Trowulan

  • TROWULAN

NO REGNAS RNCB.20131230.05.000012
SK Penetapan

SK Menteri No260/M/2013

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Kawasan
Kabupaten/Kota Kabupaten Mojokerto
Provinsi Jawa Timur
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola BPCB Mojokerto

Satuan Ruang Geografis Trowulan memiliki luas lahan 92,6 Km2 dan berkaitan erat dengan Kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya. Berdasarkan sumber-sumber prasasti, naskah, dan tinggalan purbakala terbukti bahwa Satuan Ruang Geografis Trowulan sudah digunakan sebagai pemukiman sejak abad X-XV. Selain itu juga terdapat tinggalan lain dari masa pra-Majapahit yang ditemukan tumpang tindih dengan tinggalan dari masa Majapahit. Temuan-temuan tersebut antara lain candi, gapura, kolam, waduk, jaringan kanal, unsur bangunan, ribuan peralatan rumah tangga dari terakota, dan keramik. Temuan-temuan tersebut mengindikasikan bahwa area ini merupakan pemukiman yang padat.

Penelitian arkeologi di Trowulan pertama kali dilakukan oleh W. Wardenaar pada tahun 1815 atas perintah Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Kerajaan Inggris untuk Jawa (1811-1816). Wardenaar diberi tugas untuk mengadakan pencatatan peninggalan arkeologi di daerah Mojokerto. Hasil kerja Wardenaar tersebut digunakan sebagai sumber tulisan Raffles dalam bukunya yang berjudul “The History of Java” (1817). Dalam buku itu disebutkan berbagai objek arkeologi sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Satuan Ruang Geografis Trowulan. Penelitian penting yang mencoba untuk merekonstruksi ibukota Majapahit pertama kali dilakukan oleh Maclaine Pont pada tahun 1926. Hasil penelitian tersebut dimuat dalam Majalah Oudheidkundige Verslag yang berjudul De Kraton van Madjapahit. Sebelumnya juga telah ada rintisan penelitian yang dilakukan oleh Raden Adipati Ario Kromodjojo Adinegoro, seorang Regent Modjokerto. Gambaran umum mengenai keindahan ibukota Majapahit juga diceritakan dalam naskah Nagarakrtagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.

Mengingat luas kawasan tersebut, banyak pihak yang terlibat dalam pengelolaan dikarenakan adanya perbedaan pemilik. Hanya sebagian kecil area saja yang dimiliki oleh pemerintah dan sisanya dimiliki oleh perorangan atau perusahaan. Beberapa area yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah yaitu area Candi Brahu, Candi Tikus, Candi Wringinlawang, Kolam Segaran, Candi Gentong I dan II, Candi Minakjinggo, Candi Kedaton, Situs Sentonorejo, serta Gapura Bajangratu. Kepemilikan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 177/M/1998 tanggal 21 Juli 1998. Ruang geografis di luar yang dikuasai oleh Pemerintah dimiliki dan/atau dikuasai oleh masyarakat.

Kini Satuan Ruang Geografis Trowulan telah menjadi area berpenduduk padat akibat laju pertumbuhan penduduk yang cepat. Hal ini sedikit banyak menyebabkan struktur dan benda-benda purbakala lainnya kehilangan konteksnya. Desa Trowulan dan sekitarnya sejak tahun 1960-an telah menjadi lahan orang untuk mencari emas (ngendang) serta pembuatan bata. Penggalian tanah yang rata-rata mencapai kedalaman 1-4 meter menyebabkan lapisan budaya Majapahit pada kedalaman itu turut terbongkar dan hilang. Mengingat saat ini tanah yang digali makin luas, maka warisan budaya Majapahit semakin rusak dan hilang. Kondisi ini diperparah oleh berdirinya pabrik-pabrik baru dan gudang berukuran besar di lokasi-lokasi yang mengandung tinggalan purbakala.