Kawasan Cagar Budaya Permukiman, Pemandian, dan Pemakaman Tradisional Megalitik Bawomataluo

No. Regnas CB CB.1483
SK Penetapan
No SK : 186/M/2017
Tanggal SK : 6 Juli 2017
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Kawasan
Nama Cagar Budaya Kawasan Cagar Budaya Permukiman, Pemandian, dan Pemakaman Tradisional Megalitik Bawomataluo
Keberadaan Provinsi : Sumatera Utara
Kabupaten / Kota : Kabupaten Nias Selatan

Sejarah berdirinya desa Bawõmataluo tidak bisa dipisahkan dari sejarah berdirinya desa Orahili Fau sebagai cikal bakal desa Bawõmataluo. Menurut catatan sejarah yang ditulis oleh Rappard, TH.C. Controleur B.B., Het eiland Nias en zijne bewoners, 1908, S’Gravenhage, hal. 615-617, pada tahun 1855 desa Orahili Fau di abad XVII telah melakukan perlawanan dan penyerangan hebat terhadap tentara Kolonial Belanda yang hendak menguasai wilayahnya. Tercatat ada tiga kali peperangan, dan di setiap peperangan desa Orahili Fau selalu berhasil memukul mundur tentara Belanda dan merampas persenjataan dan harta benda mereka. Baru pada serangan tentara Belanda yang ke-4 dengan didukung 600 orang serdadu, 27 orang perwira dan 4 unit meriam di bawah komando Mayor H.J. Fritzen pada awal Juni tahun 1863 berhasil menaklukan desa Orahili Fau. Wilayah desa itu dibumihanguskan.
Atas kekalahan tersebut di bawah pimpinan Owatua dan anak-anak (Lahelu’u, Bofõna, Fõna Oli’õ, Tuha Geho) beserta cucu-cucunya penduduk desa Orahili Fau lari menyelamatkan diri ke daerah Mazinõ. Tidak lama mereka tinggal di daerah Mazinõ. Pada tahun 1886 mereka pindah ke daerah bernama Barujõ Sifaedo antara desa Hili Nawalõ Fau dan Hili Nawalõ Mazinõ. Mereka tinggal selama lima tahun. Karena kesulitan mendapatkan sumber air bersih, jauh dari laut dan dikelilingi oleh jurang terjal, maka pada tahun 1871 mereka kembali pindah, kali ini ke bukit Fanayama (sekarang tepat berada di belakang Puskesmas Bawõmataluo) selama tiga tahun. Pada tahun 1873, atas saran dari Ere (Imam Besar adat) diajurkan permukiman di bukit pindah ke bukit Hili Soroma Luo yang sekarang dikenal dengan desa Bawõmataluo. Mulai pada saat itu keempat bersaudara anak Owatua (Lahelu’u, Bofona, Fona Oli’õ dan Tuha Geho) mulai membangun dan menata Hili Soroma Luo (Desa Bawõmataluo). Sampai saat ini keturunan dari keempat bersaudara anak Owatua itulah yang menjadi pewaris tahta Si’ulu (bangsawan) di desa Bawõmataluo
Masuknya pengaruh asing dalam budaya Nias diperlihatkan antara lain oleh karya ukir dinding yang meniru budaya material bangsa Eropa seperti bentuk-bentuk kapal, perhiasan, senjata, atau peti-peti harta yang ditempatkan dalam rumah atau sekitar rumah sebagai hiasan. Pengaruh ini diperkirakan masuk sekitar abad XVII-XIX. Pengaruh budaya agama Hindu, Budha, atau Islam umumnya tidak dikenal di lingkungan desa Bawömataluo.
Sampai sekitar tahun 1950-an tradisi megalitik di Pulau Nias masih dapat dikatakan bertahan. Hal itu dibuktikan dengan tetap didirikannya bangunan megalitik (owasa) untuk digunakan dalam aktivitas ritus besar yang dilakukan kelompok masyarakat, meski dengan ukuran bangunan yang relatif kecil.

