Masjid Agung Surakarta Kauman

No. Regnas CB CB.298
SK Penetapan
No SK : 265/M/2016
Tanggal SK : 2 November 2016
Tingkat SK : Menteri
No SK : 646/1-R/1/2013
Tanggal SK : 3 Mei 2013
Tingkat SK : Walikota
No SK : 299/M/1999
Tanggal SK : 29 November 1999
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Bangunan
Nama Cagar Budaya Masjid Agung Surakarta Kauman
Keberadaan Provinsi : Jawa Tengah
Kabupaten / Kota : Kota Surakarta

Keberadaan Masjid Agung Surakarta tidak terlepas dari peristiwa pemindahan Keraton Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745. Pindahnya keraton ini terjadi di masa pemerintahan Pakubuwana II. Pemindahan ini terjadi karena imbas dari peristiwa Geger Pecinan yang membuat Keraton Kartasura hancur. Pembangunan keraton baru di Surakarta juga diikuti dengan pembangunan masjid yang dirintis oleh Pakubuwana II. Sebagian bahan bangunan yang digunakan untuk membangun Masjid Agung Surakarta merupakan bekas Masjid Agung Kartasura yang ikut dibawa oleh Pakubuwana II.

Pembangunan masjid dilanjutkan di masa pemerintahan Pakubuwana III. Pembangunan dimulai pada tahun 1757 M. Hal itu diketahui dari prasasti yang terdapat di dinding luar ruang utama masjid dan selesai diperkirakan pada tahun 1768. Penambahan bagian masjid kemudian dilakukan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV dengan menambahkan mustoko berbentuk paku bumi di puncak atap masjid.
Selain itu, penggantian saka (tiang) juga dilakukan pada tahun 1791 M, dari saka lama persegi yang merupakan saka bawaan dari masjid lama di Kartasura, menjadi saka baru berbentuk bulat.
Pada masa Sri Susuhunan Pakubuwono VII (1830-1875 ) diadakan kembali renovasi berupa pendirian Pawestren (1850), perluasan serambi (emper) dengan memakai kolom-kolom bergaya doric, serta dibangun dengan lantai yang lebih rendah. Perbedaan ketinggian membuat hirarki antara kedua serambi terlihat jelas. Pembangunan tersebut selesai pada tahun 1272 H/1784 J/ 1855 M. Pada tahun yang sama dilaksanakan penggantian mustaka, karena yang lama disambar petir. Pada masa Sri Susuhunan Pakubuwono VII juga dibangun pagar tembok keliling masjid, yaitu tahun 1858.
Pada masa pemerintahan Pakubuwono X (1893-1939 M), sebuah menara dibangun di halaman masjid (1901). Selain itu, sebuah jam matahari pun dipasang untuk mempermudah menentukan waktu sholat. Selain itu, gapura utama yang sudah ada dirombak dan diganti dengan gapura baru bergaya arsitektur Persia pada tahun 1901.
Kolam air yang sebelumnya difungsikan untuk bersuci diganti dengan bentuk pancuran atau kran.

Masjid Agung Surakarta Kauman merupakan suatu komplek dengan luas keseluruhan 19.180 m2 yang dibatasi pagar keliling dengan daerah sekitarnya. Tinggi bangunan masjid mencapai 20,765 m membuat masjid ini tampak menjulang di tepian alun-alun. Sesuai dengan konsep tata kota Islam di Jawa, Masjid Agung Surakarta Kauman terletak di sebelah barat Alun-alun Utara.

A. Bangunan Utama
Bangunan utama masjid terdiri atas ruang utama yang berfungsi sebagai ruang shalat dengan mihrab, sayap kembar atau pawestren di utara dan selatan ruang utama, ruang atau balai pabongan dan yogaswara, serambi, emper, tratag rambat, dan “kuncung” bangunan. Elemen pendukung masjid terdiri atas gapura utama, dua gapura samping, pagar, menara, sumur dan tempat wudu, kelir, tugu jam istiwa, sekolah Mambaul Ulum, dan Gedang Selirang sebagai tempat tinggal para marbot atau abdi dalem keraton yang ditugasi mengurus dan memelihara masjid.

Luas bangunan Masjid Agung Surakarta adalah 3.081,7 m2. Atapnya menjulang ke udara berjumlah tiga lapis dengan mustaka di puncaknya dengan gaya yang lazim disebut tajuk masjidan lambang teplok. Bangunan utama terdiri atas sejumlah ruang yang mendukung fungsi masjid sebagai tempat ibadah.

