Istana Bung Hatta

  • Istana Bung Hatta

  • Sisi Depan Istana Bung Hatta

  • Balai Sidang di Istana Bung Hatta

  • Relung Berciri Kolonial di Istana Bung Hatta

  • Patung Bung Hatta di depan Istana Bung Hatta

  • Storyboard Kisah Bung Hatta di Sudut Ruangan Istana Bung Hatta

  • Interior Istana Bung Hatta

NO REGNAS RNCB.20100108.02.000359
SK Penetapan

SK Menteri No267/M/2016

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kota Bukittinggi
Provinsi Sumatera Barat
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Kementerian Sekretariat Negara dan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Barat.

Bangunan Cagar Budaya Istana Bung Hatta berciri gaya arsitektur kolonial, namun atap bangunan terbuat dari sirap. Ruangan yang terdapat di istana ini terdiri atas taman yang terdapat pada bagian halaman, ruang utama, ruang tamu, ruang rapat, dan kamar-kamar yang luas berjumlah 8, namun ada penambahan sehingga kamarnya berjumlah 12. Pada halaman depan terdapat koridor yang disangga oleh pilar-pilar berbentuk silinder. Di dalam kompleks bangunan terdapat dua patung Bung Hatta masing-masing terletak di bagian depan bangunan (patung separuh badan) dan di sisi samping bangunan (patung seluruh badan) yang berukuran tinggi 2 meter. Istana ini terletak dekat dengan Jam Gadang, menghadap ke Gunung Marapi dan Bukit Barisan. Luas Lahan Istana Bung Hatta 12.425 m² dan luas bangunan utama 3.672 m². Istana ini memiliki interior yang sederhana, jauh dari kesan megah. Hal ini mencerminkan karakter Bung Hatta yang merupakan sosok sederhana dan bersahaja. Di dalam bangunan ini terdapat banyak foto-foto yang menceritakan perjalanan hidup Bung Hatta, mulai dari masa kecil hingga Bung Hatta menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama.

Pada masa kolonial Belanda, Istana Bung Hatta digunakan sebagai kantor Residen Padangse Bovenlanden dan Asisten Residen Agam. Kemudian pada masa pendudukan Jepang difungsikan sebagai rumah Panglima Pertahanan Jepang (Seiko Seikikan Kakka). Kemudian setelah Indonesia merdeka, gedung ini dikenal dengan nama Rumah Tamu Agung dan pernah dijadikan sebagai tempat tinggal dan kantor wakil presiden Bung Hatta selama bertugas di Bukittinggi pada tahun 1947-1948. Setelah pemecahan Provinsi Sumatera Tengah menjadi tiga wilayah pada tahun 1958, Gubernur Sumatera Barat pertama Kaharudin Datuk Rangkayo Basa mendirikan bangunan baru yang hingga kini dinamakan Gedung Negara Tri Arga pada tahun 1961. Kondisi Situs Cagar Budaya Istana Bung Hatta relatif baik dan terawat. Saat ini bangunan digunakan sebagai tempat seminar, lokakarya, dan pertemuan tingkat nasional dan regional yang representatif serta sebagai rumah tamu negara bila berkunjung ke Bukittinggi.