Candi Cetho

No. Regnas CB CB.98
SK Penetapan
No SK : 243/M/2015
Tanggal SK : 18 Desember 2015
Tingkat SK : Menteri
No SK : PM.24/PW.007/MKP/2007
Tanggal SK : 26 Maret 2007
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Candi Cetho
Keberadaan Provinsi : Jawa Tengah
Kabupaten / Kota : Kabupaten Karanganyar

Situs Candi Cetho dibangun sekitar tahun 1451-1470 pada zaman Kerajaan Majapahit ketika pengaruh Hindu di Jawa mulai pudar dan unsur Indonesia asli dari tradisi prasejarah mulai hidup lagi. Ciri khas seni arca pada masa itu dibuat berukuran besar tetapi pemahatannya lebih sederhana, contoh jelas adalah arca Bima yang ada di halaman pertama. Dari sisi arsitektur gaya bangunan masa itu menyerupai punden berundak yang berkembang di Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna, Jawa Timur.
Nama Cetho, yang dalam bahasa Jawa berarti ‘jelas’, digunakan sebagai nama dusun tempat candi ini berada karena dari Dusun Cetho orang dapat dengan jelas melihat ke berbagai arah. Ke arah utara terlihat pemandangan Karanganyar dan Kota Solo dengan latar belakang Gunung Merbabu, Merapi, dan Gunung Sumbing. Ke arah barat dan timur terlihat bukit-bukit hijau membentang, sedangkan ke arah selatan terlihat punggung dan gugusan anak Gunung Lawu.
Pada masa itu Kerajaan Majapahit sedang mengalami proses keruntuhan dengan memuncaknya kekacauan sosial, politik, budaya dan bahkan tata keagamaan sebelum akhirnya mengalami keruntuhan total pada tahun 1519 M (Djafar, 2012: 136).
Situs Candi Cetho mempunyai kaitan erat dengan Situs Candi Sukuh yang letaknya di dataran yang lebih rendah dan dengan jarak yang relatif berdekatan. Sama halnya dengan Situs Candi Sukuh yang dibangun pada abad 1439 Masehi yang mempunyai hubungan dengan ritual upacara ruwatan, Bernet Kempers (1959:101) dalam Ancient Indonesian Art berpendapat bahwa Situs Candi Cetho sejak awal didirikan merupakan situs suci yang berhubungan dengan penghormatan arwah-arwah leluhur yang pada paruh pertama abad XV diubah menjadi sebuah monumen yang mengandung unsur-unsur dari kebudayaan Hindu-Jawa dengan karakter lokal dengan sarana pembebasan arwah leluhur dari semua ikatan duniawi.
Situs Candi Cetho ini pertama kali dilaporkan oleh Van De Vlis pada tahun 1451-1470. Penemuan ini menarik perhatian sejumlah ahli purbakala karena unsur nilai kepurbakalaannya, seperti W.F. Sutterheim, K.C. Crucq, N.j. Krom, A.J. Bernet Kempers, dan Riboet Dharmosoetopo.
Pada tahun 1928 Dinas Purbakala mengadakan penelitian dalam rangka pemugaran, dari penelitian ini tidak diperoleh cukup bukti untuk merekonstruksi bangunan batu yang berada di puncak bukit.
Pada tahun 1975-1976, Inspektur Jenderal Pembangunan (Irjenbang), Sudjono Hoemardhani melakukan pemugaran situs menjadi seperti yang terlihat sekarang ini. Sangat disayangkan bahwa pemugaran atau lebih tepatnya disebut pembangunan kembali tersebut dilakukan tanpa memperhatikan aspek arkeologis, sehingga keaslian bentuknya tidak dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Penambahan-penambahan baru antara lain sejumlah pondasi dengan bangunan-bangunan kayu mirip seperti halnya bangunan-bangunan pura di Bali.
Bentuk bangunan dibuat seperti Situs Candi Sukuh dan ini merupakan hasil pemugaran pada akhir tahun 1970-an bersama-sama dengan bangunan-bangunan pendopo dari kayu.

Berdasarkan penelitian Van De Vlis maupun A.J. Bernet Kempres, Situs Candi Cetho terdiri atas 14 teras. Namun kenyataanya yang ada pada saat ini hanya terdiri dari tiga belas teras yang tersusun dari barat ke timur dengan pola susunan makin ke belakang makin tinggi dan dianggap paling suci. Masing-masing halaman teras dihubungkan oleh sejumlah pintu dan jalan setapak yang seolah-olah membagi halaman teras menjadi dua bagian. Pada teras terakhir terdapat candi induk.

