Arca Perwujudan Bhatari STS.18/BND.05/DisbudBadung

No. Regnas CB CB.1858
SK Penetapan
Peringkat Cagar Budaya Kabupaten
Jenis Cagar Budaya Benda
Nama Cagar Budaya Arca Perwujudan Bhatari STS.18/BND.05/DisbudBadung
Keberadaan Provinsi : Bali
Kabupaten / Kota : Kabupaten Badung

Berdasarkan sejarahnya bahwa pura ini dulunya merupakan pura peninggalan dari penguasa wilayah Taulan. Berdasarkan Lontar BabadKerobokan disebut bahwa pada jaman dahulu sekitar tahun 1260 Saka (1338 Masehi) ada tiga penguasa di wilayah Kerobokan yaitu Jagat Lepang, Jagat Kelaci dan Jagat Taulan. Disebut bahwa putri dari Jagat Kelaci sangat cantik dan sempurna, oleh sebab itu maka pangeran dari Jagat Lepang dan Jagat Taulan sama-sama ingin menikahi putri dari Jagat Kelaci tersebut. Namun sayang pangeran dari Jagat Taulan ditolak pinangannya oleh Jagat Kelaci. Oleh sebab itu marahlah pangeran dari Jagat Taulan dan ingin membalas sakit hatinya tersebut dengan cara menyerbu ke Jagat Kelaci pada saat acara pinangan yang dilakukan oleh pangeran dari Jagat Lepang. Kata ‘menyerbu’ dalam bahasa Bali disebut ngerobok. Pada saat yang telah dinanti akhirnya terjadilah peristiwa menyerbu tersebut (Ngerobok.) sehingga terjadi perang besar antara Jagat Taulan dengan Kelaci yang dibantu oleh Jagat Lepang. Pada peristiwa tersebut banyak yang meninggal karena kejadiannya sangat mendadak sehingga darah yang keluar dari mayat tersebut mengalir seperti sungai dengan suara krobok-krobok (keluar dengan deras). Akibat kejadian tersebut hancurlah ketiga jagat tersebut dan kemudian wilayah tersebut dikenal dengan nama Kerobokan (Lontar Babad Kerobokan, tanpa tahun, pp. 8b-9a). Akibat kejadian tersebut banyak pura yang dulunya di miliki oleh ketiga jagat tersebut hancur berantakan tak terurus. Salah satunya adalah Pura Dalem Madya Tahulan yang hancur berantakan dan hanya tersisa beberapa buah patung arkelogis yang teronggok di pinggiran sawah. Akhirnya sekitar tahun 1980-an, keluarga Jero Mangku Nengah Sudira terpanggil untuk melakukan renovasi Pura Dalem Madya Tahulan hingga seperti sekarang dan sekaligus keluarga besar beliau (Soroh Bendesa Manik Mas) menjadi pengempon pura tersebut (wawancara dengan Jero Mangku I Nengah Sudira di Kerobokan).
Selain sumber-sumber babad dan informan, tinggalan arkeologi yang ditemukn di situs ini memberikan petunjuk yang cukup penting untuk menggambarkan sejarah pura ini. Tinggalan arkeologi yang ditemukan di pura ini dapat dikatakan cukup banyak jumlahnya dan bentuknya bervariasi. Tinggalan arkeologi yang ditemukan adalah arca-arca perwujudan dan Dewa Ganesa. Arca perwujudan yang ditemukan di pura ini berdasarkan langgamnya diduga berasl dari abad ke-13-14 Masehi. Arca-arca perwujudan ini sebagai bentuk munculnya kembali tradisi pemujaan roh leluhur yang sudah dikenal sebelumnya. Pada masa akhir prasejarah dikenal pembuatan arca menhir sebagai media yang digunakan untuk melakukan hubungan dengan roh leluhurnya. Setelah masa Kediri, Singorasi dan Majapahit tradisi pemujaan roh leluhur dengan menggunakan media arca semakin banyak dilakukan. Hal ini sebagai petunjuk begitu kuatnya tradisi ini di kalangan masyarakat Bali kuno sehingga tinggalan yang berbentuk arca-arca perwujudan banyak ditemukan. Terlebih lagi dengan adanya prasasti yang memuat tahun candra sangkala yang dipahatkan pada arca bhatara bhatari berpasangan. Prasasti pendek ini “tan nana rasa pasek tunggal” tan nana =0, rasa= 6, pasek= 2, dan tunggal= 1. Kalau dibaca dari belakang akan didapat tahun 1260 Saka (1338 M). Angka tahun ini sejaman dengan masa Bali kuno terakhir. Penguasa kerajaan Bali kuno yang terakhir diketahui bernama Sri Astasura Ratna Bhumi Banten. Nama raja ini sebagai penguasa terakhir diketahui dari prasasti Langgahan yang dikeluarkannya. Dengan perbandingan berdasarkan sumber prasasti yang ada maka dapat diduga bahwa situs pura Dalem Madya Tahulan sekurang-kurangnya sudah ada sejak abad ke-14 Masehi. Setelah berakhirnya pemerintahan kerajaan Bali kuno, maka tradisi pembuatan arca-arca perwujudan tidak lagi dilanjutkan.

Arca ditempatkan pada palinggih gedong dengan bagian asana/lapik sudah hilang. Keadaan arca kepala sedang, muka lebar, mata terbuka, alis tipis, hidung pesek, pipi tirus, bibir tipis, mulut tertutup, telinga lebar, dagu segi tiga. Leher agak pendek, badan
-7-

sedang, tangan sedang, dada sedang dengan buah dada prominen, perut ramping, kaki tertutup kain, Hiasan mahkota berbentuk kirita makuta yaitu mahkota yang disusun bertingkat tiga dengan hiasan daun bunga lotus, jamang yang terdapat di bawah mahkota yang menjadi pembatas antara dahi dengan mahkota berbentuk pita pipih.Telinga memakai hiasan subeng berbentuk bunga kembang sepatu dengan sarinya menjulur ke bawah di depan bahu. Di belakang telinga terdapat simping yang berbentuk stiliran daun. Adanya hiasan simping ini mengesankan tokoh kekaku-kakuan. Leher mamakai badong dengan hiasan bermotif sulur-sulur daun. Gelang lengan berbentuk pita pipih dengan hiasan simbar, gelang tangan bulat polos, gelang kaki tidak kelihatan tertutup kain. Udarabhanda memakai hiasan dengan motif sulur daun. Kain tebal bersusun tiga dengan motif hias garis-garis vertikal. Sampur melengkung dengan ujung-ujungnya membentuk simpul di kiri-kanan pinggul. Arca digambarkan berdiri di atas asana/lapik tetapi sudah hilang. Bertangan dua yang ditekuk didepan perut dengan membawa kuncup lotus. Sandaran arca segi empat dengan bagian atas oval.

Peta Tidak Tersedia