Kompleks Percandian Muara Takus

No. Regnas CB CB.453
SK Penetapan
No SK : KM.9/PW.007/MKP/2003
Tanggal SK : 4 Maret 2003
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya -
Jenis Cagar Budaya Kawasan
Nama Cagar Budaya Kompleks Percandian Muara Takus
Keberadaan Provinsi : Riau
Kabupaten / Kota : Kabupaten Kampar

Kawasan Cagar Budaya Kompleks Percandian Muara Takus dibuat selama tiga periode dengan tiga fase, yaitu fase eerste bouw, tweede bouw, dan derde bouw. Arsitektur candi ini mendapat pengaruh Ciwaistis, Budhistis, dan Indonesia. Unsur Ciwaistis dapat terlihat pada penggunaan motif lingga dan yoni. Unsur Budhistis yaitu dengan adanya stupa dan bunga teratai, sedangkan unsur Indonesia yaitu adanya punden berundak-undak, dan tangga naik menuju moksha.
Ada dua pendapat mengenai nama Muara Takus. Yang pertama mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari nama sebuah anak sungai kecil bernama Takus yang bermuara ke Sungai Kampar Kanan. Pendapat lain mengatakan bahwa Muara Takus terdiri dari dua kata, yaitu “Muara” dan “Takus”. Kata “Muara” mempunyai pengertian yang sudah jelas, yaitu suatu tempat sebuah sungai mengakhiri alirannya ke laut atau ke sungai yang lebih besar, sedangkan kata “Takus” berasal dari bahasa Cina, Ta berarti besar, Ku berarti tua, dan Se berarti candi atau kuil. Jadi arti keseluruhan kata Muara Takus adalah candi tua yang besar, yang terletak di muara sungai.
Diperkirakan Kawasan Cagar Budaya Kompleks Percandian Muara Takus adalah kompleks percandian tertua di Sumatera yang terbuat dari tanah liat, tanah pasir, dan bata. Bahan pembuat candi ini, khususnya tanah liat, diambil dari Desa Pongkai yang terletak kurang lebih 6 km di sebelah hilir kompleks Percandian Muara Takus. Nama Pongkai berasal dari bahasa Cina Pong berati lubang dan Kai berarti tanah, maksudnya adalah lubang tanah yang diakibatkan oleh penggalian untuk pembuatan Candi Muara Takus tersebut. Bekas lubang galian sekarang tidak dapat ditemukan lagi karena sudah tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang.

Riwayat Penelitian dan Pemugaran

W.P. Groeneveld
Pada tahun 1880 seorang kebangsaan Belanda yang bernama W.P. Groeneveld melakukan penelitian terhadap Kompleks Percandian Muara Takus. Hasil penelitian tersebut merupakan kunci dari tulisan singkat Verbeek dan Van Delden.
Kemudian pada tahun yang sama yaitu 1880 Verbeek dan Van Delden berdasarkan hasil tulisan W.P. Groeneveld, menyatakan bahwa bangunan candi tersebut merupakan bangunan Buddha yang terdiri dari biara dan beberapa candi. Ekspedisi Verbeek dan Van Delden membuat jalan dari Payakumbuh ke Muara Takus yang terletak di sebelah barat Sungai Kampar Kanan.

R.D.M. Verbeek dan E.TH. Van Delden
Pada tahun 1881 Verbeek dan Van Delden menulis pendapatnya tentang keberadaan Candi Muara Takus dengan judul “De Hindoe Ruinen Bij Moeara Takoes Aan De Kampar Rivier” dengan gambar oleh W.P. Groeneveld yang dimuat dalam Verhandelingen can hat Bat, Genootschap, dimana lukisan/gambar yang dimuat dalam buku tersebut dikerjakan oleh Ir. Pertambangan TH.A.F. Delprat dan Opziter (sinder) HL Leijdie Melville. Mereka juga menemukan tembok keliling yang mengelilingi Kompleks Percandian Muara Takus.

