Percandian Panataran

No. Regnas CB CB.97
SK Penetapan
No SK : 243/M/2015
Tanggal SK : 18 Desember 2015
Tingkat SK : Menteri
No SK : 177/M/1998
Tanggal SK : 21 Juli 1998
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Percandian Panataran
Keberadaan Provinsi : Jawa Timur
Kabupaten / Kota : Kabupaten Blitar

Percandian ini ditemukan kembali oleh seorang warga negara Belanda bernama Dr. Horsfield yang tertulis dalam buku Sir Stamford Raffles berjudul The History of Java. Perhatian terhadap Candi Panataran juga dilakukan oleh Jonathan Rigg pada tahun 1949. Penelitiannya ini dituangkan dalam tulisannya yang berjudul “Tour from Soerabaia”. Selain itu, berbagai peneliti datang mengkaji candi ini, yaitu J. Crawfurd seorang pembantu residen Yogyakarta dan Van Meeteren Brouwer pada tahun 1828, F.W Junghun pada tahun 1884, dan N.W. Hoepermans yang pada tahun 1884 melakukan inventarisasi candi.

Menurut sumber lain yang berasal dari Kakawin Nagarakertagama, Kidung Margasmara yang tertulis pada tahun 1380 Saka atau 1458 Masehi dan naskah Sunda Kuna Bhujangga Manik tahun 1500-an Masehi nama asli Candi Panataran adalah Palah atau Rabut Palah. Dalam Kidung Margasmara juga tercantum tulisan Panataran yang memiliki makna halaman. Kemungkinan untuk menamai seluruh komplek candi yang berfungsi sebagai aktivitas agama sedangkan Rabut Palah merupakan bangunan sucinya. Nama Palah juga dapat dilihat dalam Kakawin Nagarakertagama yang menjelaskan bahwa Raja Majapahit Hayam Wuruk keliling ke daerah kekuasaan Majapahit termasuk singgah ke Palah.

Dalam kompleks candi terdapat prasasti, yaitu Prasasti Palah. Prasasti ini menyebutkan seorang raja Kadiri yang bernama Srengga yang memberikan hadiah sima untuk Mpu Iswara Mapañji Jagwata yang telah berjasa kepada raja karena telah melakukan pemujaan untuk Bhatara ri Palah.

Menurut Ph. Soebroto, kompleks Percandian Panataran telah mulai dibangun pada masa Raja Airlangga, raja terakhir Kerajaan Mataram. Saat itu Airlangga membangun sebuah bangunan suci untuk memperingati peristiwa penyerangan Haji Wurawari terhadap Raja Dharmawangsa Teguh pada tahun 1006 M. Penggambaran relief Ramayana dan Krsnayana pada Candi Panataran dimaksudkan sebagai legitimasi kedudukan Raja Airlangga sebagai raja yang memiliki kemampuan dalam menyelamatkan bumi dari kehancuran.

Proses dibangunnya Candi Panataran dilakukan juga pada masa Kerajaan Majapahit. Penambahan bangunan di Percandian Panataran dimulai oleh raja kedua Majapahit, yaitu Raja Jayanagara yang memerintah dari tahun 1309 sampai 1328. Proses pembangunan dilanjutkan oleh Ratu Tribhuwanottunggadewi tahun 1328 hingga 1350. Selanjutnya dalam masa Hayam Wuruk dan Suhita agaknya masih terjadi penambahan bangunan di kompleks Candi tersebut. Jadi dalam rentang tahun 1350 sampai dengan 1477, masih terdapat kegiatan penyempurnaan terhadap percandian Panataran. Keseluruhan proses pembangunan Kompleks Candi Panataran tersebut berlangsung kurang lebih selama 4 abad.

Jadi keberadaan Kompleks Panataran ini dimulai sejak masa Kerajaan Kadiri hingga zaman Majapahit.

Situs Cagar Budaya Percandian Panataran berada di sebelah barat daya lereng Gunung Kelud. Kompleks Percandian Panataran merupakan percandian yang istimewa karena didirikan di lahan yang dianggap sakral sejak zaman Kerajaan Kadiri (abad ke-21). Dalam kompleks tersebut masih terdapat prasati dari masa Kerajaan Kadari, yaitu Prasasti Palah dari tahun 1197 Masehi dari Raja Srengga. Prasasti tersebut masih insitu yang berisi tentang hadiah sima untuk seseorang yang bernama Mpu Iswara Mapanji Jagwata yang telah berjasa karena melakukan puja setiap hari kepada paduka bhatara ri Palah.