1. Ruang Utama
Ruang utama Masjid Agung Surakarta yang merupakan ruang inti berfungsi sebagai ruang shalat. Denahnya berbentuk persegi empat yang melambangkan kesederhanaan duniawi dengan ukuran 32 m x 34 m. Ruang utama ini dilengkapi 11 pintu, 5 pintu di timur, dan masing-masing 3 pintu di utara dan selatan ruangan. Lima pintu di timur menyambut pengunjung yang datang dari arah depan masjid, tiga pintu di utara menjadi penghubung dengan sayap bangunan yang berfungsi untuk aneka aktivitas jemaah lelaki berupa ruang pabongan dan yogaswara, sedangkan tiga pintu di selatan menjadi penghubung sayap bangunan untuk jamaah perempuan. Di dalam ruang utama terdapat sejumlah unsur bangunan, yaitu:

- Saka/Tiang
Struktur penyangga (tiang) yang ada di Masjid Agung Surakarta terbuat dari kayu jati. Atap ruang disangga oleh empat saka guru dan dua belas saka penanggap. Keempat saka guru melambangkan sumber kekuatan dalam kehidupan di dunia, yaitu api, air, udara dan bumi. Atap dengan pengertian tersebut maka keempat saka guru diyakini mempunyai empat aspek kejiwaan yang sama atau seimbang. Keempat saka guru tersebut masing-masing dihubungkan dengan dengan belandar dan sunduk yang dipasang dengan sistem sambungan purus atau pen berupa pasak dari kayu (knock down system). Saka guru berbentuk bulat polos tanpa ornamen berdiameter 57 cm menjulang ke atas dengan ketinggian 16.58 m menerus tanpa sambungan, sedankan saka rawa atau penanggap berdiameter 46 cm polos tanpa ornamen dengan ketinggian 9.8 m. Saka tersebut berdiri di atas umpak batu andesit dengan bentuk bundar dan pada bagian bawahnya dipelipit dengan lempengan tembaga berornamen parang. Konstruksi usuk yang digunakan adalah sistem konstruksi megar payung dengan susunan usuk memusat ketengah ngruji payung.

- Atap
Bentuk atap Masjid Agung Surakarta memiliki kerangka atap meruncing ke atas tanpa mala (kemuncak), terdapat dada peksi (dengan ragam hias saton), dan uleng serta menggunakan usuk paniyung atau usuk ngruji payung tanpa plafon. Konstruksi usuk dijepit di bagian atas dan bawah dengan sambungan lubang dan pasak, sehingga keseluruhan usuk membentuk satu bidang trapesium yang kaku. Seluruh konstruksi rangka atap ruang utama terbuat dari kayu jati.
Pada tiap tingkatan atap tumpang terdapat panil kaca berwarna, model ini banyak terdapat pada bangunan kolonial. Panil kaca mengalami pergantian pada renovasi yang dilakukan pada tahun 2013 sehingga sekarang panil tersebut diganti menggunankan kaca bening.
Adaptasi tiga bagian bangunan candi pra-islam pada atap Maajid Agung Surakarta disesuaikan dengan ajaran islam. Tajuk peertama melambangkan keyakinan beriman kepada Allah. Tajuk kedua melambangkan implementasi keimanan yang diwujudkan dengan menganut islam. Tajuk ketiga melambangkan buah dari keimanan dan keislaman yang bermanfaat bagi semua pihak dalam bentuk ihsan.

- Dinding
Dinding ruang utama yang merupakan dinding pemikul (bearing wall) memisahkan ruang utama tersebut dengan ruang-ruang lain. Dinding ini terbuat dari pasangan batu bata membentuk tembok masif setebal 50 cm dengan tinggi 4 m.

