Gunung Padang

  • GUNUNG PADANG

NO REGNAS RNCB.20150710.04.000016
SK Penetapan

SK Menteri No023/M/2014

SK Bupati No431/389.b/Disbudpar/2010

SK Menteri No133/M/1998

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kabupaten Cianjur
Provinsi Jawa Barat
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola BPCB Serang

Situs Gunung Padang yang terletak di Kelurahan Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Cianjur, Jawa Barat ini terbentang diatas lahan seluas 291.800 m2. Gunung Padang merupakan tinggalan megalitik punden berundak 5 (lima) yang disusun dari batuan kekar kolom (columnar joint). Keberadaan Gunung Padang dilaporkan pertama kali oleh Nicolaas Johannes Krom dalam Rapporten Oudheidkundige Dienst pada tahun 1914. Krom melaporkan bahwa di puncak Gunung Padang yang berdekatan dengan Gunung Melati terdapat empat teras yang disusun dari batu kasar dan dihiasi batu andesit berbentuk lingga. Di setiap teras terdapat gundukan tanah yang ditimbuni batu. Berdasarkan naskah Sunda Kuno, tempat suci semacam ini disebut dengan “kabuyutan”. Meski berasal dari masa prasejarah, tradisi megalitik ini terus berlanjut hingga masa Hindu-Buddha.

Dari serangkaian penelitian yang telah dilakukan di situs tersebut, diketahui bahwa Gunung Padang dibangun antara abad IV-XVI oleh masyarakat penganut tradisi megalitik. Hal ini juga diperkuat dari hasil uji karbon (carbon dating - C14) yang menghasilkan pertanggalan relatif, bahwa Situs Gunung Padang dibangun pada sekitar 500-200 tahun SM. Berdasarkan uji carbon dating tersebut, Gunung Padang diperkirakan sebagai tinggalan megalitik tertua dan terbesar di Indonesia. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 139/M/1998, lahan tempat struktur utama dimiliki oleh negara seluas 17.196,52 m² dan lahan disekitarnya dimiliki dan/atau dikuasai oleh masyarakat maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Tinggalan Megalitik Gunung Padang dan lingkungannya seluas 17.196,52 m² yang dikuasai oleh negara tersebut berada dibawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat ini kondisi Situs Gunung Padang mengalami ancaman kerusakan akibat erosi dan tanaman liar yang tumbuh disekitar situs. Banyak batu punden yang lepas, miring, aus, terkelupas, retak, patah, dan jatuh di lereng dan kaki bukit. Ada beberapa bagian dari struktur punden yang menggelembung dan menjorok ke luar sebagai akibat dari genangan air, desakan akar, serta longsor. Terjadi juga pelapukan batuan karena pertumbuhan ganggang, jamur kerak, lumut, dan tumbuhan lainnya. Selain faktor alam, ada pula kerusakan yang disebabkan oleh kegiatan pengunjung, misalnya vandalisme, menggores batu dengan benda keras, menduduki, menginjak batu, memukul-mukul batu, menggeser dan memindahkan batu, serta akitivitas wisata lainnya yang tidak terkendali turut serta menyebabkan berubahnya susunan struktur aslinya. Situs Gunung Padang saat ini menjadi destinasi wisata yang penting di Kabupaten Cianjur dengan jumlah kunjungan sedikitnya 200-300 orang per minggu dan meningkat ketika musim liburan sekolah tiba. Di puncak bukit terdapat menara pandang dan beberapa warung milik penduduk sedangkan di kaki bukit terdapat warung, lapangan parkir, dan fasilitas pariwisata lainnya.