Di sisi timur teras paling bawah terdapat gapura yang merupakan pintu gerbang Situs Candi Cetho. Di depan gapura terdapat arca batu yang oleh penduduk sekitar disebut Arca Nyai Gemang Arum.

Teras ke-1
Di sisi selatan teras pertama terdapat bangunan tanpa dinding yang berdiri pondasi setinggi kurang lebih 2 m. Di dalam bangunan terdapat susunan batu yang tampaknya sering digunakan untuk meletakkan sesajian.

Di ujung barat jalan setapak yang melintasi halaman teras pertama, terdapat gapura batu dengan tangga batu. Tangga menuju teras berikutnya ini diapit oleh sepasang arca Nyai Agni. Salah satu dari kedua arca ini masih terlihat utuh.

Teras ke-2
Pada halaman teras ke-2 terdapat susunan batu yang terhampar di halaman, membentuk gambar seekor garuda terbang dengan sayap membentang. Di bagian punggung garuda terdapat susunan batu yang menggambarkan seekor kura-kura. Tepat di atas kepala garuda terdapat susunan batu berbentuk matahari bersinar, segitiga sama kaki dan Kalacakra (kelamin laki-laki). Di ujung masing-masing sayap garuda terdapat dua bentuk matahari lain.
Garuda adalah burung kendaraan Wisnu yang yang melambangkan dunia atas, sedangkan kura-kura yang merupakan titisan Wisnu merupakan simbol dunia bawah. Kura-kura dianggap sebagai binatang sakti yang mampu menyelami samudera untuk mendapatkan air kehidupan (tirta amerta). Adanya kalacakra di halaman ini yang menyebabkan Situs Candi Cetho disebut sebagai candi 'lanang' (lelaki).
Matahari bersinar 7 (tujuh) melambangkan Sang Surya yang diyakini sebagai sumber kekuatan kehidupan. Segitiga sama kaki melambangkan pedoman bagi dunia yang sedang tenggelam kedalam lautan kegelapan. Di tengah segi tiga sama kaki terdapat lingkaran yang memuat tiga ekor katak, masing-masing menghadap ke sudut yang berbeda.
Dalam setiap segitiga terdapat lukisan seekor kadal. Pada garis berat yang membagi sisi timur terdapat bentuk belut bermahkota dengan gambar ketam di sisi selatan dan mimi (sejenis binatang laut) di sisi utara. Keseluruhan bentuk tersebut merupakan gambaran harapan akan kesuburan, baik kesuburan tanah maupun manusia. Segitiga dengan bentuk kelamin laki-laki di puncaknya melambangkan kesatuan wanita dan pria, dua makhluk yang berlawanan sifatnya namun tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebagai perlambang jagad kecil (mikrokosmos) dalam diri manusia. Di sisi barat teras kedua, masing-masing di kiri dan kanan tangga menuju teras berikutnya, terlihat dua buah ruangan yang hanya tinggal fondasinya saja. Tangga menuju teras berikutnya merupakan susunan batu andesit yang susunannya tidak rapi. Di kiri dan kanan tangga terdapat reruntuhan batu yang tidak jelas bentuk aslinya.
Teras ke-3
Teras ke-3 merupakan halaman yang tidak terlalu luas. Seperti yang terdapat di teras sebelumnya, di sisi barat teras ini juga terdapat sepasang ruangan yang mengapit jalan menuju tangga ke teras yang lebih atas. Di dalam ruangan terdapat susunan batu membentuk segi empat membujur dari utara ke selatan. Pada dinding susunan batu tampak relief bergambar manusia dan binatang. Relief tersebut merupakan cuplikan dari Kidung Sudamala. Relief dengan tema Kidung Sudamala juga terdapat di Candi Sukuh. Relief ini yang menguatkan dugaan bahwa Situs Candi Cetho dibangun untuk tujuan 'ruwatan'. Tangga menuju teras berikutnya terbuat dari batu andesit yang sangat rapi susunannya, dibuat bertingkat dengan jeda (landing) yang cukup lebar di setiap tingkat. Tebing di kiri dan kanan tangga disangga oleh turap batu bersusun. Tidak diperoleh informasi apakah tangga ini merupakan hasil pemugaran yang pernah dilakukan sebelumnya atau merupakan tangga yang asli.
Teras ke-4
Di sisi dalam (barat) teras ke-4 terdapat sepasang arca Bima yang menjaga sebuah tangga batu menuju teras ke-5.
Teras ke-5
Pada teras ke-5 terdapat sepasang bangunan beratap, yang disebut pendapa luar. Bangunan tanpa dinding tersebut mengapit jalan menuju tangga ke teras ke-6.
Teras ke-6
Pada sisi barat teras ke-6 terdapat sebuah arca Kalacakra dan sepasang arca Ganesha yang berada di depan kaki tangga yang menuju ke teras ke-7. Tangga menuju teras ke-7 ini dibuat bertingkat 3. Tebing di kiri dan kanan tangga diperkuat dengan turap batu. Di puncak tangga terdapat gapura yang merupakan pintu masuk ke teras ke-7.
Teras ke-7
Teras ke-7 merupakan sebuah halaman yang dikelilingi oleh dinding batu. Pada teras ini juga terdapat sepasang pendapa beratap tanpa dinding yang disebut Pendapa Dalam. Di sisi barat Pendapa Dalam terdapat tangga menuju ke teras berikutnya.
Teras ke-8
Pada teras ke-8 terdapat sebuah ruangan yang digunakan untuk bersembahyang. Di depan pintu ruangan terdapat dua buah arca batu dengan tulisan Jawa yang menunjukkan tahun dibangunnya Situs Candi Cetho. Di sisi barat, tepatnya di belakang ruangan terdapat tangga menuju teras ke-9.