- Pintu
Pintu-pintu pada Masjid Agung Surakarta saling berhubungan, seperti lima pintu yang menghubungkan ruang utama dengan serambi yang berada di sebelah timur, tiga pintu dari pawestren di selatan dan tiga pintu dari ruang yogaswara dan pabongan di utara. Semua pintu menggunakan dua daun pintu yang lazim disebut daun pintu ala kupu tarung. Setiap daun pintu beserta kusennya berbahan kayu jati.
Pada pintu yang menghubungkan ruang utama dengan serambi, dua pintu terluar dihiasi ukiran bermotif flora (lung-lungan), tlacapan, dan sengkulunan. Tiga pintu tengah dihiasi ukiran fauna yang berwujud kepala binatang yang distilir, seperti naga yang menganga. Pada bagian kusen dilima pintu tersebut tepatnya pada bagian luar ditambahkan panil kayu yang berukir ornamen geometris. Pada bagian kusen pintu tengah terdapat hiasan prasasti candrasangkala berbentuk oval.
Pada bagian dalam atas pintu terdapat khat atau tulisan indah berisi kalimat peringatan atau lazim disebut sebagai pemutan. Kelima daun pintu pada sisi sebelah dalam polos tanpa ornamen. Ukuran pintu tengah terbilang paling besar di antara kelima pintu tersebut, yaitu berukuran lebar 2,3 m dan tinggi 2,7 m.
Pada pintu tengah yang terletak di dinding timur ruang utama terdapat prasasti berbahasa arab. Di atas pintu sisi barat yang menghubungkan dengan arah pabangan terdapat kaligrafi berupa empat baris tulisan berhuruf arab yang bertuliskan “Assasa hadzal jami’ assyarif Jalalatul Malik Al Afkhom Almarhum Al Mukarrom Al Janab Al ‘Aly Abdurrahman Assabi’ adamallah mulka dzurriyyatihi bil’izzi wal aman, amin. Wakanat sanatu faroghul bina’I fii khomis sahru Ramadhan sanah 1272 Hijriyah, wa muwaafiqon sanah 1784 Jawiyyah” (Masjid yang mulia ini dibangun oleh yang dipertuan agung raja yang mulia almarhum Al Mukarrom Al Janab Al ‘Aly Abdurrohman yang ke-7 semoga Allah melanggengkan kerajaannya bagi keturunannya dengan kemuliaan dan keamanan, amin. Selesai tahun pembangunan masjid ini di hati kamis bulan Ramadhan tahun 1272 Hijriyah, bertepatan tahun 1784 Jawa).
Pada baris bawah bertuliskan “Ali janaabi, ali ali ‘abdurrakhmanii, ali syarri, ali khaalii adamallahu wakaana dzalika fii... a... jim sannata 1742 = 1230, 1912 M” (Keluarga Jannab, keluarga ‘Ali Abdurrakhman, keluarga Syarri, keluarga Ali Khaalii Adamallah kerajaan dan itu dalam tahun (J= Jawi) 1742 = 1230, 1912 M).
Pada bagian atas pintu sisi timur yang menghubungkan dengan pabongan terdapat kaligrafi berbahasa Jawa. Pada baris atas bertuliskan “Penget hing nakila pembangunanipun ingkang kaping kalih... hing dinten Rebo Legi.” yang artinya “Peringatan pembangunan yang kedua kali... pada hari Rabu Legi.” Pada baris bawah bertuliskan “Tanggal kaping 29 wulan Rabi’ullakhir taun Jimalakhir (H) 1331 (J) 1742 wuku Prangbakat...... 19.123” (Tanggal 29 bulan Rabi’ulakhir tahun Jimakhir 1331, 1742 wuku Prangbakat...... 19.123).
Berdasarkan catatan terdahulu, diketahui adanya pintu di ujung paling barat dinding selatan ruang utama. Namun, pintu itu kini tertutup dengan bata yang dibangun saat renovasi masjid, pintu tersebut menghubungkan ruang shalat utama ke ruang kecil yang diduga merupakan tempat raja bersalin busana dan wudu sebelum melaksanakan sholat jum’at.

- Jendela
Ruang Shalat utama Masjid Agung Surakarta dilengkapi lima jendela. Empat jendela terdapat di sisi barat ruangan, satu di sisi utara tepatnya di barat bilik yogaswara, serta empat jendela yang berada di sisi barat tersebut masing-masing dua di utara dan selatan mihrab. Daun jendela dan kusennya terbuat dari kayu jati, dan di bagian atas kusen terdapat ornamen ukiran geometris serta prasasti.

- Tiang Semu
Keempat sisi dinding ruang shalat utama masing-masing dilengkapi empat tiang semu bergaya doric atau doria, yang pada bagian atasnya berbentuk kapitel, yaitu ornamen yang menggambarkan tumpukan terpenggal. Keenam belas tiang semu itu terlihat sebagai penyangga belandar meskipun ujung belandar-belandar tersebut sebenarnya tertanam dalam tembok yang merupakan struktur dari tiang-tiang semu tersebut.

- Lantai
Lantai ruang utama pada bangunan utama yang merupakan lantai yang tertinggi dalam Komplek Masjid Agung Surakarta mencerminkan posisi tersuci dalam hierarki ruang tempat ibadah ini. Berdasarkan hasil pengukuran saat pemugaran Masjid Agung Surakarta tahun 2004 diketaui bahwa lantai ruang shalat utama sengaja ditinggikan sekitar 1.12 m dari permukaan tanah sehingga menjadi yang paling tinggi di antara ruang-ruang yang lain.

- Mihrab
Mihrab adalah tempat yang disediakan untuk imam dalam memimpin shalat berjema’ah, berbentuk relung atau ceruk setengah lingkaran pada sisi barat ruang utama masjid. Bagian atas mihrab Masjid Agung Surakarta berbentuk melengkung seperti mihrab pada masjid-masjid di jazirah arab.
Pintu ceruk mihrab dilengkapi sepasang pilar atau tiang semu berbahan kayu bergaya doria yang terhubung dengan lengkungan setengah lingkaran dengan bagian atasnya dilengkapi kapitel. Kapitel dan lengkung tersebut dihiasi dengan ornamen ukiran bermotif geometris dan patran, serta ukiran kaligrafi huruf arab. penutup lengkungan itu dihiasi kaca timah (glass in load) yang bermotif tumbuh-tumbuhan. Ceruk itu dibangun dengan arah orientasi masjid yang berdevasi 17 derajat ke utara mengarah ke kiblat.



