Prambanan

  • PRAMBANAN

NO REGNAS RNCB.20150713.05.000019
SK Penetapan

SK Menteri No278/M/2014

SK Menteri No157/M/1998

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Kawasan
Kabupaten/Kota Kabupaten Klaten
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola BPCB Jawa Tengah

Satuan Ruang Geografis Prambanan terbentang seluas 2.589,75 Ha yang meliputi dua kabupaten di dua propinsi, yaitu Kabupaten Klaten di Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman di Yogyakarta. Kecamatan yang termasuk Satuan Ruang Geografis Prambanan yaitu Kecamatan Prambanan (Klaten), Manisrenggo (Klaten), Prambanan (Sleman), dan Kecamatan Kalasan (Sleman). Satuan Ruang Geografis Prambanan diperkirakan merupakan salah satu pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno yang berkembang pada abad VIII-X dan menjadi daerah penting sejak Raja Panangkaran. Hal ini didasarkan pada jenis, jumlah, dan kerapatan temuan arkeologisnya. Oleh sebab itu, dalam rencana induk yang disusun JICA (Japan International Cooperation Agency), satuan ruang geografis ini diarahkan untuk memberikan citra kota lama (ancient city) dari Masa Kerajaan Mataram Kuno.

Secara geomorfologis, topografi Satuan Ruang Geografis Prambanan terbagi menjadi tiga bagian yaitu dataran rendah Prambanan yang berada di utara Bukit Ratu Boko, dataran rendah Sorogedug yang berada di sebelah selatan bukit Ratu Boko, dan dataran tinggi yang terdiri atas bukit-bukit yang termasuk bagian dari Pegunungan Selatan. Dataran tinggi yang dimaksud juga dikenal sebagai Siwa Plateau karena di daerah ini ditemukan sejumlah candi yang berlatar belakang agama Hindu Siwaistis. Di sebelah utara satuan ruang geografis ini terdapat Gunung Merapi yang secara konseptual kosmologis menjadi bagian penting lanskap budaya pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Di kawasan ini terdapat sejumlah besar tinggalan Kerajaan Mataram Kuno (abad VIII - X) terutama berupa candi-candi yang terbuat dari batu andesit dan batu tufa atau paras serta tinggalan-tinggalan bergerak lainnya. Candi-candi yang berada di satuan ruang geografis ini pada umumnya mempunyai pahatan-pahatan indah setengah matra (bas-relief), baik sebagai relief cerita maupun ornamentasi, yang menjadi ciri khas pahatan Klasik Jawa Tengah. Keberadaan bangunan berlatar Hindu dan Buddha secara berdampingan menunjukkan toleransi agama dan praktek multikuturalisme yang ada pada saat itu.

Candi-candi di dalam kawasan pertama kali muncul kembali dalam catatan C.A. Lons yang berkunjung ke reruntuhan Candi Prambanan pada tahun 1733. Sejak itu, banyak candi dan peninggalan sejarah lainnya yang dilaporkan keberadaannya baik untuk diteliti maupun dikunjungi sebagai tempat wisata. Beberapa contoh candi penting di kawasan ini yaitu Candi Kalasan (Kali Bening), Candi Sari, Kompleks Ratu Boko, Candi Plaosan (Lor dan Kidul), Candi Prambanan, dan Candi Sojiwan. Candi tertuanya yaitu Candi Kalasan yang bercorak Buddhis dan didirikan pada tahun 700 Saka (778 M) oleh Raja Panangkaran, anak pendiri Dinasti Sanjaya. Candi ini didirikan untuk memuja Dewi Tara. Candi Sari yang tidak terlalu jauh letaknya dari Candi Kalasan merupakan wihara bagi para pendetanya. Rakai Panangkaran juga mendirikan Candi Sewu dan Plaosan yang berlatar belakang agama Buddha. Berdasarkan informasi yang tercantum didalam Prasasti Manjusrigrha, Candi Sewu diresmikan pada tahun 714 Saka (792 M). Nama Candi Sewu atau Manjusrigrha disebut juga dalam prasasti Kelurak tahun 782 yang berisi tentang penghormatan terhadap Tri Ratna dan Tri Murti.

