Kompleks Ke’te Kessu

No. Regnas CB CB.272
SK Penetapan
No SK : PM.09/PW007/MKP/2010
Tanggal SK : 8 Januari 2010
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya -
Jenis Cagar Budaya Kawasan
Nama Cagar Budaya Kompleks Ke’te Kessu
Keberadaan Provinsi : Sulawesi Selatan
Kabupaten / Kota : Kabupaten Tana Toraja

Latar Belakang Sejarah
Pada awalnya orang Toraja menyebut nama daerah mereka dengan Tondok Lempungan Bulan Tana Matarik Allo, namun kemudian nama itu berubah menjadi Tana Toraja. Nama Toraja berasal dari kata To (orang) dan Naja (daratan atau pegunungan). Jadi Tonaja artinya orang yang berasal dari pegunungan atau ketinggian disebelah utara kerajaan Sidenreng (di tataran Bugis). Nama Toraja mulai digunakan ketika zending Belanda pada akhir abad ke-19 menggunakannya dalam mengkristenkan penduduk pedalaman di Sulawesi Selatan.
Dalam Encyclopaedie van Nederlandsch Indie volume I (1917:30) disebutkan bahwa pada waktu itu orang Toraja masih menganut “Äluk Todolo” yaitu suatu kepercayaan memuja arwa Pong Matua (penguasa tertinggi sebagai pencipta bumi dan isinya), deata-deata (penguasa dan pemelihara bumi), dan To Membali Puang (arwah para leleuhur yang telah menjelma menjadi dewa). Persembahan kepada ketiga unsur itu dilakukan dengan cara memberi sesajian berupa hewan kurban (kerbau, babi, ayam) secara terpisah dalam waktu dan tempat yang berbeda. Pong Matua yang bersemayam di langit dipuja dan disembah dengan upacara di depan rumah tongkonan, deata di sebelah timur, to membali puang di sebelah barat rumah atau liang kubur dimana jenazahnya dimakamkan.
Tongkonan Ke'te' Kesu' dibangun pertama kali pada abad ke-17. Dahulu letaknya terpisah dan berjauhan, namun pada sekitar tahun 1919 tongkonan tersebut disatukan kembali oleh “Parengnge Lembang Kesu”, pemimpin utama yang bernama Pong Panimba. Tongkonan menghadap ke utara (ulunna langi), arah yang dimuliakan, sebagai tempat munculnya nenek moyang pertama orang Toraja. Tongkonan diidentifikasikan dengan keluarga besar beserta orang-orang yang memiliki ketergantungan terhadap keluarga. Dalam tradisi orang Toraja bahwa tongkonan adalah bangunan sakral, tempat bersemayam sementara bagi jenazah anggota keluarga yang meninggal sebelum jenazah itu dimakamkan. Di Tana Toraja dikenal tiga jenis tongkonan; 1. Tongkonan Layuk merupakan tongkonan utama sebagai sumber kajian di dalam membuat dan menyebarkan peraturan adat; 2. Tongkonan Pekambaran dan Pekaindoran, tongkonan yang berperan sebagai pelaksana aturan, perintah dan kekuasaan adat di daerah adat masing-masing yang dikuasainya; 3. Tongkonan Batu Ariri, tongkonan yang tidak mempunyai kekuasaan di dalam adat tetapi berperan sebagai tempat persatuan dan pembinaan keluarga. Ketiga macam tongkonan tersebut mempunyai bentuk yang sama, tetapi memiliki hiasan yang berbeda. Perbedaan tersebut terletak pada pemakaian tiang soko guru yang disebut ariri posok, pemakaian hiasan kepala kerbau (kabongok), dan pemakaian hiasan kepala ayam (katik). Ketiga macam bentuk hiasan tersebut hanya diperuntukkan bagi tongkonan layuk, sedangkan pada tongkonan pekamberan dan pakaindoran hanya diperbolehkan memakai hiasan kabongok dan katik, sementara untuk tongkongan batu ariri hanya boleh memakai ornamen ukiran. Tongkonan Ke’te Kesu’ termasuk dalam kategori tongkonan layuk.

Perkampungan Tradisional Ke’te Kessu memiliki komponen antara lain kompeleks tongkonan yang didalamnya memiliki 5 banua tangkonan dan 15 alang, liang, rante, kombong, bubun, dan pangalambaran.
