Museum Kereta Api Ambarawa

No. Regnas CB CB.1010
SK Penetapan
No SK : PM.57/PW.007/MKP/2010
Tanggal SK : 22 Juni 2010
Tingkat SK : Menteri
No SK : 006/M/2017
Tanggal SK : 12 Januari 2017
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Museum Kereta Api Ambarawa
Keberadaan Provinsi : Jawa Tengah
Kabupaten / Kota : Kabupaten Semarang

Ambarawa merupakan daerah pangkalan militer pemerintah Hindia Belanda. Ambarawa mulai menjadi daerah pangkalan militer setelah Perang Diponegoro (1825-1830) karena letaknya yang strategis diantara Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta.
Pembangunan Stasiun Kereta Api Ambarawa pada awalnya bertujuan untuk memperlancar mobilisasi militer dari Semarang menuju Benteng Willem I di Ambarawa. Pada 21 Mei 1878 Stasiun Willem I atau yang sekarang lebih dikenal dengan Stasiun Ambarawa diresmikan penggunaannya oleh pemerintah Hindia Belanda. Stasiun ini diberi nama Willem I sesuai dengan raja pertama Belanda yaitu, Willem Frederik Prins van Oranje-Nassau (1772-1843). Pembangunan stasiun dan jalur kereta api di daerah Ambarawa dilakukan oleh perusahaan swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Stasiun Willem I kemudian mulai digunakan untuk lintas Semarang-Kedungjati-Ambarawa.
Jalur Semarang – Kedungjati – Ambarawa masih aktif hingga 1 Juni 1970. Setelah itu, jalur ini ditutup pengoperasiannya karena kalah bersaing dengan angkutan jalan raya. Pada 9 April 1976, Stasiun Ambarawa diubah menjadi museum dan diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu, Supardjo Rustam. Di museum ini tersimpan berbagai koleksi yang berhubungan dengan kereta api seperti lokomotif, dan peralatan penunjang perkeretaapian.

Museum Kereta Api Ambarawa awalnya merupakan stasiun kereta api yang berada di jalur lintas Semarang-Kedungjati-Ambarawa-Magelang Yogyakarta. Museum ini memanfaatkan beberapa komponen bangunan yang merupakan bagian dari fasilitas sebuah stasiun. Komponen tersebut adalah emplasemen, peron, depo/bengkel, jalur rel, rumah dinas, menara air, pemutar lokomotif (turn table), dan gudang.
Stasiun Ambarawa termasuk stasiun besar yang memiliki bangunan utama seluas stasiun 479,45 m², peron 1.800 m², 4 gudang 358 m², rel putar 154 m², depo 759 m², menara air 12 m² dan 4 rumah dinas 728 m². Stasiun terdiri atas 3 bangunan tertutup dan 1 bangunan terbuka untuk ruang tunggu penumpang, konstruksi bangunan berdinding tebal beratap beton setinggi 5,5 m, dan kelilingnya berprofil. Ruangannya berdaun pintu, jendela kaca panel yang di bagian atasnya dihias pasangan bata yang disusun membentuk melengkung. Peron stasiun berukuran 90 m x 20 m, didukung 32 tiang penyangga besi baja, konstruksi kuda-kuda dari besi baja siku, tinggi puncak atap 11,5 m, berpenutup atap seng. Bangunan peron menaungi bangunan utama stasiun yang ada di tengah.
Bangunan gudang terdapat di sebelah barat, barat laut, tenggara, dan selatan stasiun, 3 gudang berukuran tidak terlalu besar, terbuat dari dinding tembok tebal, berpintu kayu dorong berukuran lebar dan tebal, atapnya dari seng. Sedangkan 1 gudang berada di sebelah timur laut berjarak 100 m dari stasiun ukuran 21 m x 12 m, berdinding dari tembok tebal dengan atap genteng, pintu ukuran besar berada di sebelah timur dan barat, kondisi bangunan rusak parah dan berada di tengah pemukiman penduduk. Pemutar lokomotif (turn table) berada di sebelah timur stasiun berjarak kurang lebih 50 m, ukuran diameter 14 m dikeliling dinding plat besi baja. Pemutar ini masih berfungsi untuk memutar lokomotif, gerbong, atau kereta. Depo terletak lebih kurang 300 m dari stasiun memiliki ukuran 27,5 m x 24 m, memiliki 4 jalur rel dan gudang depo berada di sebelah selatan. Kini bangunan depo ini difungsikan sebagai tempat perawatan kereta lama yang masih berjalan, sekaligus tempat parkir lokomotif dan kereta lama. Di sebelah timur depo terdapat menara air berukuran 3 m x 4 m, tinggi 7 m, terbuat dari beton, ditopang tiang dari kayu. Empat rumah dinas berada di sebelah selatan depo, berjajar utara selatan, berjarak kurang lebih 60 m. Kini rumah-rumah tersebut ditempati oleh para mantan pegawai PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Situs Cagar Budaya Museum Kereta Api Ambarawa merupakan satu-satunya museum kereta api yang menyimpan koleksi berupa lokomotif tenaga uap beserta komponen-komponennya. Koleksi-koleksi yang tersimpan di museum ini semula digunakan sebagai alat transportasi mulai tahun 1878 hingga tahun 1964-an. Museum memiliki koleksi lokomotif yang digerakkan dengan bahan bakar kayu dan batu bara.
Beberapa diantara koleksi museum ini adalah lokomotif uap dengan nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen yang sampai sekarang masih dapat dioperasikan untuk melayani kereta api wisata walau usianya sudah 100 tahun lebih. Lokomotif-lokomotif tersebut berjenis lokomotif bergerigi yang dahulu digunakan untuk melewati jalur kereta api dengan tingkat kecuraman tinggi. Jenis lokomotif ini terbilang langka di dunia karena merupakan salah satu dari tiga lokomotif yang masih tersisa di dunia. Dua lainnya ada di Swiss dan India. Selain koleksi-koleksi unik tadi, masih dapat disaksikan berbagai macam jenis lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.