Makam Tjut Nja’ Dien

No. Regnas CB CB.1564
SK Penetapan
No SK : 308/M/2018
Tanggal SK : 6 November 2018
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Makam Tjut Nja’ Dien
Keberadaan Provinsi : Jawa Barat
Kabupaten / Kota : Kabupaten Sumedang

Perang Aceh merupakan salah satu perang yang dihadapi oleh pemerintah kolonial dalam usahanya untuk menguasai wilayah-wilayah di Hindia Belanda. Perang ini merupakan salah satu perang terlama yang dihadapi oleh pemerintah Hindia Belanda. Meletusnya Perang Aceh ini disebabkan oleh beberapa hal yang diawali oleh diserahkannya wilayah Deli oleh Sultan Ismail kepada Belanda. Padahal wilayah tersebut berada di wilayah Kesultanan Aceh sejak masa Sultan Iskandar Muda. Selain itu, hubungan antara Aceh dengan perwakilan Turki, Amerika Serikat, dan Italia turut menjadi penyebab meletusnya Perang Aceh.
Tahun 1873, Belanda menyerang Aceh di bawah pimpinan Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler. Usaha tersebut gagal, Jenderal Kohler sendiri pun tewas di halaman Masjid Baiturrahman. Di tahun yang sama, Belanda kembali mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten. Jumlah pasukan dan peralatan yang dibawa kali ini lebih banyak daripada ekspedisi pertama yang menemui kegagalan. Dalam ekspedisi kedua, Belanda berhasil menguasai wilayah Aceh setelah berhasil melawan rakyat Aceh. Pihak Aceh kemudian memutuskan untuk meninggalkan Banda Aceh pada tahun 1874. Tak lama kemudian Belanda masuk Banda Aceh dan menganggap perang telah dimenangkan oleh Belanda yang kemudian mengumumkan jika wilayah Aceh menjadi miliknya. Meskipun begitu rakyat Aceh tetap melawan Belanda.
Dalam menghadapi Belanda, pihak Aceh banyak dipimpin oleh beberapa tokoh salah satunya adalah Tjut Nja’ Dien. Ikutnya Tjut Nja’ Dien dalam perang menghadapi Belanda disebabkan karena kematian suami pertamanya Teuku Cek Ibrahim Lamnga pada 28 Juni 1878. Tak lama setelah kehilangan suaminya, Tjut Nja’ Dien menikah dengan Teuku Umar. Bersama dengan Teuku Umar, Tjut Nja’ Dien ikut dalam perang menghadapi Belanda. Pada tahun 1899 Teuku Umar gugur ketika menghadapi pasukan Belanda yang dipimpin oleh J. B. van Heutsz di Meulaboh. Sejak saat itu ia bertekad untuk terus melakukan perlawanan dan menjadi pimpinan perlawanan pejuang Aceh. Kata-kata dan cerita-cerita yang sering ia lantunkan di depan rakyat atau pasukannya membuat semangat rakyat Aceh dan pasukannya terjaga untuk melanjutkan perjuangan. Dalam meneruskan perjuangannya, Tjut Nja’ Dien bersama pasukan dan pengikutnya selalu berpindah-pindah tempat agar tidak diketahui pihak Belanda.
Fisik Tjut Nja’ Dien menjadi lemah karena usia yang semakin bertambah, namun ia menolak menyerah. Di sisi lain, pasukan Belanda terus mengikuti gerak-gerik Tjut Nja’ Dien bersama para pengikutnya. Hal itu membuat ruang gerak Tjut Nja’ Dien menjadi semakin sempit. Rakyat yang biasanya ikut membantu Tjut Nja’ Dien semakin lama berkurang karena Belanda tidak segan menghukum siapa saja yang membantu Tjut Nja’ Dien dan pengikutnya. Kemudian salah satu pemimpin pasukan Tjut Nja’ Dien, Pang Laot meminta Tjut Nja’ Dien untuk menghentikan perlawanan. Pang Laot melakukan hal itu karena merasa sedih melihat kondisi Tjut Nja’ Dien yang semakin melemah dan merasa jika pasukan Aceh semakin lemah setelah banyak pasukan lain yang gugur dan menyerah kepada Belanda, namun Tjut Nja’ Dien menolak saran dari Pang Laot.
Pang Laot secara diam-diam menghubungi salah satu perwira tentara Belanda, Kapten Veltmann. Ia akan memberitahukan tempat persembunyian Tjut Nja’ Dien dengan beberapa syarat. Syarat pertama, keselamatan Tjut Nja’ Dien harus dijamin dan pemerintah harus memberikan perlakuan yang sesuai untuk Tjut Nja’ Dien. Kemudian beberapa pasukan Belanda diperintahkan oleh Kapten Veltmann untuk menjemput Tjut Nja’ Dien. Tjut Nja’ Dien berhasil dibawa oleh tentara Belanda ke Kutaraja untuk kemudian dirawat karena kondisi fisik dan penyakit rabunnya semakin parah. Setelah mendapatkan perawatan, kondisi Tjut Nja’ Dien semakin membaik. Meskipun telah menjadi tahanan istimewa di Kutaraja, Tjut Nja’ Dien tetap berhubungan dengan pasukan yang belum menyerah. Hal itu membuat pemerintah Belanda memutuskan untuk mengasingkan Tjut Nja’ Dien ke Sumedang.
Ia dibawa ke Sumedang bersama dengan tahanan politik Aceh lain dan menarik perhatian bupati Soeriaatmadja. Selain itu, tahanan laki-laki juga menyatakan perhatian mereka pada Cut Nyak Dhien, tetapi tentara Belanda dilarang mengungkapan identitas tahanan. Ia ditahan bersama ulama bernama Ilyas yang segera menyadari bahwa Cut Nyak Dhien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai "Ibu Perbu". Tjut Nja’ Dien tinggal di Sumedang hingga wafat pada 6 November 1908.

Makam Tjut Nja’ Dien terletak di kompleks pemakaman anggota keluarga milik Siti Khodijah, yang berjarak beberapa ratus meter arah selatan Kota Sumedang, Jawa Barat. Siti Khodijah itu tersendiri merupakan cucu dari K.H.Sanusi, yang merupakan sosok yang merawat Tjut Nja’ Dien selama di pengasingannya di Sumedang. Tanah milik Siti Khodijah tersebut merupakan hibah dari Kanjeng Pangeran Aria Soeriaatmadja untuk makam Tjut Nja’ Dien. Lokasi makam Tjut Nja’ Dien tepat bersebelahan dengan kompleks pemakaman keluarga Pangeran Sumedang di Kampung Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan. Gunung Puyuh difungsikan sebagai kompleks pemakaman bagi para bupati keturunan Prabu Geusan Ulun dan keluarganya.
Makam Tjut Nja’ Dien dikelilingi pagar besi dengan alas beton, pintu terletak pada sisi timur. Di belakang makam terdapat musholla dan di sebelah kiri makam terdapat banyak batu nisan yang dikatakan sebagai makam keluarga ulama H. Sanusi. Makam Tjut Nya Dien berorientasi utara selatan ditandai adanya jirat dan nisan serta dilengkapi dengan bangunan cungkup tanpa dinding. Di batu nisan Tjut Nja’ Dhien, tertulis riwayat hidupnya, tulisan bahasa Arab, Surah At-Taubah dan Al-Fajr, serta hikayat cerita Aceh.