Makam Sunan Giri

No. Regnas CB CB.102
SK Penetapan
No SK : 247/M/2015
Tanggal SK : 21 Desember 2015
Tingkat SK : Menteri
No SK : PM.56/PW.007/MKP/2010
Tanggal SK : 22 Juni 2010
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Makam Sunan Giri
Keberadaan Provinsi : Jawa Timur
Kabupaten / Kota : Kabupaten Gresik

Nama kecil Sunan Giri adalah Raden Paku, putera Wali Lanang atau Syeh Maulana Ishak dari Blambangan. Sewaktu kecil dia dibuang oleh ibunya ke laut (Selat Bali) menggunakan peti kayu, kemudian dipungut sebagai anak angkat oleh Syahbandar di Gresik bernama Nyi Gede Pinatih, dan diberi nama Joko Samudro (Djajaningrat, 1963: 24).

Pendapat lainnya yang menyatakan bahwa Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW, yaitu melalui jalur keturunan Husain bin Ali. Dalam Hikayat Banjar, Pangeran Giri (alias Sunan Giri) merupakan cucu Putri Pasai dan Dipati Hangrok (alias Brawijaya VI). Perkawinan Putri Pasai dengan Dipati Hangrok melahirkan seorang putera. Putera ini yang tidak disebutkan namanya menikah dengan puteri Raja Bali, kemudian melahirkan Pangeran Giri (Sunan Giri I).

Setelah remaja Raden Paku belajar kepada Sunan Ampel bersama putera Sunan Ampel yaitu Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Keduanya pergi ke Pasai, kemudian ke Malaka untuk belajar tasawuf dan tauhid. Di Malaka,keduanya diterima oleh Maulana Ishak (Syeh Awalul Islam).

Raden Paku menikah dengan puteri Sunan Ampel bernama Dewi Murtasiah dan bermukim di Giri. Di Giri, beliau mendirikan pondok pesantren sebagai pusat pendidikan agama Islam dan juga merupakan pusat pemerintahan. Sunan Giri mendirikan kedaton di atas sebuah bukit yang kemudian dikenal dengan Giri Kedaton. Dalam babad Gresik disebutkan bahwa bangunan yang terdapat di Giri Kedaton tunda pitu (bertingkat tujuh), ditandai dengan sengkala yang menunjukkan angka tahun 1408 Saka atau 1486 M.

Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.

Sunan Giri bergelar Prabu Satmata, ditandai sengkala trus ing luhur dadi haji. Sejak saat itu Sunan Giri menjadi pemangku kekuasaan di Giri dengan kedudukan sebagai tetunggul khalifatul mukminin (pemimpin segenap kaum mukmin).

Pesantren Sunan Giri berperan penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah Indonesia bagian timur.

Kompleks makam ini terdiri atas tiga halaman yang semakin ke belakang semakin meninggi. Masing-masing halaman dibatasi oleh pagar dan gerbang berupa gapura. Di setiap halaman tersebut terdapat makam-makam. Pada masa lalu kompleks ini merupakan lokasi pesantren yang kemudian berkembang menjadi Kedaton Giri.

Halaman I
Halaman ini terletak di bagian paling bawah, terluas, dan terluar dari Kompleks Makam Sunan Giri. Pintu masuk Halaman I ditandai dengan gapura bentar berbahan bata. Pada bagian ambang bawah pintu gapura terdapat trap tangga dengan pipi tangga. Pada kedua pipi tangga tersebut terdapat arca naga berbahan batu gamping yang melambangkan naga loro warnaning pada atau berangka tahun 1428 S = 1506 M. Angka tahun ini diduga merupakan angka tahun pembangunan gapura bentar.

Makam kuna yang terdapat pada halaman I berjumlah sekitar 56 makam dengan keletakan yang tidak beraturan. Di halaman ini terdapat dua cungkup dari kerabat Sunan Giri, cungkup sebelah kanan jalan adalah cungkup makam Panembahan Tamengrogo, sedangkan di sebelah kiri jalan adalah cungkup makam Panembahan Sonto Putro. Sebelah timur halaman I terdapat sebuah telaga yang berukuran diameter sekitar 20 meter.

Halaman II
Halaman II terletak di sebelah utara halaman I. Pintu masuk halaman II berbentuk gapura bentar berbahan batu gamping yang simetris dengan gapura naga. Pada halaman ini terdapat dua teras yaitu teras 1 dan teras 2. Teras 2 lebih tinggi daripada teras 1 dan pada masing-masing teras terdapat makam-makam kuna.

Halaman III
Halaman III terletak di sebelah utara halaman II, merupakan halaman paling belakang dan paling tinggi di antara halaman yang lain. Halaman ini merupakan halaman inti di Kompleks Makam Sunan Giri yang dikelilingi dengan pagar. Pagar di sisi selatan dihiasi dengan batu karang dalam jajaran pilar. Ada dua gapura paduraksa di halaman III, yakni:
a. Gapura Paduraksa 1
Gapura ini terdapat di pagar selatan halaman III, tepat di sebelah utara gapura bentar halaman II. Gapura kori agung 1 merupakan pintu masuk halaman III dari arah selatan. Kaki gapura berbentuk balok yang di atasnya terdapat empat tingkat pelipit mengecil ke atas. Tubuh gapura berupa pilar balok dengan ambang pintu berbahan kayu, sedangkan ambang atas berupa latiyu bertingkat lima. Atap gapura berbentuk limas bertingkat lima yang semakin ke atas semakin kecil. Setiap sudut atap gapura dihiasi dengan hiasan motif simbar atau antefiks sudut.

b. Gapura Kori Agung 2
Gapura ini terdapat di sisi timur halaman III. Ukuran gapura kori agung 2 lebih kecil dibandingkan gapura kori agung 1. Tubuh gapura berupa balok polos tanpa daun pintu. Atap berbentuk limas, bertingkat tiga semakin mengecil di bagian atas. Fungsi gapura kori agung 2 adalah penghubung halaman III dengan Masjid Besar Ainul Yaqin.

