Candi Sukuh

  • Candi Sukuh

  • Salah satu relief di Situs Cagar Budaya Candi Sukuh

  • Arca Garudeya di Situs Cagar Budaya Candi Sukuh

NO REGNAS RNCB.20151218.04.000099
SK Penetapan

SK Menteri No243/M/2015

SK Menteri NoPM.24/PW.007/MKP/2007

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kabupaten Karanganyar
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar

Situs Candi Sukuh terletak di Kelurahan Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa tengah. Situs ini dibangun diatas lahan seluas 5.395 m². Beberapa bangunan yang dibangun diatas lahan seluas tersebut diantaranya adalah Candi Induk Sukuh yang memiliki luas 586 m². Situs Candi Sukuh diperkirakan dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit, yaitu abad ke-15, pada masa pemerintahan Ratu Suhita (1429-1446). Situs Candi Sukuh pertama kali ditemukan oleh Johnson pada tahun 1815 dibawah masa kepemimpinan Jenderal Raffles. Laporan Johnson mengenai penemuan candi yang terletak di lereng barat Gunung Lawu ini selanjutnya dimuat dalam buku The History of Java karangan Thomas S. Raffles. Pada tahun 1845, Situs Candi Sukuh diteliti oleh Van de Vlis yang memunculkan berbagai tafsiran mengenai makna Situs Candi Sukuh, di antaranya candi para pertapa yang erat kaitannya dengan tokoh Bhima sebagai penghubung antara manusia dengan Siwa. Situs Candi Sukuh terdiri atas 3 halaman teras, semakin ke belakang semakin tinggi karena mengikuti kontur tanahnya. Tata letak Situs Candi Sukuh terbagi menjadi 3, yaitu teras pertama berada pada lahan paling bawah, teras kedua di tengah, dan teras ketiga yang paling tinggi terdapat candi induk. Masing-masing teras dibatasi dengan pagar batu candi dan untuk memasuki masing-masing teras harus melalui gapura.

Halaman ke-1
Halaman I Situs Candi Sukuh berdenah empat persegi panjang. Di halaman ini terdapat tiga buah panil relief. Panil pertama menggambarkan seorang laki-laki sedang menunggang seekor gajah dikawal oleh pengiring yang membawa tombak; panil kedua menggambarkan 4 ekor gajah; dan panil ketiga menggambarkan seorang laki-laki menunggang kuda dikawal oleh lima orang bersenjata tombak dan seorang yang berdiri di depan membawa payung. Gapura di halaman pertama ini berbentuk paduraksa, dihiasi hiasan kala di ambang pintu sisi luar dan dalam. Pada lantai gapura terdapat relief lingga dan yoni yang digambarkan secara naturalistis. Pada pipi gapura terdapat relief raksasa sedang menelan manusia yang diintepretasikan sebagai sengkalan memet berbunyi gapura bhuta mangan wong atau sama dengan tahun 1359 Saka. Selain relief tersebut, dinding gapura juga dihiasi relief sepasang burung yang hinggap di atas sebatang pohon. Di bawah pohon terdapat seekor anjing, serta relief seseorang sedang berlari dan menggigit ekor seekor ular yang diduga sebagai sengkalan memet berbunyi gapura bhuta anahut buntut atau sama dengan tahun 1359 Saka. Pada dinding gapura juga terdapat relief yang melukiskan seekor garuda dengan sayap terbuka sedang mencengkeram dua ekor ular yang saling melilit yang dihubungkan dengan kisah Garudeya.

Halaman ke-2
Pada halaman kedua terdapat reruntuhan gapura dan beberapa arca. Di halaman sisi selatan terdapat panil relief tiga orang pandai besi dan ububan. Relief dalam panil ini memiliki keunikan yaitu salah satu tokohnya berkepala gajah berdiri pada kaki kanannya dan menggigit ekor binatang yang merupakan sengkalan memet berbunyi gajah wiku anahut buntut atau berarti angka tahun 1378 Saka (1456 Masehi). Adapun beberapa arca yang terdapat di halaman ini antara lain arca Garuda, Bhima, kura-kura, dan gajah.

