Benteng Nieuw Victoria

No. Regnas CB CB.362
SK Penetapan
No SK : PM.31/PW.007/MKP/2008
Tanggal SK : 23 Mei 2008
Tingkat SK : Menteri
No SK : 193/M/2017
Tanggal SK : 14 Juli 2017
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Benteng Nieuw Victoria
Keberadaan Provinsi : Maluku
Kabupaten / Kota : Kota Ambon

Sejak abad ke-17 M, Maluku dikenal dunia sebagai daerah penghasil rempah-rempah yang digemari oleh bangsa Eropa. Rempah-rempah yang didatangkan dari Asia tersebut membutuhkan waktu lama untuk sampai ke pasar Eropa. Jarak Asia ke Eropa yang cukup jauh, serta pelayaran yang bergantung pada iklim membuat pelayaran semakin sulit dilakukan tanpa perhitungan matang. Jika salah membaca tanda dari alam, tidak menutup kemungkinan kapal akan karam ditengah lautan. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab tingginya harga rempah-rempah di pasar Eropa.
Bangsa Eropa terdorong untuk melakukan perjalanan mencari sumber penghasil rempah-rempah, termasuk diantaranya adalah Bangsa Portugis yang melakukan pelayaran pada pertengahan abad ke-15 M. Perjalanan tersebut telah dilakukan berkali-kali sebelum akhirnya berhasil mendarat di Goa dan menaklukkan area yang terletak di Pantai Barat India tersebut pada tahun 1509 M. Setelah berhasil menundukkan Goa, Portugis kemudian melanjutkan perjalanan ke “Pulau Rempah-Rempah” atau Maluku dan berhasil mendarat di pulau tersebut pada tahun 1512 M.
Pada tahun 1580 M, ketika masa pemerintahan Gubernur Gaspar de Mello, Portugis membangun benteng di wilayah Honipopu yang kemudian diberi nama Fortaleza Nossa Seinhora da Annunciada. Wilayah Honipopu merupakan daerah rawa karena digunakan sebagai pusat penampungan air ketika musim hujan. Area itu juga merupakan daerah aliran sungai di kawasan Pulu Gangsa yang banyak ditumbuhi pohon sagu dan bambu. Valentijn dan Rumphius dalam tulisannya membenarkan bahwa pada saat pembangunan benteng tersebut, Portugis menebang sejumlah pohon sagu dan bambu.
Belanda yang baru datang ke Maluku gagal merebut benteng tersebut pada sekitar tahun 1600 M karena pertahanan Portugis yang kuat. Belanda kemudian membangun pos pertahanan di pesisir utara Hitu yang diberi nama Kasteel van Verre. Pada tahun 1602 M, dibawah pimpinan Laksamana de Mendoza, Portugis melancarkan serangan ke Hitu sebagai pusat pertahanan Belanda. Saat itu secara tiba-tiba Raja Portugis menarik Laksamana de Mendoza dari Ambon. Keadaan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Belanda dan orang Hitu untuk menyerang Fortaleza Nossa Seinhora da Annunciada. Dibawah komando Steven van der Haghen, Belanda akhirnya berhasil menundukkan Portugis pada tanggal 25 Februari 1605. Belanda kemudian mengubah nama benteng menjadi Benteng Victoria guna memperingati kemenangannya atas Portugis. Meski demikian, masyarakat lokal lebih akrab dengan nama Benteng Kota Laha yang berarti benteng di Teluk Laha. Benteng Victoria kemudian dijadikan pusat administrasi VOC di Asia sebelum akhirnya dipindah ke Benteng Oranje yang terletak di Ternate.
Benteng Victoria mengalami kerusakan cukup parah akibat terkena guncangan gempa bumi yang terjadi pada sekitar tahun 1643-1644, 1673-1674, dan 1754 M. Ketika Gubernur Bernardus van Pleuren (1775-1785 M) memerintah di Ambon, perbaikan yang menyebabkan perubahan pada bentuk Benteng Victoria dilaksanakan. Perbaikan itu termasuk diantaranya adalah dengan memperluas benteng. Setelah diperbaiki, Benteng Victoria kembali dirubah namanya menjadi Benteng Nieuw Victoria yang berarti “Kemenangan Baru”.
Situs Cagar Budaya Benteng Nieuw Victoria dikuasai Inggris pada tahun 1810 M hingga 1817 M. Benteng tersebut kemudian secara resmi diserahkan kembali kepada Belanda pada tanggal 25 Maret 1817. Periode kembalinya Maluku ke dalam kekuasaan Belanda merupakan latar belakang perlawanan masyarakat lokal di Maluku, salah satunya adalah pasukan yang dipimpin oleh Pattimura.
Pattimura dihukum mati oleh Belanda di Benteng Nieuw Victoria setelah melakukan perlawanan dalam memerangi Belanda. Tanggal 15 Mei merupakan peringatan Hari Pattimura bagi masyarakat Maluku. Hal ini dikarenakan tanggal 15 Mei 1817 merupakan hari terakhir pertempuran Pattimura sebelum ia ditangkap dan dieksekusi oleh Belanda.