Pada Halaman III Kompleks Makam Sunan Giri terdapat lima makam bercungkup, baik yang berdinding ataupun tidak berdinding. Lima makam tersebut antara lain:
a. Cungkup 1 berada di sisi paling selatan, merupakan cungkup tanpa dinding pada keempat sisinya. Cungkup ini adalah cungkup yang paling luas ukurannya, berdenah bujur sangkar, dan beratap berbentuk joglo. Pada cungkup ini terdapat 23 makam kuna, terbuat dari batu gamping (jirat dan nisan), dan dengan keletakan tidak teratur.
b. Cungkup 2 berhimpitan dengan cungkup 1 di sebelah utaranya. Cungkup 2 berdenah bujursangkar, ketiga sisinya (utara, barat, dan timur) berdinding bata berlepa, dan beratap limasan. Pada cungkup 2 terdapat enam jirat makam kuna, yaitu jirat makam Nyi Ageng Sawo, Sunan Kulon, Pangeran Kidung, Sunan Tengah, Sunan Dalem, dan tokoh yang tidak dikenal.
c. Cungkup 3 terletak di sebelah timur cungkup 2, berdenah bujursangkar, dan memiliki dua bilik.
- Bilik 1 berdiri di atas batur dari batu gamping, berdenah bujur sangkar, berukuran 8,8 m x 8,8 m, berhias dedaunan dan sulur-suluran. Dinding cungkup terbuat dari bahan kayu atau gebyog, berhias panil motif flora, fauna, dan sulur-suluran. Pintu masuk berada di dinding sisi selatan dengan daun pintu dan kusen berhias arca naga dengan ekor di atas kepala di bawah bersandar motif floral, sulur-suluran, kala, karang, dan motif awan. Ambang pintu terdapat latiyu bertingkat dua, di atasnya ada ukiran kemamang (stiliran kepala kala) yang pada kedua sudut di atasnya ada ukiran naga. Dinding kanan-kiri pintu terdapat 18 panil medalion berisi ukiran flora dan bunga, dinding sisi barat dan timur bagian depan ada enam panil medalion berisi ukiran flora dan bunga, di sisi belakangnya ada 36 panil medalion polos. Dinding sisi belakang ada 42 panil medalion polos. Dalam ruang cungkup ini terdapat dua makam yaitu makam isteri Sunan Giri dan kerabatnya. Atap berbentuk limasan dari bahan kayu (sirap).

- Bilik 2 berada di dalam bilik 1, namun lebih tinggi dari ruang 1 karena berdiri di atas batur dari bahan batu putih, bujur sangkar, berukuran 6,80 m x 6,80 m, berdinding kayu atau gebyog berwarna merah, hitam, dan keemasan berhias ukir-ukiran dalam tiga baris panil. Pintu masuk bilik berada di sisi selatan yang di depan ambang pintunya ada naga dengan ekor di atas kepala di bawah bersandar pada stiliran kilin (singa). Ambang atasnya berupa latiyu tiga tingkat berhias kemamang atau kala dikelilingi sulur-suluran. Di sisi utara ada 15 panil medalion, sedangkan sisi barat dan timur ada 24 panil medalion, tiap-tiap panil medalion berisi ukiran flora dan bunga (roset). Ada dua jirat makam di dalam ruang 2, yaitu jirat makam Sunan Giri dan jirat makam isterinya. Jirat Sunan Giri berbentuk persegi panjang, bertingkat-tingkat semakin ke atas semakin mengecil, berukuran panjang 2,73 m, lebar 84 cm, dan tinggi 40 cm. Nisan berbentuk lancip, berukuran panjang 29 cm, lebar 15 cm, tinggi 60 cm, bagian sisi depan nisan berhiaskan lingkaran. Sebelah barat adalah jirat makam Sunan Giri, sebelah timur adalah makam isterinya, berukuran panjang 2,15 m, lebar 45 cm, tinggiu 22 cm. Nisan berbentuk kurung kurawal atau akolade yang terpancung di bagian atasnya.

d. Cungkup 4 terletak di sebelah di sebelah selatan cungkup 3, berdenah persegi empat, tanpa dinding, atap berbentuk limasan. Dua makam di dalam cungkup ini, yaitu makam Sunan Sedo Ing Margi dan isterinya.

e. Cungkup 5 terdapat di sebelah timur cungkup 3. Cungkup 5 berdenah persegi empat, tanpa dinding, lantai makam tidak ditinggikan. Lima makam kerabat Sunan Giri di cungkup ini, masing-masing berbentuk persegi panjang, nisan berbentuk kurung kurawal atau akolade dengan puncak lancip.

Selain makam-makam dalam cungkup, di halaman terbuka pada halaman III ini terdapat beberapa makam kuna dengan pola yang tidak beraturan, berbahan batu putih (Sumarno, 2002:20; Umiati, 2003:4-7; Kasdi, 2005: 95-100, Ichwan, 2013:44-49).

Luas bangunan : 376,55 m2
Luas lahan : 15.975 m2