Istana Bima "Asi Mbojo"

No. Regnas CB CB.1143
SK Penetapan
No SK : 188.45/1126/01.7/2015
Tanggal SK : 29 Desember 2015
Tingkat SK : Bupati
No SK : 205/M/2016
Tanggal SK : 26 Agustus 2016
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Bangunan
Nama Cagar Budaya Istana Bima "Asi Mbojo"
Keberadaan Provinsi : Nusa Tenggara Barat
Kabupaten / Kota : Kabupaten Bima

Bangunan asli Istana Bima “Asi Mbojo” dibangun pada abad ke-19, namun pada tahun 1927, bangunan ini dibongkar karena tidak layak lagi digunakan sehingga dibangun bangunan istana yang lebih besar dan selesai tahun 1930. Sebelum pembongkaran istana dilaksanakan, dibangun sebuah istana kayu yaitu istana Asi Bou pada tahun 1904 sebagai istana pengganti untuk sementara waktu. Sultan yang memerintah pada masa pembangunan istana kedua ini yaitu Sultan Ibrahim (1881-1915) dan Sultan Muhammad Salahuddin (1915-1951).

Arsitektur bangunan Istana Bima “Asi Mbojo” merupakan perpaduan bangunan khas Bima dan Belanda yang merupakan karya arsitek dari Ambon Mr. Obzicter Rahatta. Istana ini berdenah empat-persegi panjang (berbentuk persegi panjang) membujur arah utara-selatan yang terdiri dari dua lantai. Lantai pertama memiliki 16 ruangan yang terdiri atas 3 ruangan kantor, 1 ruangan benda-benda pusaka, 1 ruang rapat, 7 ruang pamer dan 4 kamar mandi. Ruangan-ruangan di lantai bawah ini dahulunya digunakan sebagai pusat pengendalian kegiatan pemerintahan. Lantai kedua terdiri atas 10 ruangan yang terdiri atas enam ruangan di sisi barat, dua ruangan di selatan, dan dua ruangan di sebelah utara. Ruangan-ruangan ini dahulu berfungsi sebagai tempat tinggal raja beserta anggota keluarganya.
Sebelum masuk menuju Istana Bima “Asi Mbojo” terdapat dua pintu gerbang yang terdapat di sisi barat dan timur istana.
1. Pintu Gerbang Sebelah Barat
Pintu gerbang ini bernama Lare-Lare yang merupakan pintu resmi kesultanan dan merupakan pintu utama untuk akses ke dalam istana di antaranya, yaitu tempat masuknya sultan, para pejabat kesultanan dan tamu-tamu sultan. Pada bagian atas, yaitu di loteng merupakan tempat untuk menyimpan tambur Ranca Nae dan dua lonceng. Tambur Ranca Nae dibunyikan sebagai tanda pemberitahuan adanya upacara kebesaran, sedangkan kedua lonceng dibunyikan untuk pemberitahuan adanya tanda bahaya.
Gerbang barat ini juga yang menghubungkan dengan lapangan Sera Suba yang berada di sisi sebelah barat Istana Bima “Asi Mbojo” dan Masjid Sultan Muhammad Salahuddin yang berada di sisi selatan Istana Bima “Asi Mbojo” dan Lapangan Sera Suba.
2. Pintu Gerbang Sebelah Timur
Pintu gerbang sebelah timur disebut Lawa Kala atau Lawa Se merupakan pintu masuk bagi anggota sara hukum dan ulama. Sedangkan pintu masuk bagi anggota keluarga raja berada di belakang Asi Bou, bernama Lawa Weki.