- Mimbar
Ruang utama Masjid Agung Surakarta juga dilengkapi mimbar yang diletakkan di sebelah utara mihrab. Mimbar berfungsi sebagai tempat khatib berkhutbah saat sholat jum’at. Bentuknya menyerupai sebuah tandu yang terbuat dari bahan kayu jati, dihiasi motif lidah api, lung-lungan, patran, padma, dan geometris. Denah mimbar empat persegi panjang dengan ukuran 375 cm x 138 cm dan tinggi 327 cm.
Mimbar dibagi menjadi tiga bagian, bagian dasar berupa lima anak tangga, bagian tengah berupa dudukan dan sandaran, dan bagian atas berupa atap yang disangga sepasang tiang dari dasar mimbar. Bagian atas kedua tiang itu dihubungkan bentuk lengkung dipenuhi dengan ukiran. Sepasang tiang tersebut dihubungkan dengan tiga bilah kayu dan membentuk atap. Ujung setiap bilah kayu tersebut berakhir pada lengkung sandaran. Atap itu dilengkapi dengan kaca penutup.

2. Ruang Transit atau Maksura
Masjid Agung Surakarta yang merupakan masjid kerajaan memiliki beberapa fasilitas untuk raja dan keluarganya seperti ruang transit lengkap dengan landasan dan maksura. Ruang transit terletak di sudut barat daya bangunan utama Masjid Agung Surakarta. Maksura adalah ruangan berdinding kaca berwarna yang terletak di kuadran barat daya ruang utama masjid yang berfungsi sebagai tempat shalat raja bersama permaisuri beserta putra-putri mereka. Kini ruang transit beserta padasannya masih terjaga dengan baik sedangkan maksura sudak tidak ada.

B. Bangunan Sayap
Bangunan Masjid Agung Surakarta dari waktu ke waktu mengalami pengembangan demi memenuhi kebutuhan tempat beribadah. Dalam pengembangan itu, bangunan utama masjid agung dilengkapi sayap kembar di utara dan selatan ruang utama. Sayap bangunan di bagian utara digunakan sebagai balai khitan yang lazim disebut balai pabongan, dan ruang pengelola masjid yang disebut balai atau bilik yogaswara, sedangkan sayap bangunan di selatan yang disebut pawestren dikhususkan untuk jemaah perempuan.
Pawestren ditambahkan pada bagian selatan ruang utama untuk ruang shalat khusus jemaah perempuan. Penambahan ruang pawestren dilakukan seiring munculnya pemahaman tentang perlu pemisahan antara jemaah pria dan wanita pada sat shalat berjemaah. Ruangan ini dibangun menempel pada ruangan utama dan dihubungkan dengan pintu-pintu.

1. Pawestren
Pawestren Masjid Agung Surakarta memiliki ukuran 7.60 m x 28 m dengan permukaan lantai 5 cm lebih rendah daripada ruang utama. Berbeda pula dengan ruang utama masjid, lantai pawestren dilapisi ubin keramik berukuran 40 cm x 40 cm berwarna krem.
Pawestren mempunyai satu pintu kupu tarung polos di sisi timur sebagai satu-satunya pintu penghubung dengan serambi masjid, dengan ukuran lebar 1.6 m dan tinggi 2.4 m. Pada dinding sisi selatan pawestren terdapat lima bukaan, tiga dalam bentuk jendela, dua dalam bentuk pintu. Pintu-pintu tersebut menuju tempat wudu khusus perempuan. Pada dinding bagian utara pawestren juga terdapat tiga pintu kupu tarung untuk masuk ke ruang utama masjid, satu diantara ketiga pintu tersebut polos tanpa ornamen di kedua sisinya sedangkan dua pintu lainnya memiliki ukiran yang bermotif lung-lungan dan kepala binatang yang disamarkan. Dua daun pintu yang berukir tersebut terdapat pada sisi yang berada di pawestren, sebaliknya pada sisi ruang utama polos tanpa ornamen.
Pada sisi barat pawestren terdapat sebuah jendela dengan lubang jendela yang diapit dengan penebalan dinding sebagai pilar semu. Bagian atas kedua pilar semu tersebut berbentuk kapital yang berhubungan membentuk setengah lingkaran bergaya doria. Di selatan pawestren terdapat ruang terbuka selebar 4.4 m yang merupakan emperan penghubung dengan tempat wudu dan kamar mandi wanita.

2. Pabongan/Yogaswara
Ruang pabongan yang dibangun menempel di utara ruang utama masjid berukuran 7.6 m x 26 m. ruang yogaswara yang dibangun di sebelah barat pabongan berukuran 7.6 m x 7 m. lantai kedua ruang tersebut 8 cm lebih rendah daripada lantai ruangan utama masjid, lantainya dilapisi ubin keramik berukuran 40 cm x 40 cm berwarna krem.
Pabongan mempunyai satu pintu berbentuk kupu tarung polos yang mengubungkan dengan serambi di sisi timur. Pintu itu berukuran 1.6 m x 2.4 m atau sama dengan pintu sisi timur pawestren. Terdapat dua pintu dan tiga jendela yang terletak pada sisi utara pabongan. Pada sisi barat yogaswara terdapat jendela dengan ukuran 1.7 m x 1.9 m.
Pabongan dan yogaswara dilengkapi dengan emperan yang berukuran 4.4 m yang terletak pada sisi utaranya. Emperan tersebut di batasi dengan tembok pembatas setinggi 1 m. atap emperan disangga oleh tiang bergaya doria.