Teras ke-9
Di kiri dan kanan sisi barat teras ke-9 terdapat ruangan yang menghadap ke timur. Kedua ruangan tersebut berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda kuno. Di sisi timur, berseberangan dengan masing-masing ruang penyimpanan tersebut terdapat dua bangunan. Bangunan di sisi utara berisi arca Sabdapalon dan bangunan di sisi selatan berisi arca Nayagenggong. Keduanya merupakan tokoh punakawan (pengasuh sekaligus penasehat kerajaan) pada masa itu. Sisi barat teras ke-9 dibatasi oleh dinding batu yang berfungsi sebagai gapura masuk ke sebuah lorong tangga batu menuju ke sebuah ruangan di teras ke-10.
Teras ke-10
Pada teras ini terdapat sebuah ruangan yang masing-masing sisinya terdapat tiga buah bangunan kayu yang saling berhadapan. Dalam masing-masing bangunan terdapat sebuah arca. Salah satu di antara deretan arca yang terletak di deretan utara adalah arca Prabu Brawijaya. Di deretan selatan, lagi-lagi, terdapat arca Kalacakra. Ujung barat deretan selatan merupakan tempat penyimpanan pusaka Empu Supa. Empu Supa adalah seorang empu (pembuat senjata pusaka) yang terkenal dan dihormati pada masa hidupnya. Sisi barat teras kesepuluh dibatasi oleh dinding batu yang berfungsi sebagai gapura masuk ke sebuah lorong tangga batu menuju ke teras ke-11.
Teras ke-11
Pada teras ini, yaitu di puncak lorong terdapat sebuah dinding batu setinggi sekitar 1,60 meter yang menyekat tangga dengan ruang utama, berupa bangunan tanpa atap, dikelilingi dinding batu setinggi hampir 2 m, dengan luas sekitar 5 m². Ruang utama yang merupakan pesanggrahan Prabu Brawijaya ini letaknya lebih tinggi dari semua ruang lain, sehingga dari tempat ini dapat dilihat dengan jelas ruang-ruang di bawahnya.
Bentuk seni bangunan Situs Candi Cetho mempunyai kesamaan dengan Situs Candi Sukuh, yaitu dibangun berteras sehingga mengingatkan kita pada punden berundak masa prasejarah. Bentuk susunan bangunan semacam ini sangatlah spesifik dan tidak ditemukan pada kompleks candi lain di Jawa Tengah kecuali Situs Candi Sukuh. Pada Situs Candi Cetho banyak dijumpai arca-arca yang mempunyai ciri-ciri masa prasejarah, misalnya arca digambarkan dalam bentuk sederhana, kedua tangan diletakkan di depan perut atau dada. Sikap arca semacam ini menurut para ahli mengingatkan pada patung-patung sederhana di daerah Bada, Sulawesi Tengah. Selain itu juga terdapat relief-relief yang menggambarkan adegan cerita Sudamala seperti yang ada di Situs Candi Sukuh dan relief-relief binatang seperti kadal, gajah, kura-kura, belut dan ketam.
Sudamala merupakan cerita ruwat yang berkembang pada masa akhir Majapahit. Dari asal kata Sudamala dapat diartikan bersih dari noda. Jika dihubungkan dengan tema ceritanya, maka Sudamala, yang menjadi tokoh utama dalam cerita merupakan orang yang membersihkan noda atau dengan kata lain orang yang meruwat.

