Gambar Rancangan Asli Lambang Negara Indonesia

No. Regnas CB CB.1352
SK Penetapan
No SK : 204/M/2016
Tanggal SK : 26 Agustus 2016
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Benda
Nama Cagar Budaya Gambar Rancangan Asli Lambang Negara Indonesia
Keberadaan Provinsi : Dki Jakarta
Kabupaten / Kota : Kota Adm. Jakarta Selatan

Sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada bulan Juni 1945 diselenggarakan rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Salah satu hasil rapat tersebut, Pancasila disepakati sebagai dasar negara pada 1 Juni 1945. Sehari setelah proklamasi tepatnya pada 18 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengadakan rapat. UUD 1945 dirumuskan sekaligus diresmikan dalam rapat tersebut. Dalam dua rapat tersebut, belum dibahas mengenai lambang negara.
Proses penciptaan lambang negara sendiri baru dapat dilakukan pada tahun 1949. Penciptaan lambang negara baru terpikirkan setelah adanya Bagian III Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949, pasal 3 ayat 3 yang mengatur tentang Lambang Negara (Agus Sachari : 2007). Setelah itu sekelompok panitia yang dipimpin oleh Muhammad Yamin dengan anggotanya antara lain adalah Ki Hajar Dewantara, M.A Pellaupessy, Moh. Natsir dan R.M Ng Purbatjaraka dibentuk untuk menampung saran yang masuk terkait lambang negara sebelum diserahkan kepada presiden. Presiden Soekarno juga memberikan perintah jika lambang negara gambarnya harus disesuaikan dengan dasar negara Pancasila.
Diadakan semacam sayembara untuk mencari usulan tentang lambang negara ini. Hasil akhir, ditentukan dua usulan yang berasal dari M. Yamin dan Sultan Hamid II. Usulan yang digambarkan oleh M. Yamin berupa kepala kerbau yang disertai dengan sinar matahari. Sedangkan Sultan Hamid II menggambarkan Garuda yang sedang mencengkeram sebuah perisai. Usulan dari Sultan Hamid II yang kemudian dipilih untuk menjadi lambang negara. Rancangan awal dari Sultan Hamid II pada awalnya adalah kepala dari burung yang digambar berbentuk manusia. Setelah mendapatkan masukan dari berbagai pihak, Sultan Hamid II merubah bentuk kepala burung tersebut.
Kemudian lambang negara ini dikenalkan kepada khalayak umum dan dipasang di ruang sidang parlemen RIS. Namun, lambang tersebut masih mendapatkan kritik dari berbagai pihak agar dapat diperbaiki. Sultan Hamid II sendiri masih memperbaiki rancangannya tersebut. Namun kemudian karena diduga terlibat gerakan APRA/Westerling, Sultan Hamid tidak dilibatkan kembali dalam perbaikan lambang negara. Perbaikan dilakukan sendiri oleh presiden Soekarno.
Selain sebagai Menteri Negara Republik Indonesia Serikat, saat perancangan LNI Sultan Hamid II adalah seorang sultan dari Kerajaan Sintang. Hubungan baik pada masa lampau antara Kerajaan Sintang dan Kerajaan Majapahit menjadi latar belakang Sultan Hamid II untuk memperhitungkan gambar garuda Kerajaan Sintang di Kalimantan Barat dengan gambar garuda yang banyak ditemukan di banyak bangunan candi di Pulau Jawa, yang menggambarkan legenda dari Darajuanti dengan Patih Lohgender. Pada bulan Februari 1950 Sultan Hamid II juga mengundang kepala suku-suku Dayak ke Hotel Des Indes di Jakarta untuk mendapatkan saran mereka pada sketsa LNI.
M. Yamin dan Sultan Hamid II mencoba untuk menginterpretasi keinginan para pemimpin pada saat itu. M. Yamin berniat untuk menggunakan simbol dari alam seperti banteng, air, matahari, dan pohon kelapa yang digabungkan ke dalam perisai.
Namun, Sultan Hamid II memiliki ide berbeda mengenai simbol yang benar yang dapat merefleksikan prinsip Pancasila. Ia merancang sketsa awal perisai yang dibagi menjadi lima bagian. Untuk membuat simbol berbeda dengan yang diajukan M. Yamin, ia membuat dua perisai di dalam dan di luar garis dengan menggunakan garis lebih tebal yang merefleksikan garis katulistiwa dan membagi perisai menjadi dua bagian.
Desain perisai yang diajukan oleh Ki Hadjar Dewantara diambil dari mitos Garuda. Rancangan ini kemudian ditolak oleh Komite Simbol Nasional Republik Indonesia Serikat pada 8 Februari 1950. M. Natsir menolak tangan garuda yang memegang bagian dasar perisai dimana hal itu terlalu mitologis dan feodal. Anggota lain dari komite, R. M. Ng. Poerbatjaraka juga menolak tujuh bulu pada ekor Garuda seperti yang diajukan oleh M. Yamin.
Setelah rancangannya ditolak oleh Komite Simbol Nasional Republik Indonesia Serikat, Sultan Hamid membuat inisiatif pribadi untuk membandingkan Garuda dengan simbol nasional negara asing seperti yang digunakan negara Timur Tengah yang menggunakan elang hitam dan Polandia yang juga menggunakan elang hitam selama ratusan tahun. Pada dasar perbandingan itu, Sultan Hamid II memutuskan untuk merubah figur burung dari mitos Garuda kepada figur elang hitam.
M. Yamin dan Sultan Hamid II kemudian memasukkan bersama rancangan simbol nasional kepada Perdana Menteri dari Republik Indonesia Serikat yaitu M. Hatta untuk disetujui oleh pemerintahan dan parlemen Republik Indonesia Serikat.
Presiden Soekarno meminta kepada Sultan Hamid II untuk merevisi bentuk kepala burung elang hitam karena kepala burung tidak mempunyai jambul dan terlihat “botak”. Setelah Sultan Hamid II menaruh jambul di kepala Garuda nya, Presiden Soekarno menginstruksikan kepada pelukis, Dullah untuk melukis burung garuda tersebut. Sultan Hamid II telah memotret gambar dalam potret hitam putih untuk dikoreksi oleh Presiden Soekarno. Namun, Presiden Soekarno tetap keberatan dengan bentuk cakar-cakarnya yang memegang seloka Bhineka Tunggal Ika dari belakang seloka tersebut.
Sultan Hamid II membuat sketsa lainnya untuk mengganti bentuk cakar-cakarnya. Bentuk cakar itu dianggap oleh Sultan Hamid II merupakan bagian terpenting dari simbol nasional dari Republik Indonesia Serikat karena hal tersebut termasuk ke dalam tiga konsep simbol, (1) Elang Hitam Garuda Pancasila, yang disarankan oleh masyarakat Indonesia yang akrab dengan legenda Garuda, (2) lingkaran perisai Pancasila, (3) Seloka Bhineka Tunggal Ika yang ditulis di permukaan pita putih.
Dalam merevisi bentuk Garuda Pancasila, terutama posisi cakar yang memegang seloka dari sisi depan, Sultan Hamid II kemudian berkonsultasi dengan Ruhl Jr, yang merupakan ahli simbol. Sketsa baru kemudian diberikan kepada Presiden Soekarno yang secara langsung mengeluarkan disposisi pada simbol ini sebagai simbol nasional pada tanggal 20 Maret 1950.
Dullah kemudian menggambar ulang Garuda Pancasila, merubah posisi cengkraman cakar. Simbol nasional yang disetujui kemudian disebarkan kepada seluruh bagian negara.
Setelah presiden Soekarno menerima lukisan terakhir yang dilukiskan dua kali oleh Dullah, ia memerintahkan Sultan Hamid II sebagai Koordinator Komite Simbol Nasional Republik Indonesia Serikat sebagai pencipta Garuda Pancasila untuk membuat revisi lebih jauh pada skala pengukuran, bentuk, corak warna dan tulisan yang tepat. Sketsa final dimasukkan dalam Peraturan Pemerintah No.66 tahun 1951 pada tanggal 17 Oktober 1951.
Setelah Republik Indonesia mengimplementasikan Undang-Undang Dasar 1945 berdasarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Garuda Pancasila diabadikan pada Undang-Undang Dasar 1945 oleh kebijakan Amandemen Kedua pada Undang-Undang Dasar 1945 pada tahun 2000.