3. Serambi
Ruang beratap tanpa dinding yang lazim disebut serambi didirikan menempel pada bagian depan bangunan utama Masjid Agung Surakarta pada tahun 1856. Serambi berbentuk empat persegi panjang dan memiliki ukuran 20.80 m x 52.80 m. Tidak adanya dinding pada ruang serambi masjid, pencahayaan dan sirkulasi udara sangat berpengaruh pada serambi karena di serambilah habblumminannas berlangsung.
Atap serambi masjid ditopang 40 tiang, 8 pasang tiang menopang atap tingkat teratas dan sisanya menopang bagian pinggir. Tiang-tiang tersebut berukuran 25 cm x 25 cm berbahan kayu jati dan diukir dengan motif hias putri mirong, motif hias profil wanita khas Mataram serta ragam hias berupa kaligrafi. Putri mirong merupakan ragam hias garuda yang distilir. Ke-40 tiang tersebut disangga umpak berbahan batu pualam merah tua berbentuk piramida terpenggal. Bagian pangkal tiang-tiang tersebut diberi pelipit yang terbuat dari kuningan. Bagian atas tiang-tiang (kapitel) tersebut berornamen ganja manyangkara, menggambarkan mulut Hanoman (Mayangkara).
Konstruksi serambi dinamakan konstruksi limasan klabang nyander (atap limasan memanjangdengan pengeret lebih dari empat buah). Konstruksi atap ini menyerupai atap pada pendopo bangunan rumah tinggal yang dibangun dengan tata letak gaya bangunan jawa yang telah mendapatkan pengaaruh gaya bangunan kolonial yaitu yang menggunakan konstruksi kuda-kuda tanpa brunjung dan terdapat struktur tambahan penyangga atap emperan atau konsol berbahan besi.
Warna dominan pada serambi adalah biru muda, seluruh material kayu yang terlihat dicat warna biru, warna tersebut sesuai dengan warna khas keraton Kesunanan Surakarta Hadiningrat. Serambi Masjid Agung Surakarta juga dilengkapi emper atau emperan yang merupakan atap tambahan. Atap emper bersambung dengan atap serambi. Untuk menyangga atap itu di gunakan konsol baja siku ganda yang ditempelkan pada tiang serambi bagian tepi.
Lantai serambi dibuat 23 cm lebih rendah daripada lantai lantai ruang utama, namun lantai serambi dibuat lebih tinggi 1.12 m daripada lantai emper. Untuk menaiki serambi dari emper tersedia tujuh tangga, tiga tangga pada sisi timur dan masing-masing di utara dan selatan. Lantai pada serambi dilapisi tegel bermotif berukuran 20 cm x 20 cm, lantai emper terbuat dari keramik bertekstur warna krem dengan ukuran 20 cm x 20 cm, sedangkan lantai tangga terbuat dari tegel serit antislip berwarna abu-abu.
Pada serambi terdapat alat komunikasi tradisional berupa dua beduk dan kentungan. Di sudut timur laut serambi terdapat beduk lama, sedangkan di sudut tenggara serambi diletakkan beduk baru berdampingan dengan kentungan. Beduk lama diberi nama Kiai Wahyu Tengara dan hanya dibunyikan pada malam hari bulan ramadhan, adapun beduk baru dan kentungannya ditabuh setiap menjelang adzan sholat fardu.
Kedua beduk tersebut dibuat dari kayu utuh yang dilubangi. Lubang pada kedua ujung kayu tersebut ditutup dengan lembaran lembu. Panjang kayu beduk lama yang bernama Kiai Wahyu Tengara 161 cm dan berdiameter 122 cm sedangkan panjang beduk baru berukuran lebih kecil yaitu dengan panjang 152 cm dan memiliki diameter 94 cm. kentungan juga terbuat dari kayu utuh yang dilubangi lalu digantungkan pada gawangan kayu dengan panjang 265 cm dan berdiameter 58 cm.

4. Emper dan Kolam
Bsngunan utama Masjid Agung Surakarta dikelilingi emper dan kolam. Emper dan kolam itu terpampang di sisi utara, timur, dan selatan bangunan utama. Emper atau emperan atau lebih dikenal dengan nama selasar adalah ruang transisi antara ruang luar dengan ruang yang lebih dalam. Sisi luar dari emper serambi masjid disangga 20 tiang berdiameter 80 cm dengan langgam doria.
Kolam memanjang atau bisa juga disebut parit yang mengelilingi sisi utara, timur dan selatan ruang utama masjid berfungsi untuk kebersihan masjid, memastikan kaki pengunjung bersih dari kotoran dan najis, lebar kolam/parit 4.5 m dengan kedalaman 50 cm, digenangi air bersih yang senantiasa mengalir dengan kedalaman yang tetap terjaga.