- Tongkonan Ke’te
Tongkonan Ke’te memiliki 5 banua tongkonan dan 15 buah alang. Banua tongkonan memiliki perbedaan fungsi dan status masing-masing. Kelima banua tongkonan ini dahulunya terpisah dan berdiri secara otonom. Kemudian pada tahun 1908 Pong Panimba menyatukannya di lokasi sekarang. Kelima tongkonan tersebut antara lain, To’bamba sebagai pelaksana pemerintahan adat; To’sendana sebagai pelaksanan urusan sosial; Kessu sebagai sebagai pemimpin tertinggi adat dan tertua (layuk) dan memiliki dimensi yang paling besar; Tonga sebagai keamanan, ketertiban, peradilan dan kesehatan; Rura sebagai dewan pertimbangan atau penasehat, saat ini banua Tongkonan Rura difungsikan sebagai museum; So’lau atau Borongso’lau sebagai pelaksana urusan keagamaan atau ritual.
Secara umum bentuk dan bahan yang digunakan pada banua dan alangnya masih memakai bentuk asli dan menggunakan bahan asli seperti misalnya atap yang menggunakan bambu. Tata letak dengan penataan banua dan alang berhadapan disusun secara berjejer dengan orientasi utara selatan yang juga merupakan tata letak asli dalam konsep pemukiman Toraja. Teknologi ornamen hias yang dipasang atau dipahatkan pada banua dan alang termasuk pewarnaan, juga terlihat masih asli.
- Liang (Tempat Pemakaman)
Areal pekuburan berada bagian lereng bukit karst tepatnya di arah selatan atau bagian belakang tongkonan, berjarak sekitar 200 meter. Terletak di posisi astronomis 02° 59’ 53.1” Lintang Selatan dan 119° 54’ 37.1” Bujur Timur pada ketinggian sekitar 812 meter di atas permukaan laut. Peti mati (erong) ada yang diletakkan di tanah, dalam ruang gua, atau digantung di tebing (kubur gantung). Bentuk erong yang ada terdiri atas bentuk hewan (kerbau dan babi) dan bentuk rumah tongkonan. Menurut tradisi tutur yang berkembang, bentuk hewan merupakan bentuk yang pertama kali digunakan.
Dalam penggunaan erong sebagai peti kubur pada awalnya, bentuk hewan yang digunakan ternyata mengandung arti tersendiri. Seperti misalnya erong berbentuk kerbau untuk laki dan erong berbentuk babi untuk perempuan. Namun pada perkembangan selanjutnya model hewan hanya diperuntukkan bagi orang meninggal yang belum berkeluarga. Peti kubur berbentuk rumah adat (patane) relatif baru di Ke’te’ Kesu’. Bentuknya berupa peti yang terbuat dari kayu yang diletakkan pada sebuah miniatur rumah adat, namun saat ini ada juga patane yang terbuat dari tembok. Tau-Tau sebagai representasi orang yang dimakamkan dipasang di depannya. Penggunaan gua alam (liang) sendiri sebagai tempat penguburan, tidak lepas dari bentuk peringatan dan penghormatan kepada leluhur yang datang pertama kali di Kesu’ (Puang Ri Kesu’) dan menginap di gua alam sebelum membangun tongkonan. Setelah meninggal, jenazah Puang Ri Kessu dimasukkan ke dalam erong dan disimpan dalam gua.
Area pekuburan untuk masyarakat umum terletak di bagian Timurlaut Tongkonan Ke’te’ yang berjarak sekitar 1,3 km pada posisi astronomis 02° 59’ 14.0” Lintang Selatan dan 119° 55’ 03.7” Bujur timur pada ketinggian 820 meter di atas permukaan laut. Area pekuburan ini diberi nama To’kata yang berada di bukit-bukit kecil Libukang. Area pekuburan ini tanahnya merupakan hibah dari pihak Adat Ke’te’ sebagai area pemakaman masyarakat Ke’te’ dan sekitarnya. Area ini memiliki luas sekitar 1 Ha. Pada awalnya pemakaman di To’kata dilakukan dengan memasukkan jenazah ke dalam tanah, namun saat ini telah didirikan sekitar 4 buah patane menggantikan bentuk pemakaman dengan cara ditanam di tanah.

