerabah yang antara lain merupakan bagian-bagian dari cangkir terakota yang dihiasi dengan kaca putih atau kulit tiram.
Usaha pemugaran baru dilanjutkan kembali pada tahun 1975 – 1979/1980 oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala melalui Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur. Selama pemugaran ini juga dilakukan pencarian batu-batu candi yang hilang sehingga semua dapat ditemukan kembali. Pada tahun 1980 seluruh pemugaran Candi Jawi dapat diselesaikan.

Situs Cagar Budaya Candi Jawi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 177/M/1998 bagian yang menjadi Cagar Budaya dari situs ini adalah kesatuan bangunan candi dan tanah disekeliling bangunan dengan segala benda-benda baik yang berada di atas maupun di bawah permukaan tanah (terlampir).
Situs ini dibangun di atas sebidang tanah berdenah persegi panjang dan memiliki dua halaman yang dibatasi dengan pagar bata. Di halaman sisi barat terdapat reruntuhan kaki gapura yang terbuat dari bata. Sementara itu, di halaman sisi timur terdapat Candi Jawi yang dikelilingi oleh parit selebar 3,5 m dengan kedalaman 2 m. Di depan candi terdapat fondasi tiga perwara yang dibangun di atas lapik tunggal.
Candi Jawi berada pada batur berbentuk persegi dengan ukuran sisi 28,74 m. Sementara itu bangunan candinya sendiri memiliki ukuran 14,21 m x 9,55 m, dengan tinggi 24,5 m. Candi Jawi merupakan satu dari dua candi di Jawa Timur yang arah hadapnya ke timur selain Candi Gunung Gangsir di Pasuruan. Secara vertikal struktur bangunan terdiri dari kaki, tubuh dan atap. Salah satu keunikan Candi Jawi adalah dibangun dengan menggunakan dua jenis batu yaitu, batu andesit dan batu putih. Dari kaki candi hingga selasar dibangun menggunakan batu andesit, sementara bagian badan dan atapnya menggunakan batu putih. Berdasarkan hal tersebut diduga candi ini dibangun dalam dua masa yang berbeda. Dalam Kakawin Nāgarakěrtāgama Pupuh 57 Bait 4 disebutkan bahwa candi Jawi pada tahun 1253 Saka (candrasengkala: Api Memanah Hari) disambar oleh petir dan satu tahun kemudian candi tersebut dibangun kembali.
Pada Pupuh 55 Bait 4 disebutkan bahwa perjalanan Hayam Wuruk menuju Candi Jawi yang terletak di kaki gunung yang mengeluarkan asap. Gunung yang dimaksud diduga adalah Gunung Arjuna, Gunung Penanggung, atau Gunung Welirang.
Pada bagian bawah candi terdapat batur (soubasement) yang terbuat dari batu andesit dengan tinggi 2 m. Pada dinding batur (soubasement) tersebut terdapat relief naratif yang dipahat dalam bentuk pipih dan dilihat dengan cara mengkanankan candi (pradaksina). Relief tersebut kemungkinan menggambarkan iring-iringan puteri raja yang menuju ke kompleks Candi Jawi tersebut, karena tergambar sebuah bangunan dengan tiga candi perwara di atas batur. Dari relief yang samar-samar karena aus, terlihat seorang wanita menghadap seorang resi.
Tangga masuk yang terletak di sisi timur dihiasi dengan dua pasang makara yang menjadi keunikan dari Candi Jawi, karena candi-candi Majapahit pada umumnya dihiasi dengan ikalan (volut), naga, atau gabungan antara ular dan ikalan. Di sekeliling tubuh candi terdapat selasar yang cukup lebar. Tubuh candi dihiasi dengan lima relung dan satu pintu masuk. Relung terletak di sisi selatan, barat, timur dan kanan-kiri pintu candi. Pada bagian atas relung tersebut terdapat pahatan kepala kala. Pintu masuk bilik candi yang terletak di sisi timur memiliki bingkai pintu polos tanpa pahatan, namun di atas ambang pintunya terdapat pahatan kalamakara lengkap dengan sepasang taring, rahang bawah, serta hiasan di rambutnya yang memenuhi ruang antara puncak pintu dan dasar atap. Di bagian bilik candi atau bagian dalam tubuh candi terdapat yoni yang terbuat dari batu andesit. Pada bagian langit-langit bilik atau batu sungkup candi terdapat hiasan relief berbentuk hare (binatang bulan) dalam bingkai lingkaran matahari yang bersinar. Atap candi tersusun semakin ke atas semakin mengecil dan puncaknya berbentuk kubus serta terdapat stupa. Selain itu, juga terdapat hiasan antefik di sudut-sudut dan bagian tengah candi.
Jika dilihat dari bentuk bangunannya, candi ini terdiri dari dua unsur keagamaan, yaitu Hindu-Siwa dan Buddha. Hal ini juga dituliskan dalam Kakawin Nāgarakěrtāgama pupuh ke 56:2 yang menguraikan tentang Jajawi “cihnang candi i sor kasaiwan apucak kaboddhan i ruhur…” yang memiliki arti “mengenai candi itu di bawah bersifat Saiwa dan di atas berpuncakkan kebuddhaan. Uraian tersebut sesuai dengan keadaan Candi Jawi yang memiliki arca-arca yang terletak di relung candi dan lingga-yoni di bilik candi berunsur agama Hindu-Siwa, serta puncaknya yang berstupa merupakan gambaran umum dari agama Buddha.
Candi Jawi memiliki perbingkaian rata, sisi miring dan bandha (ikat pinggang). Di samping itu, hiasan kepala kala yang menghias pintu dan relung memperlihatkan rupa raksasa yang berdagu. Ragam hias geometris tetap menghiasi candi, khususnya pada bagian atap.