Blue Print dalam Pengembangan dan Penguatan Organisasi Permuseuman
Rabu, 27 Mei 2015

Suasana Pertemuan Nasional Museum Se-Indonesia 2015

Malang (27/5) – Pertemuan Nasional Museum (PNM) Se-Indonesia hari kedua membahas mengenai materi mengenai “Sosialisasi Blue Print (Naskah Akademik) dalam Pengembangan Museum” oleh Dani Wigatna, Kasubdit Pengembangan dan Pemanfaatan, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, materi berikutnya “Penguatan Organisasi Permuseuman” oleh Arief Djoko Budiono, Ketua III-AMI.
Dalam paparan yang disampaikan oleh Dani Wigatna, bahwa memang dalam perumusan Blue Print diharapkan para peserta PNM 2015 juga dapat membantu memberikan masukan dan arahan untuk menyempurnakan Konseptual Master Plan dapat diaplikasikan sebagai acuan dalam pengembangan Museum Indonesia. Selain itu juga disampaikan pula, perlu memperhatikan penempatan SDM yang tepat, tata kelola, fasilitas, sarana dan prasarana, jumlah, ruang serta jumlah koleksi yang dimiliki Museum.
Penyampaian Materi Blue Print
Penyampaian Materi Blue Print
Apresiasi terhadap pengunjung museum paling penting adalah strategi untuk membentuk suatu komunitas sebagai media pendekatan, karena pengunjung museum bukan hanya sebagai penikmat, namun juga sebagai pengelola museum yang utama. Dengan begitu diharapkan para pengelola Museum dapat mengembangkan Blue Print yang sudah di sosialisasikan menjadi lebih sempurna untuk mewujudkan tata kelola permuseuman yang responsible, akuntable dan transparan.
Selanjutnya, paparan Penguatan Organisasi Permuseuman yang disampaikan oleh Arief Djoko Budiono, AMI, mengenai sistem Penguatan Organisasi Permuseuman dengan cara, museum harus menciptakan pasar sendiri dengan networking partnership, quality control, rumah budaya, strategi internal dan eksternalisasi management, Museum dapat menjadi media yang lebih menarik untuk dikunjungi.

Dengan terselenggaranya Pertemuan Nasional Museum Se-Indonesia 2015, diharapkan museum dapat mengembangkan dengan melakukan kegatan-kegiatan yang intensif penuh kreatif dan inovatif. Dengan demikian, museum dapat menjadi media edukasi dan rekreasi yang lebih baik, dan permuseuman dapat bersaing di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). (un)

Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id