Gedung Sekolah Rajo (SMU 2)

No. Regnas CB CB.350
SK Penetapan
No SK : PM.05/PW.007/MKP/2010
Tanggal SK : 8 Januari 2010
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya -
Jenis Cagar Budaya Bangunan
Nama Cagar Budaya Gedung Sekolah Rajo (SMU 2)
Keberadaan Provinsi : Sumatera Barat
Kabupaten / Kota : Kota Bukittinggi

Kweekschool atau sekolah pendidikan untuk guru pertama kali muncul di Hindia Belanda pada tahun 1834. Sekolah ini didirikan dan diselenggarakan oleh Zending di Ambon. Sekolah tersebut berdiri hingga tahun 1866. Keberadaan sekolah ini sangat penting karena dapat menyediakan guru-guru bumiputera bagi sekolah-sekolah yang ada di Ambon pada saat itu. Pemerintah Hindia Belanda kemudian juga membangun Kweekschool negeri pada tahun 1852 di Surakarta.

Enam tahun setelah pendirian Kweekschool di Surakarta, pemerintah juga membangun Sekolah Rajo Bukittinggi pada 1858. Pembangunan Kweekschool Bukittinggi kemudian juga diikuti pembangunan sekolah-sekolah lain seperti di Tapanuli (1864), dan Bandung (1866). Pada tahun 1871, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan sebuah peraturan jika ingin membangun sekolah dasar bumiputera maka sebelumnya harus membangun sekolah untuk pendidikan guru. Setelah keluarnya peraturan tersebut, beberapa Kweekschool baru didirikan di beberapa kota. Tetapi, kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan kemudian berubah. Ada beberapa Kweekschool yang harus ditutup untuk menghemat keuangan negara seperti Kweekschool Tapanuli (1874), Magelang dan Tondano (1885), Padang Sidempuan (1891), Banjarmasin (1893), dan Makassar (1895).

Di awal pendiriannya, Sekolah Rajo dipimpin oleh Charles Adriaan van Ophuijsen dan dibantu oleh seorang guru bernama Abdul Latif. Pada tahun 1873, dilakukan perubahan pada Sekolah Rajo. Bangunan lama Sekolah Rajo kemudian diperbaiki dan namanya diganti menjadi Kweekschool Bukittinggi. Kweekschool Bukittinggi dipimpin oleh D. Gerth van Wijk. Murid-murid Kweekschool Bukittinggi tidak hanya berasal dari daerah Sumatera Barat. Banyak juga murid yang berasal dari Aceh, Lampung, Tapanuli, Sumatera Timur, Bangka, Belitung, Palembang, dan Bengkulu. Kweekschool Bukitinggi pada tahun 1935 ditutup oleh pemerintah. Setelah Indonesia merdeka, sekolah ini diaktifkan kembali dengan berbagai nama. Tahun 1946 dijadikan Sekolah Menengah Tinggi (SMT), tahun 1950 diubah menjadi SMU I B dan SMU II C, tahun 1960 SMU II AC, dipecah menjadi SMU 2 Bukit Tinggi. Terakhir tahun 1995 dari SMU 2 Bukit Tinggi menjadi SMU 2 Bukit Tinggi.

Salah satu tokoh bangsa Indonesia yang pernah bersekolah di Kweekschool Bukittinggi adalah Ibrahim atau yang dikenal dengan nama Tan Malaka. Tan Malaka masuk Kweekschool Bukittinggi pada tahun 1908. Menurut gurunya di Sekolah Rajo yaitu G.H. HorenSMU, Tan Malaka merupakan murid yang cerdas dan sopan. Pada tahun 1913, Tan Malaka lulus dari Kweekschool Bukittinggi. Atas saran dari G.H. HorenSMU dan mendapatkan bantuan dana dari lembaga adat Suliki, Tan Malaka kemudian melanjutkan pendidikan ke Kweekschooldi Haarlem, Belanda (Anwar, 2004. 152).

Bangunan sekolah Kweekschool terletak di Kabupaten Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Sekolah ini berada di dataran tinggi yang dikelilingi pemukiman. Bangunan sekolah ini dibagi menjadi empat bangunan utama. Bangunan utama berada ditengah-tengah yang digunakan sebagai ruang belajar mengajar. Bangunan yang ada di kanan, kiri, dan belakang bangunan utama digunakan sebagai kantor. Pada tahun 1991 bangunan telah mengalami perbaikan pada beberapa komponen.
Memasuki sekolah terdapat pintu gerbang sekolah yang atapnya dihiasi dengan gadang. Selain bangunan yang menjadi Cagar Budaya, terdapat beberapa bangunan baru yang digunakan sebagai ruang belajar mengajar maupun sebagai kantor administrasi.

Atap
Atap bangunan ini terbuat dari genteng berwarna merah.

Badan
Badan bangunan sekolah ini dihiasi dengan jendela-jendela tinggi berwarna abu-abu. Selain itu pintu bangunan ini juga masih asli dengan pintu tinggi berwarna senada dengan jendela. Badan bangunan utama ini ditopang empat buah tiang tembok bulat dibagian teras. Antara tiang dan tembok dihubungkan dengan besi lengkung berbentuk suluran sebagai hiasan.

Lantai
Lantai bangunan ini terbuat dari semen dengan ubin berwarna cokelat.