Satuan Ruang Geografis Kawasan Penanggungan

  • 1

  • 2

  • 3

  • 4

  • 5

  • 6

  • 7

  • 8

  • 9

  • 10

  • 11

  • 12

  • 13

  • 14

  • 15

  • 16

  • 17

  • 18

  • 19

  • 20

NO REGNAS RNCB.20160803.05.001141
SK Penetapan

SK Gubernur No188/18/KPTS/013/2015

Peringkat Cagar Budaya
Kategori Cagar Budaya Kawasan
Kabupaten/Kota Kabupaten Mojokerto
Provinsi Jawa Timur
Nama Pemilik Tanah Perhutani KPH Pasuruan
Nama Pengelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto wilayah kerja Provinsi Jawa Timur sebagai Unit Pelaksana T

Pemilihan Gunung penanggungan sebagai daerah suci tampaknya telah terjadi jauh sebelum masa kerajaan Majapahit, hal ini dapat dilihat dari sejumlah inskripsi yang memuat angka tahun. Dari beberapa inskripsi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pembangunan bangunan suci di Gunung Penanggungan berlangsung sejak masa pemerintahan Mpu Sindok hingga pemerintahan Dyah Krtawijaya (Bhre Tumapel). Beberapa inskripsi yang dapat dijadikan sebagai acuan antara lain :

1. Prasasti Cunggrang
Prasasti yang menyebutkan tentang pembangunan bangunan suci sang Hyang Dharmasrama ing Pawitra berangka tahun 929 Masehi. Prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan raja Rake Hino Mpu Sindok.

2. Inskripsi pada dinding Petirtan Jolotundo
Inskripsi singkat berbunyi Gempeng berangka tahun 977 Masehi, angka tahun ini mengacu pada masa pemerintahan raja dharmawangsa Tguh (911-1016 Masehi)

3. Prasasti Pucangan
Prasasti yang dikeluarkan pada masa pemerintahan raja Airlangga, memakai dua bahasa yaitu bahasa Sansekerta dan bahasa Jawa Kuno. Pada sisi prasasti berbahasa Sansekerta berangka tahun 1037 Masehi berisi tentang pengangkatan Airlangga sebagai raja, kemenangan atas musuh-musuhnya dan mengenai pendirian bangunan suci di Gunung Pugawat. Sedangkan sisi prasasti yang bebahasa Jawa Kuna berangka tahun 1041 Masehi berisi tentang peresmian daerah Pucangan, Barahem dan Bapuri sebagai tanah perdikan bagi pertapaan di Gunung Pugawat.

4. Inskripsi pada ambang pintu goa Lawa
Inskripsi angka tahun ini menerangkan tahun 1159 Masehi, tahun ini sejaman dengan masa pemerintahan Srenggalancana dari Kadiri (1190-1220 Masehi). Selain pada ambang pintu juga terdapat inskripsi angka tahun pada sandaran altar di goa ini yang berangkakan 1404 Masehi, tahun ini sejaman dengan pemerintahan Wikrama warddhana (1351-1429 Masehi).

5. Inskripsi di Candi Gajah Mungkur (1360 Masehi), di Candi Pandawa (1511 Masehi), di Gapura Jedong (1326 Masehi, 1376 Masehi, 1456 Masehi). Selain itu beberapa inskripsi lain di Candi Carik, Candi Merak, Candi Sinta yang berangka tahun berkisar tahun 1240 Masehi-1500 Masehi.

Dari hasil penelitian para ahli seperti VR Van Romondt, HG Quaritch Wales, AJ Bernet Kempers, Junus Satrio Atmodjo, Daud Aris Tanudirdjo, Agus Aris Munandar dan Harini Santiko terhadap tinggalan kepurbakalaan di kawasan Penanggungan maka didapat tiga kesimpulan yang berbeda, yaitu :
1. Kesimpulan yang mengatakan bahwa kepurbakalaan di Gunung Penanggungan dipengaruhi oleh gejala pemunculan kembali tradisi prasejarah, dalam hal ini tradisi megalitikum yang diselimuti oleh anasir kebudayaan Hindu yang telah berkembang di Jawa.
2. Kesimpulan yang mempertajam adanya pemujaan terhadap arwah nenek moyang karena berbagai faktor yang muncul pada masa Majapahit akhir.
3. Kesimpulan yang sama sekali mengabaikan pemunculan kembali tradisi megalitikum dan pemujaan arwah nenek moyang.