Museum Dewantara Kirti Griya dan Kompleks Pendopo Agung Taman Siswa

  • Pendopo

  • Museum

  • Dari arah barat laut

  • Koleksi museum

  • Ruang Koleksi

NO REGNAS RNCB.20160316.02.000054
SK Penetapan

SK Menteri No243/M/2015

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kota Yogyakarta
Provinsi D.I Yogyakarta
Nama Pemilik Yayasan persatuan perguruan tamansiswa
Nama Pengelola Yayasan persatuan perguruan tamansiswa

Museum Dewantara Kirti Griya dan Kompleks Pendopo Agung Taman Siswa terletak di Jalan Tamansiswa Nomor 25, Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta. Kompleks tersebut berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan pada bulan November 2016 dibangun diatas lahan seluas 8.909,433 m²dan terdiri dari beberapa bangunan. Perguruan Taman Siswa didirikan oleh Suwardi Suryaningrat pada 3 Juli 1922. Saat itu perguruan ini bernama National Onderwijs Instituut Taman Siswa yang ditandai dengan candrasengkala ”Lawan Sastra Ngesthi Mulya” (1852 J). Taman Siswa lahir sebagai reaksi atas praktek pengajaran barat yang diselenggarakan pemerintah kolonial di Indonesia. Dasar penyelenggaraan pendidikan Taman Siswa berpegang pada ”kebudayaan sendiri” dan ”kebudayaan asing” yang unsur-unsurnya masih dapat dipergunakan untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Pusat Perguruan Taman Siswa berada di Jalan Gadjah Mada (dahulu bernama Stationweg), Lempuyangan. Berdasarkan data statistik pengajaran di Kota Yogyakarta pada tahun 1924, tercatat murid Taman Siswa berjumlah 38 anak dan 17 guru. Pada tanggal 3 Februari 1928 Suwardi Suryaningrat berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara dan menanggalkan gelar Raden Mas (RM) agar lebih dekat dengan rakyat.

Dalam upaya memajukan perguruan Taman Siswa, pada tahun 1930 atau sewindu setelah berdirinya Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara menyerahkan perguruan tersebut kepada badan Organisasi Persatuan Taman Siswa yang dituangkan dalam Piagam Perjanjian Pendirian. Dengan banyak berdirinya sekolah swasta di tanah air, Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Atas kegigihan Ki Hajar Dewantara, maka tahun 1933 peraturan kolonial yang sepihak tersebut berhasil dicabut. Perguruan Taman Siswa semakin berkembang sehingga rumah perguruan yang berada di Lempuyangan dirasa kurang memadai sebagai pusat perguruan. Ki Hajar Dewantara kemudian memindahkan pusat perguruan ke Wirogunan. Setelah dipindahkan, perguruan yang awalnya bernama Taman Siswa Mataram itu kemudian diganti menjadi Ibu Pawiyatan Tamansiswa, yang berarti induk atau Pusat Perguruan Taman Siswa yang dipimpin langsung oleh Ki Hajar Dewantara.

Pada awal pembangunannya, bangunan ini merupakan rumah orang Belanda (Gevangenis Laan) yang ditempati oleh seorang janda penguasa perkebunan Belanda bernama Mas Ajeng Ramsinah. Ia adalah penghuni terakhir bangunan itu sebelum digunakan oleh Ki Hajar Dewantara. Pada tanggal 14 Agustus 1934 bangunan ini dibeli oleh Tamansiswa seharga 3.000 gulden. Pada tanggal 10 Juli 1938, Pendopo Agung Taman Siswa didirikan dengan peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Nyi Hajar Dewantara. Sebelum diadakan upacara peletakan batu pertama, Ki Hajar Dewantara menerangkan perlunya Taman Siswa mempunyai pendopo. Tanggal 27 September 1938 dilakukan upacara pemasangan molo dengan menancapkan paku emas oleh Bendara Pangeran Harya Suryodiningrat. Pada tanggal 16 November 1938 pendopo tersebut dibuka secara resmi. Pembukaan tersebut dilakukan bersamaan dengan kegiatan Kongres Taman Siswa. Sejak saat itu, penyelenggaraan konggres selalu dilakukan di Pendopo Taman Siswa. Pada masa revolusi pendopo memiliki funsgi lain sebagai tempat "penanaman" nilai-nilai kebangsaan yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara.