J.W. Yzerman
Pada awal 1889 J. W Yzerman melakukan pengukuran, dibantu oleh Ir. Pertambangan TH.A.F. Delprat dan Opziter (sinder) HL Leijdie Melville yang bertugas sebagai juru foto. Ekspedisi mereka mendapatkan bantuan dari kontelir J. Van Zon yang berkedudukan di Payukumbuh untuk mengangkut beban sampai ke tempat tujuan. Menurut J.W. Yzerman di bagian hilir Sungai Kampar terdapat bangunan purbakala, diantaranya di Bangkinang, Muara Mahat dan di Durian Tinggi. Candi di Bangkinang diperkirakan berada di Lima Koto, sedangkan di Durian Tinggi berada di dekat Kapur Gadang, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi.
J.W. Yzerman dan Ir. TH Delprat melakukan pengukuran, kemudian membuat sket desa Muara Takus dan juga sket Kompleks Percandian Muara Takus, mereka menulis tentang Kompleks Percandian Muara Takus sebagai berikut:
“Muara Takus yang terletak pada belokan Sungai Kampar Kanan yang arealnya mencapai 1,25 km². Pada bagian tengahnya terdapat jalan setapak dari Muara Mahat ke Tanjung. Dekat jalan tersebut terletak puing-puing bangunan bangunan lama”. Menurut J.W. Yzerman Kompleks Percandian Muara Takus ini dilingkari oleh dinding tembok berbentuk persegi dengan ukuran 74 x74 m, terbuat dari batu pasir (tuff) yang memiliki tinggi 1 m. Semula dia menyangka candi tersebut terbuat dari tanah. Tetapi setelah dikupas, ternyata terbuat dari batu pasir putih yang disusun. Ditengah lapangan, selain dijumpai tumpukan batu terdapat juga kayu bekas bangunan tempat biksu dan tempat lainnya.
Pada waktu mereka sampai di Kompleks Percandian Muara Takus yang dapat dilihat adalah stupa (Candi Mahligai), Teras tinggi di sebelah timur stupa (Candi Palangka), Candi Bungu dengan teras mempunyai batas antara batu bata dan batu pasir, Candi Tua. Stupa (Candi Mahligai) merupakan bangunan yang masih baik sehingga dapat digambarkan menurut keadaan sebenarnya, namun ada bagian-bagian dari bangunan ini yang telah rusak/runtuh. Ukuran batu bata yang digunakan bervariasi, panjang antara 23 cm sampai dengan 26 cm, lebarnya 14 cm sampai dengan 15,5 cm dan tebalnya antara 3,5 cm samapai dengan 4,5 cm. Pada bagian puncak menara terdapat batu dengan lukisan/relief daun oval.

Dr. F. M. Schnitger
Pada tahun 1935 dilakukan penggalian oleh Dr. F. M. Schnitger terhadap pondasi, pintu gerbang dinding sebelah utara, pondasi bangunan I, pondasi bangunan II, Candi Tua dan Candi Bungsu. Pada Candi Bungsu yang terletak disebelah barat Candi Mahligai pernah ditemukan bata bata yang berbentuk lotus. Di dalamnya terdapat abu dan lempengan emas yang bercampur tanah. Pada lempengan emas tersebut terdapat gambar Trisula dan tulisan yang berbentuk huruf Nagari (Schnitger 1936, 11). Menurut Schnitger teras Candi Bungsu, Candi Tua bagian dalam, Candi Palangka, Bangunan I dan II berasal dari abad XI, sedangkan Candi Mahligai dan Candi Tua diperkirakan pada abad XII (Schnitger 1936, 12).
Berdasarkan hasil penelitian Schnitger terhadap Kompleks Percandian Muara Takus, maka beliau berpendapat bahwa bangunan tersebut berasal dari abad XI dan kemudian direkontruksi kembali pada abad XII. Reruntuhan yang ditemukannya merupakan bagian dari kota yang dikelilingi oleh dinding tanah atau tembok keliling seperti yang ditemukan oleh J.W. Yzerman 1889 yang disebut dengan Arden Wall. Kemudian menurut dugaan Schnitger candi-candi tersebut besar kemungkinan adalah kuburan raja-raja.