Deskripsi Bagian-Bagian Candi Penataran

1. Halaman I
- Gapura I
Sebelum menuju halaman pertama, terdapat gapura dengan dua buah arca Dwarapala di kanan kirinya. Di halaman pertama terdapat beberapa sisa bangunan yaitu gapura, dua batur pendapa, tiga pondasi dan bangunan suci. Selain berfungsi sebagai pintu masuk ke halaman pertama, Gapura I juga merupakan pintu masuk kompleks percandian. Letak pintu gerbang agak menyamping ke selatan dari sumbu halaman candi. Bangunan ini sudah runtuh, sehingga tidak dapat diketahui lagi bentuk utuhnya. Bagian yang tersisa berupa lantai dengan trap tangga terbuat dari batu andesit, berukuran panjang 8,11 m dan lebar 4,24 m. Pada sisi barat lantai gapura terdapat trap tangga sebanyak 6 anak tangga dan sisi timur terdapat 3 anak tangga. Di sebelah selatan gapura I ini masih terlihat sisa-sisa bagian kaki gapura dan pagar pembatas halaman pertama yang terbuat dari bata. Pada bagian sudut dalam kaki gapura dihias dengan hiasan pilar dan bidang datar dihias dengan panil segiempat cembung.

- Batur I
Bangunan ini terletak ± 45 m di sebelah utara Gapura I, di sudut barat laut halaman kompleks Candi Penataran. Batur I terbuat dari batu andesit, dengan denah berbentuk segi empat, berukuran panjang 39 m, lebar 16,5 m, tinggi 1,5 m membujur arah utara selatan. Pada dinding tidak terdapat relief, hiasan berupa pelipit-pelipit datar dan bidang miring. Bagian bawah/pondasi dipahatkan hiasan berupa dua naga yang sedang melilit, pada naga yan satu menjadi hiasan sudut, sedang kepala naga yang lain terletak di kanan kiri tangga, menjadi pijakan/alas arca Dwarapala. Demikian seterusnya sehingga batur ini seolah-olah ditopang oleh tubuh naga (16 naga). Pada sisi utara dan selatan batur terdapat masing-masing sebuah tangga dan sisi timur terdapat 2 buah tangga naik. Tiap-tiap tangga dihias dengan pipi tangga dan bentuknya sama, berbentuk polos dengan hiasan ukel pada bagian ujung, dan di kanan kirinya terdapat Dwarapala.

- Fondasi Bangunan I
Fondasi bangunan I terletak ± 25 m dari pintu Gapura I, di sebelah utara jalan setapak. Fondasi ini terbuat dari bata dengan denah segi empat berukuran 8 x 8 m, bata yang terlihat di permukaan tanah hanya satu lapis saja. Di atas fondasi ini terdapat 4 buah umpak berbentuk segi empat dengan hiasan geometris (?) di bidang tengah, diapit binatang kilin yang saling tolak belakang di kanan kirinya. Di atas elief ini terdapat motif meander dan pada sisi atas/permukaan umpak terdapat sebuah lubang untuk menncapkan tiang berbentuk segi empat.

- Batur II
Terletak di sebelah timur fondasi Bangunan I, dengan jarak ± 45 m dari pintu gapura. Bangunan terbuat dari batu andesit, berdenah segi empat membujur arah utara selatan dengan ukuran panjang 28 m, lebar 10 m, tinggi 1,5 m. Bagian bawah batur berhias lilitan 2 buah ular, salah satu kepala ular menjadi hiasan ujung pipi tangga sedang kepala ular yang lain menjadi hiasan sudut bagian atas batur. Pada bidang datar dihias dengan relief cerita, diantaranya yang telah diketahui jalan ceritanya adalah Bubuksah-Gagangaking, Sang Satyawan serta relief cerita Sri Tanjung. Di atas relief ini pada pelipit teratas dipahatkan motif sulur-suluran. Dua buah tangga dipasang pada sisi barat batur, dengan pipi tangga berhias kepala naga pada bagian ujungnya.

