Kompleks Sendang Duwur

No. Regnas CB CB.103
SK Penetapan
No SK : 247/M/2015
Tanggal SK : 21 Desember 2015
Tingkat SK : Menteri
No SK : PM.56/PW.007/MKP/2010
Tanggal SK : 22 Juni 2010
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Kompleks Sendang Duwur
Keberadaan Provinsi : Jawa Timur
Kabupaten / Kota : Kabupaten Lamongan

Menurut beberapa sumber tradisi kepurbakalaan Sendang Duwur dihubungkan dengan tokoh Raden Nur Rahmad (Sunan Sendang) adalah putera Abdul Qohar Bin Malik Bin Syeikh Abu Yazid Al Baghdi (keturunan Raja raja Persia di Irak) dengan Dewi Sukarsih, puteri Tumenggung Joyo di Sedayu Lawas.

Ia bertempat tinggal di Desa Sedayu Lawas. Setelah ayahnya wafat ia pindah ke dusun Tunon untuk menyebarkan agama Islam di sekitar daerah tersebut dan bergelar Sunan Sendang. Atas perintah Sunan Drajat Ia membangun masjid dengan membeli pendapa Mbok Randa Mantingan (Ratu Kalinyamat). Setelah masjid tersebut berdiri, di sekitar masjid tidak terdapat mata air. atas kehendak Tuhan, di selatan masjid muncul sebuah sumur giling. Setelah wafat, jenazahnya dimakamkan di sebelah barat Masjid Sendangduwur. Di papan yang tergantung di balok serambi masjid terdapat tulisan huruf Jawa, memuat candra sengkala berbunyi gunaning sarira tirta hayu, berarti 1483 ? atau 1561 M. Di bawah papan tersebut bergantung papan yang lebih besar bertuliskan huruf dan kalimat Arab yang menyatakan bahwa masjid ini dibina pada tahun 1483 Jawa dan tahun 1851. Angka tahun yang dipahatkan pada penghias cungkup makam, oleh stutterheim dibaca dari kanan ke kiri 7051 (1507 Saka = 1585 M), menunjukkan tahun wafatnya Sunan Sendang.

Informasi kepurbakalaan di Sendang Duwur pertama kali disampaikan oleh Pieter Vincent van Stein Callenfels dalam catatannya pada 28 Maret 1916, seperti salah satu yang dikutip oleh Tjandrasasmita: “Tenslotte ontving ik nog bericht van het bestaan van een tempel in de afdeeling Lamongan, residentie Soerabaja, dessa Sendangdowoer, die niet in de inventarislijsten van Knebel staat. Is er je iets verder van bekend, zoo niet, dan lijkt het mij wel de moeite waard ed bij gelegenheld eens te gaan kijken” (Tjandrasasmita, 1960). Kutipan tersebut jika diterjemahkan kurang-lebih seperti ini: “Akhirnya, saya menerimapemberitahuan tentang keberadaancandidi afdeelingLamongan, residentieSurabaya, desaSendangdoewoer, tidak terdaftardalaminventarisKnebel. Apakahadasesuatu yang dikenallanjut, jika tidak, menurut sayalayaked (?)untuk terletakpahlawan (?)melihat lagi”.

Dalam bahasa Jawa, “Sendang Duwur” berarti sebuah kolam kecil yang berada di atas bukit. Kata “duwur” yang dimaksud adalah untuk membedakan dengan desa di sekitarnya yang juga memiliki kata “sendang”, seperti Sendang Lebak dan Sendang Agung yang lokasinya berada di bawah (kaki?lereng?) bukit, sedangkan “duwur” sendiri berarti di atas (Tjandrasasmita, 1960).


Riwayat Penelitian dan Pemugaran
Pada tahun 1917 Van der Plas berkunjung ke Kompleks Sendang Duwur.

Pada tahun 1919 Dr. Frederik David Kan Bosch yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Purbakala (Oudheidkundige Dienst) mengadakan peninjauan kepurbakalaan di Kompleks Sendang Duwur yang hasilnya diterbitkan dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun yang sama.