Ben Bronson bersama Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta pada tahun 1973
Mereka melakukan penggalian dan penelitian pada pagar keliling Kompleks Percandian Muara Takus dan sekitarnya. Dari hasil penggalian ditemukan keramik yang umurnya lebih tua dari masa Dinasti Yuan Ming dan Ching yaitu antara abad XIII dan XIX. Dari hasil penggalian selanjutnya ditemukan pula sisa bangunan dari bata yang terdapat diluar kompleks. Kemudian ditemukan juga fragmen yang terbuat dari perunggu dengan tulisan Nagari yang berasal dari abad VII dan abad XII, yang dapat dihubungkan dengan masa pemerintahan Raja Karta Negara dengan Ekspedisi Pamalayunya.

N.J. Krom
N. J. Krom memperkirakan bangunan ini berasal dari abad VII atau sezaman dengan Prasasti Viengsa di Cina (Bosch 1930, 149).

Bernet Kempers
Bernet Kempers mengatakan bahwa stupa Candi Mahligai yang berntuknya seperti sebuah menara, berbeda bentuknya dengan stupa yang ada di Indonesia, walaupun masih mengikuti arsitektur Buddha.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Sejak tahun 1977, Pusat Penelitian Peniggalan Purbakala nasional dan Bidang Permuseuman Sejarah dan Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Provinsi Riau telah berhasil menyelesaikan pemugaran bangunan-bangunan di Kompleks Percandian Muara Takus dengan volume 1.106 m3. Kemudian juga dilakukan pemugaran Candi Tua sebesar 2.235 m3. Kegiatan pemugaran diawali dari Candi Mahligai, Bangunan III, Candi palangka, Candi Bungsu, Pagar keliling, dan Candi Tuo. Bangunan I, II, dan IV tidak dipugar jarena kondisinya yang sudah sangat rusak, begitu juga bangunan V dan VI yang hanya tersisa bata-bata yang sudah hancur.
Kompleks Percandian Muara Takus dipugar pada tahun 1982/1983 dari proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Riau. Kegiatan pemugaran untuk mempertahankan bangunan-bangunan candi dari keruntuhan. Adapun pemugaran yang dilakukan yaitu;
1. Melanjutkan kembali pemasangan batu bata setelah dilakukan susunan percobaan pada tangga naik dan turun,
2. Pemasangan kembali batu pada bagian dinding tangga sebelah timur, sebelah barat, dan sebelah utara yang sebelumnya telah dilakukan susunan percobaan,
3. Pemasangan batu isian dan pengurukan pasair pada tweede bouw dan deerde bouw,
4. Pemasangan batu lantai sebelah barat,
5. Pemasangan perencah barak dengan les plank
6. Pengupasan Candi Tua dari bagian stupa yaitu disebelah barat
7. Pembuatan gudang tempat alat-alat pekerjaan,
8. Pembuatan pondasi tempat penyimpanan atau penampungan air,
9. Pemasangan pipa paralon di sekitar candi dan pemeliharaan pertamanan,
10. Pembersihan areal situs dalam Kompleks Percandian,
11. Pembersihan tembok keliling dari tanah,
12. Pengukuran Candi Tua bagian bawh atau bagian profil.

Kawasan Cagar Budaya Percandian Muara Takus merupakan percandian Buddha. Hal tersebut terlihat dari adanya stupa yang merupakan lambang Buddha Gautama. Ada pendapat yang mengatakan bahwa gaya arsitektur candi ini merupakan perpaduan unsur Saiwa, Bauddha, dan Nusantara. Unsur Saiwa dapat terlihat pada penggunaan motif lingga dan yoni. Unsur Bauddha ditandai dengan adanya stupa dan bunga teratai (padma), sedangkan unsur Nusantara terlihat adanya punden berundak, dan jenjang naik menuju moksa.