5. Tratag Rambat dan Kuncung
Tratag Rambat dan “Kuncung” bangunan atau kanopi berfungsi sebagai pintu masuk utama, terletak pada poros atau as bangunan yang menjorok ke timur. Bangunan tragtag rambat beratap limasan dengan tambahan markis berukuran 5.6 m x 7.5 m. Atap limasan dengan markis itu disangga empat tiang dari kayu. Kuncung bangunan yang terletak di sisi timur berimpitan dengan tratag rambat beratap kampung dengan ukuran 5 m x 4.5 m. Atap kampung disangga empat tiang yang terbuat dari besi cor.

C. Bangunan dan Elemen Pendukung
1. Gapura Utama
Gapura utama adalah gerbang yang menghubungkan kompleks Masjid Agung Surakarta dengan alun-alun Keraton Surakarta. Terletak di sisi timur komplek serta membujur dari utara ke selatan, gaya bangunannya mengikuti gaya bangunan Persia. Gapura ini terbuat dari bahan batu bata dengan ketebalan 2.35 m dan terbagi menjadi tiga bagian. Bagian-bagian pada gapura utama seperti bagian tengah merupakan pintu masuk yang paling besar mempunyai lebar 3.75 m dan diapit oleh kedua pintu di sisi utara dan selatan yang masing-masing mempunyai lebar 2.25 m.
Ketiga pintu tersebut dilengkapi dengan daun pintu berbahan besi dengan hiasan pacaksuji (tombak) pada bagian atas sebagai pengaman. Ukuran Gapura utama secara keseluruhan dari utara ke selatan adalah 28.75 m dan mempunyai tinggi 11.20 m.
Pada gapura utama terdapat beberapa simbol-simbol berupa relief dari panil kayu. Simbol-simbol tersebut terdapat di atas masing-masing pintu. Pada bagian atas pintu tengah terdapat relief dari kayu yang menggambarkan bumi, bulan, bintang, dan matahari dengan mahkota raja di atasnya. Pintu pengapit sisi utara terdapat panil kayu berhias relief huruf arab, terbaca latinnya yaitu sebagai berikut;
“\Allahumma firlana dzunubana waftahna abwaba rahmatika”
“Allahumma firlana dzunubana waftahna abwaba fadlika”
Pada pintu pengapit sisi selatan terdapat relief huruf arab yang terbaca latinnya;
“Rabbi adkhilni mudkhola sidqin wa’ahrijnii muhroja shidqin waj’alii miladunka sulthonan nashiira”

2. Gapura Utara dan Selatan
Sepasang gapura yang membujur dari timur ke barat terletak di sisi utara dan selatan Kompleks Masjid Agung Surakarta, memiiki gaya bangunan seperti gapura utama yaitu gaya bangunan persia. Kedua gapura yang terletak di utara dan selatan tersebut memiliki bentuk yang sama dengan ukuran yang tidak jauh berbeda. Ukuran lebar keseluruhan gapura yang berada di sisi utara 12.8 m, tebal 80 cm, tinggi 6.15 m dan lebar pintu masuk 3.05 m. Sedangkan perbedaan ukuran gapura yang terletak di selatan dengan yang di utara adalah terletak pada lebar keseluruhan yaitu 14 m dan lebar pintu masuk masuk 3.15 m. Keduanya dilengkapi pintu kupu tarung berbahan besi.
Gapura utama berfungsi sebagai pintu keluar masuk warga sekitar terutama dari arah kampung Kauman, sedangkan fungsi gapura selatan untuk memudahkan warga sekitar dan pedagang serta pengunjung pasar klewer masuk ke kompleks masjid.

3. Pagar Keliling
Pagar keliling kompleks Masjid Agung Surakarta yang dibuat pada tahun 1858 oleh Sunan Paku Buwana VIII terbuat dari tembok sebagai pembatas yang mengelilingi keempat sisi kompleks Masjid Agung Surakarta. Saat ini dari keempat tembok pembatas yang keadaannya yang masih utuh yaitu tembok yang berada pada bagian sisi timur kompleks masjid. Pada bagian dalam tembok terdapat pilar-pilar yang masing-masing berjarak 3 m serta juga terdapat hiasan sisi genta dan medalion. Tembok keliling yang keadaannya terlihat masih utuh juga terdapat pada sisi sebelah utara dan selatan, yaitu dari pojok timur ke barat sampai dengan masing-masing gapura, dan selebihnya tembok-tembok tersebut telah mengalami perubahan. Ukuran panjang tembok keliling Masjid Agung Surakarta, yaitu pada sisi timur 140 m, 137 m, barat 144 m dan sisi selatan hanya 71 m karena sebagian untuk sekolah Mambaul Ulum. Pada sisi barat, keseluruhan temboknya telah mengalami perubahan dikarenakan terkena pelebaran jalan dan bergeser sejauh 2 m.