Pada tahun 1920 Masjid Sendang Duwur mengalami pemugaran pada sebagian besar bangunannya. Pemugaran ini dilakukan oleh penduduk setempat tanpa pemberitahuan kepada pihak Dinas Purbakala saat itu. Bukti adanyapemugaran bangunan Masjid Sendang Duwur dilakukan pada tahun 1920 terlihat pada angka tahun yang tercantum di atas pintu-pintu masjid. Angka tahun tersebut ditulis dalam huruf latin, Arab, dan Jawa baru. Berdasarkan informasi yang terdapat dalam surat Van de Plas yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal yang ditembuskan pula ke Kepala Dinas Purbakala, perbaikan dan perubahan bangunan Masjid Sendang Duwur dibiayai oleh seorang Kyai yang kaya raya berasal dari Desa Sedayu.

Pada tahun 1921 Bosch kembali mengunjungi Kompleks Sendang Duwur yang pada saat itu bangunan masjidnya telah dilakukan perombakan oleh penduduk setempat tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada kantor Dinas Purbakala saat itu. Masjid yang telah mengalami perubahan saat itu masih menggunakan sebagian batu-batu dan pondamen asli.

Pada tahun 1922 dan 1923 Dinas Purbakala melakukan pendokumentasian Kompleks Sendang Duwur berupa pemotretan dan penggambaran.

Pada tahun 1937 Dr.W.F. Stutterheim yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Purbakala menugaskan pegawainya J.C. Krijgsman untuk melakukan pemugaran Kompleks Sendang Duwur.

Pada tahun 1938 Dinas Purbakala kembali melakukan pemugaran Kompleks Sendang Duwur. Pemugaran kali ini dilakukan terhadap seluruh gapura, tembok keliling pelataran, undak-undak atau tangga masuk pelataran masjid. Pemugaran saat itu selesai pada tahun 1940.

Pada tanggal 19 Juni 1950 terjadi gempa bumi yang mengakibatkan beberapa kerusakan Kompleks Sendang Duwur. Informasi kerusakan ini diperoleh setelah dua orang pegawai Dinas Purbakala dari Prambanan bernama Kadim dan Mirun yang diperintahkan untuk meninjau Kompleks Sendang Duwur. Kerusakan paling parah ditemukan pada gapura-gapura Makam Sendang Duwur. Saat itu bagian sayap dari gapura sebagian besar runtuh. Kerusakan akibat gempa juga ditemukan pada Masjid Sendang Duwur. Keempat sudut dinding ruang utama dan mihrab mengalami retak.

Pada tanggal 13 Juli 1959 Dr. Uka Tjandrasasmita yang pada saat itu menjadi pegawai Dinas Purbakala melakukan kunjungan ke Kompleks Sendang Duwur. Kunjungan ini menjadi titik awal proses pemugaran Sendang Duwur setelah mengalami gempa. Titik awal ini baru terlaksana karena pada tahun-tahun setelah gempa Dinas Purbakala mengalami kekurangan tenaga pegawai oleh sebab tengah fokus penuh dengan kegiatan pemugaran Kompleks Candi Prambanan.

Sendang Duwur merupakan sebuah kompleks yang terdiri atas 3 halaman bertingkat, dengan bangunan masjid terdapat pada tingkat tertinggi. Makam-makam kuno terdapat pada halaman-halaman bertingkat tersebut. Setiap halaman dibatasi dengan pintu gerbang yang bertipe candi bentar dan kori agung. Halaman I dan II ditandai dengan pintu gerbang candi bentar, sedangkan halaman III menuju ke dalam kompleks masjid dibatasi dengan gapura bersayap berbentuk kori agung. Para ahli menyebut gapura bersayap dengan Gapura A dan Gapura B yang berbentuk kori agung.