Pada tahun 1942, tampuk kekuasaan Maluku jatuh ke tangan Jepang. Pada tahun 1950, terjadi gejolak di daerah Maluku. Dr. Christian Robert Steven Soumokil, seorang bekas Jaksa Agung NIT (Negara Indonesia Timur), mendeklarasikan Republik Maluku Selatan (RMS) dengan tujuan ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Guna menumpas kelompok tersebut, pemerintah RIS mengirim ekspedisi militer yang disebut dengan Gerakan Operasi Militer (GOM) III dengan dipimpin oleh Kolonel Kawilarang, Panglima Tentara, dan Territorium Indonesia Timur. Dalam upaya pemberantasan pemberontakan RMS, Letnan Kolonel Slamet Riyadi tertembak dan gugur di depan Situs Cagar Budaya Benteng Nieuw Victoria. Meski benteng gagal direbut, namun pasukan GOM berhasil menduduki Kota Ambon. Jatuhnya Ambon ke tangan RIS menandakan bahwa perlawanan RMS telah dipatahkan. Berdasarkan peristiwa inilah Benteng Nieuw Victoria menjadi bukti perjuangan rakyat dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia Serikat yang tidak bisa dipisahkan dari proses terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Situs Cagar Budaya Benteng Nieuw Victoria yang pada awalnya dibuat oleh Portugis tersebut dibangun dengan menggunakan perpaduan batu bata, kapur, dan batu alam. Ada dua pintu sebagai akses keluar dan masuk ke benteng, satu pintu menghadap ke laut dan satu pintu lainnya menghadap ke darat. Pada peta lama, pintu yang menghadap ke laut tersebut tegak lurus dengan dermaga. Keberadaan dermaga sangat penting kala itu karena berfungsi sebagai tempat bongkar dan muat rempah-rempah yang akan diekspor hingga ke pasar Eropa.
Ada perbedaan nama objek Situs Cagar Budaya Benteng Nieuw Victoria antara yang terdapat di dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.31/PW.007/MKP/2008 dengan tulisan nama benteng yang tertulis pada bagian pedimen pintu gerbang. Di dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, nama objek ditulis dengan “Benteng Niew Victoria”, sedangkan pada pedimen benteng tertulis “Nieuw Victoria”. Berdasarkan hasil penelusuran dokumentasi foto lama, misalnya foto yang berasal dari tahun 1910M, pada pedimen benteng tertulis “Nieuw Victoria”, sama seperti yang terlihat hingga kini.
Seperti yang telah diketahui bahwa Situs Cagar Budaya Benteng Nieuw Victoria telah mengalami perbaikan dan pelebaran di beberapa bagian. Ada sumber yang menyatakan bahwa benteng Nieuw Victoria awalnya berbentuk pentagonal. Dalam perkembangannya, benteng berubah menjadi struktur poligonal tidak beraturan dengan bastion disetiap sisinya. Pada gambar denah rencana pembangunan Situs Cagar Budaya Benteng Nieuw Victoria berangka tahun 1750 M, benteng itu berbentuk poligonal dengan tujuh bastion, yaitu Bastion Geldria, Hollandia, Zeelandia, Utregt, Westvriesland, Overysel, dan Groningen. Pemberian nama bastion tersebut memakai nama kota-kota besar di Belanda. Berdasarkan dokumentasi foto lama, terlihat bahwa nama masing-masing bastion dicetak dan ditempelkan pada bastion yang dimaksud.
VOC membangun beberapa bangunan di dalam benteng yang dimanfaatkan untuk kepentingan militer dan sebagai tempat bermukim. Bangunan-bangunan tersebut diantaranya adalah barak, gudang senjata, gudang peluru, dan lainnya. Diantara bangunan-bangunan tersebut ada yang masih berdiri meski banyak diantaranya telah roboh. Bangunan yang masih ada hingga kini misalnya adalah pos prajurit penjaga dan gudang senjata. Selain bangunan, dinding benteng juga masih berdiri kokoh, termasuk salah satu pintu gerbangnya.
Pintu Gerbang
Pintu gerbang utama Situs Cagar Budaya Benteng Nieuw Victoria hingga saat ini masih berdiri kokoh dan terlihat menempel pada dinding benteng. Pada bagian atas gerbang terdapat pedimen yang ditopang oleh empat pilar polos tanpa ornamen hiasan. Pada bagian pedimen, terdapat gambar kapal bertuliskan Ita Relinquenda Ut Accepta yang membingkai sebuah kapal. Gambar kapal dengan tulisan tersebut mengingatkan pada gambar salah satu koin uang dari Belanda yang beredar sekitar tahun 1792 M.Pada bagian bawah kapal terdapat tulisan Nieuw Victoria yang merupakan nama dari benteng tersebut. Selain tulisan, juga ada gambar singa ditengah gerbang yang dibawahnya terdapat lambang VOC. Singa dan lambang VOC tersebut diapit oleh tulisan anno.c yang berarti “sejak”dan MDCCLXXV yang merupakan angka tahun 1775 yang ditulis dalam huruf Romawi. Angka tersebut menunjukkan tahun benteng diperbaiki dan diperbesar yang mengubah bentuk awal benteng. Tahun tersebut juga menandakan pergantian nama dari “Victoria” ke “Nieuw Victoria”.
Gudang Peluru
Gudang peluru dibangun oleh seorang insinyur bernama Hans Erns von Wagner ketika Joan Abraham van der Voort menjadi Gubernur di Ambon, sedangkan yang menjadi Gubernur Jenderal di Batavia kala itu adalah Petrus Albertus van der Parra. Keterangan itu dipahatkan pada sebuah prasasti batu yang ditempelkan pada gudang dimaksud.
Pada abad ke-17 M, Situs Cagar Budaya Benteng Nieuw Victoria diperkuat dengan pembuatan parit di sekelilingnya. Adanya parit keliling dapat dilihat pada peta berangka tahun 1617 M yang memperlihatkan keadaan di wilayah Ambon kala itu, termasuk keberadaan Situs Cagar Budaya Benteng Nieuw Victoria. Terdapat pemukiman disekeliling benteng dengan jumlah pemukim yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Tercatat pada tahun 1683 M, ada sekitar 770 warga Eropa yang bermukim dan meningkat menjadi sekitar 1070 orang pada tahun 1726-1730 M.