Arca Garuda Wisnu No. Inv. 1256/BTA/MJK/24/PIM Koleksi Pengelola Informasi Majapahit

No. Regnas CB CB.1485
SK Penetapan
No SK : 188/247/KPTS/013/2014
Tanggal SK : 10 April 2014
Tingkat SK : Gubernur
No SK : 368/M/2017
Tanggal SK : 29 Desember 2017
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Benda
Nama Cagar Budaya Arca Garuda Wisnu No. Inv. 1256/BTA/MJK/24/PIM Koleksi Pengelola Informasi Majapahit
Keberadaan Provinsi : Jawa Timur
Kabupaten / Kota : Kota Mojokerto

Benda Cagar Budaya Arca Garuda Wisnu Nomor Inventaris 1256/BTA/MJK/24/PIM pertama kali dilaporkan oleh Van Hoevell pada tahun 1847. Ia menyebutkan bahwa di Trawas, Jawa Timur, ditemukan arca pancuran yang sangat besar. Arca tersebut menurut Van Hoevell kemungkinan berasal dari Petirtaan Jalatunda. Pernyataan ini kemudian dibantah oleh R.D.M Verbeek karena berdasarkan catatan yang ditinggalkan oleh Wardenaar, Arca Garuda berasal dari Petirtaan Belahan.
Pada tahun 1907 Knebel membuat daftar arca-arca yang berasal dari Trawas. Dalam daftar juga disebutkan Arca Wisnu yang menunggang Garuda. Catatan itu menguraikan bahwa Arca Garuda Wisnu dalam keadaan yang sangat rusak dan terkubur sampai pertengahan tubuh Garuda.
Tahun 1909 Rouffaer melaporkan bahwa Arca Garuda Wisnu sudah tidak berada di Trawas. Pada tahun 1914 diberitakan bahwa di Trawas terdapat arca Dewa Wisnu dalam posisi duduk di atas Garuda selanjutnya pada tahun yang sama arca tersebut dipindah ke Gedung Arca Mojokerto dengan Nomor Registrasi 405.
Pada masa pasca kemerdekaan Republik Indonesia, Arca Garuda Wisnu ini menjadi salah satu sumber inspirasi penciptaan Lambang Negara Indonesia Garuda Pancasila. Berawal pada tanggal 16 November 1945 dibentuk Panitia Indonesia Raya yang diketuai oleh Muhammad Yamin dan sekretaris Ki Hajar Dewantara. Panitia ini bertugas menyelidiki arti lambang-lambang dalam peradaban Bangsa Indonesia sebagai langkah awal untuk mempersiapkan bahan kajian tentang lambang negara. Dalam melakukan pendataan, panitia mengumpulkan gambar-gambar figur garuda yang terdapat pada kepurbakalaan Hindu-Buddha di Pulau Jawa, salah satunya adalah Arca Garuda Wisnu yang ditemukan di Trawas tersebut.

Benda Cagar Budaya Arca Garuda Wisnu Nomor Inventaris 1256/BTA/MJK/24/PIM Koleksi Pengelola Informasi Majapahit berbahan batu tufa warna merah, dilukiskan sebagai penggambaran Dewa Wisnu dan Garuda sebagai wahananya. Dewa Wisnu digambarkan dalam posisi duduk di atas padmasana yang ditempatkan di atas Garuda. Arca memiliki empat tangan, dua tangan diletakkan di atas pangkuan atau disebut juga dengan dhyanamudra, tangan kanan belakang memegang cakra dan tangan kiri belakang memegang sangka berbentuk siput bersayap. Cakra berbentuk bulat dengan lidah api dipegang menggunakan dua ujung jari.
Sikap duduknya kaki kanan tergantung (pralambha), sedangkan kaki kiri dalam sikap bersila. Tempat duduk berupa bantalan padma (padmasana), memakai perhiasan berupa mahkota (kirita mahkuta), kalung (hara), hiasan telinga (kundala), selempang bahu (upawita), ikat pinggang (udarabandha), gelang lengan (keyura) serta gelang tangan dan kaki (kankana). Dewa Wisnu diceritakan memakai celana panjang yang tipis dengan selendang yang membelit di pinggangnya terdapat juga sampur yang dilepas di kanan dan kirinya.
Praba-nya seolah ganda yaitu praba yang kecil berpangkal di bahu, sedangkan yang besar berpangkal di asana. Di samping tempat duduk Arca Wisnu terdapat relief bermotif dedaunan. Ukuran tinggi Arca Wisnu keseluruhan dari padmasana ke mahkota 81,8 cm, tinggi figur Garuda 101,8 cm, dan lebar 30,2 cm.
Figur Garuda digambarkan berbadan manusia pada bagian bawah, berkepala burung, dan dalam bentuk yang dinamis. Wahana Dewa Wisnu tersebut bertangan dua seperti manusia, tangan kanan patah, tangan kiri memegang kendi tempat air dipancurkan keluar dari lubang yang masih terlihat. Kaki kanan dalam sikap jongkok sedangkan kaki kiri dilipat. Kaki Garuda mencengkeram seekor ular dan di belakang kaki terdapat taji. Badan seperti manusia, perut agak gendut, kepala menghadap ke kanan, rambut keriting, mata melotot, paruh terbuka, sayap dibentangkan. Di antara dua mata dilukiskan sebuah permata, berjamang, hiasan telinga (kundala), gelang lengan (keyura), gelang tangan (kankana), memakai kalung (hara), selempang bahu (upawita), ikat pinggang (udarabandha), dan memakai cawat berhias daun-daun.

Peta Tidak Tersedia