Di puncak halaman teratas terdapat bangunan masjid kuno yang sekarang telah dipugar dengan atap tumpang. Pada halaman masjid itu juga terdapat beberapa bangunan mandapa tanpa dinding dengan atap limasan.
Beberapa kekhasan dari kepurbakalaan Sendang Duwur:
1. Dari segi keletakan, Kompleks Sendang Duwur terdapat di wilayah yang bertingkat dengan masjid yang bertingkat pula.
2. Memiliki bentuk-bentuk kori agung yang berupa gapura bersayap yang tidak dijumpai di situs kepurbakalaan Islam lainnya. Bentuk ini melambangkan perjalanan arwah menuju Sang Khalik. (Bernert Kempers, 1959; Tjandrasasmita, 1964)
3. Ornamen pada gapura bersayap tersebut masih melanjutkan tradisi seni hias Hindu-Buddha dengan diganbarkannya kepala kala di ambang pintu yang menyambung dengan bingkai mrga di kanan-kirinya.
4. Bentuk atap gapura bersayap menyerupai mahkota dan dipahatkan juga dalam bentuk relief rendah kepala garuda, sementara itu sayap gapura yang merentang di kanan-kiri celah pintu seakan-akan bentuk sayap burung garuda itu sendiri.

Deskripsi lebih lengkap dari kepurbakalaan Sendang Duwur sebagai berikut:

Masjid Sendang Duwur
Masjid Sendang Duwur berdenah persegiempat dengan arah hadap ke timur. Bangunan ini terbuat dari susunan bata dan kayu, beratap tumpang tiga susun, dan terdapat sebuah mustaka di puncak atap.

Masjid ini memiliki ruangan utama berukuran 256 m² yang dibatasi oleh empat dinding, ditopang oleh 17 tiang (satu tiang di tengah dan empat tiang masing-masing di sisi utara, timur, selatan, dan barat).

Pada ruangan utama masjid terdapat maksurah, mihrab dan sebuah mimbar yang terbuat dari kayu. Mihrab terletak pada dinding barat masjid diapit dua pasang pilaster yang masing-masing sisinya dihiasi dengan tegel keramik. Mimbar yang memiliki tiga anak tangga ini ditopang oleh empat buah pilaster yang pada bagian sudut-sudutnya ditempeli dengan tegel keramik. Atap mimbar berbentuk rata ditempeli tegel keramik yang pada bagian puncaknya terdapat kubah.

Serambi masjid terdapat pada keempat sisi ruang utama, yaitu: serambi timur, utara, barat, dan selatan. Pada keempat serambi terdapat 28 tiang berbentuk bulat. Di dalam serambi timur terdapat satu buah bedug yang disanggah oleh rangka kayu.

Di bagian belakang masjid terdapat Makam Sunan Sendang.Pada serambi masjid terdapat sebuah papan kayu yang tergantung di balik serambi yang bertuliskan candrasangkala, yaitu Guhaning Sarira Tirta Hayu (1483 S = 1561 M).

Pada cungkup makamnya dipahatkan angka tahun dalam aksara Jawa 1507 S (1585 M).

Hiasan yang terdapat pada makam ini antara lain berupa motif sulur-suluran, bunga, geometri, dan tumbuhan lain.

Makam Sendang Duwur

Komplek makam Sendang Duwur terdiri dari empat halaman dengan pola tersusun ke belakang tidak satu poros. Makam tokoh utama terletak di halaman III. Di komplek makam terdapat enam gapura terbuat dari susunan balok teras.

Halaman I
Halaman ini dibagi lagi menjadi 2 halaman yang lebih kecil dengan dibatasi oleh sebuah lorong yang berpagar pada sisi kanan dan kirinya. Berdasarkan peta dalam buku Islamic Antiquitis of Sendang Duwur (1975), di halaman ini terdapat 3 buah bangunan pintu gerbang. Ketiga pintu gerbang tersebut adalah pintu gerbang G sebagai jalan masuk ke halaman lainnya, pintu gerbang F sebagai jalan masuk ke halaman I, dan pintu gerbang E sebagai jalan masuk ke halaman II.

a. Pintu Gerbang G
Pintu gerbang ini menghadap ke timur berbentuk candi bentar dan berbahan batu putih. Di depan pintu gerbang ini ada halaman yang tampaknya dahulu dibatasi oleh pagar yang sekarang hanya tinggal pondasinya saja, dengan pintu gerbang kecil bentuk bentar dengan berbahan bata merah. Secara struktural dan arsitektur pintu gerbang G terdiri atas kaki, tubuh, dan atap.Bagian kaki berukuran massif, mengapit 9 buah anak tangga. Kaki pintu gerbang berbentuk bidang bertingkat dan berlapis 3, semakin mengecil ke depan dengan permukaaan paling depan berbentuk bidang lengkung (cembung).

