HOTEL INNA BALI HERITAGE

No. Regnas CB CB.1898
SK Penetapan
No SK : 188.45/1092/HK/2019
Tanggal SK : 27 Mei 2019
Tingkat SK : Bupati
Peringkat Cagar Budaya Kota
Jenis Cagar Budaya Situs
Nama Cagar Budaya HOTEL INNA BALI HERITAGE
Keberadaan Provinsi : Bali
Kabupaten / Kota : Kota Denpasar

Hotel Inna Bali Heritage atau dulu dikenal dengan nama Bali Hotel merupakan akomodasi wisata tertua di Bali yang dibangun sejak tahun 1927 oleh Pemerintah Belanda. Awal pembangunannya sebenarnya diperuntukkan sebagai tempat bersinggahnya para awak kapal Perusahaan Pelayaran Belanda KPM (Koninkelijke Paketvaar Matschappij) yang berlabuh di Bali. Secara resmi Hotel Inna Bali Heritage dioperasikan pada tahun 1928 setelah diserahkan oleh pihak Pemerintah Belanda kepada pihak Koninkelijke Paketvaar Matschappij dengan menambah kamar tidur dari 12 kamar tidur menjadi 36 yang dilengkapi dengan fasilitas laundry, bangunan gudang, ruang kerja karyawan, tangki air, mesin ketel air panas, dan pendopo untuk ruang pertunjukan kesenian (Mardika dkk, 2010: 86).
Sekitar awal tahun 1942 Hotel Inna Bali Heritage dinyatakan dibuka dan dioperasikan untuk umum dengan tambahan 22 kamar tidur lagi sehingga secara keseluruhannya menjadi 61 kamar tidur. Pada tanggal 22 Agustus 1956 yang dulu namanya Bali Hotel berubah nama menjadi Natour Bali karena sahamnya dibeli oleh PT. Natour. Perkembangan fasilitas terus dilakukan oleh PT. Natour yang pada tanggal 29 Mei 1961 bekerjasama dengan Bank Industri Negara (BIN) dengan melakukan penambahan 24 kamar tidur sehingga menjadi 76. Selanjutnya juga PT. Garuda Indonesia Air Ways (GIA) pernah menyewa sebuah ruangan di Natour Bali untuk dijadikan kantor dan memberikan bantuan untuk meningkatkan mutu fasilitas kamar dan tambahan bangunan kolam renang lengkap dengan sirkulasinya.
Sekitar tahun 1970 segala bentuk fasilitas pelayanan di setiap kamar terus ditambah oleh PT. Natour seperti televisi, kulkas, AC, serta air panas dan air dingin untuk mandi. PT. Natour selanjutnya bekerjasama dengan PT. HII dengan membentuk nama baru menjadi PT. HIN (Hotel Indonesia Natour) atau Inna Hotel Group dan pada tanggal 19 Maret 2001 Natour Bali berubah nama menjadi Inna Bali Hotel Business & Marketing (Wibawa, 2008 dalam Mardika dkk, 2010: 87).
Hotel sisi timur Jl. Veteran terdapat kamar istimewa (suite room), yaitu kamar No. 77 yang merupakan kamar peristirahatan Presiden Republik Indonesia ke I, Ir Soekarno. Kamar No. 77 ini juga pernah digunakan oleh tamu-tamu negara dan pejabat penting seperti Perdana Menteri India Mr. Mahatma Gandhi, Presiden India Mr. Jawaharal Nehru, Queen Elizabeth, Charlie Chaplin, Presiden Republik Indonesia ke VI Megawati Soekarno Putri, serta beberapa menteri dan artis-artis Indonesia.
Selain berfungsi sebagai sarana akomodasi wisata, Hotel Inna Bali Heritage juga merupakan tempat diselenggarakan pertemuan-pertemuan penting di bidang politik dan budaya. Salah satunya adalah pertemuan yang diselenggarakan oleh Van Mook pada tanggal 18 – 24 Desember 1946. Konferensi ini dihadiri oleh utusan 13 daerah timur Indonesia dan berhasil membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) dan memilih Tjokorde Gde Rake Soekawati sebagai Presiden NIT (Darmanuraga, 2005: 42-44). Pertemuan dalam bidang budaya juga pernah dilakukan pada tahun 2019, yaitu gala dinner International Conference Organitation Word Heritage City (OWHC) Eurasia ke – IX.

