Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung

No. Regnas CB CB.1482
SK Penetapan
No SK : 186/M/2017
Tanggal SK : 6 Juli 2017
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Kawasan
Nama Cagar Budaya Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung
Keberadaan Provinsi : Sumatera Barat
Kabupaten / Kota : Kabupaten Sijunjung

Menurut sumber-sumber tradisi pembentukan awal konsep nagari mulai dikenal pada abad ke XIV. Sistem nagari terbentuk karena terpenuhinya syarat menurut adat, yaitu bataratak (menetap), badusun (sudah berkumpul), bakoto (kumpulan beberapa dusun) dan banagari.
Pembentukannya diawali dengan perumusan beberapa tokoh yang berkumpul di Batang Kandih sekitar abad ke XIV. Menurut legenda, dalam perjalanan rapat mereka melihat salah satu anak gadis tercebur ke lumpur dan tidak ada yang dapat mengangkat, sehingga harus menggunakan kemampuan spiritual dengan menggunakan tongkat ”di-junjuang”. Dari peristiwa tersebut muncul ide penamaan nagari ”Si Puti Junjuang”, namun karena pelafalan masyarakat akhirnya diberi nama Sijunjung. Perkampungan ini diperkirakan mulai ada sejak masa Kerajaan Pagaruyung (abad XVI) yang memperlihatkan bentuk pola pemukiman Minangkabau.
Semua rumah gadang yang diduga pemukiman awal berada di pinggir jalan. Di perkampungan ini terdapat beberapa suku yang dibagi menjadi dua yaitu suku induk dan anak suku yang berjumlah 9. Rumah gadang berfungsi sebagai simbol untuk menjaga dan mempertahankan sistem budaya matrilineal sekaligus penanda perkauman dalam kekerabatan. Rumah gadang juga merupakan simbol ekologis yang terlihat dari tata pekarangan serta jenis tanaman yang ditanam.
Keistimewaan:
1. konsepsi harmonisasi dan toleransi keselarasan Koto Piliang dan Bodi Chaniago;
2. menerapkan syarat-syarat fisik sebuah nagari (banagari – sistem pemerintahan tradisonal berbasis himpunan desa); dan
3. Pola penataan permukiman linear yang mengikuti aliran sungai dan jalan.

Satuan ruang geografis Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato di wilayah Nagari Sijunjung merupakan representasi perkampungan masyarakat matrilineal Minangkabau dari kelarasan Koto Piliang (aristokrasi) dan Bodi Chaniago (demokrasi) yang hidup berdampingan.
Di perkampungan ini terdapat sekumpulan rumah gadang sebagai simbol kaum (clan) berbasis matrilineal yang masih berfungsi dan yang tertata rapi dalam satu kawasan. Sistem matrilineal ini tercerminkan dalam aktivitas musyawarah yang dilakukan oleh masyarakat. Dalam musyawarah tersebut pengambilan keputusan dilakukan oleh pihak perempuan.
Perkampungan ini dihuni oleh 9 suku utama yaitu Chaniago, Piliang, Malayu, Tobo, Bodi, Panai, Patopang, Bendang, dan Malayu Tak Timbago. Aktivitas-aktivitas budaya seperti batoboh (kegiatan ekonomi dalam hal menggarap pertanian), bakaua (syukuran atas limpahan hasil panen) masih dipraktekan bersama oleh kesembilan suku tersebut. Termasuk tradisi mambantai adaik (menyembelih kerbau dan makan bersama yang dilakukan saat memasuki puasa dan setelah puasa) yang secara turun temurun dilakukan di lokasi yang tetap.
Pada kawasan seluas 157,1 hektare ini terdapat 76 rumah gadang sebagai himpunan terbanyak dalam satu lokasi di wilayah Sumatera Barat. Penempatan rumah-rumah gadang itu ditata sesuai tradisi permukiman lama khas budaya Minangkabau. Fungsi utama dari rumah gadang adalah sebagai simbol kekerabatan kaum sebagai media untuk mewariskan nilai-nilai adat Minangkabau, sesuai falsafah Alam Takambang Jadi Guru (alam sebagai guru) yang dianut turun-temurun.
Keseluruhan rumah gadang di Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato terbuat dari kayu dengan gaya dan ukuran yang beragam, terkumpul di tempat yang sama. Bentuk dasarnya berupa persegi empat panjang dengan empat atau lima ruang di dalamnya. Konstruksi bangunan dibuat yang mengembang ke atas, diakhiri dengan atap gonjong berbentuk pelana melengkung dan meninggi. Terdapat rumah gadang yang memiliki 2 gonjong hingga 8 gonjong. Jumlah anjuang, yaitu bagian bangunan yang lantainya ditinggikan, umumnya hanya dijumpai pada salah satu sisi saja. Pintu masuk ke dalam rumah sering diberi tambahan baru berupa teras dengan anak tangga terbuat dari susunan bata.
Beberapa rumah gadang memiliki ukiran dekoratif seperti corak buah palo patah, kuciang lalok jo saik galamai, aka duo gagang, atau kaluak paku kacang balimbiang. Terdapat hal yang berbeda pada rumah gadang di kawasan ini karena tidak satu pun yang memiliki rangkiang, yaitu lumbung padi berupa bangunan kecil yang di tempatkan di halaman depan rumah.