Prasada STS.05/BNG.1/DisbudBadung

No. Regnas CB CB.1864
SK Penetapan
No SK : 71/043/HK/2018
Tanggal SK : 18 Desember 2018
Tingkat SK : Bupati
Peringkat Cagar Budaya Kabupaten
Jenis Cagar Budaya Benda
Nama Cagar Budaya Prasada STS.05/BNG.1/DisbudBadung
Keberadaan Provinsi : Bali
Kabupaten / Kota : Kabupaten Badung

Periode abad ke 12 M

Secara keseluruhan prasada ini berbentuk tinggi dan langsing serta terdiri atas tiga bagian, yakni kaki, badan dan atap. Kaki candi sebagai alam bawah, badan candi sebagai alam antara dan atap candi sebagai alam atas. Kaki prasada terdiri atas dua bagian, yakni fondasi yang berdenah empat persegi panjang dengan ukuran 3,60 M x 3,75 m dan kaki yang sebenarnya yang berukuran lebih kecil dari fondasi. Tinggi keseluruhan prasada ini lebih kurang 10 m. Bagian badan berukuran lebih kecil dari kaki prasada, dan antara kaki dengan badan dibatasi oleh perbingkaian dan agak masuk ke dalam sehingga bagian kaki dan bagian badan jelas kelihatan. Badan prasada berbentuk segi empat dengan relung di depannya dan dihiasi dengan papalihan di tiap sudut. Atap prasada yang pertama terbuat dari ijuk yang mengelilingi seluruh bangunan sehingga bagian bangunan di bawah atap tersebut terhindar dari pengaruh cuaca baik hujan maupun panas yang dapat mempengaruhi bahan prasada tersebut. Serangan alamiah terutama hujan dan panas. Atap prasada ini bertingkat-tingkat semakin ke atas semakin mengecil dan terdiri atas sebelas tingkatan. Atap prasada ini dari atap kedua sampai atap ke sebelas terbuat dari batu bata. Dengan adanya atap ijuk pada atap pertama dari prasada ini di samping sebagai penghalang bangunan terhadap serangan alam, mungkin juga prasada ini merupakan peralihan dari bentuk prasada ke bentuk meru. Pada bagian fondasi prasada ini dihiasi dengan Bedawang Nala, dimana kura-kura mendongak ke depan dan ular (naga) melilit kaki prasada dengan kepalanya masing-masing berada di kanan kiri kepala kura-kura. Bagian leher kura-kura itu mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar, lidah menjulur ke luar sehingga gigi dan taringnya jelas kelihatan. Tepat di bawah kura-kura kelihatan kepala raksasa (kedok muka) mendongak ke depan dan kepala tersebut mendongak ke belakang, di bagian belakang fondasi prasada, sedangkan ekor kura-kura kelihatan muncul di bagian belakang kaki prasada dengan di apit oleh naga masing-masing di kanan kiri kura-kura. Melihat keadaan yang demikian membayangkan akan kepala kura-kura dan ekornya seolah-olah keluar dari dalam prasada dan badan kura-kura seolah-olah berada di bawah prasada. Sehingga prasada seolah-olah bertumpu di punggung kura-kura. Naga adalah binatang yang hanya dikenal dalam metologi bentuknya seperti ular, akan tetapi lebih besar, dilukiskan mempunyai mahkota. Pada bagian paling bawah dari badan prasada dihiasi dengan hiasan Bedawang Nala, dimana kepala kura-kura mendongak ke depan dibawah relung dan dua ekor naga yang badannya melilit badan prasada dengan kepalanya mendongak ke atas di kanan kiri kepala kura-kura. Hiasan bedawang nala yang menghiasi badan prasada ini dengan bedawang nala yang menghiasi kaki prasada kelihatan sama baik bentuk maupun sikapnya. Ekor kura-kura dan ekor naga kelihatan muncul di belakang bagian badan prasada ini, yang mana ekor kura-kura diapit oleh dua ekor naga di kanan kiri ekor kura-kura. Pada bagian belakang badan prasada terdapat relief Wishnu diatas Garuda yang mana garuda digambarkan sedang terbang dan wishnu di punggungnya membawa cakra di tangan kanan kiri memegang sampur. Pada bagian prasada sebelah utara kanan prasada terdapat relief yang menggambarkan seorang tokoh laki-laki dengan sikap terbang. Sayapnya kelihatan membentang di seluruh tubuhnya, tangannya memegang keris yang telah di hunus yang dipegang pada pada tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang sampur. Mukanya menyeramkan dengan mata melotot, mulutnya terbuka lebar, gigi-giginya kelihatan dan taringnya mencuat keluar. Memakai mahkota dan pakaian lainnya seperti halnya dengan pakaian yang menggambarkan tokoh dewa. Menurut pemahat sekaligus dalang wayang kulit, bahwa tokoh yang demikian yang disebut Wilaman yang merupakan wahana dari Rahwana yang selalu mengantar Rahwana dan selalu membawa keris. Disebelah kanan kiri dari relief ini terdapat hiasan padma masing-masing sebuah. Di sebelah kiri (selatan) prasada terdapat relief Rahwana yang sedang melarikan Sita yang dirangkul di tangan kirinya dan tangan kanannya mengangkat Sampur. Di samping kiri dan kanan relief ini juga terdapat hiasan Padma masing-masing sebuah. Relief ini dapat dihubungkan denagn cerita Ramayana, bagian aranya-kanda, yang menceritakan Rahwana melarikan Dewi Sita dari tangan Rama. Prasada merupakan bangunan suci yang sudah disebut-sebut dalam prasasti baik di prasasti di Jawa maupun prasasti Bali serta dalam karya sastra Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Hanya saja wujud dari bangunan prasada di Jawa belum pernah ditemukan, dan baru di Bali bangunan suci ini dikenal bentuknya sebagaimana halnya bangunan suci meru. Prasada yang ditemukan di Bali seperti halnya prasada di pura Ntegana bentuknya samadengan prasada yang ada di Pura Purusada Kapal. Mengenai fungsinya sebagaimana disebutkan dalam kitab Negarakertagama adalah sebagai tempat memuliakan arwah leluhur setelah melalui proses upacara yang disebut Cradha pada zaman Majapahit atau mamukur dikalangan masyarakat Bali. Fungsi seperti ini mengingatkan kita kepada fungsi bangunan suci meru yaitu sebagai tempat memuja Tuhan dan sekaligus memuja leluhur. Prasada ini kemungkinan dulunya berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap roh suci leluhur seorang penguasa/raja. Pemujaan ini baru boleh dilakukan disini setelah melalui proses terakhir dari kesucian leluhur yaitu upacara memukur atau Craddha. Sementara dalam kaitannya dengan fungsinya yang sekarang adalah sebagai tempat memuliakan Dewa Wisnu dan Siwa atau disebut juga Ratu Sakti, Ratu Agung, dan Ratu Bhima Sakti (Purana Pura Kayangan Jagat Ntegana,2016; Geria,dkk, 2002).

Peta Tidak Tersedia