Hotel Inna Bali Heritage yang pada awalnya bernama Bali Hotel terletak di pusat Kota Denpasar, tepatnya di sebelah timur dan barat Jl. Veteran Denpasar. Lokasi Hotel Inna Bali Heritage dari Patung Catur Muka sebagai titik 0 Kota Denpasar ± berjarak 50 meter ke utara. Hotel di sebelah barat Jl. Veteran dibangun dengan model gaya arsitektur Eropa, terutama nampak pada bangunan lobby, dapur, kantor depan, ruang makan, dan kamar tidur. Hotel yang di sebelah timur terdiri dari bangunan teras lobby, gedung serba guna, dan kamar tidur.
Hotel ini merupakan fasilitas penginapan pertama kali dibangun di Bali pada tahun 1927 bernama Bali Hotel oleh Pemerintah Belanda yang digunakan untuk tempat persinggahan/istirahat para awak kapal Perusahaan Pelayaran Belanda (KPM) yang berlabuh di Bali saat itu. Pada tahun 1928 Hotel Inna Bali diserahkan pada pihak KPM dan secara resmi beroperasi dengan dilengkapi 12 kamar tidur, dapur, ruang makan, lobby, dan ruang kerja kantor depan. Penambahan kamar tidur terus ditambah menjadi 39 kamar yang dilengkapi dengan fasilitas laundry, bangunan gudang, ruang kerja karyawan, tangki air, dan mesin ketel air panas dan pendopo untuk ruang pertunjukan kesenian (Mardika dkk, 2010: 86). Awal tahun 1942 Hotel Inna Bali (dulu Bali Hotel KPM) dinyatakan dibuka dan dioperasikan untuk umum dengan tambahan 22 kamar, sehingga secara keseluruhan menjadi 61 kamar.
Pada hotel sisi timur Jl. Veteran terdapat kamar istimewa (suite room), yaitu kamar No. 77 yang merupakan kamar peristirahatan Presiden Republik Indonesia ke I, Ir Soekarno. Kamar No. 77 ini juga pernah digunakan oleh tamu-tamu negara dan pejabat penting seperti Perdana Menteri India Mr. Mahatma Gandhi, Presiden India Mr. Jawaharal Nehru, Queen Elizabeth, Charlie Chaplin, Presiden Republik Indonesia ke VI Megawati Soekarno Putri, serta beberapa menteri dan artis-artis Indonesia (Mardika dkk, 2010: 87).
Selain berfungsi sebagai sarana akomodasi wisata, Hotel Inna Bali Heritage juga pernah digunakan sebagai tempat diselenggarakannya pertemuan-pertemuan penting di bidang politik dan budaya. Salah satu pertemuan yang memiliki nilai penting bagi sejarah Indonesia adalah Konferensi Denpasar yang diselenggarakan oleh Van Mook pada tanggal 18 – 24 Desember 1946. Konferensi ini dihadiri oleh utusan 13 daerah yaitu Sulawesi Selatan, Minahasa, Sangihe Talaud, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, Maluku Selatan, dan Maluku Utara dengan berhasil membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) dan memilih Tjokorde Gde Rake Soekawati sebagai Presiden NIT. Utusan Bali yang hadir ketika itu adalah Anak Agung Nyoman Panji Tisna, made Mendra, I Goesti Bagoes Oka, Oen Sik Hien, Ida Anak Agung Gde Agoeng, Tjokorde Gde Raka Sukawati, dan Mr. Anak Agoeng Ngurah Ketoet Djlantik .