Setelah Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai raja, dia mendirikan wihara di atas bukit Boko yang disebut dengan abhayagiriwihara (kini dikenal sebagai Kompleks Keraton Ratu Boko) yang pernah menjadi benteng pertahanan ketika terjadi peperangan diantara putra-putra Rakai Panangkaran. Pada masa selanjutnya tempat ini berubah menjadi suatu tempat kediaman seorang bangsawan beragama Hindu, yaitu Rakai Walaing Pu Khumbayoni. Kompleks candi yang tak kalah penting di dalam kawasan ini yaitu Kompleks Percandian Roro Jonggrang atau Candi Prambanan yang didirikan pada tahun 856 oleh Rakai Pikatan, salah seorang putra dari Rakai Panangkaran. Sementara itu, Raja Balitung mendirikan Candi Sojiwan sebagai persembahan kepada neneknya, Rakryan Sanjiwana. Selain candi-candi yang diketahui pendiri dan tahun pendiriannya, masih ada beberapa candi lain yang tidak diketahui identitasnya. Meski demikian, jika dilihat dari seni hias maupun langgam arsitekturnya, hampir semua candi di Satuan Ruang Geografis Prambanan berasal dari masa yang sama dengan candi-candi yang diketahui tahun pendiriannya. Menurut beberapa pakar arkeologi dan sejarah kuno, candi-candi di Satuan Ruang Geografis Prambanan mulai ditinggalkan pada pertengahan abad X, ketika pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuna pindah ke Jawa Timur (sekitar Jombang). Perpindahan ini mungkin disebabkan oleh aktivitas Gunung Merapi yang sering meletus dan menyulitkan kehidupan masyarakat.

Upaya pemugaran kompleks Candi Prambanan di bawah pengawasan Ir. Van Romondt telah berlangsung sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, tetapi baru berhasil setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri. Tahap pertama, Candi Siwa serta dua Candi Apit selesai dipugar tahun 1953 dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Pada tahun 1979 telah dilakukan studi zonasi oleh JICA yang membagi kawasan Prambanan dalam 5 (lima) zona pelestarian. Studi yang dilakukan oleh JICA mengacu pada pelestarian candi dan situs yang ada, serta berusaha untuk mempertahankan unsur panorama dengan berpedoman pada Gunung Merapi yang ada pada sisi utara, namun batas-batasnya sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang. Pemugaran selanjutnya dilakukan terhadap Candi Brahma pada bulan April 1987 dan diresmikan pada tanggal 27 April 1991. Setelah candi-candi utama selesai dipugar, pada bulan Mei 1991 tiga candi wahana, yaitu Candi Nandi, Candi Garuda, dan Candi Angsa, mulai dipugar. Candi-candi tersebut diresmikan bersamaan dengan purna pugar Candi Sewu (Jawa Tengah) pada tahun 1993 oleh Presiden Soeharto. Pemugaran candi-candi yang lain juga diupayakan oleh pemerintah Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia, diantaranya Candi Sewu (selesai tahun 1993), Candi Plaosan Lor, dan Candi Plaosan Kidul (selesai tahun 1994).

Pada tahun 1991, UNESCO menetapkan kompleks Candi Prambanan dan Candi Sewu menjadi warisan budaya dunia dengan nomor C-642, karena dianggap merupakan karya adiluhung manusia yang kreatif dan jenius, khususnya karya arsitektur yang luar biasa. Kedua gugus candi ini disebut sebagai Prambanan Temple Compound yang diakui telah memenuhi kriteria World Heritage butir (i) sebagai karya adiluhung kreativitas jenius manusia dari abad ke-10 dan butir (iv) sebagai contoh karya arsitektural, harmonisasi teknologi, dan lanskap budaya yang mampu menggambarkan tahapan perkembangan penting dalam sejarah kehidupan manusia. Satuan Ruang Geografis Prambanan merupakan wilayah yang pertumbuhan ekonominya cukup pesat karena berada pada poros ekonomi Yogyakarta – Surakarta. Selain itu, kegiatan pariwisata yang terpusat di candi-candi, khususnya Warisan Dunia Kompleks Candi Prambanan (Prambanan Temple Compound) makin mempercepat perkembangan wilayah. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan yang cukup cepat dan berdampak pada perubahan tataguna lahan. Peningkatan kebutuhan lahan untuk fasilitas perekonomian dan pariwisata di dalam kawasan ini telah mengakibatkan banyak temuan arkeologis kehilangan konteksnya. Selain itu, menyempitnya lahan pertanian juga menyebabkan citra lanskap ikut mengalami perubahan. Selain itu, polusi yang meningkat juga berdampak pada kondisi candi, seperti terlihat pada Candi Kalasan yang mengalami kerusakan pada batuannya. Satuan Ruang Geografis Prambanan ini juga rentan terhadap bencana alam berupa gempa bumi, aliran lahar, dan abu vulkanik. Pada umumnya, dalam suatu kompleks percandian, bangunan utama atau candi induknya sudah dipugar. Sedangkan candi-candi perwara ada yang sudah dipugar, ada juga yang masih berupa reruntuhan. Kondisi ini dapat dilihat antara lain di Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Plaosan, dan Candi Ijo.