Kota Lama Tambang Batubara Sawahlunto

  • Kota Lama Tambang Batubara Sawahlunto dari Puncak Cemara Bukit Pari

NO REGNAS RNCB.20150713.05.000031
SK Penetapan

SK Menteri No345/M/2014

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Kawasan
Kabupaten/Kota Kota Sawah Lunto
Provinsi Sumatera Barat
Nama Pemilik Kota Sawahlunto
Nama Pengelola PT. Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin

Kota Lama Tambang Batubara Sawahlunto terbentang seluas lebih kurang 89,71 Ha yang meliputi 3 (tiga) kecamatan (Kecamatan Lembah Segar, Barangin, dan Kecamatan Silungkang), 8 kelurahan (Kelurahan Pasar, Tanah Lapang, Aur Mulyo, Air Dingin, Kubang Sirakuk Utara, Kubang Sirakuk Selatan, Saringan, dan Kelurahan Lubang Panjang), dan 1 desa (Desa Muaro Kalaban). Satuan Ruang Geografis Sawahlunto terletak di lembah yang dikelilingi perbukitan dalam jajaran Bukit Barisan. Kota ini berkembang setelah penemuan dan aktivitas penambangan batubara oleh Pemerintah Hindia Belanda di akhir abad XIX. Pada tahun 1868, ahli geologi Belanda, W.H. de Greve, menemukan endapan batubara di tepi sungai Ombilin, Sawahlunto dengan deposit mencapai 200 juta ton lebih. Dalam tahun-tahun berikutnya, Belanda mulai mengintensifkan eksplorasi batubara di wilayah ini. Pada tahun 1891 untuk pertama kalinya penambangan batubara dilakukan di Desa Sungai Durian dengan produksi sebanyak 47.833 ton batubara pada tahun 1892. Perusahaan tambang batubara Ombilin merupakan satu-satunya di Hindia Belanda. Hingga tahun 1930-an produksi batubara Sawahlunto telah memenuhi 90% kebutuhan energi di Hindia Belanda. Dibukanya tambang batubara Ombilin juga mempercepat proses industrialisasi dan transportasi di dalam negeri. Guna memenuhi kebutuhan penambangan, berbagai infrastruktur dan fasilitas dikembangkan di wilayah ini, berupa jalan raya, jalur kereta api, perumahan, pabrik pengolahan batubara, pembangkit listrik, rumah sakit, perkantoran, pasar, dan penjara. Seluruh fasilitas tersebut ditempatkan pada lansekap yang ada maupun yang dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan kota pertambangan.

Pada awal abad XX Sawahlunto sudah menjadi kota tambang yang terdiri atas 5 (lima) area sebagai elemen pembentuk kota:
1. Area industri perusahaan tambang
Terdapat perkantoran perusahaan tambang batubara yang dibangun pada tahun 1916 oleh Ombilin-mijnen, saat ini dikelola oleh PT. Bukit Asam-Unit Pertambangan Ombilin (PT. BA-UPO). Beberapa fasilitas lainnya yaitu bangunan bengkel utama, gedung transportasi, gudang besar, pengolahan batubara, dan bangunan perumahan yang masih bertahan hingga sekarang.
2. Area bisnis dan perdagangan
Terletak di tepi aliran Sungai Lunto. Pada tahun 1910 di area ini dibangun Los Pasar (Pasar Loods). Bagian selatan pasar dimanfaatkan sebagai pasar tradisional, sedangkan bagian utara merupakan pusat pertokoan yang didominasi etnis Cina (Tionghoa) sehingga area ini dikenal dengan Kampuang Cino (sekarang Pasar Remaja). Karakteristik arsitektur bangunan pertokoan tersebut bergaya indisch, seperti yang dapat dilihat pada Rumah Pek Sin Kek, Rumah Pegadaian (Rumah Komidi), Koperasi Karyawan PT. BA-UPO (Ons Belang), Gereja Santa Barbara, dan Sekolah Santa Lucia.
3. Area hunian
Di area ini terdapat perumahan buruh, karyawan, dan pejabat tambang. Perumahan Buruh Rantai (orang hukuman yang dipekerjakan sebagai buruh tambang yang dirantai) dan Buruh Kontrak berada di Tangsi Rantai, sedangkan perumahan karyawan berada di Tangsi Baru. Kedua tangsi ini berada di Kelurahan Tanah Lapang yang dibatasi jalan raya dan Sungai Lunto. Perumahan pejabat tambang berada di Kelurahan Saringan, misalnya Rumah Kepala Tambang, Rumah Insinyur Tambang, dan Rumah Pengawas Tambang.
4. Area administrasi pemerintahan
Di area ini terdapat rumah dinas asisten residen (sekarang rumah dinas Walikota Sawahlunto), rumah dinas ”pejabat hukum”, dan rumah pejabat provost (sekarang rumah dinas Kepala Kejaksaan Negeri dan rumah dinas Ketua Pengadilan Negeri) yang dibangun pada akhir abad XIX dan awal abad XX.
5. Area fasilitas kesehatan
Di area ini terdapat Rumah Sakit Umum Daerah Sawahlunto (Ombilin-mijnen Hospitaal), yang dibangun pada tahun 1894. Selain rumah sakit, juga terdapat perumahan dokter dan karyawan. Pada tahun 1915, rumah sakit ini dikembangkan dengan fasilitas yang lebih lengkap sehingga menjadi rumah sakit terbesar dan terbaik di Sumatera Tengah yang didukung dengan peralatan medis dan dokter-dokter berpengalaman dari Eropa.