- Fondasi Bangunan II
Fondasi bangunan II terletak di sudut barat laut Candi Angka Tahun. Sisa – sisa bagunan yang kelihatan tinggal 2 lapis batu dengan bentuk denah segi empat berukuran panjang 6,94 m, dan lebar 4,15 m. Di atas sudut fondasi ini terdapat 6 buah umpak bata (sisa-sisa), berbentuk segi empat, disusun berjajar mengikuti denah fondasi. Ukuran ke 6 umpak hampir sama, yaitu 69 cm x 66 cm.

- Fondasi Bangunan III
Fondasi Bangunan II terletak di sebelah utara Candi Angka Tahun posisinya dekat pagar kawat pembatas lahan. Fondasi ini terbuat dari bata dengan denah persegi berukuran panjang 7,5 m dan lebar 5,31 m. Di atas fondasi ini terdapat sisa-sisa lapik/umpak berbentuk segi empat berjumlah 4 buah terbuat dari bata. Karena sudah rusak/runtuh lapik yang terlihat tinggal 2 buah, berukuran 77 cm x 75 cm dan 76 cm x 75 cm.

- Candi Angka Tahun
Di Halaman I ini juga terdapat sebuah bangunan suci (candi) terbuat dari batu andesit. Bangunan ini terletak di sebelah timur Batur II atau disebelah tenggara fondasi bangunan II, dibangun menghadap ke barat. Denah bangunan berbentuk persegi dengan penampil di sisi barat, berukuran panjang 6,5 m, lebar 5 m. Candi ini dikelilingi oleh pagar terbuat dari bata, pagar bagian belakang menjadi satu dengan pagar Halaman II kompleks Candi. Bernet Kempers memberi nama bangunan ini dengan nama Candi Angka Tahun, karena pada ambang atas pintu tertera angka tahun 1291 Saka atau 1369 Masehi. Candi Angka Tahun ini merupakan satu-satunya bangunan di Kompleks Candi Penataran yang masih utuh, setelah mengalami pemugaran pada tahun 1917 – 1918. Secara umum bangunan ini terbagi atas 3 bagian, yaitu kaki, tubuh dan atap. Kaki candi setinggi 150 cm, polos, dihias pelipit-pelipit datar. Pada sisi barat terdapat penampil dengan tangga masuk selebar 69 cm (8 anak tangga), pipi tangga polos dengan bagian ujung berbentuk ukel. Bagian tubuh berdenah segi empat, dengan hiasan pelipit-pelipit datar di bagian bawah dan atas, sedangkan bagian tengah tubuh candi berhias seperti sabuk (pelipit) dengan hiasan motif geometris dan antefiks pada bagian sudut-sudutnya. Di sisi barat terdapat pintu masuk yang berpenampil, dengan lebar pintu 69 cm. Pada bagian ambang atas terdapat angka tahun 1291 Saka (1369 Masehi), sedangkan ambang kanan kiri polos. Atap candi terdiri atas 11 tingkatan berbentuk piramida terpancung, menjulang tinggi, puncaknya ditutup dengan bentuk kubus berhias relief kelopak padma. Kelopak padma bagian sudut dihias dengan motif kala dalam bentuk stilir. Tiap-tiap tingkat dihias dengan relief binatang seperti sapi, babi hutan, singa, kilin, relief sulur-suluran, kepala kala dan antefiks.

2. Halaman II
Berbeda dengan Halaman I, Halaman II dibagi menjadi 2 bagian yaitu halaman utara dan selatan oleh pagar membujur barat – timur sepanjang 18 m (sekarang tinggal fondasinya, terbuat dari bata). Selain gapura, di halaman kedua terdapat sisa-sisa bangunan, yaitu 3 batur, 3 fondasi dan sebuah bangunan candi. Di halaman selatan terdapat sebuah fondasi.

- Gapura II
Untuk menghubungkan Halaman I dengan Halaman II dibuat 2 buah gapura berjajar. Kedua gapura sudah rusak, tinggal lantai terbuat dari batu andesit dengan isian bata. Lapisan bata yang terlihat di atas permukaan tanah setinggi 40 cm (7 lapis bata). Di atas bata ini disusun batu-batu andesit yang berfungsi sebagai lantai dan trap tangga.

