Gereja Blenduk (Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat Immanuel)

No. Regnas CB CB.57
SK Penetapan
No SK : 243/M/2015
Tanggal SK : 18 Desember 2015
Tingkat SK : Menteri
No SK : PM.24/PW.007/MKP/2007
Tanggal SK : 26 Maret 2007
Tingkat SK : Menteri
No SK : 646/50/1992
Tanggal SK : 4 Febuari 1992
Tingkat SK : Walikota
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Gereja Blenduk (Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat Immanuel)
Keberadaan Provinsi : Jawa Tengah
Kabupaten / Kota : Kota Semarang

Gereja Blenduk (GPIB Immanuel) di dalam kitab-kitab lama disebut juga Harvormde Kerk, Protestansche Kerk, dan Koopel Kerk. Gereja ini didirikan pada tahun 1742 M dengan pendeta pertamanya adalah Johannes Wilhelmus Swemmelaar (1753-1760 M). Gereja ini pada awalnya berbentuk rumah panggung jawa dengan atap yang sesuai dengan arsitektur Jawa. Hal ini dapat dilihat pada Peta Kota Semarang tahun 1756 yang menunjukkan konfigurasi massa yang berbeda dengan saat kini.
Pada tahun 1894-1895, gereja ini dibangun kembali oleh H.P.A. De Wilde dan W. Westmaas dengan bentuk yang sekarang ini. Pada waktu dilakukan pembaharuan, pendeta yang bertugas pada waktu itu adalah DR. W Van Lingen.
Dari segi arsitektur desain bangunan, Gereja Blenduk (GPIB Immanuel) bergaya Pseudo Barouque (gaya arsitektur Eropa dari abad 17-19).
Pada tahun 1981/1982 dilakukan Studi Kelayakan Gereja Blenduk (GPIB Immanuel) dalam Proyek Pemugaran Pemeliharaan Peninggalian Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah. Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2003.
Setiap renovasi diabadikan lewat tulisan di atas batu marmer yang terpasang di bawah alter gereja. Renovasi-renovasi tersebut sama sekali tidak merubah ciri khas bangunan yang mengadopsi gaya arsitektur Eropa klasik yang anggun dan aristokrat.

Secara geografis, Gereja Blenduk (GPIB Immanuel) terletak di pusat kota Semarang. Gereja ini terletak di tengah Kawasan Kota Lama Semarang yang merupakan salah satu bentuk kota dengan bercirikan Kota di Eropa dan abad XVIII Masehi.
Disebut ‘Gereja Blenduk’ karena bentuk kubahnya yang seperti irisan bola, maka orang menyebutnya “mblenduk”. Menempati area seluas 400 meter persegi, Gereja Blenduk (GPIB Immanuel) merupakan sebuah gereja yang memiliki denah segi delapan beraturan (Octagonal) dengan penampil (transept) di sisi selatan, barat, utara dan timur sehingga membentuk sebuah salib Yunani. Gereja ini berdenah simetris dengan fasad depan menghadap ke selatan dengan dua buah menara di kiri dan kanan yang mengapit hall dan pintu masuk utama. Ruang transept yang terdapat di keempat sisinya beratap pelana dan pada sisi selatan terdapat portico bergaya Dorik Romawi yang beratap pelana. Bangunan utama mendekati bentuk lingkaran dan belah ketupat yang memungkinkan pencapaian bangunan dari 4 sisi dengan pintu selatan berfungsi sebagai pintu masuk utama. Letak ruangan induk yang berada di pusat maka bangunan ini adalah bangunan memusat (central bouw).
Gambaran gereja secara umum dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Bangunan Utama
Secara vertikal bangunan utama gereja dapat dibagi menjadi dua tingkat, yaitu bagian bawah yang memiliki denah segi delapan beraturan dan bagian atas yang memiliki denah lingkaran.
Sisi selatan, barat, utara dan timur tubuh bangunan bagian bawah bangunan utama ditempati oleh penampil-penampil (transept). Sedangkan sisi segi delapan yang lain dibuat dalam bentuk dan ukuran yang sama. Pada bagian ini terdapat jendela lengkung yang diberi hiasan kaca berwarna-warni (glass in lood).
