Arca Manjusri Koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris 5899/A 1105

No. Regnas CB CB.1524
SK Penetapan
No SK : 170/M/2018
Tanggal SK : 9 Juli 2018
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Benda
Nama Cagar Budaya Arca Manjusri Koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris 5899/A 1105
Keberadaan Provinsi : Dki Jakarta
Kabupaten / Kota : Kota Adm. Jakarta Pusat

Arca Mañjuśrī koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris 5899/A1105 berasal dari abad X. Arca ini ditemukan di Desa Ngemplak, Semongan, Jawa Tengah pada bulan Oktober 1927 dengan berat 10 kg.
Arca ini ditemukan di bulan Oktober 1927 oleh seorang petani di desa Ngemplak, Semongan, sekitar 1 mil di sebelah barat daya kota Semarang, provinsi Jawa Tengah.
Dalam Prasasti Manjusrigrha (782 M), disebutkan adanya pentakbihan candi untuk memuja Mañjuśrī yang diinterpretasikan sebagai Candi Sewu. Di dalam pemujaaan di Candi Sewu, Mañjuśrī memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena ia dibicarakan sebagai Buddha yang tertinggi. Namun saying arca Mañjuśrī yang ada di Candi Sewu tidak ditemukan lagi. Selain itu, arca Mañjuśrī juga ditemukan di Candi Plaosan Lor yang digambarkan dengan laksana pustaka yang diletakkan di atas bunga lotus biru (utpala).
Bentuk tatanan rambut, kalung dan gaya tubuh arca Manjusri ini mendapat pengaruh gaya kesenian Pala dari India. Oleh sebab itu ada dugaan bahwa arca ini diimpor dari India. Akan tetapi arca ini dibuat oleh seniman Jawa yang mengambil inspirasi dari kesenian Pala. Ciri khas seni Jawa ditunjukkan pada penggunaan perhiasan jepitan rambut, kelat bahu (hiasan lengan atas), bandul tali kasta dan bandul ikat pinggang. Perhiasan-perhiasan tersebut dihiasi dengan batu mulia dimana batu itu diikat atau dicengkeram dan diletakkan pada sebuah hiasan floral/tumbuh-tumbuhan yang berbentuk lonjong.
Teknik pembuatannya menggunakan teknik cetak lilin hilang (lost wax atau á cire perdue technique). Teknik ini telah dikuasai sejak sebelum masuknya kebudayaan India di Indonesia yang terbagi menjadi tiga langkah pembuatan (Haryono 2005: 5,7). Langkah yang dilakukan pertama kali adalah membuat model yang diinginkan dari material lilin sehingga mudah untuk membuat detailnya. Setelah itu model tersebut dilapis dengan material tanah liat, dibuat lubang pada salah satu sisinya dan dibakar agar tanah liat mengeras dan lilin meleleh keluar dari lubang. Cetakan tanah liat yang telah mengeras tersebut kemudian diisi dengan logam perak cair. Setelah dingin, cetakan tanah liat tersebut dihancurkan.
Arca-arca berbahan perak tidak banyak ditemukan di pulau Jawa dari periode Hindu-Buddha. Penemuan arca ini merupakan salah satu contoh karya seni logam berbahan perak terbaik dan berbobot paling berat yang pernah ditemukan di pulau Jawa karena dibuat menggunakan material perak dengan tingkat kemurnian 92 persen dan beratnya tidak kurang dari 10 kilogram.

Rambut arca disusun ke atas sebagai sanggul dengan bagian belakang dikuncir tiga. Terdapat hiasan berupa bros/simbar dengan motif bunga dan hiasan monokel pada puncak rambut. Ekspresi wajah menunjukkan ketenangan dengan mata setengah terbuka dan mulut tersenyum.
Arca Mañjuśrī mengenakan perhiasan berupa anting-anting berbentuk bundaran pipih dengan garis-garis membulat sebanyak empat buah. Pada bagian atas telinga terdapat hiasan berupa ukiran dengan bentuk menjulur ke belakang (sumping). Arca ini memakai dua buah kalung di dada dengan bentuk dasar berupa tali polos dengan untaian mutiara dan hiasan deretan taring. Bagian badan arca digambarkan mengenakan upawita yang tergantung dari bahu kiri sampai bagian pinggang dengan tali berupa untaian mutiara sebanyak satu buah. Di depan perut terdapat gesp berukir. Arca mengenakan kain tebal bermotif batik hingga pergelangan kaki. Terdapat rempelan kain (wiru) di bagian depan tengah dengan jumlah lipatan sebanyak delapan. Ikat pinggang bagian atas berbentuk tali polos dengan hiasan roset di bagian tengah. Terdapat satu buah uncal dengan bentuk tali polos dan ujung-ujungnya terjulur hingga kebagian kaki. Pada masing-masing kaki terdapat gelang dengan bentuk dasar berupa lembaran lebar tanpa hiasan.
Arca Mañjuśrī memiliki dua tangan yang masing-masing memiliki sikap tangan berbeda. Tangan kanan dengan sikap varamudra dan tangan kiri dengan sikap vitarkamudra. Arca ini mengenakan kelat bahu dengan bagian tengahnya berbentuk segitiga bersayap. Pada bagian pergelangan tangan kanan terdapat gelang dengan bagian dasar tali polos dan hiasan berupa benda bulat lonjong. Sementara tangan kiri memegang teratai kuncup (utpala) yang di bagian atasnya terdapat pustaka. Pada telapak tangan arca ini terdapat gambar bunga. Sejak ditemukan, kondisi arca dalam keadaan baik, hanya terdapat bagian yang aus di bawah lengan tangan kiri. Selain itu, hiasan pada anting sebelah kanan yang berbentuk bulatan empat hanya tersisa tiga buah.