Gambar Rancangan Asli Lambang Negara Indonesia (LNI) merupakan sketsa rancangan Sultan Hamid II beserta surat disposisi Bung Karno yang tercantum di dalamnya.
Gambar Rancangan Asli Lambang Negara Indonesia
Lambang negara ini berupa kertas gambar sketsa yang dibuat dengan menggunakan pensil dengan objek (LNI) berupa burung garuda yang kepalanya menoleh lurus ke arah kanan, dengan perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher garuda, serta terdapat semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” tertulis di atas pita yang dicengkeram oleh garuda. Burung garuda tersebut memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang mewujudkan lambang tenaga pembangunan. Jumlah masing-masingnya yaitu memiliki sayap yang masing-masing berbulu 17, ekor berbulu 8, pangkal ekor berbulu 19, dan leher berbulu 45. Kedua cakar garuda yeng terdapat pada pita mencengkeram dari depan pita.
Pada bagian tengah perisai LNI ini terdapat sebuah garis hitam tebal yang melukiskan khatulistiwa dan lima ruang (panil) yang mewujudkan dasar Pancasila, yaitu:
a. dasar Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan cahaya di bagian tengah perisai berbentuk bintang yang bersudut lima;
b. dasar Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dilambangkan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kiri bawah perisai;
c. dasar Persatuan Indonesia dilambangkan dengan pohon beringin di bagian kiri atas perisai;
d. dasar Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dilambangkan dengan kepala banteng di bagian kanan atas perisai; dan
e. dasar Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan atas perisai.
Pada bagian kanan atas LNI terdapat sebuah tulisan yang diketik di permukaan secarik kertas yang ditempelkan. Secarik kertas tersebut bertuliskan:
(baris ke-1) Surat disposisi Bung Karno
(baris ke-2) kepada Sultan Hamid II
(baris ke-3) selaku Menteri Negara R.I.S.
(baris ke-4) yang diberi tugas:
(baris ke-5) merencanakan Lambang Negara
(baris ke-6) konsep mana kemudian disyah-
(baris ke-7) kan/disetujui oleh pemerin-
(baris ke-8) tah (kabinet & parlemen)
(baris ke-9) sebagaimana konsep aslinya
Sedangkan pada bagian kiri bawah terdapat tulisan yang sepertinya ditulis dengan pena bertuliskan:
(baris ke-1) J.M Sultan Hamid
(baris ke-2) Menteri Negara,
(baris ke-3) Menurut pendapat saja,
(baris ke-4) lukisan Rühl ini membuat
(baris ke-5) lambang-Negara kita lebih kuat
(baris ke-6) ... itu saja tetapkan bahwa ontwerp (?) ...
(baris ke-7) ... jang harus dipakai.
(baris ke-8) Lebih baik kita rugi beberapa ribu rupiah dari
(baris ke-9) pada mempunjai lambang-Negara jang kurang
(baris ke-10) sempurna. Saja harap J.M. mengambil tindakan
(baris ke-11) ..., ... kehendak saja ini. Merdeka ! ...
Foto LNI
Lambang negara ini berupa kertas foto dengan objek (LNI) berupa burung garuda yang kepalanya menoleh lurus ke arah kanan, dengan perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher garuda, serta terdapat semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” tertulis di atas pita yang dicengkeram oleh garuda. Burung garuda tersebut memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang mewujudkan lambang tenaga pembangunan. Jumlah masing-masingnya yaitu memiliki sayap yang masing-masing berbulu 17, ekor berbulu 8, pangkal ekor berbulu 19, dan leher berbulu 45. Kedua cakar garuda yeng terdapat pada pita mencengkeram dari belakang pita.
Pada bagian tengah perisai foto LNI ini terdapat sebuah garis hitam tebal yang melukiskan khatulistiwa dan lima ruang (panil) yang mewujudkan dasar Pancasila, yaitu:
a. dasar Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan cahaya di bagian tengah perisai berbentuk bintang yang bersudut lima;
b. dasar Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dilambangkan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kiri bawah perisai;
c. dasar Persatuan Indonesia dilambangkan dengan pohon beringin di bagian kiri atas perisai;
d. dasar Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dilambangkan dengan kepala banteng di bagian kanan atas perisai; dan
e. dasar Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan atas perisai.