Tubuh bagian atas memiliki denah lingkaran dan berukuran lebih kecil. Karena memiliki ukuran yang lebih kecil, maka terciptalah sebuah lantai selasar atas yang memiliki ukuran lebar 2,5 meter, sedang untuk sisi selatan lantai selasar menjadi lebih lebar karena menjadi satu dengan lantai yang membentang di atas penampil sisi selatan dan di antara dua menara.
Di bagian atas dinding tubuh atas terdapat bingkai-bingkai mendatar yang arahnya mengikuti arah lengkung lingkaran. Bingkai-bingkai tersebut sekaligus berfungsi sebagai tempat dudukan atap kubah di atasnya.
Sebagian penutup atap menggunakan plat logam yang berbentuk kubah dengan kemuncak berbentuk rumah-rumahan kecil yang atapnya juga berbentuk kubah. Bentuk kubah atap Gereja Immanuel tersebut mirip dengan kubah bangunan Eropa dari abad 17-18 Masehi, misalnya kubah Katedral St. Paul’s karya Sir Christopher Wren (1675-1710 M); kubah St. Peter’s di Roma yang didesain oleh Michel Angelo (1558-1560 M) dan dilengkapi oleh Giacomo della Porte (1588-1590 M).
Diameter kubah 15,65 meter dan tinggi (tanpa kemuncak) adalah 10 meter. Lengkung kubah dibagi menjadi 32 juring yang ditandai dengan adanya 32 jari-jari rangka besi. Di atas kubah terdapat rumah-rumahan kecil yang berbentuk segi delapan. Pada tiap sisi terdapat jendela krepyak berbentuk bulatan di atas bentuk empat persegi panjang.
Di bagian dalam terdapat ornamen yang masih dijaga keasliannya. Terutama adalah ubin lantai yang bewarna-warni, organ piano antik karya P. Farwangler dan Hummer, bangku-bangku yang terbuat dari kayu jati, serta mimbar untuk khotbah. Di dalam Gereja Blenduk (GPIB Immanuel) juga terdapat prasasti yang berisi daftar nama pendeta yang pernah menjadi kepala pendeta Gereja Blenduk (GPIB Immanuel) dari awal berdirinya hingga saat ini. Prasasti ini terletak di dinding sisi timur dan barat lorong sisi selatan.
2. Penampil Selatan
Penampil selatan merupakan pintu utama menuju ke ruangan utama. Pada sisi barat dan timur dari penampil ini dilengkapi dengan dua buah menara jam (lonceng). Di tiang atas penampil terdapat tympanum yang hiasannya sangat sederhana. Teras depan ditutup menggunakan jendela dengan atap berbentuk pelana yang dilengkapi langit-langit (plafon).
Kedua menara memiliki denah bujursangkar. Secara vertikal menara terbagi menjadi empat bagian. Tingkat terbawah dilengkapi dengan dua buah jendela yang dihias dengan pilaster. Di atas pilaster terdapat bingkai mendatar yang merupakan dasar (lantai) dari tingkat kedua.
Tingkat kedua memiliki denah bujur sangkar dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan tingkat pertama. Bagian atas dari tingkat kedua ini dihias dengan profil sisi genta yang dibuat lebih menjorok keluar dibandingkan dindingnya.
Tingkat ketiga memiliki denah bujur sangkar dengan ukuran yang lebih kecil dari tingkat kedua. Pada dinding selatan ditempatkan sebuah jam, sedang pada ketiga sisi yang lainnya diberi hiasan jendela yang pada bagian atasnya melengkung.
Tingkat keempat memiliki denah segidelapan. Keempat dindingnya terdapat jendela krepyak. Puncak menara ini memiliki atap berbentuk kubah segidelapan yang pada bagian puncaknya ditempatkan sebuah bola.
3. Penampil Barat
Penampil barat memiliki bentuk yang berbeda dengan penampil selatan. Memiliki denah bangunan persegi panjang dengan atap berbentuk atap pelana. Pada sisi barat terdapat pintu kayu dengan ukuran besar dan berdaun pintu ganda (kupu tarung). Di atas ambang pintu terdapat lengkungan setengah lingkaran yang dihias dengan kaca warna-warni (glass in lood) yang membentuk pola geometris. Seperti bagian bangunan yang lain di atas pilaster terdapat bingkai-bingkai mendatar yang merupakan bingkai atap. Di atas bingkai sisi barat terdapat hiasan tympanum.
