Candi Jago

No. Regnas CB CB.445
SK Penetapan
No SK : 177/M/1998
Tanggal SK : 21 Juli 1998
Tingkat SK : Menteri
No SK : 203/M/2016
Tanggal SK : 26 Agustus 2016
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Candi Jago
Keberadaan Provinsi : Jawa Timur
Kabupaten / Kota : Kabupaten Malang

Candi Jago menurut kakawin Nagarakertagama, nama aslinya adalah Jajaghu. Candi ini didirikan pada masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13. Candi ini dihubungkan dengan tokoh Wisnuwardhana, salah seorang raja Singhasari. Candi ini beraliran agama Syiwa Buddha Tantrayana. Hal tersebut diketahui dari Arca Amoghapasa yang merupakan dewa tertinggi dalam ajaran Buddha Tantrayana. Arca ini adalah perwujudan dari Wisnuwardhana yang wafat pada tahun 1268 M.
Candi Jago dibangun pada tahun 1280 M, bersamaan dengan upacara sraddha mangkatnya Wisnuwardhana. Bentuk bangunannya menunjukkan pengaruh bangunan teras zaman pra-Hindu yang lazim digunakan di zaman Majapahit. Candi ini diperbaiki oleh Pu Aditya (Adityawarman) pada tahun 1343 M (Bernert Kempers, 1959:78).

Situs Cagar Budaya Candi Jago merupakan kepurbakalaan khas Majapahit berdenah empat persegi panjang dengan kaki candi berundak teras tiga dan badan candi tidak berada di pusatnya tetapi di bagian paling belakang dari teras tertinggi. Atap candi sudah tidak ada dan diduga berbentuk meru bertingkat seperti di Bali, karena pada dinding kaki Candi Jago ada relief candi dengan atap bentuk meru tumpang sembilan. Kemungkinan gambar relief itu merupakan bentuk Candi Jago.
Candi Jago menghadap ke barat, terdapat dua tangga sempit di sisi kiri dan kanan bagian depan (barat). Penampil barat candi dipergunakan untuk menempatkan sepasang tangga yang dibuat menjorok ke depan sehingga tubuh candi seolah-olah menggeser ke belakang. Keunikan konstruksi Candi Jago makin ke atas makin bergeser ke belakang. Setiap tingkat memiliki teras lebar di bagian depan, tetapi sempit di bagian belakang. Di tingkat ketiga tampak satu pintu besar dengan sebagian tembok batu mengelilingi ruangan. Tembok itu tidak lagi utuh. Bagian atas sebagian sudah hilang dan tubuh candi sudah rusak yang tertinggal hanya pintu gerbangnya. Dahulu pintu-pintu dan relung di tubuh candi dihiasi kepala kala tanpa makara. Bentuk kepala kala sangat unik, seperti muka raksasa dan dari alisnya tumbuh sepasang tanduk. Kedua cakarnya ada di samping pipi kala tersebut (Bernert Kempers, 1959:78).
Candi Jago dipenuhi dengan panel-panel relief yang dipahat rapi mulai dari kaki sampai ke dinding ruangan teratas. Hampir tidak terdapat bidang yang kosong, karena semua terisi dengan aneka ragam hiasan. Pembangunan Candi Jago berkaitan erat dengan wafatnya raja Wisnuwardhana. Sesuai dengan agama yang dianut oleh Raja Wisnuwardhana yaitu Syiwa Budhha Tantrayana, maka relief pada Candi Jago mengandung ajaran Hindu maupun Buddha.
Prinsip toleransi kehidupan antarumat beragama Hindu dan Buddha sudah tercermin pada karya sastra yang berkembang pada abad XIII-XV. Prinsip tersebut dipertegas lagi dalam wujud relief dan seni arca Candi Jago. Ajaran Hindu dan Buddha tersebut tercermin pada relief naratif pada dinding-dinding teras, dengan urutan sebagai berikut:
1. Tingkat pertama berisi cerita dari Tantri Kamandaka yang berkaitan dengan cerita binatang
2. Tingkat kedua menunjukkan kisah Kunjarakarna
3. Tingkat ketiga menggambarkan Parthayajna menampilkan lima bersaudara Pandawa
4. Tingkat keempat menggambarkan cerita Arjunawiwaha
5. Tingkat kelima khusus untuk cerita Krisnayana, yang berfokus pada Krisna.
Salah satu ciri relief Candi Jago menunjukkan adanya horror vacuum, yaitu ketakutan akan ruang kosong. Selain pada bagian teras, terdapat motif sulur daun menghiasi pipi tangga yang berbentuk siku-siku dan dinding candi bersama motif geometris lainnya, diselang-seling motif binatang, terutama jenis “binatang bulan“ (sasa). Arca yang dahulunya mungkin berada di ruang utama (garbhagrha) adalah arca Amoghapasa bertangan delapan, tetapi kepalanya sudah rusak. Di samping arca Sudhanakumara terdapat beberapa arca pengiringnya yang sebagian besar menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta, yaitu Syamatara, Bhrkuti, Hayagriwa, dan delapan arca Tara. Selain sebagai tempat pemuliaan raja, Candi Jago juga berfungsi sebagai tempat pendidikan para pangeran Kerajaan Singhasari.