Bagian tubuh pintu gerbang ini dapat dibagi lagi menjadi tubuh bagian bawah, tengah, dan atas.Tubuh bagian bawah berupa bidang yang dihiasi motif geometris berbentuk segi enam berjajar, di atasnya berupa tingkatan-tingkatan pelipit yang dihiasi bentuk-bentuk antefiks.Tubuh bagian tengah terdiri dari tiga lapis semakin melebar ke samping.Lapisan satu berupa pilar, lapisan dua berupa pelipit tiga tingkat. Tubuh bagian atas berupa tingkatan-tingkatan pelipit. Di samping kanan-kiri tubuh terdapat semacam sayap pintu gerbang berupa sebuah bidang dengan ujungnya berbentuk lengkung mnempel di atas pagar, di bagian tengah dihiasi bntuk kerawangan motif reset. Bagian atapnya bertingkat 5 semakin ke atas semakin mengecil dengan bagian kemuncaknya berbentuk trapesium.Atap tingkat satu berupa bidang segi empat yang dihiasi antefiks-antefiks dan motif resset.Empat tingkat atap di atasnya berupa tingkatan-tingkatanpelipit semakin mengecil ke atas yang dihiasi bentuk-bentuk antefiks.

b. Pintu Gerbang F
Pintu gerbang ini menghadap ke selatan berbentuk paduraksa terbuat dari bahan batu putih, sebagai jalan masuk ke halaman I lainnya, secara struktural arsitekturnya terdiri dari kaki, tubuh, dan atap.Bagian kakinya terdiri dari 3 tingkat yang semakin mengecil ke atas dan melebar ke samping, mengapit 3 buah anak tangga.Tingkat satu dan dua berupa tingkatan-tingkatan pelipit, seangkan tingkat yang ketiga berupa bidang segi empat degan bagian depannya berhias motif tumpal.

Bagian tubuhnya juga terbagi atas tiga bagian yaitu bagian bawah, tengah, dan atas.Secara keseluruhan bagian tubuh terdiri dari tig alapis bidang makin melebar ke samping. Khusus lapis 3 baeripa bidang datar mulai kaki sampai dengan tubuh bagian atas yang bersambungan dengan pilar-pilar bagian pagar yang ada di samping kanan-kiri.Sedangkan lapisan 1 dan 2 tubuh bagian bawah berupa tingkatan-tingkatan pelipit. Lapisan 1 tubuh bagian tengah berupa pilar yang dihiasi dengan bentuk lengkung yang bersambungan sampai bagian atas ambang pintu gerbang. Lapisan 2 tubuh bagian tengah sebagian telah hilang, dari bagian yang tersisa tampak ada motif segi enam dan antefiks. Tubuh bagian atas lapisan 1 berupa pilar sambungan dari tubuh bagian tengah, sedangkan lapisan ke-2 berupa tingkatan-tingkatan pelipit. Tubuh bagian atas ini mengapit ambang pintu atas pintu gerbang, yang di sisi bawahnya berbentuk latiyu tingkat 3, sedangkan pada sisi depannya berupa bidang berhias motif stiliran kepala kala.

Bagian atapnya terdiri 7 tingkat semakin mengecil ke atas, dengan bagian kemuncak berbentuk trapesium. Atap tingkat 1 berupa bidang segi empat yang dihiasi bentuk-bentuk antefiks. Atap tingkat 2, 3, dan 4 berbentuk trapesium yang juga dihiasi bentuk antefiks, atap ke-5 berbentuk trapesium polos, sedangkan atap 6 dan 7 berbentuk trapesium terbalik tanpa hiasan.

c. Pintu gerbang E
Pintu gerbang ini menghadap ke timur berbentuk padaruksa terbuat dari batu putih, sebagai jalan menuju sebuah lorong di halaman II. Secara struktural arsitekturnya terdiri dari bagian tubuh dan atap.Tanpa bagian kaki karena memang tidak ada bagian yang diidentifikasikan sebagai bagian kaki pintu gerbang. Bagian tubuhnya terdiri dua tingkat.Tingkat 1 berupa berupa bidang datar yang dihias motif burung merak.Sedangkan tubuh tingkat 2 berupa pilar polos yang ditengahnya ada ceruk yang membentuk garis lurus dari atas ke bawah. Di depan tubuh tingkat 2 pada bagian bawah terdapat panel-panel segi lima yang dihiasi motif flora diantaranya berupa pohon jambu air. Disamping kanan-kiri bagian tubuh tingkat 2 ini tampak bagian sayap pintu gerbang yang sudah terputus.