4. Menara
Menara merupakan bangunan paling tinggi di antara bangunan lain di kompleks Masjid Agung Surakarta, berfungsi sebagai tempat mengumandangkan adzan untuk memberi tanda waktu didirikannya shalat. Dengan berjalannya waktu, menara tersebut sekarang beralih fungsi menjadi tempat meletakkan perangkatkomunikasi berupa pengeras suara yang diharapkan mampu memperdengarkan suara adzan hingga jarak jangkauan yang lebih jauh.
Menara Masjid Agung Surakarta memiliki ukuran setinggi 33 m serta bergaya arsitektur ktub minar khas India. Menara tersebut terletak pada sisi timur halaman masjid tepatnya di timur laut bangunan utama.
Menara Masjid Agung Surakarta dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian kaki, bagian tubuh dan bagian puncak. Bagian kaki merupakan bagian paling dasar dari bangunan menara dengan denah segi empat dengan desain arsitekturnya berbentuk padma. Ukuran lebar pada sisi timur 705 cm, sisi utara 706 cm, sisi barat 705 cm, sisi selatan 700 cm dan tinggi kaki 105 cm. Pada bagian kaki yang terletak di sisi timur terdapat 6 anak tangga, dengan ukuran setiap anak tangganya berukuran panjang 142 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 18 cm, di sisi kiri kanan anak tangga terdapat pembatas dengan lebar 70 cm.
Bagian tubuh menara terbagi menjadi tiga bagian,bagian bawah tubuh menara berbentuk persegi empat, bagian tengah tubuh menara berbentuk persegi delapan serta bagian atas tubuh menara berbentuk bulat. Bagian tubuh paling bawah yang dimulai dari ketinggian 105 cm sampe dengan ketinggian 6 m. Pada sisi sebelah timur bagian ini terdapat pintu masuk ke menara tepatnya segaris lurus dengan anak tangga pada bagian kaki menara.
Pintu masuk menara memilki daun pintu yang terbuat dari besi. Pada bagian atas pintu masuk berbentuk lenngkung, lengkung pintu ditopang dengan empat buah pilar yang masing-masing berdiameter 23 cm dan tinggi 204 cm. Pintu masuk memiliki ukuran tinggi 152 cm sedangkan lebar 82 cm, sedangkan ketiga sisi yang lain terdapat pintu semu yang memiliki ukuran panjang dan lebar yang sama dengan pintu masuk.
Bagian persegi delapan dimulai dari ketinggian 6 m sampai 12 m, selanjutnya bagian bulat dimulai dari ketinggian 12 m sampai dengan 25 m. Ruangan di dalam tubuh menara bentuknya menyesuaikan bentuk luarnya. Di dalam tubuh menara ini terdapat tangga besi yang melingkar bertiang tunggal dengan diameter tiang 17 cm. Tangga berfungsi sebagai sirkulasi menuju ke bagian atas menara. Jumlah anak tangganya yang berbahan besi berjumlah 138 anak tangga dengan panjang anak tangga 76 cm, lebar anak tangga 39 cm, ketebalan 11 cm dan jarak antar anak tangga 17 cm.
Tangga terletak presisi di tengah ruangan dimulai dari ruangan persegi empat. Pada tangga ke 17 memasuki ruangan yang berbentuk persegi delapan hingga anak tangga yang ke 70. Selebihnya tangga berada di dalam ruang yang berbentuk bulat sampai dengan anak tangga yang ke 138. Anak tangga ini berakhir pada bagian puncak menara.
Pada bagian puncak terdapat sebuah pintu dan selasar yang mengelilingi puncak menara, pintu pada bagian puncak terletak pada bagian sisi sebelah timur memiliki lebar 80 cm dan tinggi 232 cm, di atas pintu terdapat lengkungan yang dihiasi kaca warna-warni. Sisi lain bagian puncak, dindingnya dikelilingi pintu/jendela semu yang ukurannya sama dengan pintu sisi timur yang masing-masing dipisahkan oleh pilar. Atap puncak menara berbentuk kubah dengan mustaka di atasnya.
Selasar di puncak menara yang lebarnya 70 cm dan dibatasi pagar setinggi 103 cm dapat menampung sejumlah pengujung untuk bergantian berkelilingi melihat kota dari ketinggian.

5. Bangsal Pradangga
Halaman kompleks Masjid Agung Surakarta juga dilengkapi dua bangunan pendukung upacara yang biasanya diadakan di masjid ini. Sebagian kalangan menyebutnya sebagai bangsal pradangga, sebutan lainnya ada yang menyebutkan bangsal sekati atau pagongan. Bangsal Pradangga adalah bangunan untuk menggelar perangkat gamelan. Terdapat dua bangsal pradangga di halaman Masjid Agung Surakarta. Posisi kedua bangunan tersebut terletak simetris di sisi selatan dan utara.
Pradangga selatan maupun utara terdiri atas dua bangunan yang berhimpitan. Kedua bangunan itu masing-masing berperan sebagai ruang utama tempat meletakkan gamelan dan serambi yang merupakan ruang terbuka untuk penonton pergelaran. Ruang utama pradangga selatan berukuran luas 9.25 m x 9.25 m dan lantainya lebih tinggi 90 cm daripada lantai serambi. Pradangga utara berukuran lebih kecil daripada pradangga selatan yaitu terletak pada bagian belakang yang membuat luasnya berbeda, sehingga luas pradangga utara berukuran 9.25 m x 6.30 m.
Pada masing-masing bangsal pradangga terdapat tangga yang menuju ruang utama yaitu satu bagian terletak di depan, dua di samping timur dan barat. Tinggi dinding bagian depan 0.45 m dengan ketebalan 0.25 m. Pada bagian dinding samping dan belakang memiliki tinggi 0.95 m dan tebal 0.30 m. Atap bangunan berbentuk limasan sehingga bagian atas dinding berbentuk segitiga seperti punggung kuda. Kolom-kolom pada ruang utama pradangga berbentuk bulat dengan kapitel di atasnya. Kolom-kolom itu berdiameter bagian bawah 70 cm dan atas 42 cm, dengan tinggi dari depan 2.5 m hingga kolom yang paling belakang memiliki tinggi 1.65 m.