Kawasan permukiman; pemandian; dan pemakaman Tradisional Megalitik Bawomataluo merupakan perkampungan tradisional yang menempati perbukitan “bukit matahari” pada ketinggian sekitar 270 meter di atas pemukaan air laut. Letaknya 4 km dari jalan raya antara pantai Sorake dan Teluk Dalam.
Bangunan-bangunan tradisional Bawömataluwo ditata memanjang mengikuti punggung bukit mengarah ke timurlaut-baratdaya, sebagian lagi mengarah ke baratlaut-tenggara memperlihatkan pola linier. Setiap rumah dibangun berhadapan dengan rumah lain. Halaman depan yang lebar berfungsi sebagai jalan desa yang ujungnya berupa tangga. Secara keseluruhan jalan ini membentuk halaman luas tempat di mana upacara-upacara adat yang melibatkan warga desa berlangsung. Halaman luas ini tersusun dari lempengan batu yang sambung menyambung. Meja batu daro-daro, pilar batu, atau tempat duduk batu ditempatkan sepanjang jalan, tepat di muka rumah penduduk. Batu-batu ini menjadi peringatan atas anggota keluarga yang meninggal. Pemilihan lokasi hunian di atas bukit erat hubungannya dengan upaya mempertahankan desa dari serangan musih di masa lalu seperti halnya desa-desa lain di wilayah Nias Selatan. Di sekeliling daerah hunian masih ditemukan sisa-sisa benteng tanah oli mbanua yang dibangun untuk maksud tersebut.
Terdapat empat jalan masuk menuju ke daerah hunian Bawömataluo masing-masing terletak di sisi sebelah tenggara, baratdaya, baratlaut, dan timur laut berupa tangga batu cukup terjal. Jalan masuk di sisi baratlaut disebut Bawagõli merupakan pintu utama yang dihiasi arca-arca lasara berbentuk naga terbuat dari batu dan meja batu daro-daro. Hiasan semacam ini tidak ditemukan pada ketiga pintu masuk lainnya.
Bangunan terbesar di desa Bawömataluo disebut omo sebua sebagai tempat tinggal keluarga raja yang menjadi pusat kegiatan masyarakat. Lokasinya di tengah desa tempat berkumpulnya benda-benda berukuran besar terbuat dari batu. Halaman di muka omo sebua menjadi tempat penting diselenggarakannya upacara-upacara adat yang masih berlangsung hingga hari ini. Seluruhnya terdapat lebih kurang 116 bangunan tradisional berusia ratusan tahun yang masih berdiri hingga sekarang meskipun mengalami perubahan-perubahan karena masih dipergunakan sebagai tempat tinggal hingga sekarang. Ukuran dan gaya arsitektur omo sebua dan omo hada dibedakan berdasarkan status sosial warga yang menganut siitem patriarhad.
Desa Bawömataluo adalah desa induk dari konfederasi 11 desa yang terletak di bawah bukit pada posisi mata angin. Dalam upacara-upacara besar desa ini masih menjadi pusat berkumpulnya 11 warga desa lain yang berada di bawah naungan adat. Setiap desa waib memenuhi empat syarat dalam aturan adat, yaitu:
a. Ulu Idanogo ba Hele Gamondia (Pancuran atau Air bersih).
b. Laza ba Kabu (Lahan Pertanian Subur)
c. Sameasu ba Tuka Nomo(Tukang Berburu danTukang Rumah)
d. Samago Tefao ba Tuka Gana’a (Tukang Besi dan Logam)

Sebuah bangunan kayu berdenah lonjong dekat omo sebua berfungsi sebagai balai adat tempat diselenggarakannya rapat-rapat adat memutuskan persoalan warga dalam waktu-waktu tertentu. Beberapa batu berukuran cukup besar ditempatkan di bangunan ini sebagai tempat duduk pimpinan adat memperlihatkan pengaruh tradisi megalitik yang masih hidup di dalam sistem kebudayaan penduduk Nias Selatan.
Batu-batu berukuran besar di lingkungan desa umumnya dibuat untuk memperingati peristiwa penting di masa lalu atau sebagai simbol jalinan hubungan penduduk dengan nenek moyang mereka. Batu-batu seperti ini masih dibuat hingga saat ini, memperlihatkan kesinambungan tradisi yang tidak putus selama ratusan tahun. Bentuknya berupa menhir, meja batu, atau tugu beragam bentuk dan ukuran. Susunan batu berbentuk trapesium setinggi 2 meter lebih ditempatkan di tengah desa tempat berlangsungnya tradisi lompat batu yang menjadi salah satu ujian bagi calon prajurit desa. Masyarakat menyebutnya hombo batu.
Pada umumnya sebuah desa di Nias Selatan, yaitu Banua yang bermakna dunia atau ruang, dibangun secara terencana. Desa dibangun berdasarkan menggunakan batu husö newari yang berlokasi di tengah-tengah desa sebagai tanda pusat. Dari titik pusat ini kemudian ditarik garis lurus di kanan-kirinya sebagai acuan untuk membentuk garis sumbu lorong panjang disebut iri newali, lorong ini menjadi pelataran dari deretan rumah adat yang penempatannya saling berhadapan. Seluruh pelataran tersebut dipekuat dengan hamparan batu unuk menyelenggarakan berbagai upacara sekaligus sebagai tempat berkumpulnya warga desa dalam keseharian mereka.
Rumah-rumah tradisional Bawömataluo (omo hada) umumnya berukuran besar, seluruhnya terbuat dari kayu dengan atap berbentuk pelana yang meninggi. Setiap rumah memiliki bagian kolong yang dengan tangga naik tunggal menuju ke dalam rumah ditempatkan di bagian samping atau tengah. Hanya terdapat satu ruangan berukuran cukup besar untuk seluruh anggota keluarga. Aktivitas memasak, makan, tidur, dan bekerja di lakukan di ruangan ini, termasuk menyimpan semua barang yang menjadi kebutuhkan keluarga maupun warisan nenk moyang. Pertumbuhan penduduk yang cepat dan terbatasnya ruangan tempat tinggal menyebabkan bagian kolong rumah kini banyak difungsikan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai kamar-kamar tambahan. Namun demikian tiang kayu penyangga bangunan yang mengkombinasikan antara tiang tegak dengan miring tetap dipertahankan. Struktur tiang khas ini menjadi ciri arsitektur budaya Nias yang terbentuk oleh pengalaman beberapa generasi dalam menghadapi gempa bumi yang sering terjadi.
Pembagian struktur omo hada menjadi tiga bagian yaitu kolong, ruang besar, dan atap secara keseluruhan menerapkan konsep makrokosmos dan mikrokosmos dalam sistem kepercayaan lokal. Bagian kolong dihubungkan dengan kehidupan dunia bawah yang dipengaruhi roh-roh jahat, ruangan tempat tinggal dihubungkan dengan dunia tengah sebagai dunia kehidupan manusia, dan loteng di bawah atap dihubungkan dengan dunia atas tempat tinggal arwah-arwah leluhur.
Di luar daerah hunian terdapat pemandian raja yang terbuat dari batu, sarkopagus keluarga bangsawan yang terbuat dari kayu, dan pemakaman umum sebagai kesatuan permukiman desa Bawömataluo.