Pada tanggal 18 Agustus 1951 bangunan tersebut dihibahkan kepada Yayasan Tamansiswa. Pada tanggal 3 November 1957, yang bertepatan dengan ulang tahun pernikahan emas Ki Hajar Dewantara, ia menerima persembahan bakti dari para alumni dan pecinta Tamansiswa berupa rumah tinggal di Jalan Kusumanegara 31 yang diberi nama “Padepokan Ki Hajar Dewantara”. Tahun 1958, yaitu saat rapat Pamong (Guru) Tamansiswa, Ki Hajar Dewantara mengajukan permintaan kepada sidang agar rumah bekas tempat tinggalnya tersebut dijadikan museum. Bersamaan dengan rapat Pamong, Ki Hajar Dewantara juga melontarkan sebuah gagasan atau konsep teori kebudayaan, yakni “Kemajuan suatu kebudayaan adalah merupakan suatu kelanjutan langkah dari kebudayaan itu sendiri (Kontinyuitas). Menuju ke arah kesatuan kebudayaan dunia (Konvergensi) dan tetap terus mempunyai sifat kepribadian di dalam lingkungan kemanusiaan sedunia (Konsentrisitas)”. Gagasan tersebut terkenal dengan sebutan “TRIKON”. Pada akhir tahun 1958 Ki Hajar Dewantara dan keluarga pindah dari rumah yang berada di Jalan Tamansiswa 31 ke Mujamuju yang kini menjadi Jalan Kusumanegara 33. Setelah Ki Hajar Dewantara wafat pada tanggal 26 April 1959, lebih tepatnya mulai tahun 1960, Tamansiswa berusaha mewujudkan gagasan almarhum Ki Hajar Dewantara. Pada tahun 1963 dibentuklah panitia pendiri Museum Tamansiswa yang terdiri dari Keluarga Ki Hajar Dewantara, Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Sejarawan, dan Keluarga Besar Tamansiswa.

Pada tanggal 11 Oktober 1969, Ki Nayono menerima surat pribadi dari Nyi Hajar Dewantara. Setelah menerima surat tersebut Ki Nayono tergugah untuk segera meminta perhatian kepada Majelis Luhur agar bekas tempat tinggal Ki Hajar Dewantara yang sudah dinyatakan sebagai Dewantara Memorial segera dijadikan museum. Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 1970, museum diresmikan dan dibuka untuk umum. Upacara peresmian dan pembukaan dilakukan oleh Nyi Hajar Dewantara sebagai Pemimpin Umum Persatuan Tamansiswa. Museum diberi nama “Dewantara Kirti Griya”. Nama tersebut merupakan pemberian dari seorang ahli bahasa Jawa, Bapak Hadiwidjono, yang artinya rumah yang berisi hasil kerja Ki Hajar Dewantara. Peresmian museum ditandai dengan candrasengkala yang berbunyi “Miyat Ngaluhur Trusing Budi” (1902 Saka atau 2 Mei 1970). Candrasengkala itu terekam pada patung setengah badan milik Ki Hajar Dewantara. Adapun makna yang terkandung didalamnya yakni melalui museum para pengunjung diharapkan dapat mempelajari, memahami, dan kemudian mewujudkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya ke dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Museum ini juga merupakan tempat awal lahirnya Badan Musyawarah Museum (Barahmus) Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1971 yang dipimpin Mayor Supandi sebagai ketua I dan pada bulan Mei 2007, kantor Barahmus dipindah ke Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Kompleks bangunan Tamansiswa terdiri dari beberapa bangunan, yaitu bangunan Pendopo Agung, Museum Dewantara Kirti Griya sebagai bangunan utama, bangunan perkantoran, dan bangunan sekolah.