- Rante (Tempat Upacara)
Terdapat dua buah areal upacara yang dimiliki oleh Tongkonan Kesu, yaitu Rante Kesu’ dan Rante To’nangka.
1. Rante Ke’te’ berada di bagian utara yang berjarak sekitar 50 meter dari tongkonan dan memiliki luas sekitar 2000 m2. Terletak di posisi astronomis 02° 59' 45.31" Lintang Selatan dan 119° 54' 35.85" Bujur Timur. Sekitar 17 buah menhir (simbuang) berdiri di rante tersebut. Ukuran menhir bervariasi, yang paling besar berukuran tinggi 3,85 m dan ketebalan batu 0.9 m. Menhir terkecil berukuran tinggi 0.4 m dan tebal 0.4 m.
2. Rante To’nangka yang pertama kali digunakan sejak tahun 1927 oleh Ne’sibidang untuk mengadakan pesta bagi pemakaman istrinya yang bernama Samanlangi. Suami istri ini tidak memiliki keturunan. Ne’sibidang membuat pesta besar-besaran dengan mengajak seluruh keluarga dan menjadikan rante ini sebagai lokasi rante bagi keluarga Kesu. Ne’sibidang sendiri masih keturunan dari Tongkonan Kesu. Rante ini terakhir digunakan pada saat upacara kematian Prof. Marrang tahun 2011. Saat ini terdapat sekitar 33 buah menhir/simbuang di rante ini, dengan ukuran paling kecil tinggi 16 cm, tebal 15 cm, sementara menhir paling besar berukuran tinggi 425 m dan tebal 106 cm. Rante ini berada di Kampung Ba’tan, Desa Ba’tan, Kecamatan Kesu, berada di bagian barat Tongkonan Ke’te’ berjarak sekitar 1 km. Terletak di posisi astronomis 02° 59’ 45.4” Lintang Selatan dan 119° 54’ 10.5” Bujur Timur pada ketinggian sekitar 822 meter di atas permukaan laut. Terdapat jalan setapak yang di beton mengitari hampir sebagian besar area rante. Bukti difungsikannya rante ini masih bisa terlihat dengan adanya Lakkian di bagian yang agak tinggi atau berada tepat di samping SMPN 4. Hampir sebagian besar tanah di rante ini juga ditanami sayuran untuk makanan babi (utan bai). Secara umum batu-batu menhir yang ditanam tidak dibentuk dan terbuat dari jenis batu andesit.
- Kombong (Tanah Adat, Hutan Adat, Kebun dan Sawah Adat)
Tongkonan Ke’te’ memiliki kombongan yang terdiri dari tanah kering yang difungsikan sebagai hutan bambu, kebun, area penggembalaan serta kandang kerbau. Tanah kering ini tersebar di sekitar tongkonan dan di bukit-bukit yang diapit oleh persawahan. Tanah kering ini statusnya masih menjadi hak milik tongkonan (adat). Namun beberapa lahan diberi kewenangan bagi pengikut/kaunan Tongkonan Ke’te’ untuk digarap. Namun bila dibutuhkan oleh tongkonan dapat diambil kembali. Begitupun juga dengan lahan yang telah dibanguni rumah—termasuk lokasi banua Tongkonan Ke’te’—dan fasilitas umum seperti sekolah, pusat kesehatan, gereja dan restoran serta cottage (Restoran Sallebayo milik Niko Bandaso yang juga masih keluarga Ke’te’ diberi hak pengelolaan seluas 1 Ha di bagian timur laut tongkonan), status tanahnya masih milik tongkonan dan bila dibutuhkan dapat diambil kembali. Begitupun dengan tanaman terutama bambu yang ditanam pihak pengelola, bila dibutuhkan oleh tongkonan—misalnya untuk perbaikan rumah dan pesta—bisa diambil.