Gaya bangunan stupa Candi Muara Takus sendiri sangatlah unik karena tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia. Bentuk candi ini memiliki kesamaan dengan stupa Buddha di Myanmar, stupa di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Ashoka, yaitu stupa yang memiliki ornamen sebuah roda dan kepala singa, hampir sama dengan arca yang ditemukan di kompleks Candi Muara Takus. Pada tahun 1860, seorang arkeolog Belanda bernama Cornel de Groot berkunjung ke Muara Takus. Pada waktu itu di setiap sisi ia masih menemukan patung singa dalam posisi duduk. Patung singa sendiri secara filosofis merupakan unsur hiasan candi yang melambangkan aspek baik yang dapat mengalahkan aspek jahat atau aspek ‘terang’ yang dapat mengalahkan aspek ‘gelap’. Dalam ajaran agama Buddha motif hiasan singa dapat dihubungkan maknanya dengan sang Buddha, hal ini terlihat dari julukan yang diberikan kepada sang Buddha sebagai ‘singa dari keluarga Sakya’. Serta ajaran yang disampaikan oleh sang Buddha juga diibaratkan sebagai ‘suara’ (simhanada) yang terdengar keras di seluruh penjuru mata angin.
Kawasan Cagar Budaya Kompleks Percandian Muara Takus merupakan sebuah kompleks yang terdiri atas beberapa bangunan:

1. Candi Tuo
Candi Tuo merupakan bangunan terbesar di Kompleks Percandian Muara Takus yang merupakan bangunan masif (tidak memiliki ruang). Letaknya tidak terlalu jauh di sisi utara Candi Bungsu. Candi ini merupakan bangunan yang ditempatkan di atas kaki bertingkat tiga dengan ukuran 32,80 m x 21,80 m dan tinggi 8,50 m. Bagian paling atas berbentuk stupa. Candi ini dibangun dari campuran batu bata yang dicetak dan batu pasir (tuff).
Kaki tingkat pertama memiliki denah berbentuk persegi panjang dengan tinggi 2,37 m, memiliki banyak penampil sehingga sudut luarnya berjumlah 24. Kaki tingkat kedua berdenah persegi panjang dengan tinggi 1,98 m, dan bangunan ini memiliki tangga naik yang berada di sisi barat dan timur. Bagian dasar bangunan teratas berbentuk lingkaran dengan diameter 7 m dan tinggi 2,5 m.

2. Candi Mahligai
Candi Mahligai merupakan bangunan masif berdiri menghadap ke arah gerbang masuk di sisi utara kompleks percandian. Bangun ini berdenah bujur sangkar dengan ukuran 10,44 m x 10,60 m. Tinggi bangunan sampai puncak 14,30 m berdiri diatas pondasimen berbentuk segi delapan (astakoma) dan bersisikan sebanyak 28 sisi.
Badan Candi Mahligai memiliki denah lingkaran dengan garis tengah 4 m. Bagian tengah badan stupa mengecil yang memberi kesan ramping, bagian atasnya melebar kembali. Pada bagian tengah badan stupa tersebut terdapat pelipit yang melingkari badan stupa. Bagian-bagian pada badan stupa berupa pelipit bawah, pelipit padma dan pelipit atas.
Bagian puncak atau bagian makhota stupa memiliki denah 36 sisi. Pada dasar puncak stupa terdapat empat arca singa yang terbuat dari batu pasir. Arca singa ini duduk dengan dua kaki belakang dilipat. Pada bagian puncak stupa, tepatnya sebelum hiasan padma terdapat 16 hiasan kepala singa.

3. Candi Palangka
Candi Palangka dengan denah dasar bangunan berbentuk empat persegi dengan ukuran 5,85 m x 6,60 m dengan tinggi 1,45 m dari permukaan tanah, dan terletak 3,85 m di sebelah timur Candi Mahligai. Pada sisi utara bangunan terdapat undakan dan tangga yang telah rusak. Pemugaran dilakukan pada tahun 1987-1989 dengan kondisi sebelumnya terbenam sekitar 1 m. Tinggi bangunan 1, 45 m dan terbuat dari bata merah.

4. Candi Bungsu
Candi Bungsu terletak di sebelah selatan Candi Tua dan di sebelah barat Candi Mahligai. Bangunan berbentuk empat persegi dengan ukuran 7,50 x 16,28 m dan tinggi 6, 20 m. Bahan bangunan terbuat dari batu andesit dan bata. Bangunan ini terdiri dari stupa tunggal berukuran besar. Bangunan candi tersebut dikatakan pula memiliki konfigurasi serupa dengan Candi Asoka di India.