Bangunan Museum Dewantara Kirti Griya
Bangunan yang disebut juga dengan Museum Ki Hajar Dewantara ini berada disebelah utara bangunan Pendopo Tamansiswa. Bangunan ini menghadap ke arah barat atau ke Jl. Tamansiswa dan terdiri dari dua bagian yaitu bangunan utama yang berdenah persegi panjang dan bangunan yang memanjang kebelakang. Bangunan Museum Dewantara Kirti Griya bercirikan perpaduan gaya indis dan arsitektur lokal atau Jawa. Ciri tersebut terlihat dari atapnya yang berbentuk limasan dengan penutup berupa genting flame tradisional/gerabah. Penopang atap berupa kuda-kuda kayu yang menopang reng usuk dari bahan kayu jati. Museum ini merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari 9 ruangan, misalnya Ruang Tamu Utama, Ruang Kerja Ki Hajar Dewantara, Ruang Khusus Ki Hajar Dewantara, Ruang Tidur Utama Ki Hajar Dewantara, Ruang Tidur Anak Ki Hajar Dewantara, Ruang Keluarga, dan Bangunan Belakang.

Pendopo Tamansiswa
Bangunan induk pendopo berdenah persegi panjang menghadap ke barat, terdapat empat tiang penyangga utama (sokoguru) dengan tinggi 6,25 meter dan 12 tiang pendukung dengan tinggi 3,75 meter tanpa dinding. Di sebelah barat pendopo terdapat bangunan kuncungan sedangkan di sebelah utara dan selatan terdapat tratag serta gombak yang merupakan bangunan tambahan. Bangunan gombak difungsikan sebagai tempat menyimpan gamelan. Selain bangunan-bangunan tersebut diatas, ada pula bangunan lain yang terdapat di dalam kompleks Bangunan Cagar Budaya Museum Dewantara Kirti Griya dan Kompleks Pendopo Agung Taman Siswa. Bangunan-bangunan tersebut yaitu Gedung Badan Pusat Wanita Tamansiswa, Gedung Sekolah Taman Indria (Taman Kanak-kanak), Gedung Sekolah Taman Muda (Sekolah Dasar), Gedung Sekolah Taman Dewasa (Sekolah Menengah Pertama), Gedung Balai Persatuan Tamansiswa, serta Gedung Perkantoran dan Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa.

Koleksi Museum
Koleksi Museum Dewantara Kirti Griya diantaranya adalah:

1. Surat-surat Ki Hajar Dewantara
Surat yang menjadi koleksi museum saat ini berjumlah 879 surat, salah satunya yaitu surat penangkapan Tiga Serangkai (Douwes Dekker, dr. Cipto Mangunkusumo, dan Raden Mas Suwardi Suryaningrat/Ki Hajar Dewantara) pada tahun 1913. Selain itu juga ada koleksi surat penangkapan Raden Mas Suwardi Suryaningrat/Ki Hajar Dewantara di Semarang pada tahun 1920, Wilde School Ordonantie 1932, dan lainnya.

2. Perlengkapan rumah tangga
Perlengkapan rumah tangga yang menjadi koleksi Museum Dewantara Kirti Griya antara lain tempat tidur, meja tulis, meja kursi tamu, pesawat telepon buatan Kellog 1927 Swedia, lemari buku, radio, dan lemari. Seluruh perlengkapan tersebut sudah ada sebelum Ki Hajar Dewantara menempati rumah tersebut.

3. Foto dan film
Museum memiliki foto-foto berangka tahun 1904 yang telah direproduksi serta sebagian besar direkam dalam bentuk slide. Selain itu museum juga memiliki satu unit film dengan judul Ki Hajar Dewantara, Pahlawan Nasional. Film ini dibuat oleh Perusahaan Umum Produksi Film Negara (Perum PFN) pada tahun 1960 dengan ukuran 33 mm dengan durasi 80 menit. Seiring dengan perkembangan teknologi, film kemudian dipindah ke kaset video dan ditayangkan kepada para pengunjung dalam ruangan khusus. Walaupun kondisinya tidak sempurna, namun logat dan warna nada pembicaraan Ki Hajar Dewantara masih dapat didengar.

4. Buku dalam berbagai tulisan dan bahasa.
Koleksi buku bertema ketamansiswaan, politik, kebudayaan dan pendidikan, berjumlah 2341 judul buku tersimpan di Museum Dewantara Kirti Griya. Sedangkan koleksi buku bertema Sastra Daerah Jawa (3560 judul), Melayu (423 judul), dan Bahasa Belanda (3789 judul) tersimpan di perpustakaan museum.

Kondisi Bangunan Cagar Budaya Museum Dewantara Kirti Griya dalam kondisi relatif baik dan terawat. Hingga kini museum masih dibuka untuk umum.