- Batur III
Batur III terletak di halaman utara paling barat berhimpit dengan tembok pembatas Halaman II. Denah bangunan persegi berukuran panjang 11,86 m, lebar 5,06 m dan tinggi 35 cm membujur arah utara – selatan. Bagian bawah batur tersusun dari bata, sedang bagian atas ditutup dengan tatanan lantai dari batu andesit. Lapisan bata yang terlihat setinggi 17 cm (3 lapisan bata) dan 1 lapis batu andesit dengan ketebalan ± 18 cm. Bentuk batur polos, pada bagian sudut-sudutnya terdapat hiasan antefiks polos.

- Batur IV
Batur IV terletak di sudut timur laut Halaman II. Batur ini berdenah bujursangkar berukuran 4 m x 4 m, terbuat dari batu andesit. Keempat sisinya tidak dilengkapi tangga. Di atas batur ini terdapat sebuah arca yang belum selesai (unfinish).

- Batur V
Batur V terletak di sudut barat laut Fondasi IV atau sudut barat daya Batur IV. Bangunan berdenah segi empat berukuran 3,40 m x 3,40 m, terbuat dari bata. Pada sisi selatan terdapat penampil yang mengindikasikan bahwa banguan ini menghadap ke arah selatan. Bentuk batur polos, terlihat setinggi 8 lapis bata (40 cm).

- Fondasi Bangunan IV
Fondasi Bangunan IV terletak di sebelah utara Candi Naga, terbuat dari bata dengan bentuk denah segi empat berukuran 2,1 m x 3,2 m. Di atas fondasi ini terdapat tatanan batu-batu andesit/umpak.

- Candi Naga
Di sebelah timur Batur III (± 1,5 m dari pagar pembatas Halaman II dengan Halaman III) terdapat sebuah bangunan suci yang disebut Candi Naga. Candi ini menghadap ke barat, berdenah segi empat berukuran panjang 6,57 m, lebar 4,83 m, tinggi 4,70 m terbuat dari susunan balok-balok batu andesit. Bagian atap bangunan candi telah runtuh, tinggal bagian kaki dan tubuh. Kaki candi polos, tersusun atas pelipit-pelipit datar dan bidang miring yang membentuk kumai bawah dan kumai atas. Antara kumai bawah dan atas terdapat birai (bidang datar) polos tanpa ornamen. Di sisi barat terdapat penampil dengan tangga naik ke bilik yang memilki 10 anak tangga. Bentuk pipi tangga polos, pada bagian ujungnya membentuk ukel, berhias relief tumpal yang dipahat motif sulur-suluran. Tubuh candi berdenah segi empat dengan pintu masuk di sisi barat. Pintu ini berukuran lebar 68 cm dan tinggi 169 cm. Pada bagian atas tubuh terdapat hiasan naga mengelilingi candi sehingga naga tersebut seolah-olah melilit candi. Kepala naga menjadi hiasan sudut-sudut atas antara tubuh dan atap. Naga ini disangga oleh relief tokoh (dewa) yang menjadi hiasan tubuh candi. Relief tokoh (dewa) tersebut berjumlah 9, masing-masing terletak di kanan kiri pintu masuk, sudut-sudut dan pertengahan sisi. Di antara relief-relief tokoh ini dihias panil segi empat dengan medalion bermotif sulur-suluran dan relief binatang seperti rusa, singa, kilin, anjing, dan sapi.

- Fondasi Bangunan V
Di selatan Candi Naga terdapat Fondasi Bangunan V. Fondasi terbuat dari bata, memiliki bentuk denah persegi, berukuran 3,62 m x 3,64 m, serta tinggi 20 cm (4 lapis bata). Di atas pondasi ini terdapat umpak/lapik berbentuk segi empat berjumlah lima buah dengan posisi satu di tengah dan empat lainnya mengelilingi (pada setiap sudut).

- Fondasi Bangunan VI
Di selatan Fondasi Bangunan V, tepatnya di selatan jalan setapak terdapat Fondasi Bangunan VI berdenah segi empat berukuran 3,45 cm x 3,60 cm, terbuat dari bata. Di atas pondasi ini terdapat lima umpak/lapik berbentuk segi empat, dengan posisi satu umpak di tengah dan empat lainnya mengelilingi (pada setiap sudut/penjuru).