Bangunan lain yang terdapat dalam kompleks percandian Muara Takus:
1. Bangunan I
Sebelah utara Candi Tua terdapat tumpukan tanah yang mempunyai dua lobang. Tempat ini diperkirakan merupakan tempat pembakaran jenazah. Lobang yang satu untuk memasukan jenazah dan yang satunya lagi untuk mengeluarkan abunya. Di dalam tumpukan tanah tersebut terdapat batu-batu kerikil yang berasal dari sungai Kampar.
2. Bangunan II
Bangunan ini terletak disebelah selatan Bangunan I, merupakan bekas pondasi bangunan yang terbuat dari batu pasir (tuff) yang berdenah persegi.
3. Bangunan III
Bangunan ini terletak 135 m sebelah barat Candi Mahligai dan berada diluar pagar keliling. Bangunan ini berdenah persegi panjang dengan ukuran 3 m x 2,40 m di kelilingi pagar yang terbuat dari batu bata dengan ukuran 4,92 m x 5,94 m, dan tidak memiliki pintu masuk.
Bagian tubuh bangunan ini rata, tidak memiliki pelipit. Pada bagian kaki mempunyai tonjolan pada dua sisi, yaitu pada sisi sebelah barat laut dan barat daya. Bangunan ini selesai dipugar pada tahun 1983, bersamaan dengan selesainya pemugaran Candi Mahligai.
4. Bangunan IV
Bangunan IV terletak 298 m di sebelah barat laut Candi Mahligai dan berada di tengah hutan karet. Situs ini merupakan sebuah gundukan tanah. Pernah dilakukan penggalian pada tahun 1983, ternyata didalamnya ditemukan susunan batu bata.
5. Bangunan V dan VI
Kedua bangunan ini terletak 334 m sebelah barat Candi Mahligai, tepatnya berada di seberang Sungai Kampar. Kedua bangunan ini ditemukan ketika dilakukan penggalian. Keadaannya hanya tinggal pondasi dan tubuh, karena puncaknya sudah rusak dan roboh.
6. Tanggul Kuno
Tanggul kuno berupa tumpukan tanah memanjang mengelilingi gugusan percandian. Bagian bawah/dasar terdiri dari batu kerikil yang ditimbun dengan tanah. Pada bagian atasnya ditanami bambu cina (Bambusa multiplex), bambu yang tidak besar dan memiliki akar serabut, akarnya dapat menahan tanggul agar tidak mudah runtuh.
Ukuran penampang tanggul dengan ukuran 5 m x 18,8 m, serta ukuran bagian atasnya 0,9 m 4,4 m. Tanggul ini mempunyai panjang 4,19 km, bagian utaranya sudah hilang sekitar 525,5 m akibat erosi sungai.
7. Pagar Keliling I
Pagar keliling terdiri dari susunan batu putih (tufaan) yang berfungsi sebagai pagar dan mengelilingi gugusan percandian. Pagar ini berukuran 74 x 74 m dengan lebar 1,2 m dan tinggi 1 m. pada bagian utara pagar keliling terdapat pintu masuk menuju gugusan candi.

Pada kawasan percandian juga terdapat penemuan berupa Candi Vajra yang terletak di sisi selatan. Penemuan tersebut berdasarkan hasil ekskavasi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan dengan temuan berupa bagian dasar, badan, dan atap candi dengan ukuran denah 8 x 12 m. Temuan hasil ekskavasi antara lain lapik arca, vajra, fragmen arca, sangkur, logam berbahan perunggu, fragmen arca Ganesha, dan fragmen arca Dewi Tara. Candi tersebut kini dalam kondisi tertimbun tanah.
Selain itu, terdapat pula penemuan struktur bata pada tahun 2009 yang terletak ± 200 m di utara candi. Penemuan tersebut merupakan hasil ekskavasi yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi Riau dengan dibantu oleh tenaga Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat. Informasi mengenai ekskavasi Candi Vajra dan penemuan struktur bata tahun 2009 didapat dari Bapak Zulkifli selaku juru pelihara candi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar.