Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Surabaya

No. Regnas CB CB.1489
SK Penetapan
No SK : 188.45/251/402.1.04/1996
Tanggal SK : 26 September 1996
Tingkat SK : Walikota
No SK : 370/M/2017
Tanggal SK : 29 Desember 2017
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Bangunan
Nama Cagar Budaya Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Surabaya
Keberadaan Provinsi : Jawa Timur
Kabupaten / Kota : Kota Surabaya

Bangunan Cagar Budaya Gedung Nasional Indonesia (GNI) didirikan atas prakarsa dari pendiri Boedi Oetomo, dr. Soetomo. Dana pembangunannya diberikan secara gotong royong oleh tokoh-tokoh perintis kemerdekaan lain seperti R. Sundjoto, R.M.H. Sujono, R.P. Sunario Gondokusumo, dan Achmad Dais, serta dana dari masyarakat. Gedung ini didirikan dengan tujuan untuk tempat pertemuan para tokoh perintis kemerdekaan dalam menyusun taktik dan strategi dalam mencapai kemerdekaan Indonesia.
Pembangunan gedung mulai dilakukan pada 11 Juli 1930. Peletakan soko guru pendopo dilakukan oleh dr. Soetomo bertepatan dengan HUT ke-6 Indonesische Studie Club. Sementara itu, peletakan batu pertama dilakukan dua hari kemudian pada 13 Juli 1930. Dr. Soetomo juga menjabat sebagai ketua pengurus Gedung Nasional Indonesia. Menurut Akte Notaris H.W. Hazenburg tanggal 21 Juni 1930 No. 101 dalam mengurus gedung ini, dr. Soetomo dibantu oleh beberapa orang, yaitu R.P. Sunario Gondokusumo (Sekretaris), R.M.H. Sujono (Bendahara), R. Sunjoto, dan Achmad Dais (Komisaris). Pengurus gedung ini memulai tugas sejak 21 Juni 1930 hingga 30 Mei 1938.
Pada 1-3 Januari 1932 Bangunan Cagar Budaya Gedung Nasional Indonesia (GNI) pernah digunakan sebagai tempat Kongres Indonesia Raya. Dalam kongres ini, Soekarno yang saat itu baru keluar dari penjara Sukamiskin Bandung berpidato. Begitu juga dengan dr. Soetomo. Pada 30 Mei 1938, dr. Soetomo meninggal dunia. Jasadnya kemudian dikebumikan di lingkungan GNI.
Peristiwa lain yang pernah terjadi di gedung ini adalah pembentukan Komite Nasional Indonesia (KNI) Surabaya. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Angkatan Muda di Surabaya mempelopori rapat pembentukan KNI Surabaya. Rapat dimulai pada 25 Agustus 1945 dan selesai pada 27 Agustus 1945.
Gedung ini juga menjadi saksi pembentukan Barisan Keamanan Rakyat (BKR) Surabaya. Rapat awal pembentukan BKR diselenggarakan di Gedung Bekas Pembantu Prajurit (PBB) di Kaliasin pada 2 September. Rapat penyempurnaan BKR lalu diadakan di Gedung Nasional Indonesia pada 4 September 1945. Dalam perjalananannya, GNI juga pernah dijadikan Markas BKR Surabaya.
September 1945, Pemuda Putri Indonesia juga pernah mengadakan rapat di GNI. Selain itu, pada akhir September 1945, Penerbang Angkatan Laut Surabaya (PALS) juga dibentuk dan diresmikan di GNI. 10 November 1945, Pertempuran Surabaya meletus. di GNI juga sempat terjadi peristiwa tembak menembak antara beberapa orang yang ditugaskan menjaga GNI dengan rombongan tentara NICA.

Letak Bangunan Cagar Budaya Gedung Nasional Indonesia (GNI) tidak jauh dari cagar budaya lain yaitu Tugu Pahlawan. Bagian depan gedung terdapat patung pendiri Boedi Oetomo, dr. Soetomo. Patung ini berdiri di atas sebuah tugu yang cukup tinggi, sehingga tampak dari luar lingkungan gedung. Di bawah patung tersebut, terdapat sebuah prasasti yang berisi salah satu perkataan dr. Soetomo “Senantiasa berjuang kemuka jurusan kita, dengan tiada memperdulikan sendirian dan cela, bahkan tiada menyesali kehilangan dan keluarganya yang harus menderita dari barang-barang yang menyenangkan hidup kita sendiri.”