Tanah basah yang diolah menjadi sawah dan empang, pada tahun 2011 telah disertifikatkan atas nama Layuk Sarungallo sebagai ketua yayasan Ke’te’ Kesu’ sebanyak 50 petak. Begitupun dengan tanah kering, tanah basah ini secara keseluruhan tidak menjadi milik perorangan. Namun dalam pengelolaanya kemudian dibagi kepada pihak keluarga tongkonan dan pengikut/kaunan Tongkonan Ke’te’. Hasil panen kemudian dibagi dua dengan tongkonan setelah dikeluarkan semua ongkos produksinya. Sistem pengairan telah menggunakan irigasi yang sumber airnya berasal dari kaki bukit sekitar sehingga panen untuk benih rekayasa bisa dua kali setahun, sedangkan benih lokal hanya satu kali setahun. Sebelum dibawa ke alang untuk disimpan, dahulunya padi dijemur di suatu bukit yang dikenal dengan nama Kalampang pada bagian Timur Laut dan berjarak sekitar 1 km dari tongkonan. Pada posisi astronomis 02° 59’ 29.9” Lintang Selatan dan 119° 54’ 59.8” Bujur Timur pada ketinggian sekitar 802 meter di atas permukaan laut.
- Bubun (Sumur)
Sumber air dahulu sebelum masuknya PAM, mengandalkan dari Bubun Karerok di Kampung Tonga, Kelurahan Panta’nakan Lolo, Kecamatan Kesu yang berada di bagian barat tongkonan berjarak sekitar 800 meter. Terletak pada posisi astronomis 02° 59’ 55.9” Lintang Selatan dan 119° 54’ 15.2” Bujur Timur pada ketinggian sekitar 833 meter di atas permukaan laut. Bentuknya sendiri berupa aliran sungai musiman yang disisinya dibuatkan penampungan/dibendung kemudian dialirkan menggunakan bambu. Saat ini sumber air tersebut masih difungsikan terutama untuk masyarakat sekitar bubun. Untuk tongkonan sendiri saat ini sebagian besar airnya telah dipasok dari PAM.
- Pangalambaran (Tempat Pengembalaan)
Untuk area penggembalaan dikenal dua lokasi yang dahulunya menjadi daerah penggembalaan kerbau milik Tongkonan Ke’te’, yaitu Sakantombi dan To’letok yang berada di bagian timur laut dan berjarak 2-2,5 km dari tongkonan. Sakantombi berada pada posisi astronomis 02° 58’ 51.6” Lintang Selatan dan 119° 55’ 19.9” Bujur Timur pada ketinggian sekitar 820 meter di atas permukaan laut, sementara To’letok pada posisi astronomis 02° 58’ 48.8” Lintang Selatan dan 119° 55’ 31.1” Bujur Timur pada ketinggian sekitar 819 meter di atas permukaan laut. Lokasinya berupa bukit-bukit kecil dengan kontur yang cenderung melandai yang dikelilingi oleh persawahan.
Dahulu (menurut penuturan masyarakat) area ini hanya ditumbuhi rumput dengan sedikit pohon, sehingga memang cocok sebagai area penggembalaan kerbau yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ekor. Namun lokasi ini hanya difungsikan bila musim tanam padi telah mulai. Bila musim panen, kerbau kemudian digiring ke sawah yang telah selesai dipanen. Saat ini lokasi penggembalaan ini mulai jarang digunakan seiring dengan makin banyaknya pohon yang tumbuh disekitarnya, bahkan To’letok sendiri saat ini telah disulap menjadi arena motorcross. Penggunaan lokasi ini sebagai area penggembalaan semakin jarang digunakan, ditunjang karena perubahan pola domestikasi kerbau yang saat ini lebih sering dikandangkan. Lokasi panglambaran Sakantombi memiliki luas sekitar 12.30 Ha sedang To’letok sekitar 7.22 Ha.
- Luasan Menurut Adat
Secara keseluruhan Tongkonan Ke’te’ memiliki memiliki luas wilayah adat sekitar 95.000 m2. Untuk tanah yang telah memiliki sertifikat hak milik, memiliki luas sekitar 3570 m2 masuk dalam klas A39 atas nama Layuk Sarungallo sebagai pengelola yayasan.
Untuk batas wilayah Tongkonan Ke’te sendiri dibagian timur laut berbatasan dengan wilayah adat Tondon (Lembang Tondok Batu, Kecamatan Tondon), Bunoran (Kampung Bonoran, Kelurahan Panta’nakan Lolo, Kecamatan Kesu), dan Tandung (lembang Tandung, Kecamatan Sanggalangi). Pada bagian Barat Laut berbatasan dengan wilayah Adat To’bubun (Kampung Ba’tan, Kelurahan Ba’tan, Kecamatan Kesu).