Sangiran

  • SANGIRAN

NO REGNAS RNCB.20150101.05.000033
SK Penetapan

SK Menteri No019/M/2015

SK Menteri No173/M/1998

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Kawasan
Kabupaten/Kota Kabupaten Sragen
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran

Satuan Ruang Geografis Sangiran terbentang seluas 5.921 ha dan meliputi 2 kabupaten, 4 kecamatan, 23 kelurahan, serta 166 dusun. Daerah yang termasuk ke dalam area ini yaitu Kecamatan Plupuh, Kecamatan Kalijambe, dan Kecamatan Gemolong yang masuk ke Kabupaten Sragen serta Kecamatan Gondangrejo yang termasuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Satuan Ruang Geografis Sangiran merupakan salah satu situs manusia purba yang terpenting di dunia. Secara geomorfologis, satuan ruang geografis ini berupa kubah yang terbentuk karena proses geologi yang berlangsung pada masa Pleistosen. Kubah Sangiran yang dilalui oleh Kali Cemoro dan Kali Ngrejeng ini seringkali menyingkap tinggalan arkeologi, misalnya lapisan-lapisan tanah berumur mulai dari 2 juta tahun yang lalu hingga sekarang tanpa terputus. Di Sangiran juga ditemukan lebih dari 70 individu yang mewakili 50% jumlah populasi Homo Erectus seluruh dunia. Fosil-fosil tersebut mewakili dua tahap awal dari tiga tingkatan evolusi Homo Erectus yang pernah terjadi di Indonesia yaitu Homo Erectus Arkaik dan Homo Erectus Tipik. Sedangkan fosil binatang ditemukan pada seluruh lapisan tanah meliputi binatang air, reptil, serta mamalia.

Satuan Ruang Geografis Sangiran dibagi menjadi empat klaster pengembangan, yaitu Klaster Krikilan, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, dan Klaster Dayu. Temuan arkeologis di kawasan tersebut ditemukan tersebar secara lateral dan vertikal. Sebaran temuan arkeologis secara lateral mencakup hampir seluruh permukaan kubah Sangiran dengan intensitas yang berbeda, sedangkan sebaran temuan secara vertikal mencakup lapisan tertua hingga termuda, yaitu lapisan lempung hitam Formasi Pucangan, Grenzbank, lapisan pasir fluviatil Formasi Kabuh, dan lapisan laharik Formasi Notopuro. Area Satuan Ruang Geografis Sangiran pertama kai disurvei oleh Eugene Dubois pada tahun 1893. Penelitian tersebut ia lakukan setelah mendapat informasi bahwa Raden Saleh pernah menemukan fosil di area tersebut. Beberapa puluh tahun kemudian, L.J.C.van Es melakukan pemetaan pada tahun 1932 yang menghasilkan peta geologi skala detil (1:20.000). Dua tahun kemudian peta tersebut digunakan oleh G.H.R. von Koenigswald untuk melakukan survei eksploratif dengan temuan beberapa artefak prasejarah.

Pada tahun 1936, ditemukan fosil hominid untuk pertama kalinya oleh penduduk setempat di Dusun Ngargorejo (Bukuran, Kalijambe, Sragen). Fosil ini kemudian diserahkan kepada G.H.R. von Koenigswald. Setelah kemerdekaan, penelitian dilakukan oleh ahli Indonesia antara lain Prof. Teuku Jacob (UGM), Sartono (ITB), dan R.P. Soejono (UI). Mereka berhasil menemukan fosil beserta wajahnya yang terlengkap di dunia. Sejak tahun 1977 hingga sekarang, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (sekarang Pusat Arkeologi Nasional) dan Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian secara intensif dan berhasil menemukan fosil-fosil manusia dari Formasi Pucangan dan Grenzbank. Selain itu juga ditemukan gigi geraham hominid, fosil-fosil binatang, dan berbagai alat batu masif dan serpih di Formasi Kabuh.

Pada tanggal 5 Desember 1996, dengan Nomor Penetapan C 593, Satuan Ruang Geografis Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO sebagai “The Sangiran Early Man Site” seluas sekitar 5.600 ha. Warisan Budaya Dunia ini memenuhi kriteria II, III, IV, dan V (Dokumen World Heritage List Sangiran No 593). Pada tahun 1998, dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 173 Tahun 1998 tentang Penetapan Situs dan Benda Cagar Budaya di Wilayah Propinsi Jawa Tengah, Satuan Ruang Geografis Sangiran ditetapkan sebagai Situs dan Benda Cagar Budaya. Pada tahun 2010, disepakati perjanjian teknis kerjasama antara Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Tengah; Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sragen; dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar tentang pelestarian kawasan Sangiran sebagai warisan budaya, yang dituangkan dalam Surat Perjanjian Nomor PK.01/S.001/D.Sepur/KP/2010; Nomor 430/1683/2010; Nomor 556/012/023/SK/2010; Nomor 556/285.1/IV/2010 tentang Pelestarian Kawasan Sangiran sebagai Warisan Budaya.

Sebagian besar Satuan Ruang Geografis Sangiran merupakan pemukiman milik masyarakat, berupa perkampungan dan persawahan. Temuan arkeologis yang terdapat di dalam area ini seringkali terungkap karena aktivitas keseharian masyarakat. Hingga kini, fosil binatang dan manusia purba serta artefaknya masih terus ditemukan. Kondisi satuan ruang geografis Sangiran saat ini sudah dikelola dengan baik. Tingkat ancaman terhadap satuan ruang geografis ini, meliputi pencurian fosil, penggalian liar, dan perusakan lingkungan, sudah menurun. Proses-proses perubahan lingkungan terutama longsor di tebing dan tepi sungai pada musim penghujan seringkali menyingkap lapisan tanah yang mengandung tinggalan arkeologis. Saat ini sudah dibangun lima museum di empat klaster yaitu Museum Klaster Krikilan, Museum Klaster Bukuran, Museum Klaster Ngebung, Museum Sangiran, dan Museum Klaster Dayu. Selain itu juga telah didirikan kantor Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. Semua kantor pemerintah terseut dibawah kepemilikan negara dan pengelolaannya diserahkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. Ruang geografis di luar yang dikuasai oleh negara tersebut dimiliki dan/atau dikelola oleh masyarakat.