Prasasti Ciaruteun

  • Prasasti Ciaruteum

  • Goresan Prasasti

  • Prasasti A 2547

  • Prasasti A 2547 a

  • Prasasti Tahun 1890

  • Papan Informasi

  • Salinan (abklatsch)

NO REGNAS RNCB.20151009.01.000040
SK Penetapan

SK Menteri No185/M/2015

SK Menteri No139/M/1998

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Benda
Kabupaten/Kota Kota Bogor
Provinsi Jawa Barat
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang

Prasasti ini diketahui keberadaannya berdasarkan laporan dari pimpinan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang menemukannya di aliran Sungai Ciaruteun, Bogor pada tahun 1863. Pada tahun 1893, letak prasasti berubah karena diterjang banjir. Hal itu membuat prasasti terguling sehingga tulisan yang awalnya diatas menjadi terbalik posisinya dan menghadap ke bawah. Letak prasasti diperbaiki seperti semula pada tahun 1903. Pada Bulan Juli 1981 batu prasasti kemudian dipindahkan ke atas, ke tempatnya saat ini di Kampung Muara, Desa Ciaruteun Hilir, Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Usaha pemindahan ini dilakukan oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Prasasti Ciaruteun disebutkan dan dibahas oleh N.W. Hoepermans (1864), J.F.G. Brumund (1868), A.B. Cohen Stuart (1875), P.J. Veth (1878, 1896), H. Kern (1882, 1917), R.D.M. Verbeek (1891), C.M. Pleyte (1905/1906), N.J. Krom (1915, 1931), J. Ph. Vogel (1925), dan R. M. Ng. Poerbatjaraka (1952).

Prasasti Ciaruteun yang terletak di dalam Situs Ciaruteun, ±19 km sebelah barat daya dari Kota Bogor ini terletak di ketinggian 320 meter di atas permukaan laut. Prasasti dituliskan pada sebongkah batu andesit berukuran tinggi 151 cm, diameter atas 72 cm, dan diameter bawah 134 cm. Prasasti Ciaruteun terdiri atas dua bagian, yaitu Prasasti Ciaruteun-A dan Prasasti Ciaruteun-B. Pada Prasasti Ciaruteun-A terdapat tulisan beraksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta sebanyak 4 baris yang disusun dalam bentuk puisi India dengan irama anustubh, sedangkan pada Prasasti Ciaruteun-B terdapat goresan sepasang telapak kaki dan goresan seperti motif laba-laba yang masih belum diketahui maknanya.

Alih aksara Prasasti Ciaruteun-A:
(1) vikkrantasya vanipateh
(2) srimatah purnnavarmmanah
(3) tarumanagarendrasya
(4) visnor=iva padadvayam ||

Alih bahasa Prasasti Ciaruteun-A:
“Inilah sepasang (telapak) kaki, yang seperti (telapak kaki) Dewa Wisnu, ialah telapak kaki Yang Mulia Purnnawarman, raja di negara Taruma (Tarumanagara), raja yang gagah berani di dunia”.

Berdasarkan isi prasasti, dapat diperoleh informasi mengenai adanya sebuah kerajaan bernama Tarumanagara dengan rajanya Purnnawarman beserta dewa yang dipuja, yakni Dewa Wisnu. Bentuk tulisan pada prasasti menunjukkan bahwa Prasasti Ciaruteun dibuat pada abad V. Prasasti ini hingga kini belum terbaca secara tuntas karena aksara yang digunakan merupakan aksara “kursif” (cursive writing) yang tidak memperlihatkan kesamaan bentuk dengan aksara Pallawa standar yang biasa digunakan pada Prasasti Ciaruteun-A. Beberapa sarjana yang telah membaca dan mentransliterasikannya adalah J.L.A. Brandes dalam tulisannya berjudul Çri Tji aroe/eun waça (“The blesh lord of the Tjiaroe/eun”); (Pleyte, 1905-1906: 174 dst.: Vogel, 1925:24); dan G.P. Rouffaer dalam karyanya yang berjudul Purnnavarmma-padam (“the foot-print of”). Prasasti Ciaruteun dalam kondisi relatif terawat dengan baik dan ditempatkan pada sebuah lahan kosong dengan bangunan cungkup.