6. Istal
Istal merupakan kandang kuda lengkap dengan garasi kereta kuda, namun sekarang istal sudah berubah bentuk dan fungsinya.

7. Sumur dan Kulah
Air secara umum dianggap sebagai sarana bersuci dalam beribadah, dalam hal ini air dipergunakan untuk keperluan berwudu sebelum sholat. Melihat dari keutamaan air tersebut maka Pakubuwana X memperbaiki sistem pengadaan air dengan mengebor sumur artesis, serta melengkapinya dengan pompa air, dan membangun kulah untuk menampung air.

8. Jam Bencet
Jam istiwa atau jam yang memanfaatkan bayangan paralel sinar matahari sebagai penunjuk waktu yang terletak di halaman selatan Kompleks Masjid Agung Surakarta yang biasa disebut dengan Jam Bencet. Jam Bencet ini berbentuk cekungan setengah lingkaran terbuat dari tembaga, dan pada cekungannya terdapat garis-garis disertai angka 1 hingga 12. Dengan dilengkap jarum (pandom) yang posisinya dipasang horizontal mengarah dari utara ke selatan, maka bayang-bayang dari jarum tersebut mempunyai arah jatuh dan diartikan waktu tertentu.
Jam Bencet dibuatkan dudukan untuk berbentuk pilar bulat dengan diameter bagian bawah 105 cm dan bagian atas 112 cm dengan tinggi 115 cm. Badan tugu berhiaskan garis tegak dan garis melingkar yang dipisahkantonjolan sisi genta. Terdapat juga relief tulisan jawa yang menunjukkan angka tahun 1784 Jawa (1855 M).

9. Tembok Pemisah antara halaman depan dan halaman belakang
Di dalam kompleks Masjid Agung Surakarta kini juga terdapat sisa tembok pasangan 2 batu setinggi 1.6 m yang berdiri di sebelah barat pintu gerbang utara dan selatan. Tembok itu mebujur dari utara ke selatan dengan dipisahkan bangunan utama masjid.
Tembok pemisah sebelah utara sebagai pembatas halaman depan dengan perumahan marbut atau pengelola masjid dihubungkan oleh pintu gerbang dengan ukuran lebar lubang pintu 1.55 cm dan tinggi lubang pintu 1.6 m. pintu masuk berbentuk segi empat, di atyasnya berbentuk limas dari pasangan bata sebagai kemuncak.


10. Gedang selirang
Gedang Selirang merupakan tempat tinggal bagi para marbut atau penjaga serta takmir atau pengelola masjid. Penamaan Gedang Selirang merujuk pada bentuk atap bangunan yang bergaya arsitektur gedhang selirang yaitu bentuk atap yang mempunyai satu sisi kemiringan. Bangunan Gedang Selirang dibangun menempel pada pagar keliling utara, mulai dari sebelah barat gapura bagian utara. Bangunin tersebut berukuran lebar 11 m dan panjang mencapai 57 m.

11. Kelir
Kelir terletak di sisi sebelah barat kulah atau tempat wudu, posisinya membujur dari timur ke barat dan berbentuk setengah lingkaran. Kelir berfungsi sebagai batas sekaligus penutup kolam. Pada kelir terdapat relief dua buah vas yang ditumbuhi pohon dengan hulu kolam untuk memelihara bunganya. Pada bagian atasnya terdapat relief sulur-suluran dan daun-daunan yang mengelilingi bentuk lingkaran menyerupai piring. Di dalam piring terdapat relief yang menggambarkan gambar bintang, bumi, matahari dan di bawah lambang tersebut terdapat tulisan dengan huruf jawa menunjukkan angka tahun 1787 Jawa (1858 M) yang berarti pengujung masa pemerintahan Paku Buwana VII.

12. Mambaul Ulum
Mambaul Ulum merupakan sekolah keagamaan yang didirikan oleh Paku Buwono X di dalam kompleks Masjid Agung Surakarta.

13. Makam
Pada halaman belakang kompleks Masjid Agung Surakarta tepatnya di sebelah selatan dan sebelah utara mihrab terdapat beberapa makam. Pada sisi selatan mihrab masjid terdapat cungkup makam yang memayungi 6 makam, di antaranya adalah makam Gusti Bandara Raden Ayu Suryodiningrat dan makam menantu pria Paku Buwana IX.