Benteng Duurstede

No. Regnas CB CB.101
SK Penetapan
No SK : 246/M/2015
Tanggal SK : 21 Desember 2015
Tingkat SK : Menteri
No SK : 013/M/1999
Tanggal SK : 12 Januari 1999
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Bangunan
Nama Cagar Budaya Benteng Duurstede
Keberadaan Provinsi : Maluku
Kabupaten / Kota : Kabupaten Maluku Tengah

Sejak abad XVI Maluku telah menjadi pusat perhatian negara-negara barat untuk menanamkan kekuasaan dan menguasai rempah-rempah. Saparua menjadi salah satu daerah utama penghasil cengkeh yang menjadi perhatian negara-negara barat. Pada tahun 1691, Gubernur Nicolas van Saghen mendirikan sebuah benteng di atas bukit karang yang berada di tepi laut. Benteng ini dibuat karena Fort Hollandia sudah dianggap tidak layak digunakan.

Benteng tersebut diberi nama Duurstede yang berarti “kota mahal”. Benteng ini sangat penting dari segi keletakan untuk kepentingan militer.

Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan Pulau Saparua pada tahun 1796, Benteng Duurstede ikut dikuasai oleh Inggris. Pada tahun 1803 benteng ini dikembalikan kepada Belanda, namun di tahun berikutnya terjadi peperangan kembali antara Inggris dan Belanda yang menyebabkan Benteng Duurstede jatuh kembali ke tangan Inggris pada tahun 1810.

Pada tahun 1817 seluruh Maluku termasuk Saparua diserahkan kembali kepada Belanda melalui perjanjian. Pasukan lokal yang dipekerjakan oleh Inggris yang bertugas di Benteng Duurstede akan dipindahkan ke Batavia, termasuk Pahlawan Nasional Sersan Mayor Thomas Mattulesy Pattimura. Rencana pemindahan ini memicu gerakan perlawanan yang kemudian dipimpin oleh Sersan Mayor Thomas Mattulesy Pattimura pada tanggal 16 Mei 1817.

Seluruh penghuni benteng tewas kecuali putra Residen yang bernama Jan Lubert van den Berg. Jatuhnya benteng Duurstede memicu perlawanan rakyat terhadap Belanda meluas hingga Pulau Haruku dan Pulau Hitu. Perlawanan ini akhirnya gagal dan menyebabkan Pattimura ditangkap.

Oleh karena itu, VOC memusatkan perhatiannya untuk merebut kembali benteng. Segala usaha telah dilakukan VOC di antaranya adalah mengirim bantuan tentara dan persenjataan perang, namun demikian setiap penyerangan tersebut selalu gagal. Situasi ini mendorong VOC bertindak lebih agresif, Gubernur van Middelkoop terpaksa meminta bantuan kepada Sultan Ternate dan Sultan Tidore.

Pada tahun 1902 Benteng Duurstede tidak difungsikan lagi.

Benteng Duurstede yang terletak di pulau Saparua, Maluku Tengah, merupakan salah satu bangunan peninggalan sejarah zaman VOC. Sebagai benteng pertahanan, bangunan ini dibangun di puncak bukit karang setinggi 7 meter. Denahnya berbentuk oval dan menghadap ke timur. Tinggi tombak benteng rata-rata 5 m dengan ketebalan 1,25 m dan terdapat celah-celah untuk menempatkan meriam. Di sisi barat dan timur terdapat pos pengintai (turret). Di dalam benteng terdapat setidaknya 9 bangunan, 3 bangunan masih utuh, selebihnya tinggal pondasi. Di sisi selatan bangunan terdapat 5 meriam dan sebuah sumur di bagian depan luar benteng.