3. Halaman III
Selain gapura, di Halaman III terdapat empat pondasi bangunan, sebuah Candi Induk, sebuah Candi Perwara, empat kaki Candi Perwara, Prasasti Palah, satu susunan percobaan tubuh candi, sebuah altar dan sebuah kolam.
- Gapura III
Gapura III terletak ± 25 m di sebelah barat Candi Induk. Gapura ini sudah runtuh, yang tersisa hanya sebagian trap tangga selebar 120 cm. Sisa-sisa trap tangga yang masih terlihat sebanyak lima anak tangga setinggi 100 cm, terbuat dari batu andesit. Sebagian isian lantai gapura ini dipergunakan bata, yang kondisinya juga sudah rusak.

- Fondasi Bangunan VII
Fondasi Bangunan VII merupakan deretan tiga fondasi di depan Candi Induk yang terletak paling utara. Denah fondasi ini berbentuk segi empat berukuran 4,12 m x 3,98 m serta tinggi 31 cm. Lapisan bata yang terlihat sebanyak 6 lapis. Bentuk bangunan polos, pada bagian sudut terdapat penampil sudut.

- Fondasi Bangunan VIII
Fondasi Bangunan VIII merupakan bagian yang terletak di tengah deretan tiga fondasi di depan Candi Induk. Seperti halnya fondasi VII, fondasi VIII ini juga terbuat dari bata dengan bentuk denah segi empat berukuran 3,71 x 8,1 m. Lapisan bata yang terlihat setinggi satu lapis. Di sudut barat –laut terdapat sisa-sisa tatanan lantai yang tebuat daribata. Di atas fondasi ini terdapat semacam umpak berbentuk segi empat terbuat dari susunan bata berperekat, berderet dari utara-selatan sebanyak 4 buah. Di sisi selatan terdapat penampil yang mengindikasikan arah hadap bangunan ini ke arah selatan.

- Fondasi Bangunan XI
Merupakan deretan tiga fondasi di depan Candi Induk yang terletak paling selatan berdekatan dengan gapura III. Denah fondasi ini berbentuk segi empat berukuran 3,34 m x 3,17 m, tingginya 9 cm (2 lapis bata). Sama seperti Fondasi VII dan VIII, fondasi ini polos terbuat dari bata.

- Fondasi Bangunan X
Fondasi X terletak di sebelah kiri/selatan Gapura III, memiliki denah berbentuk persegi berukuran 2,38 m x 3,42 m. Pada sudut timur-laut terdapat penampil sudut. Tinggi fondasi yang tersisa 16 cm (setinggi 3 lapis bata).

- Kaki Candi Perwara I
Bangunan ini terletak di sebelah utara Candi Induk, di sebelah timur susunan percobaan tubuh candi. Bangunan ini memiliki bentuk denah bujur-sangkar dengan ukuran 8,41 x 8,41 m dan tinggi 58 cm, terbuat dari batu andesit. Di sisi barat terdapat tangga naik.

- Kaki Candi Perwara II
Candi Perwara II terletak di tenggara Fondasi Bangunan X. Bangunan ini berdenah bujur-sangkar dengan ukuran 4,06 m x 4,06 m, tinggi 70 cm, terbuat dari batu andesit. Pada keempat sisinya tidak ditemukan adanya tangga naik. Di setiap sudut terdapat hiasan relief ghana dengan posisi jongkok dan kedua tangan diangkat ke atas, seolah menyangga sesuatu. Di tengah bidang sisi terdapat hiasan satu panil besar berisi relief manusia diapit dua relief binatang di kanan-kirinya.