Arca Mañjuśrī Koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris 5899/A 1105 dibuat pada periode Jawa Tengah Kuna yaitu awal abad X. Arca ini terbuat dari perak dengan kontur dan pahatan yang jelas. Penggarapan permukaan arca bersifat halus dan natural.
Arca Manjusri ini digambarkan duduk dengan sikap lalitāsana, kaki kirinya dilipat dan kaki kanannya menjuntai ke bawah. Pada telapak kaki kanan terdapat tonjolan yang memungkinkan bahwa dahulunya terdapat alas kaki yang umumnya adalah bunga padma. Rambutnya ditata secara khusus, dibagi menjadi tiga bagian. Rambut bagian tengah di susun ke atas dan dijepit dengan penjepit berbentuk simbar dengan motif bunga. Rambut di sisi kiri dan kanan dipilin dan dibiarkan terjuntai tanpa penjepit. Ekspresi wajah menunjukkan ketenangan dengan mata setengah terbuka dan mulut tersenyum.
Arca Manjusri ini mengenakan perhiasan berupa penjepit rambut yang berada di rambut bagian tengah, dan sebuah perhiasan berbentuk simbar di bagian tengah dahi arca. Perhiasan lainnya adalah anting-anting berbentuk cakra (roda dharma) berjari-jari empat yang berukuran besar. Pada bagian atas telinga terdapat hiasan berupa ukiran dengan bentuk menjulur ke belakang (sumping). Arca Manjusri ini mengenakan dua buah kalung di dada. Kalung yang pertama terletak di posisi paling atas berupa kalung polos seperti bulan sabit. Kalung yang kedua berada di bawah kalung yang pertama. Kalung yang kedua ini berupa tali yang berisi bandul-bandul kalung berupa bandul berbentuk gigi macan dan bandul bulat yang diposisikan berselang seling. Bandul yang berada di tengah merupakan bandul utama yang berukuran lebih besar, berupa dua buah taring macan yang dibungkus wadah persegi. Kalung ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan magis kepada pemakainya (Fontein 1990: 194).
Bagian badan arca digambarkan mengenakan upawita yang tergantung dari bahu kiri sampai bagian pinggang dengan tali berupa untaian mutiara sebanyak satu buah dan terdapat bandul upawita berbentuk bunga. Di depan perut terdapat ikat pinggang dengan kepala ikat pinggang juga berbentuk bunga (roset). Pada lengan bagian atas masing-masing dihiasi gelang berbentuk simbar (kelat bahu). Pergelangan tangan arca ini juga dihiasi dengan sebuah gelang dengan sebuah batu permata bulat. Pergelangan kaki juga dihiasi dengan sebuah gelang kaki polos.
Arca mengenakan kain tebal bermotif batik (bunga kelopak empat dan bulatan-bulatan yang berselang seling dan dibatasi oleh dua garis memanjang horisontal) hingga pergelangan kaki. Terdapat rempelan kain (wiru) di bagian depan tengah dengan jumlah lipatan sebanyak delapan. Terdapat satu buah uncal dengan bentuk tali polos dan ujung-ujungnya terjulur hingga kebagian kaki.
Arca Mañjuśrī memiliki dua tangan yang masing-masing memiliki sikap tangan berbeda. Tangan kanan dengan sikap varamudra dan tangan kiri dengan sikap vitarkamudra. Dari sisi kiri tubuh arca menjulur tangkai bunga teratai melewati telapak tangan kiri hingga ke atas bahu kiri. Ujung dari tangkai teratai tersebut adalah sekuntum teratai setengah terbuka (utpala) yang menopang sebuah pustaka. Pada kedua telapak tangannya terdapat rajahan (tato} berupa jari-jari roda dharma.
Sejak ditemukan, kondisi arca dalam keadaan baik, hanya terdapat bagian yang aus di bawah lengan tangan kiri. Selain itu, hiasan pada anting sebelah kanan yang berbentuk bulatan empat hanya tersisa tiga buah.

Peta Tidak Tersedia