Benteng Oranje

No. Regnas CB CB.1566
SK Penetapan
No SK : 322/M/2018
Tanggal SK : 8 November 2018
Tingkat SK : Menteri
Peringkat Cagar Budaya Nasional
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya Benteng Oranje
Keberadaan Provinsi : Maluku Utara
Kabupaten / Kota : Kota Ternate

Maluku Utara merupakan satu di antara wilayah di Indonesia yang mempunyai sejarah panjang yang erat kaitannya dengan kedatangan bangsa Barat. Wilayah ini dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah seperti cengkeh yang menjadi komoditi berharga saat itu. Salah satu wilayah di Maluku Utara yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah khususnya cengkeh adalah Pulau Ternate dan Tidore. Hal ini membuat menarik minat bangsa Barat untuk datang ke wilayah ini. Portugis dan Spanyol adalah dua bangsa awal yang datang ke Maluku. Pada awalnya, bangsa Barat hanya menjadi pembeli yang datang langsung untuk mencari rempah-rempah. Namun, kemudian dengan didorong oleh gerakan 3G (Gold, Glory, dan Gospel) bangsa Barat secara perlahan mulai menguasai wilayah Ternate dan Tidore. Spanyol, Portugis, dan VOC sempat memperebutkan wilayah ini dengan bekerjasama dengan dua kerajaan besar di Ternate dan Tidore. Banyak benteng-benteng yang dibangun oleh Portugis, Spanyol, dan VOC untuk melancarkan tujuan mereka.
Pada tahun 1599 dua kapal Belanda di bawah pimpinan Wijbrand van Warwijck tiba di Ternate. Pada tahun 1605 VOC berhasil mengusir bangsa Portugis dari Ternate, tetapi setahun kemudian Ternate direbut oleh bangsa Spanyol. Pada tahun 1607 seorang Laksamana VOC bernama Cornelis Matelieff de Jonge membantu Sultan Ternate untuk mengusir bangsa Spanyol dari Ternate. Atas keberhasilannya tersebut, ia mendapat izin dari Sultan untuk mendirikan sebuah benteng di tempat bekas Benteng Melayu milik Sultan yang sudah rusak. Selain itu, Sultan juga memberi izin kepada VOC untuk melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah. Benteng yang awalnya bernama Benteng Melayu ini kemudian pada tahun 1609 namanya diubah menjadi Benteng Oranje oleh Franćois Wittert, yang dalam ingatan kolektif disebut sebagai Benteng Melayu.
Pada tanggal 17 Februari 1613, ketika Pieter Both diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama, dengan Surat Keputusan pada 17 Februari 1613, Dewan Komisaris Heren Zeventien di Belanda menetapkan kawasan Maluku sebagai pusat kedudukan resmi VOC dan kota Ternate, serta Kota Ambon (Amboina) menjadi pilihan tempat tinggal resmi para Gubernur Jenderal. Benteng Oranje dipakai sebagai tempat Pieter Both berunding dengan Sultan Mudaffar dari Ternate.
Pada tahun 1822 Benteng Oranje pernah dijadikan lokasi pengasingan Pahlawan Nasional Sultan Mahmud Badarudin II (Sultan Palembang). Beliau diasingkan di benteng ini hingga meninggal dunia pada tahun 1852 dan dimakamkan di kompleks pekuburan Islam di sebelah barat Kelurahan Kalumpang, Kota Ternate.

Benteng ini termasuk ke dalam tipe kastil berdenah trapesium dengan 4 bastion di sudutnya. Benteng memiliki ukuran 180 m x 165 m, memiliki tembok dengan ketinggian sekitar 5 m dan kemiringan 4 derajat. Ketebalan tembok luar benteng sekitar 1 m. Tembok bagian dalam benteng mempunyai ketebalan 0,75 m. Di atas tembok benteng terdapat rampart atau jalan keliling yang menghubungkan keempat bastion di tiap sudutnya. Rampart ini berada pada ketinggian sekitar 3,5 m dari tanah dan mempunyai jarak sekitar 1,1 m dari ketinggian tembok dinding. Pada kedua sudut bagian dalam dari bastion yang terletak di sisi Barat Laut dan Timur Laut terdapat ramp berukuran 15 m x 3 m menuju ke bagian atas bastion. Selain itu terdapat juga 2 buah tangga yang berbentuk setengah melingkar pada bagian dalam pintu gerbang utama dan pada bastion di sisi Barat Daya.
Di bagian dalam benteng terdapat beberapa bangunan baru maupun lama, antara lain: rumah Gubernur Jenderal dan Gubernur VOC, barak prajurit, dan gudang senjata. Di samping itu pada dinding timur bagian dalam benteng terdapat 1 prasasti berbahasa Belanda dan 2 prasasti berbahasa Latin dan beberapa lambang yaitu lambang VOC, lambang berbentuk perisai, dan lambang berbentuk singa.
Benteng Oranje menyisakan 13 meriam yang masih insitu di dalam benteng karena tidak ada bekas aktivitas penempatan baru, meski diduga beberapa diantaranya telah hilang dari tempat asalnya, hal ini dikarenakan pada sudut barat laut sama sekali tidak ditemukan meriam dan adanya bekas pondasi meriam di lantai II di atas pintu gerbang.