Berbagai penelitian masih dilaksanakan di area Satuan Ruang Geografis Kota Lama Tambang Batubara Sawahlunto guna mengungkap berbagai informasi yang belum tergali. Beberapa penelitian tersebut yaitu:
1. Pada tahun 1993 dilakukan pendataan bangunan bersejarah Kota Sawahlunto oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala wilayah kerja Sumatera Barat dan Riau di Batusangkar (sekarang Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Sawahlunto.
2. Pendataan dilanjutkan pada tahun 2002, Pemerintah Kota Sawahlunto bekerjasama dengan Badan Warisan Sumatera Barat menginventarisasi Bangunan Cagar Budaya di Sawahlunto.
3. Pada tahun 2006, Walikota Sawahlunto mengeluarkan Keputusan Walikota Nomor 109 Tahun 2006 tentang Penetapan Bangunan, Gedung, Komplek Bangunan, Situs, dan Fitur sebagai Benda Cagar Budaya.
4. Pada tahun 2007, Pemerintah Kota Sawahlunto bekerjasama dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Wilayah Kerja Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau melakukan Studi Arkeologis Bangunan Kolonial Kota Sawahlunto.
5. Pada tahun 2007, Pemerintah Kota Sawahlunto mengundangkan Peraturan Daerah Kota Sawahlunto Nomor 6 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Benda Cagar Budaya.
6. Pada tahun 2010, Pemerintah Kota Sawahlunto mengundangkan Peraturan Daerah Kota Sawahlunto Nomor 2 Tahun 2010 tentang Penataan Kawasan Kota Lama yang mencakup tiga Mintakat (zona): Mintakat I seluas ±100 hektar, Mintakat II seluas ±400 hektar, dan Mintakat III tidak ditentukan.
7. Hingga tahun 2011, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar dan Pemerintah Kota Sawahlunto telah mengidentifikasi 74 bangunan di Kota Sawahlunto yang diduga Cagar Budaya, termasuk di dalamnya 68 bangunan yang telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Walikota Sawahlunto.
8. Tahun 2004 – 2013, Pemerintah Kota Sawahlunto bekerja sama dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar melakukan revitalisasi terhadap ruang dan bangunan-bangunan bersejarah di Sawahlunto. Selain itu juga disusun Dokumen Sawahlunto Heritage Guideline Bangunan dan Perkotaan, dan Dokumen Pengusulan sebagai Warisan Dunia.
9. Pada tahun 2014, Walikota Sawahlunto mengeluarkan Keputusan Nomor 189.2/250/WAKO-SWL/2014 Tanggal 29 September 2014 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Cagar Budaya Kota Sawahlunto ditetapkan sebanyak 6 (enam) Cagar Budaya.

Satuan Ruang Geografis Kota Lama Tambang Batubara Sawahlunto masih tetap memperlihatkan karakter, ciri, dan identitasnya sebagai kota tambang hingga saat ini. Infastruktur dan fasilitas tambang yang ada di satuan ruang geografis ini sekarang dimanfaatkan dan dipelihara sebagai pusat perkantoran, museum, dan perumahan masyarakat. Terjadinya pertambahan penduduk mengakibatkan ruang kota yang semakin padat dan berkurangnya ruang publik. Pertumbuhan kota yang pesat dikhawatirkan menyebabkan runtuhnya terowongan-terowongan bekas tambang batubara yang berada di bawahnya. Sementara itu, topografi yang curam di beberapa tempat menyebabkan kawasan ini rawan longsor.