Pada bagian yang tersisa itu ada hiasan flora dan stiliran kepala gajah.Dahulu pintu gerbang ini mempunyai sayap dalam bentuk naturalis seperti sayap burung ketika burung terbang.Bagian atas sisi dalam dari tubuh tingkat 2 ini mengapit ambang atas pintu gerbang berupa latiyu tingkat 9 disangga oleh pilar dari kayu, mungkin dahulu sebagai tempat daun pintunya.Latiyu tingkat 2, 4, 6, dan 8 dihias motif tumpal berjajar seperti gigi gergaji, sedagkan tingkatan latiu lainnya polos. Bagian atapnya terdiri dari 4 tingkatan dengan bagian dasar atap berbentuk trapesium terbalik.Atap tingkat 1, 2, dan 3 berupa bidang datar yang pada sisi atasnya berbentuk melengkung.Pada bgaian atap tingkat 1 di sebelah kiri dihias motif flora dan stiliran kepala burung.Bagian atap tingkat 4 berupa bidang datar dengan sisi kanan-kiri melengkung ke dalam.




Halaman II
Halaman II kompleks Makam Sendang Duwur ini disekat-sekat lagi menjadi beberapa halaman yang lebih kecil, dibatasi oleh pagar dengan pintu gerbang sebagai jalan masuk.Di halaman 2 ini ada 2 pintu gerbang yang menarik untuk dibahas yaitu pintu gerbang D dan pintu gerbang B.

a. Pintu Gerbang D
Pintu gerbang ini mengahdap ke utara berbentuk candi bentar yang terbuat dari batu putih, sebagai jalan masuk menuju ke kompleks Masjid Sendang Duwur dari sebuah lorong di halaman II.Secara arsitektural arsitektur pintu gerbang ini terbagi dari bagian kaki, tubuh, dan atap. Bagian kaki pintu gerbang ini terbagi 3 tingkat, mengapit 8 buah anak tangga dari 10 buah tangga yang ada di pintu gerbang ini. Bagian kaki tingkat bawah berupa balok, yang sebelah timur tertutup oleh rangkaian pagar yang membujur di depannya. Kaki bagian tengah terdiri 3 lapisan, lapisan 1 berupa pilar polos, sedangkan lapisan 2 dan 3 berupa tingkatan-tingkatan pelipit. Kaki bagian atas juga terdiri 3 lapisan, lapisan 1 bagian bawah berupa bidang lengkung yang dihias motif tumpal, dan bagian atasnya berupa bidang datar segi empat, sedangkan lapisan 2 dan 3 berupa bidang datar. Disamping kanan-kiri, bagian kaki ini bersandar pada pagar.Pada pagar bagian barat ada hiasan motif geometris seperti bentuk segi tiga berjajar dan entuk segi empat.

Bagian tubuhnya dapat dibagi tubuh bagian bawah, tengah, dan atas.Tubuh bagian bawah berupa bidang datar dihias motif geometris bentuk segi empat berjajar.Tubuh bagian tengah terdiri 3 lapis, lapisan 1 berupa pilar polos, lapisan 2 dan 3 berupa tingkatan-tingkatan pelipit.Tubuh bagian atas berupa tingkatan-tingkatan pelipit.Disamping kanan-kiri tubuh ada semacam sayap pintu gerbang berupa bidang datar dengan bagian ujungnya berbentuk lengkyng.Di bagian tengahnya ada hiasan bentuk trapesium dan di bawhnya dihiasi motif segi tiga berjajar. Bagian atapnya terdiri dari 5 tingkat dengan bagian kemuncak berbentuk kotak berpelipit 3 tingkat 3, lima tingkat atap di bawah kemuncak berupa tingkatan-tingkatan pelipit yang semakin mengecil ke atas emembentuk bidang trapesium, di tiap-tiap tingkatnya dihiasi bentuk-bentuk antefiks.