Halaman ke-3
Pada halaman ketiga, yaitu halaman yang dianggap paling sakral, terdapat gapura, struktur utama, dan struktur Candi Sukuh. Gapura halaman ketiga letaknya berhadapan dengan struktur utama Situs Candi Sukuh. Adapun struktur utama Situs Candi Sukuh berukuran 15 x 15 meter. Di sisi atas tangga pintu dipahatkan delapan ekor naga berlilitan dua-dua, membentuk bujur sangkar. Di bagian atas candi yang datar terdapat sisa umpak untuk menempatkan sebuah lingga berangka tahun 1362 Saka (1440 Masehi) yang kini disimpan di Museum Nasional. Di depan tangga struktur utama terdapat sepasang arca kura-kura yang dibentuk sedemikian rupa sehingga bagian badannya menyerupai meja. Di depan Candi Sukuh terdapat struktur bangunan kecil dengan pintu menghadap ke barat, yang dinamai “Candi Kyai Sukuh” oleh penduduk setempat. Dinding struktur ini dihiasi relief cerita Bhimaswarga di bagian dinding tubuh bangunan. Cerita Bhimaswarga menceritakan Bhima membebaskan arwah Pandu, Madrim, orang tuanya, dan arwah-arwah lainnya dari siksaan neraka setelah mengalahkan Dewa Yama. Bhima dilukiskan sebagai “wakil” Siwa untuk menolong manusia yang berusaha untuk mencapai moksa (upacara diksa). Hal ini ditunjukkan oleh bagian akhir relief Bhimaswarga yang menggambarkan Siwa memberi botol (tempat amrta) kepada Bhima. Selanjutnya, di sebelah kanan struktur Candi Sukuh terdapat lapik dengan empat sisa tiang berhiaskan relief serta sebuah tugu dengan relief lengkung Kala-mrga di atas panil. Terdapat relief cerita Nawaruci di bagian bawah lengkung yang menggambarkan adegan Bhima berhadapan dengan Bhatara Guru (Siwa). Dalam lengkung bagian bawah masih terdapat relief “lahirnya Bhima”. Di bagian tengah lengkung Kala-mrga dihiasi kepala kala.

Di dekat panil relief Kala-mrga terdapat tugu batu yang terpotong bagian puncaknya. Di bagian bawah tugu tersebut digambarkan tokoh Garuda yang sedang mengembangkan sayapnya. Pada sisi sebelah selatan struktur utama Situs Candi Sukuh terdapat sebuah tiang (obelisk) berukuran tinggi 4 meter, dihiasi relief seperti relief-relief lain yang belum dapat diidentifikasikan. Relief tersebut menggambarkan seorang laki-laki berdiri di lapik, dengan tanda kesucian (prabhavali) berbentuk bulat melingkari tubuhnya. Selain relief cerita Garudeya, Samudramanthana, dan penggambaran tokoh resi, di Situs Candi Sukuh juga terdapat relief Bhimabungkus, relief Sundamala, dan relief pandai besi. Cerita Sundamala dipahat di panil-panil lepas yang dahulunya memagari kolam untuk upacara diksa dengan air. Salah satu kisah Bhimabungkus menggambarkan adegan Bhima sedang berperang melawan raksasa, pada sudut atas panil tersebut ada inskripsi berbunyi “bukut tirtha sunya” yang berarti “menghormati air suci (untuk mencapai) kehampaan”. Secara umum kondisi Situs Candi Sukuh dalam keadaan baik dan terawat. Namun bagian selatan Situs Candi Sukuh mengalami longsor dan saat ini sedang dilaksanakan pemugaran untuk memperkuat bagian pondasi.