Surat Sultan Hamid kepada Masagung
Pada surat ini terdapat 11 baris di atas permukaan kertas yang sepertinya sejenis dengan yang digunakan untuk membuat sketsa LNI. Surat ditulis menggunakan pena dan terdapat tulisan (sepertinya dicetak oleh mesin ketik) pada bagian tengah dan bawah kertas. Tulisan pada surat antara lain:
(baris ke-1) Masagung yg saya hormati,
(baris ke-2) Mudah2an sumbangan pertama saya ini bermanfaat
(baris ke-3) bagi negara kita yang dicintai oleh kita. –
(baris ke-4) Hamid. –
(baris ke-5) 18/7-’74. –
(baris ke-6) Selanjutnya saya persilahkan Sdr. untuk datang kerumah saya untuk pilih buku2
(baris ke-7) saya yang Sdr. anggap penting bagi Idayu.
(baris ke-8) -paraf-
(baris ke-9) R.T.C. (tulisan mesin ketik)
(baris ke-10) Sdr. Masagung! Apakah file (?) mengenai Lambang Negara kita juga dihargai?
(baris ke-11) Jika “ja”, harap diterima!
(baris ke-12) EEN FOTOGRAFISCH OVERZICHT VAN DERONDE TAFEL CONFERENTIE (tulisan mesin ketik)
(baris ke-13) SAMENGESTELD (tulisan mesin ketik)
(baris ke-14) DOOR DE REGERINGSVOORLICHTINGSDIENST (tulisan mesin ketik)
(baris ke-15) ‘S-GRAVENHAGE 1949 (tulisan mesin ketik)

Peta Tidak Tersedia