b. Pintu Gerbang B
Sebelum sampai ke pintu gerbang B harus melalui beberapa sekat halaman yang lebih kecil dibatasi oleh pagar dengan pintu masuknya. Dari lotong di sisi timur halaman II pintu masuk berupa pilar pembatas pagar yang di atasnya ada hiasan kemuncak berbentuk ratna, sebagai jalan masuk ke bagian halaman II yang lain. Di sisi barat halaman ini ada bangunan beratap yang berhimpitan dengan pagar di sebelah barat. Pada pagar yang berhimpitan dengan bangunan tersebut terdapat pintu sebagai jalan masuk ke sekat halaman berikutnya, dari sekat halaman ini ada jalan menuju ke pintu gerbang B.Pintu gerbang B menghadap ke utara agak condong ke barat laut.Bentuknya paduraksa terbuat dari batu putih sebagai jalan masuk menuju halaman III.Secara struktural arsitektur pintu gerbang ini terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan atap.

Bagian kaki pintu gerbang ini terdiri dari 2 tingkat berbentuk balok, mengapit 3 buah anak tangga.Di atas kaki tingkat 1 terdapat hiasan nakara berupa kepala buaya dengan mulut menganga.Pada bagian atas kaki tingkat 2 dihiasi motif flora yang muncul dari batu-batu karang.Bagian kaki sisi timur menempel pada tanah tebing di sebelahnya, sedangkan bagian kaki sisi barat menempel pada rangkaian pagar, pada pagar ini ada hiasan motif resset.

Bagian tubuhnya secara keseluruhan berupa pilar kwadrangular yang di sisi depannya kaya akan hiasan. Pada tubuh bagian bawah terdapat hiasan flora yang timbul dari batu-batu karang.Di atas bagian tersebut ada hiasan lengkung kala marga yang bersambungan hingga ambang atas pintu gerbang.Bagian tubuh sisi timur menempel pada tanah di sebelahnya, sedangkan tubuh sisi barat menempel pada pagar yang mempunyai hiasan motif pintu gerbang bersayap dan di atasnya ada hiasan motif segi enam berjajar.Ambang atas pintu gerbang ini berupa latiyu tingkat 5 yang disangga oleh balok kayu sebagai tepat menempelkan daun pintunya. Ambang atas pintu gerbang sisi depan berhias kala merga juga dihias motif flora. Di kanan-kiri tubuh terdapat sayap pintu gerbang berbentuk naturalis yang kaya hiasan motif flora dan fauna dan ada juga stiliran kepala gajah.Sayap pintu gerbang sebelah barat tampak lebih besar jika dibandingkan dengan sayap sebelah timur.Sayap sebelqh barat berdiri menempel di atas pagar dan ujungnya menempel pada bagian kemuncak dqari pilar pagar tersebut, sedangkan sayap sebelah timur menempel di atas tanah tebing. Bagian atapnya tempak tingkat 3 dengan kemuncak berbentuk trapesium.Atap tingkat 1 berupa bidang dihias motif flora yang timbul dri batu-batu karang dalam jumlah banyak bertingkat-tingkat.Atap tingkat 2 berbentuk trapesium yang di tengahnya dihias stiliran burung garuda dan di sekitarnya dihias motif flora.Atap tingkat 3 berbentuk trapesium yang jauh lebih kecil daripada atap tingkat 2, juga dihias dengan motif-motif flora.

Halaman III
Halaman ini tepatnya berada di sekitar sisi barat Masjid Sendang Duwur. Di halaman ini terdapat tokoh utama yaitu makam Sunan Sendang (Raden Nur Rahmad) yang diperkirakan sebagai pendiri pertama Masjid Sendang Duwur. Makamnya berdiri di atas teras dan di beri pelindung bangunan beratap (cungkup).Pada teras cungkup terdapat bingkai dari batu yang mempunyai hiasan relief motif flora.Sebelum masuk ke cungkup sebelah selatan ada pintu gerbang bentuk candi bentar yang mempunyai semacam sayap.Di bawah sayap terdapat panil-panil hiasan motif flora dengan garis-garis kraetif dan motif-motif tumpal.Di dekat pintu gerbang ini dahulu terdapat dua buah patung singa dari kayu yang kini tinggal bekas kainya saja, dua buah patung singa tersebut dibawa ke Museum Nasional Jakarta. Selain itu pada sisi depan pintu gerbang ini terdapat hiasan motif flora dan motif bunga.
Pada bagian bawah dari cungkup juga kaya akan hiasan seperti panel-panel heksagonal yang di dalamnya ada bentuk-bentuk tumpal, flora, batu-batuan, bangunan seperti pendopo bersayap, dan juga motif sulur-suluran. Kemudian ada juga motif resset yang di dalamnya berisi motif daun bunga dan bunga.Bagian atasny ada hiasan motif rantai dari daun-daunan yang membentuk segi tiga dan lingkaran.

