Masjid Kauman Semarang

No. Regnas CB CB.1389
SK Penetapan
No SK : 646/50/1992
Tanggal SK : 4 Febuari 1992
Tingkat SK : Walikota
Peringkat Cagar Budaya -
Jenis Cagar Budaya Bangunan
Nama Cagar Budaya Masjid Kauman Semarang
Keberadaan Provinsi : Jawa Tengah
Kabupaten / Kota : Kota Semarang

Masjid Kauman didirikan pada awal abad ke-16. Pendiri masjid itu adalah Kiyai Ageng Pandanaran. Masjid ini sudah mengalami tiga kali perpindahan lokasi. Awal berdirinya masjid ini berada di Kelurahan Mugas, namun karena lokasi yang kurang strategis oleh Bupati Semarang pada saat itu (Adipati Surohadin Menggolo) maka dipindahkan di daerah Bubahan yang dianggap lebih strategis pada tahun 1751. Pada masa pemimpin Jenderal Van Haagtin terjadi pertempuran kongsi china dengan VOC sehingga Masjid Semarang di Bubahan ikut terbakar. Kemudian dibangun kembali di daerah Kauman namun sedikit lebih keutara, akan tetapi masjid tersebut tidak bertahan lama karena terbakar karena tersambar petir. Akhirnya pembangunan selanjutnya bergeser di lokasi ini hingga sekarang.
Arti Penting:
Masjid Kauman Semarang sebagai salah satu masjid tertua di Kota Semarang.

Masjid Kauman Semarang terletak di koridor kauman yang berada di pusat kota (Aloon-Aloon) dan berdekatan dengan pusat pemerintahan (kanjengan) dan penjara. Komplek masjid dibatasi oleh pagart tembok dan pagar besi. Pintu masuk utama berupa gerbang masuk gapura (tepatnya di Jalan Alun-alun Barat) dan pada samping (tepatnya pada Jalan Kauman) terdapat pintu gapuro yang lebih kecil. Pengaruh walisongo pada masa perkembangan Islam di tanah Jawa yang begitu kuat, memengaruhi ciri arsitektur Masjid Kauman Semarang. Ini semua bisa dilihat dari atap Masjid yang berbentuk tajuk tumpang tiga. Arsitektur ini juga mirip dengan Masjid Agung Demak yang dibangun pada masa kesultanan Demak. Atap tingkat tiga merupakan representasi dari makna filosofi Iman, Islam dan Ikhsan.
Berbeda dengan Masjid Agung Demak, Masjid Kauman Semarang dibungkus dengan bahan seng bergelombang, pada waktu itu merupaan bahan yang langka dan secara khusus harus didatangkan dari Belanda. Masjid Kauman Semarang memiliki ciri arsitektur Jawa yang khas, dengan bentuk atapmnya menyiratkan bangunan gaya Majapahit. Bagian tajuk paling bawah menaungi ruangan ibadah. Tajuk kedua lebih kecil, sedangkan tajuk tertinggi berbentuk limasan. Semua tajuk ditopang dengan balok-balok kayu berstruktur modern. Hal yang membedakan lagi, bangunan utama Masjid Demak disangga empat soko guru, sedang atap Masjid Kauman Semarang ditopang 36 soko (pilar) yang kokoh. Bentuk atap limasan yang diberi hiasan mustaka, sementara pintunya berbentuk rangkaian daun waru, melambangkan arsitektur Persia atau Arab.