- Candi Induk
Candi Induk Panataran merupakan salah satu bangunan paling besar dan dianggap paling penting di Kompleks Percandian Panataran. Bangunan ini terletak di tengah Halaman III, dikelilingi bangunan-bangunan lain. Bangunan candi menghadap ke barat (azimuth 288°31´) sesuai dengan arah hadap Kompleks Percandian. Dilihat dari struktur bangunannya, Candi Induk terdiri atas tiga kaki yang bertingkat (teras). Kaki Tingkat I (paling bawah) berdenah persegi membujur barat-timur, berukuran 32,5 x 29,5 m tinggi 7,2 m. Pada setiap sisi terdapat penampil, penampil sisi barat (depan) dibuat lebih menonjol daripada penampil ketiga sisi lainnya. Di kanan-kiri penampil depan terdapat dua tangga naik ke lantai teras pertama. Tangga ini dilengkapi dengan pipi tangga berbentuk lengkung (ukel) dengan hiasan motif tumpal yang dipahatkan flora/sulur-suluran. Setiap tangga diapit dua arca penjaga yang diwujudkan dalam bentuk Siwa Mahakala dan istrinya Mahakali. Arca ini digambarkan berdiri di atas lapik berbentuk kotak dengan asana berupa rangkaian tengkorak. Pada setiap lapik arca terdapat tulisan yang menunjukan angka tahun 1269 Saka atau 1347 M. Sedang di belakang arca terdapat relief ceritera binatang yang berbeda penggambarannya antara arca (tangga utara). Dinding Kaki Tingkat I dihias dengan pahatan relief yang menggambarkan ceritera Ramayana, urutan ceriteranya disusun secara prasawya (berlawanan dengan arah jarum jam). Relief Ramayana ini dipahatkan dalam panil berbentuk segi empat, diseling dengan relief binatang yang dipahatkan dalam panil medalion. Dinding Kaki Tingkat II dihias dengan pahatan relief yang menggambarkan ceritera Krsnayana, dan dipahatkan secara pradaksina (searah jarum jam). Kaki Tingkat III, memiliki denah berbentuk segi empat dengan sebuah tangga naik di sisi barat selebar 85 cm dengan 8 anak tangga. Tangga ini dilengkapi pipi tangga berbentuk ukel pada bagian ujungnya, dan di atas ukel ini terdapat kepala naga. Bentuk badan naga di atas pipi tangga ini hilang/patah. Di bagian sudut kanan-kiri tangga dihias dengan relief garuda dan relief arca penjaga yang digambarkan dalam posisi berdiri, salah satu tangannya menopang sebuah gada. Bagian kepala dan badan atas arca sudah rusak/hilang.

- Prasasti Palah
Di selatan Candi Induk tepatnya di sebelah timur kaki Perwara II, terdapat sebuah prasasti terbuat dari batu andesit, yang menunjukkan angka tahun 1119 Saka (1197 M). Prasasti ini dinamakan prasasti “Palah”, sesuai dengan nama yang disebut dalam prasasti tersebut. Prasasti tersebut berbentuk segi empat melebar di bagian atas, lebar 100 cm, tinggi 194 cm, dan tebal 30 cm, pada bagian tengah atas terdapat lencana berbentuk lingkaran dengan segi empat miring di tengahnya. Tulisan yang digunakan adalah Jawa Kuno, dipahatkan pada ketiga sisinya. Nama bangunan suci Palah yang disebutkan dalam prasasti ini mungkin merupakan nama lama dari Candi Panataran. Prasasti Palah ditulis atas perintah Raja Srengga (Raja Kertajaya) dari Kediri, berisi tentang penetapan Sima daerah Palah yang menjadi tempat bersemayamnya
“Bhatara” yang selalu dipuja oleh Raja Srengga. Disamping itu, prasasti ini juga menyebutkan tentang pemberian anugerah kepada empat lurah yang telah berjasa memelihara dan menyelamatkan bangunan suci ini dari kerusakan. Yang menarik prasasti ini juga memuat keterangan mengenai usaha Raja Srengga untuk menyempurnakan bangunan suci yang dikunjungi. Keterangan ini mengisyaratkan kedatangan Raja Srengga di tempat suci ini selain untuk melakukan pemujaan terhadap Bhatara di Palah, juga untuk menyempurnakan bangunan suci tersebut. Ini berarti bahwa bangunan suci yang dimaksud sudah berdiri sebelumnya.
Hal lain yang disebutkan dalam prasasti Palah adalah bahwa pemujaan terhadap Bhatara di Palah dilakukan di tempat berdirinya Linggapala (prasasti batu lingga), sebagai tanda peringatan dan kemenangan. Keterangan ini menunjukkan bahwa sebelum prasasti ini ditulis nampaknya pernah terjadi peperangan, dan atas kemenangannya kemudian ditandai dengan prasasti (linggapala).

- Kaki Perwara III
Kaki Perwara II terletak di sebelah selatan Candi Induk atau sebelah Timur Prasasti Palah. Bangunan ini terbuat dari bata, mempunyai denah persegi empat berukuran 3,50x3,66 m setinggi 53 cm. Bentuk bangunan polos, bagian sudut-sudutnya memiliki penampil sudut dengan hiasan relief ghana. Di sisi Utara terdapat penampil dengan tangga naik, mengindikasikan bahwa bangunan ini dahulu menghadap ke utara (menghadap Candi Induk).