Bagian tubuh cungkup terbuat dari kayu yang sebagian juga ada hiasannya. Bagian yang ada hiasannya berada di sisi depan (selatan), dipisahkan oleh rangka-rangka yang membentuk panel-panel hiasan yang tengah berisi motif tumpal dan heksagonal, sedangkan panel lainnya berisi berisi motif-motif flora dan sulur-suluran. Pada panel yang berbentuk hexagonal di dalamnya ada hiasan berbentuk seperti sabit dikelilingi oleh tumbuhan yang berbuah. Di sekeliling panel ada hiasan bentuk batu-batuan dan ada juga bentuk flora yang keluar dari pot, di atasnya ada motif bunga berbentuk lotus, pada bagian ini ditemukan sedikit tulisan Jawa Kuna yang mengkin merupakan tahun pendirian bangunan cungkup tersebut.

Pintu masuk ke cungkup tampak kecil dan indah, berbentuk persegi empat. Di bagian pintu ini juga terdapat hiasan motif sulur-suluran dan bunga, ada juga panel berbentuk heksagonal yang diisi motif sulur-suluran (motif arabesque).Pada panel yang tengah mempunyai hiasan motif rosset berisi bunga lotus dan ada juga berisi daun-daunan. Pada panel tengah yang lain ada hiasan motif sulur-suluran dan bunga, ada juga bunga bentuk lotus, motif tumpal, dan bentuk sudut 16, serta motif rosset dalam sebuah lingkaran.

Halaman IV
Halaman ini sebagian besar berada di sebelah selatan Masjid Sendang Duwur. Untuk masuk ke halaman ini dapat melewati sebuah jalan sempit antara tumpuan batu yang memisahkan halaman IV dengan halaman II dan halaman III yang ada di sebelah barat Masjid Sendang Duwur.Halaman ini juga dapat dimasuki melalui pintu gerbang C yang ada di sisi selatan.Halaman ini juga disekat-sekat dengan pagar yang terbuat dari batu merah. Pada pagar dinding ini terdapat pilar-pilar yang di atasnya terdapat bentuk candi laras yang kelihatan sederhana.

Pintu gerbang ini menghadap ke selatan berbetnuk candi bentar terbuat dari batu putih.Arsitekturnya hampir mirip dengan pintu gerbang G dan pintu gerbang D di sebaelah utara masjid, yaitu terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan atap. Bagian kakinya terdiri dari 3 lapis bidang makin mengecil ke depan, dengan pemukaan paling depan berbentuk cembung.

Bagian tubuhnya dapat dibagi menjadi tubuh bagian bawah, tengah, dan atas.Tubuh bagian bawah berupa bidang segi empat yang dihias motif segi empat berjajar. Tubuh bagian tengah terdiri 3 lapis, lapisan 1 berbentuk pilar, sedang lapisan 2 dan 3 berupa pelipit 3 tingkat. Tubuh bagian atas berupa tingkatan-tingkatan pelipit.Di saming kanan-kiri tubuh terdapat semacam sayap pintu gerbang berupa bidang datar engan bagian ujungnya melengkung.Di tengahnya ada hiasan berbentuk trapesium. Bagian atapnya terdiri dari 5 tingkat semakin mengecil ke atas, dengan bagian kemuncaknya berbentuk trapesium. Lima tingkat atap di baawh kemuncak berupa tingkatan pelipit semakin mengecil ke atas.Tiap-tiap atas dihias bentuk-bentuk antefiks.

Luas lahan : 11.936 m²
Luas bangunan : 252,82 m²