4. Penampil Utara.
Penampil utara memiliki bentuk dan ukuran sama dengan penampil barat. Perbedaannya hanya pada bentuk anak tangga yang menuju ke ruang dalam. Anak tangga di penampil ini memiliki bentuk setengah lingkaran konsentris dan berjumlah empat buah.
5. Penampil Timur.
Penampil timur memiliki bentuk dan ukuran sama dengan penampil barat dan penampil utara. Perbedaannya hanya pada bentuk anak tangga yang menuju ke ruang dalam. Anak tangga di penampil ini memiliki bentuk setengah lingkaran konsentris dan berjumlah tiga buah.
Taman Sri Gunting:
Di sebelah timur bangunan Gereja Blenduk terdapat Taman Sri Gunting yang dahulu menjadi satu kesatuan dengan Gereja Blenduk. Pada saat ini kepemilikan dan pengelolaan taman ini berada di pihak Pemerintah Kota Semarang.
Di dalam taman terdapat beberapa tempat duduk permanen bahan semenan, halaman rumput, tanaman bunga, tumbuhan perindang dan jalan setapak berupa tatanan conblok. Taman dibatasi oleh pagar hidup tanaman keliling yang di bagian tengahnya terdapat jalan masuk melalui anak tangga semenan yang berhubungan dengan trotoar yang mengelilingi taman. Luas taman adalah 1773 m2, meliputi area taman dan area parkir yang berada di antara taman dan gereja Blenduk.
Bangunan-bangunan di sekitar Gereja Blenduk:
Bangunan-bangunan yang berada di dekat Situs Gereja Blenduk adalah:
1. Sebelah utara : Rumah Pastori, Kantor Atlas
Copco, Gedung Gambir, dan Kantor Samudera
Indonesia Group
2. Sebelah Timur : Gedung Eks BTN
3. Sebelah Selatan : Rumah Makan Cianjur,
Gedung Jiwasraya, Rumah Makan Sate 29,
Gedung Marba
4. Sebelah Barat : Kantor ITC dan pergudangan.

Blenduk 1 Sudut Barat Laut pagar keliling 49 M 436747.634 229747.988
Blenduk 2 Pagar keliling 49 M 436756.097 229747.639
Blenduk 3 Sudut Timur laut pagar keliling Gereja 49 M 436763.522 229748.217
Blenduk 4 Tepi jalan trotoar Taman Sri
Gunting 49 M 436781.622 229746.716
Blenduk 5 Tepi jalan trotoar Taman Sri
Gunting 49 M 436811.377 229748.776
Blenduk 6 Tepi jalan trotoar Taman Sri
Gunting 49 M 436816.373 229746.499
Blenduk 7 Tepi jalan trotoar Taman Sri
Gunting 49 M 436818.363 229741.921
Blenduk 8 Tepi jalan trotoar Taman Sri
Gunting 49 M 436817.983 229720.889
Blenduk 9 Tepi jalan trotoar Taman Sri
Gunting 49 M 436816.507 229716.543
Blenduk 10 Tepi jalan trotoar Taman Sri
Gunting 49 M 436816.136 229712.009
Blenduk 11 Tepi jalan trotoar Taman Sri
Gunting 49 M 436810.456 229709.425
Blenduk 12 Tepi jalan trotoar Taman Sri
Gunting 49 M 436788.486 229707.519
Blenduk 13 Sisi Selatan pagar keliling Gereja depan pintu Utama 49 M 436766.456 229707.067
Blenduk 14 Sisi Selatan pagar keliling Gereja depan pintu Utama 49 M 436755.875 229705.427
Blenduk 15 Tepi jalan depan Sudut Barat daya pagar keliling 49 M 436743.897 229704.449
Blenduk 16 Sudut Barat daya pagar keliling 49 M 436742.587 229709.007
Blenduk 17 Sudut Barat Laut pagar keliling 49 M 436742.580 229729.785