- Kaki Candi Perwara IV
Di tenggara Candi Induk terdapat sebuah kaki bangunan (kaki Candi Perwara IV) terbuat dari batu andesit, berdenah persegi berukuran 4 x 2,5 m. Bentuk kaki polos, hiasan berupa pelipit-pelipit datar membentuk kumai bawah dan kumai atas, serta bidang datar di tengah dihias dengan panil tanpa relief berbentuk segi empat dan medalion dipahatkan secara bergantian (selang-seling). Tinggi bangunan yang terlihat 65 cm atau lima lapis batu yang terlihat di atas permukaan tanah.

- Candi Perwara V
Di sebelah selatan dan menempel pada bangunan kaki Perwara IV terdapat Candi Perwara V terbuat dari batu andesit, berdenah persegi berukuran 8 m x 5 m, serta tinggi 4,5 m. Sebagian bangunan Candi Perwara ini telah runtuh, tinggal bagian kaki candi dan sebagian tubuh candi. Kaki candi polos, hanya dihiasi pelipit-pelipit datar. Di sisi barat terdapat penampil tangga naik candi. Bagian tubuh candi yang tersisa hanya sebagian yaitu sisi barat (sebelah utara pintu hingga sudut barat laut), serta sisi utara (sebelah barat relung hingga sudut barat laut). Dari bagian yang tersisa ini dapat diketahui tubuh candi bagian bawah dan atas (kumai) terdiri atas pelipit-pelipit datar dan bidang miring, sedang di tengah bidang datar dihias pelipit tegal (seperti sabuk) dengan motif meander dan antefik pada bagian sudut. Pada sisi barat terdapat pintu masuk berukuran lebar 59 cm dan tinggi 2,01 m, ambang pintu polos, di atas ambang pintu terdapat hiasan kala.

- Altar
Di sebelah kiri jalan setapak menuju petirtaan atau sebelah timur tangga turun terdapat sebuah altar terbuat dari batu andesit, berbentuk persegi dengan ukuran 1,70 m x 1.92 m setinggi 1,58 m. Hiasan yang terdapat pada altar tersebut berupa pelipit-pelipit datar dan sisi genta, pada keempatn sisinya terdapat panil segi empat yang menonjol ke luar tanpa relief, terbuat dari bata. Permukaan atas rata, pada bagian sudut-sudutnya dihias dengan antefiks.

- Kolam/Petirtaan
Kolam/petirtaan terletak di ujung tenggara halaman III, berbentuk segi empat berukuran 6,50 x 5,05 m kedalaman 2,65 m. Dinding kolam sebelah barat bagian bawah terbuat dari bata, bagian atas terbuat dari batu andesit, sedang dinding timur terbuat ari batu andesit. Dinding sebelah barat dihias dengan beberapa relief.

- Susunan Percobaan Tubuh Candi
Susunan percobaan tubuh candi terletak di barat laut Candi Induk. Bagian-bagian yang sudah tersusun ini tidak utuh seluruhnya, akan tetapi hanya sisi barat, sudut barat-daya, dan sisi selatan bagian barat, sehingga belum dapat dipastikan bentuk tubuh candi dan ukuran yang sebenarnya. Dari susunan ini dapat diketahui beberapa motif hias/relief.

Bagian kaki dihias dengan relief ghana yang diseling relief binatang seperti rusa, biawak, babi hutan, singa, kilin, trenggiling. Di bagian tubuh terdapat relung/jendela semu. Bagian di bawah relung dihias dengan relief angsa, ambang relung dihias relief surya (Majapahit) dan naga. Relung ini kosong. Di kanan-kiri relung terdapat relief tokoh dewi diapit hiasan medalion dengan relief raksasa dalam bentuk kerdil membawa semacam tanaman di tangannya. Relief tokoh (dewi) ini digambarkan berdiri, memakai pakaian kebesaran dengan perhiasan lengkap, di kanan-kiri kakinya terdapat motif lotus yang keluar dari vas. Di sudut terdapat relief tokoh (dewa) yang digambarkan berdiri, membawa atribut tasbih, busur, dan semacam gendang. Di bawah tokoh dewa tersebut terdapat relief garuda.