Luas lahan : 6907,34 m2
Luas Struktur lama : 548,51 m2
Luas Bangunan baru : 490,62 m2
Luas Struktur Baru : 1159,59 m2

Daftar Delineasi Batas Candi Cetho
1. Pintu Utama 111° 09’ 23,1” 07° 35’ 42,9” Perbatasan anak tangga menuju situs dan jalan aspal
2. Sudut Barat Daya 111° 09’ 22,9” 07° 35’ 43,4” Perbatasan dengan lahan pertanian penduduk
3. Batas Sisi Selatan Trap I 111° 09’ 23,3” 07° 35’ 43,6” Perbatasan dengan lahan pertanian penduduk
4. Batas Sisi Selatan Trap II 111° 09’ 23,5” 07° 35’ 43,6” Perbatasan dengan lahan pertanian penduduk
5. Batas Sisi Selatan Trap III 111° 09’ 23,7” 07° 35’ 43,7” Perbatasan dengan lahan pertanian penduduk
6. Batas Sisi Selatan Trap IV 111° 09’ 24,1” 07° 35’ 43,9” Perbatasan dengan lahan pertanian penduduk
7. Batas Sisi Selatan Trap V 111° 09’ 25,7” 07° 35’ 44,3” Perbatasan dengan lahan pertanian penduduk
8. Batas Sisi Selatan Trap VI 111° 09’ 26,4” 07° 35’ 44,5” Perbatasan dengan lahan pertanian penduduk
9. Batas Sisi Selatan Trap VII 111° 09’ 27,0” 07° 35’ 44,7” Perbatasan dengan lahan pertanian penduduk
10. Batas Sisi Selatan Trap VIII 111° 09’ 27,5” 07° 35’ 44,8” Perbatasan dengan lahan pertanian penduduk
11. Batas Sisi Selatan Trap IX 111° 09’ 28,2” 07° 35’ 45,0” Perbatasan dengan lahan pertanian penduduk
12. Batas Sisi Selatan Trap X 111° 09’ 28,6” 07° 35’ 45,2” Perbatasan dengan lahan pertanian penduduk
13. Batas Sisi Selatan Trap XI 111° 09’ 29,4” 07° 35’ 45,3” Perbatasan dengan lahan pertanian penduduk
14. Batas Sisi Utara Trap XI 111° 09’ 29,8” 07° 35’ 44,4” Perbatasan dengan hutan pinus Perhutani
15. Batas Sisi Utara Trap X 111° 09’ 28,8” 07° 35’ 44,4” Perbatasan dengan hutan pinus Perhutani
16. Batas Sisi Utara Trap IX 111° 09’ 28,5” 07° 35’ 44,3” Perbatasan dengan hutan pinus Perhutani
17. Batas Sisi Utara Trap VIII 111° 09’ 27,5” 07° 35’ 44,1” Perbatasan dengan hutan pinus Perhutani
18. Batas Sisi Utara Trap VII 111° 09’ 27,2” 07° 35’ 43,7” Perbatasan dengan hutan pinus Perhutani
19. Batas Sisi Utara Trap VI 111° 09’ 26,7” 07° 35’ 43,6” Perbatasan dengan hutan pinus Perhutani
20. Batas Sisi Utara Trap V 111° 09’ 25,9” 07° 35’ 43,3” Perbatasan dengan hutan pinus Perhutani
21. Batas Sisi Utara Trap IV 111° 09’ 24,5” 07° 35’ 43,0” Perbatasan dengan hutan pinus Perhutani
22. Batas Sisi Utara Trap III 111° 09’ 24,2” 07° 35’ 42,8” Perbatasan dengan hutan pinus Perhutani
23. Batas Sisi Utara Trap II 111° 09’ 23,7” 07° 35’ 42,6” Perbatasan dengan hutan pinus Perhutani
24. Batas Sisi Utara Trap I 111° 09’ 23,6” 07° 35’ 42,6” Perbatasan dengan hutan pinus Perhutani
25. Sudut Barat Laut Pagar Halaman 111° 09’ 23,6” 07° 35’ 42,5” Perbatasan dengan pemukiman penduduk
26. Pintu Utama 111° 09’ 23,1” 07° 35’ 42,9” Perbatasan anak tangga menuju situs dan jalan aspal